Pinangki Ubah Keterangan, Sejak Awal Tahu Djoko Tjandra Buronan
Logo BeritaSatu

Pinangki Ubah Keterangan, Sejak Awal Tahu Djoko Tjandra Buronan

Rabu, 16 Desember 2020 | 22:06 WIB
Oleh : Fana Suparman / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejaksaan Agung, Pinangki Sirna Malasari, mengubah keterangannya mengenai perkenalannya dengan terpidana perkara korupsi cessie Bank Bali Djoko Tjandra.

Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dan dalam persidangan sebelumnya, Pinangki mengklaim tidak mengenal Djoko Tjandra saat bertemu pertama kali di Kuala Lumpur bersama rekannya yang bernama Rahmat. Pinangki mengaku pria yang ditemuinya di The Exchange 106 Kuala Lumpur merupakan Joe Chan.

Namun, saat dihadirkan sebagai saksi perkara dugaan suap, dan pemufakatan pengurusan fatwa MA melalui Kejagung dengan terdakwa Andi Irfan Jaya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (16/12/2020), Pinangki mengaku mengetahui pria yang ditemuinya merupakan Djoko Tjandra yang menjadi buronan institusinya, yakni Kejaksaan Agung. Bahkan, Pinangki mengklaim berencana membawa Djoko Tjandra ke Indonesia agar bisa dieksekusi.

"Saya tertarik ingin ketemu dia (Djoko Tjandra) karena kalau dia dieksekusi kan bagus untuk kita," kata Pinangki dalam kesaksiannya di persidangan.

Pinangki pertama kali bertemu dengan Djoko Tjandra pada 12 November 2020 di kantor Djoko di The Exchange 106, Kuala Lumpur bersama dengan seseorang bernama Rahmat. Meski mengklaim ingin membawa Djoko Tjandra ke Indonesia, Pinangki justru mengaku tidak melapor ke Kejaksaan Agung mengenai pertemuannya di Kuala Lumpur.

"Tapi saya tidak lapor ke kantor, karena rencananya yang melaporkan itu Bu Anita," kata Pinangki.

"Tapi, katanya tertarik supaya Djoko Tjandra bisa dieksekusi," kata Ketua Majelis Hakim Ignasius Eko Purwanto.

"Karena rencananya Djoko Tjandra ditahan lebih dahulu, itu rencana yang saya buat dengan Bu Anita dan Andi Irfan, tapi urusan setelahnya itu urusan lawyer dan itu sudah tegas dibicarakan saat makan malam di Hotel Mahakam," jawab Pinangki.

Pernyataan Pinangki ini berbeda dengan keterangannya di BAP maupun persidangan sebelumnya. Bahkan, dalam nota keberatan atau eksepsi atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang disampaikan tim kuasa hukumnya, Pinangki mengaku tak tahu pria yang ditemuinya merupakan Djoko Tjandra. Pinangki baru mengetahui Joe Chan merupakan Djoko Tjandra saat pertemuan ketiga kalinya pada 25 November 2019.

Majelis Hakim pun menegur dan mempertanyakan perbedaan keterangan Pinangki tersebut.

"Doktor Pinangki, di awal Saudara katakan ketika di BAP penyidik sudah menerangkan yang benar...," kata Hakim Agus Salim.
Namun, sebelum Hakim Agus menyelesaikan pernyataannya, Pinangki memotong. Pinangki mengakui banyak keterangannya yang harus dikoreksi.

Ketika ditanya terkait pertimbangannya mengubah keterangan, Pinangki terisak. Pinangki mengaku ditangkap di depan anaknya.
"Izin, Majelis. Saya ditangkap depan anak saya ditahan (menangis). Saya ditangkap ditahan di depan anak saya 4 tahun," kata Pinangki.

Pinangki menyebut penangkapan dan penahanan yang dialaminya membuatnya harus berpisah dengan anaknya. Hakim pun mempertanyakan adanya tekanan yang dialami Pinangki saat menjalani pemeriksaan oleh penyidik.

"Lebih tepatnya saya menangis terus, yang saat itu saya pikir bagaimana cepat selesai pemeriksaan," katanya.

Hakim Agus kembali bertanya, namun Pinangki kembali menangis. Hal ini menjadi sorotan Hakim Agus lantaran Pinangki dapat dengan lancar memberikan saran kepada Djoko Tjandra. Bahkan, saat memberikan keterangan di persidangan, Pinangki terlihat tertawa.

"Saya tadi lihat saja Saudara beri keterangan malah ketawa-ketawa. Ini wibawa pengadilan ini. Belum ditanya Saudara selalu menyela. Sudah berkali-kali ditanya, dijawab, jangan jawab jangan menyela kalau nggak ditanya," tegas Hakim Agus Salim.

"Kalau memang ada yang tidak tepat tunjukkan yang tidak tepat masalah apa?," tanya Hakim Agus.

"Saya tidak tahu Djoko Tjandra saat saya ke Kuala Lumpur. Padahal sebenarnya saya sudah tahu," jawab Pinangki.

Diberitakan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa pengusaha Andi Irfan Jaya menjadi perantara suap dari terpidana dan buronan perkara korupsi pengalihan hak tagih atau cessie Bank Bali, Djoko Tjandra kepada Pinangki Sirna Malasari selaku Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejaksaan Agung (Kejagung).

Andi Irfan Jaya yang juga mantan politikus Partai Nasdem disebut menerima uang sejumlah USD 500.000 dari yang dijanjikan Djoko Tjandra sebesar USD 1 juta. Uang itu kemudian diserahkan Andi Irfan Jaya kepada Pinangki Sirna Malasari.

Suap tersebut diberikan agar Pinangki mengurus permintaan fatwa Mahkamah Agung (MA) melalui Kejagung agar pidana penjara yang dijatuhkan kepada Djoko Tjandra berdasarkan putusan PK (Peninjauan Kembali) Nomor 12 Tanggal 11 Juni 2009 tidak bisa dieksekusi.

JPU juga mendakwa Andi Irfan Jaya telah bermufakat jahat bersama-sama Pinangki dan Djoko Tjandra untuk memberikan suap kepada pejabat Kejagung dan Mahkamah Agung (MA) terkait permintaan fatwa MA melalui Kejagung.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Bupati Kolaka Timur Ditangkap KPK

Dolfi menuturkan, Bupati Kolaka Timur tersebut diperiksa bersama lima orang stafnya.

NASIONAL | 22 September 2021

Hari Ini, 2 Eks Pejabat Pajak Jalani Sidang Perdana Perkara Suap dari Bank Panin Cs

Dua mantan pejabat Ditjen Pajak, Dadan Ramdani dan Angin Prayitno Aji, akan menjalani sidang dalam kasus menerima suap dari PT Bank Panin.

NASIONAL | 22 September 2021

OTT di Kolaka Timur, Firli: KPK Tak Pandang Bulu Jerat Koruptor

KPK tidak pandang bulu siapa pun yang berdasarkan bukti permulaan cukup telah melakukan tindak pidana korupsi.

NASIONAL | 22 September 2021

Legislator Dukung KLHK dan Polri Berangus PETI di Sulut

Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Amin AK mendukung upaya tegas KLHK dan Mabes Polri menertibkan aktivitas PETI di Sulawesi Utara.

NASIONAL | 22 September 2021

Diingatkan Nadiem, Ini Dampak Learning Loss Jika PTM Terbatas Tak Dilakukan

Mendikbudristek mengingatkan kepada semua pihak tentang dampak learning loss jika pembelajaran tatap muka terbatas tak dilakukan.

NASIONAL | 22 September 2021

Operasi Tangkap Tangan KPK di Kolaka Timur, Sejumlah Pihak Diringkus

Tim Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar operasi tangkap tangan (OTT) di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Selasa (21/9/2021) malam.

NASIONAL | 22 September 2021

BMKG Keluarkan Peringatan Dini terkait Cuaca Ekstrem di Berbagai Daerah

BMKG mengeluarkan peringatan dini terhadap cuaca ekstrem di sejumlah daerah, Rabu (22/9/2021).

NASIONAL | 22 September 2021

Penumpang Singapore Airlines dari Indonesia Boleh Transit di Changi

Penumpang Singapore Airlines (SIA) dari Indonesia mulai 23 September 2021 akan diizinkan untuk transit di Bandara Changi Singapura.

NASIONAL | 22 September 2021

Kepala LAN: Widyaiswara Jadi Garda Terdepan Penyiapan ASN Unggul di Era Digital Learning

Birokrasi meninggalkan cara-cara lama dalam bekerja demi mencapai efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi

NASIONAL | 21 September 2021

PTM di Semarang, 7 Guru dan Siswa Tertular Covid-19

Ada tujuh guru dan siswa dikonfirmasi tertular Covid-19 selama pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di Semarang

NASIONAL | 21 September 2021


TAG POPULER

# Rocky Gerung vs Sentul City


# Napoleon Bonaparte


# Anies Baswedan


# PPKM


# Bangga Buatan Indonesia



TERKINI
Bupati Kolaka Timur Ditangkap KPK

Bupati Kolaka Timur Ditangkap KPK

NASIONAL | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings