Prasetijo Perintahkan Anak Buah Napoleon Buat Surat Atas Nama Istri Djoko Tjandra
INDEX

BISNIS-27 537.873 (-1.54)   |   COMPOSITE 6307.13 (-48.56)   |   DBX 1215.21 (-5.42)   |   I-GRADE 185.638 (-0.44)   |   IDX30 533.814 (-2.1)   |   IDX80 142.76 (-0.73)   |   IDXBUMN20 425.411 (-4.99)   |   IDXESGL 147.067 (-0.47)   |   IDXG30 144.927 (0.21)   |   IDXHIDIV20 469.552 (-2.43)   |   IDXQ30 151.508 (0.19)   |   IDXSMC-COM 286.952 (-2.83)   |   IDXSMC-LIQ 357.858 (-1.26)   |   IDXV30 144.532 (-2.19)   |   INFOBANK15 1076.36 (2.19)   |   Investor33 457.615 (-2.19)   |   ISSI 184.91 (-1.68)   |   JII 650.972 (-4.67)   |   JII70 227.363 (-1.7)   |   KOMPAS100 1270.4 (-8.29)   |   LQ45 991.58 (-3.63)   |   MBX 1739.82 (-14.27)   |   MNC36 337.819 (-1.76)   |   PEFINDO25 325.262 (6.76)   |   SMInfra18 322.474 (-5.58)   |   SRI-KEHATI 391.563 (-2.01)   |  

Prasetijo Perintahkan Anak Buah Napoleon Buat Surat Atas Nama Istri Djoko Tjandra

Kamis, 26 November 2020 | 20:02 WIB
Oleh : Fana Suparman / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Brigjen Prasetijo Utomo selaku Kabiro Kordinasi Pengawasan PPNS Bareskrim Polri terungkap memerintahkan Kasubag Kejahatan Umum Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri, Brigadir Junjungan Fortes untuk membuatkan surat atas nama Anna Boentaran. Anna merupakan istri terpidana dan buronan perkara cessie Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra.

Hal ini diungkapkan Fortes saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap penghapusan nama Djoko Tjandra dalam daftar red notice Polri dengan terdakwa Djoko Tjandra di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Dalam persidangan, Fortes mengakui pernah mendapat perintah dari Brigjen Prasetijo Utomo untuk membuat surat dari masyarakat sipil yang ditujukan pada Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri atau atasannya yang saat itu dijabat Irjen Pol Napoleon Bonaparte. Surat tersebut dibuat atas nama Anna Boentaran, istri Djoko Tjandra. Atas perintah itu, Prasetijo menjanjikan akan memberikan imbalan kepada Fortes.

Mulanya, Jaksa Wartono menanyakan kepada Fortes mengenai hubungannya dengan Prasetijo. Kepada Jaksa, Fortes mengungkapkan bahwa pernah dihubungi Prasetijo pada 9 April 2020.

"Pernah dihubungi beliau pada 9 April 2020, Brigjen Prasetijo memerintahkan saya untuk menghadap beliau melalui telepon," kata Fortes menjawab pertanyaan Jaksa di ruang persidangan.

Mendapat perintah untuk menghadap, Fortes kemudian melapor pada atasannya, Kabag Kejahatan Umum Divisi Hubinter Polri, Kombes Tommy Dwi Hariyanto. Tommy pun mengizinkan Fortes menemui Prasetijo. Saat menghadap, Fortes mengaku diperintahkan oleh Prasetijo untuk membuat surat atas nama Anna yang ditujukan kepada atasannya Kadiv Hubinter Polri yang saat itu dijabat Irjen Napoleon Bonaparte.

"Tiba di sana, beliau (Prasetijo) memerintahkan saya untuk membuat surat dari sipil ke Kadiv Hubinter Polri. Menyatakan kalau Djoko Tjandra orang tidak bersalah. Setelah itu saya tidak bertanya, saya langsung kembali ke ruangan saya," lanjutnya.
"Langsung buat surat?" cecar Jaksa.

"Saya kerjakan di hari yang sama, tapi saya kirim hari berikutnya. Waktu itu diarahkan Pak Prasetijo dari Anna Boentaran ke Kadiv Hubinter. Berdasarkan informasi, Anna adalah istri Djoko Tjandra," papar Fortes.

Fortes menjelaskan isi surat tersebut terdiri dari tiga paragraf. Pertama, ucapan terimakasih dari Anna Boentaran kepada Napoleon. Pada paragraf kedua, berisi salinan Peninjauan Kembali Djoko Tjandra dan paragraf ketiga tertera kalimat, berdasarkan salinan putusan PK dan MK bahwa Djoko Tjandra tidak bersalah. Mohon bantuan status hukum.

"Saya ingat suratnya dua lembar, dan itu terdiri dari tiga paragraf. Pertama, saya ketik ucapan terimakasih dari Anna ke Kadivhuter, paragraf dua, amar putusan, paragraf tiga disebutkan Djoko Tjandra adalah orang tidak bersalah," ungkap Fortes.

"Selain itu? Permohonan pencabutan red notice?" cecar Jaksa lagi.

"Tidak ada," jawabnya.

Setelah surat tersebut selesai dikerjakannya dan dikirimkan ke Prasetijo, dalam pertemuan berikutnya, Fortes mengaku Prasetijo menyampaikan surat tersebut telah diteruskan. Selain itu, Prasetijo menjanjikan akan memberikan imbalan.

"Ketika dipanggil yang kedua kali, dia (Prasetijo) menyampaikan jika surat yang saya buat sudah diteruskan. 'Nanti kamu dapat lah'. Saya bilang siap," ungkap Fortes menirukan pernyataan Prasetijo.

Namun, Fortes mengaku tidak menanyakan lebih lanjut maksud pernyataan Prasetijo tersebut. Fortes mengungkapkan jika Prasetijo juga sempat menyinggung nama Irjen Napoleon Bonaprte yang merupakan atasannya.

"Kadiv-mu dapat banyak," kata Fortes menirukan ucapan Prasetijo.

"Pemahaman Anda terkait ucapan tersebut?" tanya Jaksa

"Saya tidak bertanya, dan Pak Prasetjo tidak menjelaskan lebih jauh," jawab Fortes.

"Tahu tidak maksud kalimat itu?" cecar Jaksa lagi.

"Secara tidak langsung, pemahaman saya soal uang," kata Fortes.

Soesilo Aribowo, pengacara Djoko Tjandra kemudian menanyakan alasan Fortes bersedia diperintah Prasetijo. Hal ini mengingat Prasetijo bukanlah atasan langsung Fortes. Menjawab hal tersebut, Fortes menyebut hanya mengikuti perintah atasan tidak langsungnya. Fortes juga mengaku telah meminta izin ke atasannya, yakni Kombes Tommy.

"Tidak Pak, di Polri itu ada atasan langsung dan tak langsung," jawab Fortes.

"Saya ketika ingin buat draf (surat ke istri Djoko Tjandra) itu laporan sama atasan saya Kombes Tommy," imbuhnya.

Kombes Tommy yang juga dihadirkan sebagai saksi menjelaskan alasannya mengizinkan Brigadir Fortes menjalankan perintah Brigjen Prasetijo, meski bukan atasan langsung. Tommy menyebut di kepolisian dikenal hubungan senior dan junior.

"Tidak ada aturan, tapi kami diajari menghormati senior," kata Tommy.

Menurut Tommy, hubungan senior junior sangat lazim di lingkungan kepolisian. Junior akan menghadap jika dipanggil oleh senior sepanjang tidak mengganggu pekerjaan utamanya. Apalagi, kata Tommy, Prasetijo sempat bertugas bersamanya di Divisi Hubinter Polri.

"Di kehidupan kami sekarang banyak senior junior, ada senior yang telepon. Kalau ada senior telepon, kami akan datang sepanjang tidak mengganggu pekerjaan kami. Kami sudah sampaikan ke Pak Kadiv ada anggota yang dipanggil orang lain. Beliau hanya sampaikan secara gesture aja," kata Tommy.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Djoko Soegiarto Tjandra memberikan suap kepada dua jenderal kepolisian, yakni Irjen Napoleon Bonaparte selaku Kadiv Hubinter Polri dan Brigjen Prasetijo Utomo selaku Kabiro Kordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri untuk menghapus namanya dari daftar red notice Polri atau status daftar pencarian orang (DPO).

Suap kepada dua jenderal polisi itu diberikan Djoko Tjandra melalui pengusaha Tommy Sumardi. Selain itu, Djoko Tjandra juga didakwa memberikan suap sejumlah USD 500 ribu dari yang dijanjikan USD 1 juta kepada Pinangki Sirna Malasari selaku Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejaksaan Agung melalui pengusaha Andi Irfan Jaya yang juga mantan politikus Nasdem.

Suap itu diberikan Djoko Tjandra kepada Pinangki untuk mengurus fatwa ke Mahkamah Agung (MA) melalui Kejaksaan Agung agar pidana penjara yang dijatuhkan kepada Djoko Tjandra berdasarkan Putusan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 12 Tanggal 11 Juni 2009 tidak bisa dieksekusi sehingga Djoko Soegiarto Tjandra bisa kembali ke Indonesia tanpa harus menjalani pidana.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

3 Anggota TNI Terluka dalam Baku Tembak dengan OPM di Ndugama

Baku tembak antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat OPM dengan TNI terjadi dari pukul 13.00 WIT hingga pukul 16.00 WIT di Kindibam.

NASIONAL | 26 November 2020

Kembangkan UMKM, Imani Bakal Libatkan Milenial di Supiori

Yan Imbab dan Nichodemus Ronsumbre (Imani) memastikan bakal melibatkan milenial dalam pengembangan Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Supiori.

NASIONAL | 26 November 2020

KPK Tahan Stafsus Edhy Prabowo

Andreau Pribadi Misata yang merupakan stafsus Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan dan seorang swasta bernama Amiril Mukminin, Kamis (26/11/2020).

NASIONAL | 26 November 2020

Kasal Tinjau 2 Kapal Perang Baru yang Akan Perkuat TNI AL

Kasal Laksamana TNI Yudo Margono meninjau dua kapal perang baru yang akan memperkuat armada TNI AL yakni KRI Teluk Kendari 518 dan KRI Teluk Kupang 519.

NASIONAL | 26 November 2020

Pilkada 2020 Jadi Momentum Perlindungan Hutan dan Gambut

Berdasarkan kajian Madani, hutan alam di 9 provinsi dan 10 kabupaten penyelenggara Pilkada menghadapi 4 kategori ancaman yang levelnya semakin meningkat.

NASIONAL | 26 November 2020

IFAD: SDGs Desa Bisa Jadi Contoh Dunia

IFAD menilai SDGs Desa ini tak hanya mutakhir dari sisi Indonesia, namun juga bisa menjadi pembelajaran bagi pembangunan desa-desa di seluruh dunia.

NASIONAL | 26 November 2020

Kejagung Periksa Tujuh Saksi Kasus Tipikor KONI Pusat

7 saksi saksi diduga mengetahui aliran uang atau dana bantuan pemerintah kepada KONI Pusat dan penggunaannya berupa honor rapat dan uang pengganti transport.

NASIONAL | 26 November 2020

Edhy Prabowo dan Siasat Monopoli Kargo Ekspor Benur

Edhy Prabowo diduga mengatur siasat agar PT Aero Citra Kargo menjadi perusahaan tunggal pengiriman benih lobster.

NASIONAL | 26 November 2020

Kesadaran Masyarakat tentang Inklusivitas Disabilitas Perlu Ditingkatkan

InklusiFest adalah festival untuk merayakan inklusivitas disabilitas di Indonesia.

NASIONAL | 26 November 2020

Kasus Jiwasraya, Kejagung Periksa Saksi Tersangka Korporasi

Kejagung kembali melakukan pemeriksaan terhadap satu tersangka korporasi yang terkait dengan Perkara Tindak Pidana Korupsi Asuransi Jiwasraya.

NASIONAL | 26 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS