Logo BeritaSatu

Patahan Lembang, Bahaya dari Utara Bandung

Senin, 25 Januari 2021 | 21:12 WIB
Oleh : Adi Marsiela / LES

Bandung, Beritasatu.com - Sudah beberapa tahun belakangan tidak ada gempa yang terpantau di Patahan Lembang. Potensi bencana mengintai saat masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan kapasitas mitigasi bencana.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Kelas I Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Rasmid menyatakan, tidak ada aktivitas kegempaan yang tercatat sejak 2019 di Sesar Lembang, salah satu patahan aktif di bagian utara Kota Bandung.

Padahal, rekaman data pada 2010-2012 mencatat ada 14 kali pergerakan tanah yang diakibatkan gempa pada patahan yang membentang dari Padalarang sekitar rel kereta api di sisi barat Bandung hingga ke daerah Palintang, sebelum kaki Gunung Manglayang di sisi timur Bandung sepanjang 29 km.

“Ada juga kegempaan pada 2017 lalu kisaran di bawah magnitude 3,” kata Rasmid ketika dihubungi, Senin (25/1/2021).

BMKG mencatat kekuatan gempa di Sesar Lembang itu antara magnitude (M) 1,2-3,3 dengan sumber gempa pada kedalaman antara 4-5 km.

Salah satu gempa yang merusak terjadi 28 Agustus 2011, dua hari jelang Idulfitri 1432 H sekitar pukul 9 pagi. Gempa M 3,3 itu merusak sedikitnya 384 rumah di Kampung Pasirluyu, Pasirhalang, Tugu, dan Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Patahan atau Sesar Lembang, ungkap Rasmid, terbagi atas tiga segmen, antara Padalarang-Parompong (segmen barat), Lembang-Maribaya (segmen tengah), dan Cibodas-Manglayang (segmen timur). Gempa merusak tahun 2011 diduga terjadi akibat pergerakan pada salah satu segmen saja.

“Jika bergerak berbarengan potensi magnitude-nya bisa 6,9. Itu skenario terburuknya,” imbuh Rasmid.

Selepas kegempaan pada 2017 hingga saat ini, BMKG belum mencatat adanya kegempaan di patahan yang aktif tersebut. Aktif mengacu pada pergerakan sesar.

Sebelumnya, Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti paleo seismologi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan tidak ada catatan atau sejarah gempa bumi besar pada Patahan Lembang. Namun, dalam penelitiannya selama delapan tahun, Mudrik mendapatkan bukti geomorfologi tentang aktivitasnya, yang sejak lama diperkirakan aktif. Geomorfologi adalah ilmu tentang bentuk permukaan bumi masa kini dan proses yang mengakibatkan bentuk tersebut.

Penelitian yang mengakuisisi data Lidar (Light Detection and Ranging) ini bisa menembus tutupan vegetasi guna mendapatkan morfologi rinci bentukan sesar aktif tersebut. Pada patahan sepanjang 29 km itu dia memberi penanda per satu kilometer guna memudahkan proses penelitian terkait bukti-bukti adanya pergeseran muka Bumi di bidang tersebut.

Pemetaan yang dilengkapi dengan teknologi Ifsar (Inferferometric Resolution Synthetic Aperture Radar) ini memperlihatkan adanya pergeseran permukaan bumi, yang menandakan aktivitas sesar pada patahan tersebut.

Mulai dari patahan yang memotong dan membentuk bukit memanjang, istilahnya fault scarps atau gawir sesar, di daerah Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, river o sets atau pembelokan sungai ke kiri serta beheaded river atau sungai terpancung di kilometer 5 dan 6, kawasan Desa Pasirlangu.

“Sungai terpancung itu ada sungai panjang lalu terpotong (patahan) sehingga masuk ke sungai lain, jadi sungai yang awal itu mati,” terang Mudrik sembari menambahkan di beberapa bagian lain ada anticline atau terangkatnya permukaan bumi yang membentuk gelombang seperti di Desa Karyamukti, Kabupaten Bandung Barat.

Patahan Bergerak
Penelitian itu dia paparkan dalam jurnal bertajuk Earthquake Geology of the Lembang Fault, West Java, Indonesia bersama Danny H Natawidjaja dari LIPI, Benjamin Sapiie dari Institut Teknologi Bandung, dan Phil Cummins dari Australia National University. Laporan penelitian selama delapan tahun itu sudah tayang di jurnal Tectonophysics edisi 17 Desember 2018 lalu.

Mereka membuktikan patahan itu bergerak pada kurun waktu 11.500 tahun yang lalu lewat dua titik uji paritan. Lokasinya di Desa Batu Lonceng, antara kilometer 25-26 dan bekas cekungan danau di Panyairan, antara kilometer 11-12. Kedua lokasi dipilih karena ada jejak morfologis dampak dari pergerakan kulit bumi dan sistem sedimentasi yang dinilai baik. Untuk mengecek lapisan sedimentasi pada dua lokasi itu, tim membuat parit dengan kedalaman antara 1,5-2 meter.

Jika kondisi geologinya normal-normal saja, maka lapisan sedimentasinya bakal seperti kue lapis yang tiap lapisannya tersusun rapi. Penggalian ini memperlihatkan satu lapisan dengan lapisan lain tidak simetris atau miring. “Kita temukan bukti slip, kejadian gempa pada abad 15 dan 60 tahun sebelum masehi,” ujar Mudrik.

Berkaca pada temuan gempa abad ke-15 dan 60 tahun sebelum masehi, sambung Mudrik, jika ditambahkan periode ulang gempa 670 tahun, bisa jadi saat ini patahan Lembang memasuki masa akhir sebelum terjadinya gempa bumi lagi.

Menyoal mitigasi, Rasmid menuturkan, ada dua pendekatan. Satu pendekatan struktural yang berada di bawah Kementerian PUPR terkait aturan serta panduan pembangunan dengan standar nasional Indonesia.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 27 September 2022

Berikut ini Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Kasus & Kematian Covid-19 di Jakarta, 27 September 2022

Berikut ini Data Kasus & Kematian Covid-19 di Jakarta, 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Kasus Aktif Covid-19 Nasional sampai 27 September 2022

Berikut ini Data Kasus Aktif Covid-19 Nasional sampai 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Prevalensi Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022

Berikut ini Data Prevalensi Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022 sesuai denan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Positivity Rate Covid-19 sampai 27 September 2022

Berikut ini Data Positivity Rate Covid-19 sampai 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Kesembuhan Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022

Berikut ini Data Kesembuhan Terendah Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Kasus Positif dan Kematian Covid-19 sampai 27 September 2022

Berikut ini Data Kasus Positif dan Kematian Covid-19 sampai 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

PDIP Jelaskan Wajah Kesal Puan Saat Bagikan Kaus ke Warga

Politikus PDIP Said Abdullah menjelaskan wajah kesal Ketua DPR Puan Maharani saat membagikan kaus ke warga di Jawa Barat yang videonya viral di media sosial.

NEWS | 28 September 2022

Data Kematian Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022

Berikut ini Data Kematian Tertinggi Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022 seperti data dari kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Prediksi Puncak Covid-19 Berdasarkan Data, 27 September 2022

Berikut ini Prediksi Puncak Covid-19 Berdasarkan Data, 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Surplus APBN


# Kompor Listrik


# AKBP Arif Rachman


# Lukas Enembe


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
PDIP Jelaskan Wajah Kesal Puan Saat Bagikan Kaus ke Warga

PDIP Jelaskan Wajah Kesal Puan Saat Bagikan Kaus ke Warga

NEWS | 3 jam yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings