Menuai dan Berbagi Berkat dari Zakat ….
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Menuai dan Berbagi Berkat dari Zakat ….

Kamis, 10 Desember 2020 | 21:29 WIB
Oleh : Stefi Thenu / JEM

Semarang, Beritasatu.com - Muslikatun (39), sibuk menata pakaian kering yang menumpuk. Di sebelahnya, Yani (35), karyawannya sibuk menyeterika. Ruang berukuran 4x5 meter terasa sangat sempit, dengan dua unit mesin cuci, dua unit dryer (pengering), dan satu tabung seterika uap. Di situ ada pula meja setrika, beberapa keranjang pakaian, dan rak susun untuk pakaian cuci-setrika yang siap diambil pelanggan.

‘’Ruangan ini dulunya garasi mobil, yang saya ubah jadi tempat usaha laundry. Ini saya sekat-sekat, tiga ruangan lainnya saya sewakan, salah satunya dipakai usaha ponsel dan isi ulang pulsa,’’ ungkap wanita kelahiran Semarang, 5 Maret 1981 itu, saat ditemui Beritasatu.com, Kamis (10/12/2020).

Usaha Riffi Laundry, miliknya, terletak di Jalan Anyar, Wates, Ngaliyan, sekitar 2 km dari Lapas Kedungpane Semarang, dirintis sejak 2015. Kendati berukuran kecil, perempuan berhijab itu mengaku, usaha laundry miliknya ramai pelanggan. Dalam sehari, rata-rata bisa mengerjakan 30-50 kg pakaian. Ibu dua anak ini juga menerima layanan cuci sepatu dan tas. Setahun terakhir, dia juga menerima layanan cuci helm. Rata-rata pelanggannya berasal dari warga yang tinggal di kompleks perumahan, di dekat kampungnya.

Muslikatun bertutur, tempat usaha yang menjadi satu dengan rumahnya itu adalah bangunan grosir sembako, miliknya. ‘’Dulu tempat ini, penuh dengan sembako komplet, tapi jalan tiga tahun, bangkrut. Bahkan saya ditipu orang sampai punya utang di bank,’’ tuturnya mengenang.

Bermula dari order seorang pelanggannya yang memiliki usaha katering, dia mengaku tergiur untuk menjalin relasi bisnis. ‘’Awalnya lancar, membeli semua kebutuhan kateringnya dari grosir saya. Dalam sebulan, tagihan rata-rata mencapai Rp 10 juta lancar dibayar. Namun, belakangan dia, mulai butuh modal usaha dan mengajak saya ikut menanamkan modalnya,’’ ujarnya.
Karena dirinya juga butuh suntikan modal usaha, Muslikatun nekad meminjam dana Rp 50 juta di sebuah bank swasta.

Agunannya bukan bangunan, tapi usaha grosirnya. Tapi apa lacur, belum sempat menikmati uangnya, temannya itu tiba-tiba menghilang. ‘’Saya cari ke mana-mana tidak ketemu. Ternyata usaha kateringnya itu hanya kontrakan, karyawannya pun tidak dibayar. Jadilah saya ketiban sial harus menanggung utang hingga Rp 100 juta dari pinjaman itu, sampai sekarang,’’ ungkapnya.

Dia mengaku, hidupnya saat itu berada dalam titik terendah. Usaha grosirnya bangkrut. Sebagai single parent, beban hidupnya pun terasa sangat berat. Tapi keterpurukannya itu tak berlarut-larut. Muslikatun kemudian bangkit, memulai bisnis baru. ‘’Saat itu, saya berpikir, bagaimana menghasilkan uang tanpa meninggalkan rumah. Bagaimana bekerja, tapi tetap bisa mengurus anak-anak. Saya putuskan membuka usaha laundry,’’ tuturnya.

Bermodal mesin cuci miliknya berkapasitas 6 kg, dia pun nekad membuka usahanya. Nama anak bungsunya, Riffi, dibuat jadi nama tempat usaha. Dari papan nama yang dipasangnya di depan rumah, warga pun berdatangan. Apalagi, saat itu belum ada warga yang membuka usaha tersebut. Praktis, usahanya kebanjiran order. Hanya dalam tempo 6 bulan, dia bisa merekrut seorang karyawan, dan seorang warga sebagai pocokan (tenaga paruh waktu) jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Muslikatun mengaku bersyukur, saat tahun 2019 lalu, mendapat bantuan modal usaha dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Semarang. ‘’Dari seorang pelanggan yang kebetulan bekerja di sana, saya mendapat informasi jika Baznas memberi bantuan modal usaha. Saya langsung mengajukan, syaratnya mudah, hanya KTP, KK dan surat pengantar RT/RW, dalam waktu seminggu dananya sudah cair, ditransfer ke rekening kita,’’ ujarnya.

Dana Rp5 juta itu kemudian digunakannya untuk membeli mesin cuci berkapasitas 13 kg. Semula bantuan modal itu berupa pinjaman yang dicicil selama tiga tahun. Namun baru mencicil Rp 208.000 per bulan selama setahun, pada tahun kedua hingga seterusnya dia tak perlu lagi mencicil, dan uang cicilan selama setahun itu dikembalikan lagi secara penuh.

Bukan hanya modal usaha, ibu dari Riffi (8) dan Yudistira (19) itu, mendapat pelatihan tentang manajemen pengelolaan laudry yang digelar Baznas Jateng di Salatiga, pada 2-5 November 2020 lalu. ‘’Dari pelatihan itu, kita diajari bagaimana mengatur keuangan, termasuk teknik mencuci yang baik dan benar. Intinya, kita mendapat ilmu yang bermanfaat untuk masa depan,’’ ujar perempuan ulet, yang juga membuka usaha kuliner angkringan dan warung makan kepala manyung ini.

Bagi Muslikatun, hidupnya adalah untuk kerja dan anak-anak. ‘’Waktu 24 jam itu full untuk kerja dan mengurus keperluan anak-anak. Kegiatan saya itu semuanya untuk mengurus kegiatan mengaji anak, antar-jemput anak belajar tatap muka, mengurusi angkringan, hingga melayani pelanggan laundry hingga jam 10 malam. Kuncinya, niat. Kalau niatnya baik, insyaallah semua dilancarkan. Ini adalah ibadah saya untuk keluarga,’’ ujarnya.

Omzet laundry miliknya tercatat mencapai rata-rata Rp 9 juta per bulan. Dia bisa membayar gaji karyawan Rp 1,5 juta. Sisanya digunakan untuk biaya operasional usaha dan keperluan rumah tangganya sehari-hari. Namun di masa pandemi, dia mengaku omzetnya turun. Saat ini, tinggal Rp 6 juta per bulan. ‘’Turun sebagai dampak sekolah diliburkan, dan beberapa kantor juga, sehingga tak ada yang mencuci seragam sekolah atau kantor. Walau turun, berapa pun hasilnya tetap saya syukuri, saya nikmati. Rezeki sudah ada yang mengatur,’’ ungkapnya.

Menurut Muslikatun, bantuan modal dan pelatihan dari Baznas merupakan berkat yang wajib disyukuri. Dia mengaku, ilmu dari pelatihan berguna meningkatkan kemampuan dan profesionalitas dalam mengelola usahanya itu. ‘’Yang membuat saya bangga, dua orang bekas karyawan saya, juga mengikuti jejak saya membuat usaha laundry,’’ ujarnya, dengan mata berbinar.

Di Kaliwungu, Kendal, Miswati (22), juga mengaku senang. Berkat bantuan beasiswa yang diberikan Baznas, kelancaran studinya di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, terjamin. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, itu mengaku, menerima beasiswa sebesar Rp 3,5 juta per tahun, hingga semester 8. ‘’Saya menerima beasiswa sejak akhir semester 3 tahun 2019. Dana ini sangat membantu studi saya. Dananya saya gunakan membayar SPP Rp2.800.000 per semester dan biaya kebutuhan kuliah di Semarang,’’ ujar Miswati.

Warga Dusun Gedong Lor RT 7 RW V, Desa Sukomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal ini, bersyukur, beasiswa Baznas itu sangat membantu meringankan beban biaya orang tuanya. Hidupnya terbilang susah. Anak bungsu dari 7 bersaudara ini mengandalkan bantuan saudara-saudaranya. Ayahnya, Jumali (70) yang buruh tani tak lagi bisa bekerja, karena usianya dan kesehatannya yang rapuh. Sedangkan ibunya, Suwarni (60), hanya ibu rumah tangga.

Untuk bisa sekolah tinggi, lulus SMA pada 2016, Miswati mengaku harus bekerja dulu selama 2 tahun sebagai buruh pabrik garmen di Ngaliyan, Semarang. Baru pada 2018, dengan bekal tabungannya, dia memberanikan diri mendaftar UIN Walisongo lewat jalur mandiri dan diterima. Dari kampusnya, dia mendaftar beasiswa Baznas Jateng. Syaratnya terbilang mudah. Miswati hanya diminta foto kopi kartu tanda mahasiswa (KTM), surat keterangan tidak mampu (SKTM), IPK, dan surat keterangan dekan,’’ ujarnya.

‘’Syukur alhamdulilah, beasiswa Baznas sangat membantu. Membiayai hingga lulus kuliah. Saya termotivasi untuk menuntaskan studi tepat waktu,’’ tandasnya.

Dia mengaku, kini sudah nyambi bekerja paruh waktu sebagai guru di sebuah taman kanak-kanak (TK) di Semarang, saat kuliahnya diliburkan akibat pandemi. ‘’Sambil kuliah daring, saya gunakan nyambi bekerja untuk menambah pengalaman dan cari uang,’’ ungkapnya.

Di Boyolali, Margono (45), yang sehari-hari bekerja sebagai peternak budidaya lele, mengungkapkan, bantuan modal dan pelatihan yang diterimanya dari Baznas Jateng pada 2019 lalu, membuat usahanya berkembang baik.

Warga Dukuh Kweni RT 7 RW I, Desa Randusari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali itu mengaku, mendapat bantuan modal sebesar Rp3 juta pada 2018. ‘’Uang itu saya pakai untuk membeli dua set bibit lele jenis Mutiara. Harga satu set bibit unggul lele asal Tulungagung, Jawa Timur itu Rp1,5 juta. Satu set berisikan 3 benih jantan dan 5 benih betina. Bantuan ini sangat bergina sekali, karena saat itu, indukan milik saya sudah tua, dan perlu peremajaan,’’ ujarnya.

Dari 12 kolam miliknya yang terdiri atas satu kolam indukan, dua kolam pemijahan, enam kolam penyortiran, dan tiga kolam penebaran benih, Margono menghasilkan omzet Rp 3 juta setiap panen. Panen dilakukan tiap 1,5 bulan. Keuntungan bersih yang bisa diperolehnya rata-rata Rp 2 juta, setelah dikurangi biaya pakan dan listrik.

Selain bantuan modal, Margono juga mendapatkan pelatihan budidaya ternak lele dari Baznas pada tahun lalu. Bersama puluhan peserta, dia mendapat pelatihan sistem bioflok di Salatiga, selama tiga hari.

Dana ZIS

Ketua Baznas Jateng, KH Ahmad Darodji mengungkapkan, jumlah dana dari penghimpunan zakat, infaq, dan sodaqoh (ZIS) di Jawa Tengah kurun waktu 1 Januari hingga 31 Oktober 2020, mencapai Rp 45.831.118.202.

“Rata-rata Rp 5 miliar tiap bulan, dan tertinggi yakni di bulan September 2020 sebesar Rp 7 miliar,” kata Kiai Darodji, saat sosialisasi peran Baznas, di kantornya, Kamis (12/11/2020).

KH Darodji mengatakan, perolehan ZIS tiap bulannya naik turun, dengan besaran rata-rata sebesar Rp 4-5 miliar per bulan.
Penghimpunan itu terus meningkat setiap tahunnya. Data Baznas Provinsi Jateng menyebutkan, dari semula hanya Rp 110.082.000 pada 2014, pada 2015 meningkat menjadi Rp1,924.939.757. Pada 2016, meningkat lagi menjadi Rp 8.533.034.339. Pada 2017, naik lagi menjadi Rp 18.172.862.994. Kemudian, melonjak menjadi Rp 31.479.510.876 (2018), dan Rp 48.978.794.207 (2019).

Dari dana yang terkumpul itu, selama kurun waktu Januari 2016 hingga Agustus 2020, telah disalurkan sebesar Rp 4.299.000.000 untuk rehabilitasi 420 unit rumah tidak layak huni, Rp 175.000.000 untuk 175 orang penyuluh agama Islam, Rp 3.067.325.000 untuk 4.177 mustahik, Rp 135.000.000 untuk bisyaroh imam dan pejuang kemerdekaan, serta Rp1.037.750.000 beasiswa perorangan SD/MI, /SMP/MTs, SMA/MA untuk 1.686 orang.

Dari hasil pengumpulan zakat tersebut, pihaknya mengakui, memang masih jauh dari potensi yang ada. Sebab, belum banyak masyarakat yang mau menjadi muzakki atau pemberi zakat.

“Saat ini, paling banyak muzakki dari aparatur sipil negara (ASN), belum menyentuh masyarakat lainnya. Seperti di perguruan tinggi dan perusahaan-perusahaan swasta,” ungkapnya.

Dari total penghimpunan dana zakat itu, sebesar 40 persen digunakan untuk memberikan pelatihan dan usaha produktif bagi masyarakat yang berhak menerima zakat (mustahik). Diharapkan, suatu saat mereka yang pernah diberi zakat bisa menjadi muzakki atau pemberi zakat.

“Usaha produktif ini seperti untuk pemberian pelatihan budi daya lele dengan sistem bioflok, budi daya cacing sutra, dan jangkrik, serta untuk membantu para pedagang pasar guna modal usahanya. Besaran zakat yang diberikan Rp 3 juta,” katanya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, pihaknya optimis, pendapatan zakat di Jateng akan terus meningkat. Apalagi semakin banyak masyarakat yang sadar untuk membayarkan zakatnya dengan baik.

“Penduduk Jateng mayoritas muslim, sehingga potensi ini kalau dikelola dengan baik maka akan luar biasa,” ujarnya.
Ganjar Pranowo terus mendorong optimalisasi Baznas di Jawa Tengah. Bahkan, dia menggerakkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng untuk giat membayar zakat dari gaji yang diterima. Gerakan itu juga ditularkan Ganjar kepada 35 kabupaten/ kota se-Jawa Tengah.

Saat awal-awal digulirkan, program zakat bagi ASN di lingkungan Pemprov Jateng ini hanya mampu menghasilkan Rp600 juta per bulan. Namun saat ini, perbulan lebih dari Rp 2,5 miliar zakat terkumpul dari ASN di lingkungan Pemprov Jateng.
Selain bantuan modal usaha, beasiswa dan pelatihan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Tengah juga menyalurkan bantuan kebutuhan hidup kepada puluhan ribu santri, yang ada di berbagai pondok pesantren (ponpes) di Jawa Tengah.

Baznas Jateng juga sangat berperan besar di tengah pandemi Covid-19. Pada Mei 2020, Baznas Jateng menyalurkan bantuan Rp2,3 miliar kepada 23.000 santri yang memutuskan untuk tidak pulang kampung saat Hari Raya Idul Fitri dan bertahan di ponpes masing- masing, guna mematuhi imbauan Pemerintah dalam mencegah penyebaran pandemi Covid-19.

Covid-19 yang masih mewabah di Jawa Tengah, membuat puluhan ribu santri yang saat ini ‘mondok’ di sejumlah pondok pesantren di Jawa Tengah memutuskan tidak pulang kampung. Ganjar menyebut, mereka sebagai ‘patriot’ bangsa karena rela tidak pulang demi membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Dukungan penuh Ganjar terhadap Baznas di Jateng, bukan tanpa alasan. Menurut Ganjar, zakat merupakan sumber keuangan yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan di Jawa Tengah.

“Semua persoalan banyak yang dapat diselesaikan dengan Baznas ini. Untuk pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, bantuan modal dan sebagainya. Kalau hanya mengandalkan APBD saja tidak mungkin,” tegasnya.

Sejak digulirkan, pendapatan dari Baznas di Jawa Tengah terus meningkat. Ganjar mengaku, sudah banyak merasakan manfaat dari Baznas untuk mendukung program pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah.

“Ada keinginan kami untuk terus menekan angka kemiskinan serendah mungkin, dan Baznas dapat berperan di sana. Sudah saya rasakan sendiri manfaatnya, ini potensi besar yang terus akan kami garap,” tandas Ganjar.

Atas peran dan kiprahnya selama ini, 27 Agustus 2019 lalu, Baznas Provinsi Jawa Tengah mendapat penghargaan Baznas Award 2019 kategori Baznas Provinsi Dengan Pertumbuhan Penghimpunan ZIS Terbaik se-Indonesia.

Ya, peran Baznas, bukan hanya diakui dan dirasakan manfaatnya oleh orang pertama di Jawa Tengah itu. Namun, terbukti masyarakat sangat terbantu dan merasakan manfaat dari penyaluran ZIS yang dihimpun Baznas. Ratusan hingga ribuan mustahik, telah menuai berkat dari zakat, infaq dan sodaqoh.

Berkat itu, pada gilirannya, juga dibagikan para penerimanya kepada sesama yang jauh lebih membutuhkan. Mereka mampu menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan bagi orang lain. Berkat atau rezeki yang dicurahkan Tuhan atas diri kita, jika dipersembahkan dengan ikhlas, akan menjadi untaian berkat yang terus bergulir tiada henti, kepada banyak orang, termasuk kepada diri kita.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kebutuhan Pustakawan Tidak Sebanding dengan Jumlah Lulusan

Menurut Syarif Bando, sinergisitas penyelenggara pendidikan sangat dibutuhkan untuk pengembangan kompetensi pustakawan.

NASIONAL | 10 Desember 2020

Sahroni Tanya Keberadaan Rizieq Syihab

Wakil Ketua Komisi III Ahmad Sahroni melontarkan pertanyaan menyangkut keberadaan Rizieq Syihab yang hingga kini tidak diketahui.

NASIONAL | 10 Desember 2020

Almisbat: Hukum Harus Ditegakkan bagi Rizieq Syihab

Almisbat menyerukan sekaligus mendukung upaya Polri untuk dapat lebih bersikap tegas terhadap Rizieq Syihab.

NASIONAL | 10 Desember 2020

Upaya Seameo Centre Wujudkan Semangat Merdeka Belajar

Seameo Centre Indonesia membeberkan berbagai upaya untuk mewujudkan Merdeka Belajar.

NASIONAL | 10 Desember 2020

Ditetapkan Sebagai Tersangka, Ini Respons Rizieq Syihab

Terkait dengan rencana penjemputan paksa, kuasa hukum minta pihak kepolisian untuk mengedepankan hak-hak humanis Rizieq Syihab.

NASIONAL | 10 Desember 2020

Membangkitkan Kembali Agribisnis Nanas Tangkit Muarojambi di Tengah Pandemi

“Untuk saat ini, di masa pandemi, pemilik UMKM dodol nanas meningkatkan memasarkan produk mereka secara online (digital),” katanya.

NASIONAL | 10 Desember 2020

Gunung Merapi Alami 24 Kali Gempa Guguran

Gunung Merapi mengalami 24 kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Rabu (9/12) mulai pukul 00.00-24.00 WIB.

NASIONAL | 10 Desember 2020

Penggunaan Sirekap pada Pilkada Serentak di Banten Berjalan Lancar

Penggunaan Sistem Informasi Rekapitulasi Suara (Sirekap) pada Pilkada serentak 2020 wajib dilakukan oleh KPU sebagai penyelenggara pemilu.

NASIONAL | 10 Desember 2020

IFaS-Fest 2020, Ajang Kreatif Adaptasi Kebiasaan Baru

Ajang kompetisi tahunan kali ketiga ini bertujuan mengembangkan inovasi dalam meningkatkan kualitas layanan publik

NASIONAL | 10 Desember 2020

Indeks HAM 2020 Menurun

Indeks Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia pada tahun 2020 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2019.

NASIONAL | 10 Desember 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS