Pinangki Habiskan Rp 74 Juta Sebulan untuk Keperluan Rumah Tangga
Logo BeritaSatu

Pinangki Habiskan Rp 74 Juta Sebulan untuk Keperluan Rumah Tangga

Senin, 16 November 2020 | 20:49 WIB
Oleh : Fana Suparman / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Pinangki Sirna Malasari yang kini didakwa menerima suap, melakukan pencucian uang dan pemufakatan jahat disebut bergaya hidup mewah dalam kesehariannya. Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/11/2020), Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahkan mengungkapkan Pinangki menghabiskan uang puluhan juta rupiah per bulan untuk kebutuhan rumah tangga. Bahkan, Pinangki sempat menghabiskan Rp 74 juta sebulan.

Pengeluaran yang besar ini tidak seimbang dengan pemasukannya sebagai jaksa dengan jabatan terakhir Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejagung.

Pengeluaran bulanan Pinangki berawal dari foto di dalam laptop milik suami Pinangki, AKBP Napitupulu Yogi Yusuf yang ditemukan di tumpukan kardus rak sepatu di unit apartemen Darmawangsa Essence yang dihuninya. Dalam foto tersebut tertulis pengeluaran Pinangki dan keluarganya pada bulan Juli sebesar Rp 74 juta. Jaksa pun mencecar Yogi yang dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kali ini mengenai pengeluaran rumah tangganya. Padahal, dalam persidangan terungkap penghasilan Yogi per bulannya sekitar Rp 14 juta, sedangkan penghasilan Pinangki sekitar Rp 18 juta.

"Juli, pengeluaran Rp 74 juta bagaimana bisa menutupi uang pengeluaran gitu, Anda enggak tanya?" tanya jaksa kepada Yogi di persidangan, Senin (16/11/2020).

Yogi menyatakan, semua pengeluaran kebutuhan rumah tangga diatur oleh istrinya, Pinangki Sirna Malasari. Menurut Yogi, Pinangki sejak awal pengeluarannya sudah besar, karena mempunyai harta bawaan dari mendiang suaminya, almarhum Djoko Budiharjo yang merupakan mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat dan sempat berprofesi sebagai advokat.

"Kalau di-framing per bulan akan seperti itu kalau framing dari awal Pinangki sejak awal sudah begitu, dari awal kenal sudah tinggal di Essence Darmawangsa kalau lihat di Juli saya paham tapi kalau dilihat ke belakang ya begitu-gitu saja," jawab Yogi.

Jaksa masih belum puas dengan penjelasan Yogi. Apalagi, dalam catatan pengeluaran pada Juli sebesar Rp 74 juta belum termasuk biaya sewa unit apartemen yang ditinggali Yogi dan Pinangki. Keduanya tinggal terpisah,Yogi tinggal di apartemen Darmawangsa Essence, sementara Pinangki tinggal di apartemen Pakubuwono.

"Ini belum tercantum sewa apartemen, dari mana penghasilan istri anda bayar sewa apartemen?" tanya jaksa.

Yogi mengaku tidak mengetahui secara rinci penghasilan atau harta milik sang istri. Yogi mengklaim, sejak awal pernikahan, dirinya dan Pinangki telah melakukan perjanjian pisah harta.

"Enggak tanya peninggalan apa sampai pengeluarannya Rp 70 juta per bulan?" kata Jaksa Roni.

"Komitmen kami diawali perjanjian pra-nikah memisahkan harta saya dan Pinangki. Saya pernah gagal berumahtangga sehingga kami komitmen dengan menunjukkan perjanjian pranikah. Menyangkut masalah bagaimana kami mengatur rumah tangga, anak, kekerasan dalam rumah tangga dan juga ada pemisahan harta kekayaan. Dia membawa harta bawaan dari mantan suami yang meninggal," kata Yogi.

Yogi menyebut selama ini sang istri tidak pernah mengeluh kekurangan uang untuk menutupi kebutuhan mereka. Meski demikian, Yogi mengakui adanya ketidakseimbangan antara pengeluaran dengan pemasukan terkait finansial.

"Kalau hanya dari penghasilan, memang tidak bisa menabung dengan pengeluaran itu," ungkap Yogi.

Tak hanya menghabiskan uang puluhan juta per bulan, Pinangki juga menyimpan uang dalam mata uang asing di brankas-nya di apartemen Darmawangsa Essence. Yogi mengaku sempat melihat tumpukan uang dalam brankas tersebut.

"Saya lihat isi brankas Pinangki karena brankas ditaruh di lemari, saya mau ambil pakaian dan saya hanya melihat sekali saja isinya saat dia buka," kata Yogi.

Namun, Yogi mengklaim tidak mengetahui secara pasti terkait jumlah uang dalam mata uang asin tersebut. Yogi mengklaim tak memiliki akses untuk membuka brankas tersebut.

"Saya tidak punya akses buka (brankas) itu. Ada tumpukan mata uang asing. Tumpukannya saya nggak tahu pasti," kata Yogi.
Mendengar pernyataan Yogi, Hakim Anggota, Mochammad Agus Salim mencecarnya mengenai asal muasal uang tersebut. Lagi-lagi, Yogi yang merupakan anggota Polri tersebut mengaku tidak tahu, lantaran tidak bertanya pada sang istri.

"Apakah dalam momen itu, anda menanyakan ke Pinangki?" tanya Agus Salim.

"Saya tidak pernah menanyakan," jawab Yogi.

"Sebagai seorang polisi apakah anda melihat itu hal biasa? misal ada keganjilan," cecar Agus Salim.

"Saya tidak berpikir sejauh itu," jawab Yogi.

Dalam kesempatan ini, Jaksa juga mencecar Yogi mengenai perjalanan Pinangki beberapa kali ke luar negeri. Yogi mengaku mengetahui istrinya dua kali ke Amerika Serikat, yakni pada Desember 2019 dan awal 2020. Yogi menyebut sang istri ke Amerika untuk operasi plastik dan mengobati sinusitis yang diidapnya. Yogi juga mengetahui kepergian istrinya ke Malaysia pada 19 November 2019 dan 25 November 2019 yang belakangan ternyata bertemu dengan terpidana perkara korupsi pengalihan hak tagih atau cessie Bank Bali Joko Soegiarto Tjandra. Namun, Yogi mengaku tak mengetahui secara rinci mengenai hal tersebut.

"Saya tahu (Pinangki bertemu Joko Tjandra) setelah ramai," katanya.

Yogi mengklaim tak mengetahui tindak tanduk sang istri lantaran rumah tangganya tidak harmonis sejak 2018 dan mengalami puncaknya pada 2019. Jawaban serupa disampaikan Yogi saat dicecar Jaksa mengenai uang asing yang ditukarkan Pinangki melalui anak buah Yogi ke money changer.

"Boro-boro saya mau nanya itu. Kalau saya tanya, 'Ngapain kamu?' Ya nyuruh ribut lagi, ada pada satu tahapan pak penuntut umum mungkin secara manusiawi akan dirasakan mungkin kalau ribut rumah tangga sama istri itu lebih ramai daripada sama musuh," ungkapnya.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum mendakwa Pinangki Sirna Malasari telah menerima suap USD500 ribu dari USD1 juta yang dijanjikan oleh Djoko Soegiarto Tjandra. Suap itu diberikan kepada Pinangki melalui pengusaha Andi Irfan Jaya untuk mengurus permintaan fatwa Mahkamah Agung (MA) melalui Kejaksaan Agung (Kejagung) agar pidana penjara yang dijatuhkan pada Joko Tjandra berdasarkan putusan PK (Peninjauan Kembali) Nomor 12 Tanggal 11 Juni 2009 tidak bisa dieksekusi sehingga Joko Tjandra bisa kembali ke Indonesia tanpa harus menjalani hukuman pidana.

Setidaknya tiga kali Pinangki bertemu Joko Tjandra di kantornya di The Exchange 106 Lingkaran TrX Kuala Lumpur, Malaysia. Saat bertemu Joko Tjandra pertama kali pada 12 November 2019, Pinangki memperkenalkan diri sebagai jaksa dan mampu mengurusi upaya hukum Joko Tjandra.

Pada pertemuan 19 November 2019, Joko Tjandra meminta Pinangki untuk mempersiapkan dan membuat action plan terlebih dahulu dan membuat surat kepada Kejaksaan Agung untuk mempertanyakan status hukum Joko Tjandra. Menanggapi hal ini, Pinangki menyanggupi dan akan menindaklanjuti surat tersebut.

Pertemuan itu pun membahas mengenai biaya yang harus dikeluarkan Djoko Tjandra untuk mengurus permintaan fatwa MA. Pada saat itu, Pinangki secara lisan menyampaikan akan mengajukan proposal berupa action plan yang isinya menawarkan rencana tindakan dan biaya untuk mengurus fatwa MA melalui Kejaksaan Agung tersebut sebesar USD 100 juta. Namun, pada saat itu Joko Soegiarto Tjandra hanya menyetujui dan menjanjikan USD 10 juta yang akan dimasukkan ke dalam action plan.

Action plan tersebut kemudian dibahas Pinangki, Djoko Tjandra dan Andi Irfan Jaya dalam pertemuan di kantor Joko Tjandra di The Exchange 106, Kuala Lumpur, Malaysia pada 25 November 2019. Andi Irfan Jaya disebut sebagai orang swasta yang akan bertransaksi dengan Joko Tjandra terkait pengurusan fatwa lantaran Joko Tjandra tidak bersedia bertransaksi dengan Pinangki yang berstatus sebagai penyelenggara negara. Pertemuan itu juga turut dihadiri oleh Anita Kolopaking.

Sebagai tanda jadi, Joko Tjandra memberikan USD 500 ribu ke Pinangki melalui Herriyadi Angga Kusuma yang merupakan adik iparnya. Setelahnya Pinangki memberikan USD 50 ribu dari USD 500 ribu yang diterimanya ke Anita.

Namun, kesepakatan sebagaimana dalam action plan tersebut tidak ada satu pun yang terlaksana, padahal Djoko Soegiarto Tjandra sudah memberikan down payment kepada Pinangki melalui Andi Irfan Jaya sebesar USD 500 ribu. Djoko Soegiarto Tjandra pun membatalkan action plan pada bulan Desember 2019.

Meski action plan urung terlaksana, Pinangki telah menguasai USD 450 ribu yang diterimanya dari Djoko Tjandra. Jaksa menduga Pinangki "mencuci" uang yang telah diterimanya tersebut.

Jaksa menyebut pada periode 2019-2020 Pinangki sempat akan menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaannya yang berasal dari Djoko Tjandra dengan cara menukarkan uang USD 337.600 atau senilai Rp 4,7 miliar ke money changer. Pinangki juga meminta suaminya AKBP Napitupulu Yogi Yusuf menukarkan mata uang USD10.000 atau senilai Rp 147,1 juta lewat anak buahnya.

Kemudian, pada periode November 2019 hingga Juli 2020, uang tersebut dibelanjakan untuk kepentingan pribadi Pinagki. Dipaparkan Jaksa, Pinangki membelanjakan uang sejumlah Rp1.753.836.050 atau Rp1,7 miliar untuk satu unit BMW X5 dengan plat nomor F 214. Pembayaran dilakukan dengan cara tunai dalam beberapa tahap. Selanjutnya Pinangki juga membayarkan sewa apartemen di Amerika Serikat pada Desember 2019 senilai RpRp 412,7 juta. Pembayaran itu dilakukan dengan cara setor tunai lewat dari rekening BCA milik Pinangki.

Kemudian, Pinangki membelanjakan uang haram itu untuk Pembayaran dokter kecantikan di Amerika Serikat yang bernama dokter Adam R Kohler sebesar Rp 419,4 juta. Selanjutnya Pinangki juga membelanjakan uang haram itu untuk pembayaran dokter home care atas nama dr Olivia Santoso terkait perawatan kesehatan dan kecantikan serta rapid test sebesar Rp 176,8 juta. Pinangki pun menggunakan uang itu untuk melakukan pembayaran kartu kredit di berbagai bank sejumlah Rp 467 juta, Rp 185 juta, Rp 483,5 juta, Rp 950 juta. Pembayaran itu dilakukan pada periode November 2019 hingga Juli 2020.

Pinangki juga tercatat melakukan pembayaran sewa apartemen The Pakubuwono Signature dari Februari 2020-Februari 2021 sebesar USD68.900 atau setara Rp940,2 juta. Terakhir, Pinangki menggunakan uang haram dari Djoko Tjandra untuk membayar Sewa Apartemen Darmawangsa Essence senilai USD38.400 atau setara Rp525,2 juta. Dengan demikian, jumlah keseluruhan uang yang digunakan oleh Pinangki sekitar USD 444.900 atau setara Rp 6.219.380.900.

Atas perbuatannya, Pinangki didakwa melanggar Pasal 5 ayat (2) Juncto Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Selain itu, Pinangki juga didakwa melanggar Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Untuk pemufakatan jahat, Pinangki didakwa melanggar Pasal 15 Juncto Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 88 KUHP.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

2 Juta Tenaga Pendidik Dapat Subsidi Bantuan Upah Rp 1,8 Juta

Kemdikbud akan menyalurkan bantuan subsidi upah (BSU) kepada 2 juta orang tenaga pendidik non PNS di seluruh Indonesia sebesar Rp 1,8 juta.

NASIONAL | 16 November 2020

Bantah Dukung Acara Rizieq, Doni Monardo: Saya Hanya Ingin Selamatkan Rakyat

'Solus Populi Suprema Lex', keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

NASIONAL | 16 November 2020

IPW Nilai Pencopotan Kapolda Metro Karena Kecerobohan dan "Persaingan" Calon Kapolri

Pencopotan Kapolda Metro dan Kapolda Jabar ini diharapkan menjadi pelajaran bagi para Kapolda lain untuk bersikap tegas menindak pelanggar protokol kesehatan.

NASIONAL | 16 November 2020

Ma'ruf Amin Apresiasi Indomaret Tingkatkan Kualitas Pendidikan Rp 3,8 Miliar

Kerja sama dengan IDF MUI merupakan kedua kalinya, setelah tahun 2018 lalu membangun laboratorium multimedia di 10 lembaga pendidikan.

NASIONAL | 16 November 2020

Menkumham Sebut RUU Minuman Beralkohol Baru Sebatas Usulan DPR

Menurut Yasonna, pemerintah memilih menunggu dan melihat perkembangan wacana tersebut.

NASIONAL | 16 November 2020

Sekolah Tatap Muka di Ternate Dibuka, Banyak Siswa Tak Pakai Masker dan Jaga Jarak

Meski telah diterapkan protokol kesehatan saat belajar mengajar, masih banyak siswa tak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak.

NASIONAL | 16 November 2020

Suami Ungkap Pinangki Rahasiakan Pertemuan dengan Djoko Tjandra

AKBP Napitupulu Yogi Yusuf mengungkapkan bahwa istrinya, jaksa Pinangki Sirna Malasari, merahasiakan pertemuannya dengan Djoko Tjandra.

NASIONAL | 16 November 2020

Pencopotan Kapolda Metro Jaya dan Jabar Disebut Bentuk Ketegasan Kapolri

Ketua Komisi III DPR, Herman Herry menyebut pergantian Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat (Jabar), bentuk ketegasan Kapolri.

NASIONAL | 16 November 2020

Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Sumut Meningkat

Menurut Whiko Irwan, angka kesembuhan tertanggal 15-16 November 2020, sebesar 81,84 persen meningkat 0,06 poin dibandingkan minggu sebelumnya 81,78 persen.

NASIONAL | 16 November 2020

Kemdes PDTT Targetkan 10.000 Desa Tertinggal Jadi Desa Berkembang

Kemdes PDTT telah menetapkan target capaian yakni 5.000 desa berkembang menjadi mandiri dan 10.000 desa tertinggal menjadi berkembang.

NASIONAL | 16 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS