Kenaikan Kasus Covid-19 Dampak Kerumunan Baru Terlihat Dua Pekan Lagi
Logo BeritaSatu

Kenaikan Kasus Covid-19 Dampak Kerumunan Baru Terlihat Dua Pekan Lagi

Rabu, 18 November 2020 | 21:40 WIB
Oleh : Ari Supriyanti Rikin / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Kerumunan dipastikan menjadi sumber penularan baru Covid-19. Peningkatan kasus positif Covid-19 baru akan terlihat 2-3 minggu pascakerumunan terjadi. Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan,

kerumunan akan menjadi potensi sumber penularan baru.

"Hasilnya tidak bisa kita lihat satu dua hari karena butuh waktu untuk terjadinya masa inkubasi dalam tubuh, muncul gejala lalu diperiksa. Butuh waktu 2-3 minggu melihat efek kerumunan yang terjadi hingga diperiksakan hasilnya positif," katanya dalam dialog virtual di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (18/11/2020).

Begitu pula analisa dampak libur panjang akhir Oktober lalu, Satgas masih melihat trennya dan minggu depan baru akan disampaikan apakah terjadi kenaikan signifikan kasus positifnya.

"Saat ini kita masih melihat dari tren kenaikan kasus harusnya terlihat per 12 November, tapi masih harus kita lihat per pekannya untuk melihat apakah benar ada kenaikan atau tidak," paparnya.

Menurutnya, langkah menekan kasus positif Covid dilakukan dengan tetap mempertahankan jumlah pemeriksaan (testing) dan memaksimalkan tracingatau penelusuran kontak. Berdasarkan standar WHO jika ada satu orang positif harus diikuti 20-30 orang kontak erat maksimal 3x24 jam ditelusuri.

Selain itu harus memastikan treatment kesediaan rumah sakit, rumah sakit darurat dan hotel isolasi mandiri.

Harus dipantau juga kedisiplinan protokol kesehatan untuk menghindari kerumunan. Disiplin 3M dimana pun berada adalah kunci memutus rantai penularan Covid-19 di Indonesia.

Dewi mengungkapkan, hingga Selasa (17/11/2020) jumlah kasus aktif di Indonesia 60.426 atau berkisar 12,74 persen dari seluruh kasus kumulatif. Kasus aktif adalah berapa banyak orang yang sedang sakit. Nantinya diharapkan semua bisa bergerak ke kesembuhan.

Kata dia, semakin kecil presentse kasus aktif semakin baik. Sedangkan di dunia kasus aktifnya 27,96 %, artinya rata-rata persen kasus aktif di Indonesia 15,22 % lebih rendah dibanding rata-rata kasus aktif dunia. Ini merupakan indikasi baik. Jika melihat tren di beberapa negara Eropa terjadi kenaikan kasus signifikan sehingga mengakibatkan rata-rata kasus aktif dunianya meningkat.

Selanjutnya kasus positif 3.807, kasus sembuh 398.636 atau 84,02 %. Berada 14,38 % di atas rata-rata angka dunia.

"Satu PR kita untuk tekan proporsi angka kematian masih 3,24 % sedangkan di dunia 2,4 %," imbuhnya.

Saat ini kasus meninggal di Indonesia 15.393 atau 3,24 %. Selanjutnya, kasus aktif itu bisa naik lagi kalau terjadi penambahan kasus signifikan mengakibatkan jumlah orang sedang sakit banyak. Lalu angka kesembuhan tertahan dan menjadi lebih kecil.

"Ada penambahan kasus signifikan dalam beberapa hari terakhir sehingga proporsi kasus aktif naik lagi angka terakhir 12,74 persen," ungkap Dewi.

Kepatuhan melaksanakan 3M sangat menentukan apakah kasus aktif akan terus turun sepanjang waktu atau bisa naik kembali karena terjadi penambahan kasus yang cukup signifikan.

Kasus Mingguan
Sementara untuk kasus aktif mingguan, rata-rata di Indonesia setiap pekan terjadi penurunan sekitar 2,5 persen. Namun ada beberapa titik naik artinya terjadi penambahan kasus cukup signifikan mengakibatkan persen kasus aktif naik.

Hal ini terjadi pada pekan ke empat maret dan awal September pekan pertama dan kedua. Pekan kedua November ada kenaikan proporsi kasus aktif sebesar 0,31 % yang biasanya turun setiap pekan.

"Ini alert lagi bagi kita semua untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan yang sangat berpengaruh terhadap kasus aktif," ucapnya.

Terkait kasus kematian, trennya saat ini cenderung stabil menurun meskipun tetap harus ditekan. Pekan terakhir kemarin terjadi penurunan 0,08 % cukup tinggi biasanya per pekan penurunan kematian hanya 0,02-0,04 %. Hal ini harus dipertahankan dan angka kematian harus ditekan lebih jauh.

Menurut Dewi, kasus aktif dan kesembuhan berkaitan erat. Presentase kasus kesembuhan pernah mencapai puncaknya 84,57 %. Lalu turun karena terjadi penambahan kasus yang sangat signifikan menjadi 84,02 %.

Sementara itu, untuk membuat orang sembuh perlu waktu, minimal 10-14 hari sampai dikatakan sudah tidak terinfeksi lagi.

Terkait pemeriksaan spesimen, juga mengalami peningkatan sejak Juni sampai November. Dalam pemeriksaan spesimen, satu orang bisa diperiksa beberapa kali/beberapa spesimen sehingga angka pemeriksaan spesimen akan lebih tinggi dibanding jumlah orang yang diperiksa.

Pada Juni rata-rata jumlah spesimen yang diperiksa setiap hari 16.000, Juli 22.000, Agustus 23.000, September 36.000 orang diperiksa dalam waktu satu hari. Selanjutnya Oktober 38.000 dan sempat turun pada November 35.849 spesimen per hari.

Namun tambahnya, jumlah orang yang diperiksa setiap hari ini jauh lebih penting (setiap hari). Pada Juni-November walapun jumlah pemeriksaan spesimen lebih rendah tapi ternyata dari jumlah orang tetap lebih tinggi rata-ratanya.

Juni pemeriksaan orang perhari 8,500, Juli 12.000, Agustus 13.000, September 23.000, Oktober 28.000, dan November 28.809. Peningkatan ini didukung bertambahnya jumlah laboratorium pemerintah sehingga jumlah pemeriksaan spesimen maupun orang bertambah.

Setelah jumlah pemeriksaan spesimen dengan orang, perlu dipahami juga untuk melihat Covid-19 perlu dilihat positivity rate atau laju penularan di tengah masyarakat. Angka ini dihitung dengan cara dari semua orang yang diperiksa berapa yang positif.

"Ini kita lihat dari waktu ke waktu di bulan Juni rata rata 11,71 %, Juli Agustus, September naik terus," imbuhnya.

Tren terjadi peningkatan selama 4 bulan di Juni sampai September. Artinya laju penularan terjadi tinggi di masyarakat dari bulan ke bulan.

Namun di Oktober, tren menurun, ini indikasi baik meskipun masih jauh di atas standar WHO 5 %. Pada Oktober 13,86 %, November sementara 13,42 %.

Namun masih pekerjaan rumah untuk terus menurunkan angka penularan sehingga dari sekian banyak orang yang diperiksa hanya 5 persen saja yang positif.

Sementara itu standar yang ditetapkan WHO untuk target pemeriksaan 1.000 penduduk diperiksa dari 1 juta penduduk per minggunya.

Asumsi penduduk Indonesia 267 juta jiwa standar WHO artinya dipasangkan target pemeriksaan 267.000 orang per minggunya.

Pekan ini jumlah pemeriksaan meningkat mencapai 86 persen dari target yang ditetapkan WHO. Lalu pekan keempat dan kelima Oktober karena libur panjang tren pemeriksaan turun dimana saat itu ada libur panjang 67 %. Namun pekan ini jumlah pemeriksaan meningkat mencapai 86 % dari target yang ditetapkan WHO.

"Ada 11 provinsi yang sudah bisa mencapai target pemeriksaan WHO meski fluktuatif," katanya.

Beberapa kendala pemenuhan target terkait jumlah sumber daya manusia untuk memeriksa di lapangan. Makin tinggi jumlah kasus maka makin tinggi jumlah pemeriksaan.

Terkait pemeriksaan biasanya turun saat _weekend_ atau pada saat libur panjang. Diperlukan _support_ seperti insentif yang diberikan ke laboran yang bekerja saat libur. Kendala lainnya, reagen harus semerek untuk bisa digunakan di lab.

Di samping itu, kualitas pemeriksaan dipengaruhi beberapa hal seperti proses pengambilan sampel harus benar. Saat pemeriksaan di lab harus terjaga kualitasnya agar tidak terjadi kontaminasi.

Pengambilan spesimen tidak benar, viralot nya kurang sehingga tidak terdeteksi di lab. Litbangkes sudah memiliki standar kualitas seluruh jejaring lab pemeriksaan covid-19.

Pengambilan sampel, transportasi sampel menuju lab sampai pemeriksaan ini akan mempengaruhi akurasi hasil pemeriksaan.

Terkait kasus aktif, Jawa Barat dan Jawa Tengah mengalami kenaikan kasus signifikan. Dewi menyebut, peningkatan kasus terutama dari kluster baru. Di Jawa Barat juga disumbang dari kluster industri.

"Selain itu, Jawa Tengah dan Jawa Barat menunjukkan kenaikan kasus signifikan pascalibur panjang," ucapnya.

Dua daerah ini juga menjadi destinasi wisata saat libur panjang. Namun hasilnya baru terlihat minggu depan.

Jumlah kasus aktif paling tinggi di Jawa Barat mencapai 10.477 kasus dan Jawa Tengah di atas 7000 kasus, lalu diikuti DKI Jakarta, Papua dan Sumatera Barat dibandingkan pekan sebelumnya.

Sementara itu, ada 10 kabupaten/kota tidak ada kasus aktif dan 16 kabupaten/kota angka kesembuhannya 100 %.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Penyandang Disabilitas Masih Alami Diskriminasi

Pemerintah memberikan peluang dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan produktif.

NASIONAL | 18 November 2020

Jasa Marga Rekayasa Lalin di Tol Cipularang

PT JJS melakukan pembongkaran jembatan overpass eksisting yang berada di Tol Cipularang KM 76+200 arah Jakarta, Kamis (19/11/2020) mulai 00.00 WIB.

NASIONAL | 18 November 2020

Tegaskan Pilkada Dilindungi Konstitusi, Polri: Itu Orang-orang Tidak jelas, Jangan Disamakan

Polri berpedoman pada Inpres 06/2020, dimana polisi bersama TNI, Pemda dan stakeholder terkait akan melakukan patroli bersama untuk menertibkan prokes.

NASIONAL | 18 November 2020

Bina Marga Targetkan Tol Baru 2.500 Km Pertengahan 2024

Bina Marga menargetkan pembangunan tol baru sekitar 2.500 km terutama di Jawa, Sumatra, dan Bali serta 30 km jalan nasional baru hingga pertengahan 2024.

NASIONAL | 18 November 2020

DPR Minta Vaksinasi Covid-19 Harus Aman dan Sesuai Prosedur

Anggota Komisi IX DPR Intan Fauzi meminta agar seluruh perencanaan, pengadaan, dan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dipersiapkan dengan baik.

NASIONAL | 18 November 2020

Mendagri: Pilkada Serentak 2020 Kondusif Tapi Pemerintah Takkan Terlena

Tiga minggu terakhir ini Kemdagri akan mengingatkan untuk menggalakkan kampanye agar masyarakat menggunakan hak pilih datang ke TPS.

NASIONAL | 18 November 2020

Elektabilitas Muhamad Naik Hampir 20% dalam Dua Bulan, Survei Indikator Diragukan Pengamat

Analis politik dari Universitas Pamulang Lukman Hakim semakin meragukan hasil survei yang dikeluarkan Indikator Politik Indonesia.

NASIONAL | 18 November 2020

BNPT Gandeng Kementerian dan Lembaga Cegah Pendanaan Teroris

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menandatangani komitmen dengan 13 kementerian/lembaga terkait upaya menghentikan tindak pidana pendanaan terorism

NASIONAL | 18 November 2020

Kurangi Polusi Udara, Kemhub Resmikan Lab Uji Emisi Heavy Duty R49

Kemhub meresmikan Laboratorium Uji Emisi Heavy Duty R49 di Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) Bekasi.

NASIONAL | 18 November 2020

Diperintah Suami Pinangki, Anggota Polisi Ini Buang Bukti Transfer

Napitupulu Yogi Yusuf memerintahkan Benny Sastrawan untuk membuang bukti transfer setelah melakukan penukaran valas di money changer.

NASIONAL | 18 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS