Patahan Lembang, Ancaman Bahaya dari Utara Bandung
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 515.321 (-2.12)   |   COMPOSITE 6289.65 (-47.85)   |   DBX 1346.19 (-12.68)   |   I-GRADE 181.205 (-1.35)   |   IDX30 507.3 (-3.78)   |   IDX80 137.13 (-1.34)   |   IDXBUMN20 404.453 (-5.99)   |   IDXESGL 139.923 (-0.37)   |   IDXG30 143.928 (-0.43)   |   IDXHIDIV20 446.912 (-3.18)   |   IDXQ30 145.336 (-0.95)   |   IDXSMC-COM 297.691 (-2.23)   |   IDXSMC-LIQ 363.216 (-3.08)   |   IDXV30 137.088 (-3.12)   |   INFOBANK15 1041.31 (-5.34)   |   Investor33 435.377 (-2.34)   |   ISSI 184.679 (-1.32)   |   JII 634.506 (-3.05)   |   JII70 224.071 (-1.43)   |   KOMPAS100 1224.8 (-8.57)   |   LQ45 952.541 (-7.79)   |   MBX 1705.32 (-12.44)   |   MNC36 322.487 (-1.62)   |   PEFINDO25 325.966 (4.31)   |   SMInfra18 310.375 (-3.1)   |   SRI-KEHATI 370.053 (-2.69)   |  

Patahan Lembang, Ancaman Bahaya dari Utara Bandung

Selasa, 26 Januari 2021 | 11:17 WIB
Oleh : Adi Marsiela / JEM

Bandung, Beritasatu.com - Sudah beberapa tahun belakangan tidak ada gempa yang terpantau di Patahan Lembang. Potensi bencana mengintai saat masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan kapasitas mitigasi bencana.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Kelas I Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Rasmid menyatakan, tidak ada aktivitas kegempaan yang tercatat sejak 2019 lalu di Sesar Lembang, salah satu patahan aktif di bagian utara Kota Bandung.

Padahal, rekaman data pada 2010-2012 mencatat ada 14 kali pergerakan tanah yang diakibatkan gempa pada patahan yang membentang—dari Padalarang sekitar rel kereta api di sisi barat Bandung hingga ke daerah Palintang, sebelum kaki Gunung Manglayang di sisi timur Bandung—sepanjang 29 kilometer. “Ada juga kegempaan pada 2017 lalu kisaran di bawah magnitude 3,” kata Rasmid ketika dihubungi, Senin, 25 Januari 2021.

BMKG mencatat kekuatan gempa di Sesar Lembang itu antara magnitude 1,2-3,3 dengan sumber gempa pada kedalaman antara 4-5 kilometer.

Salah satu gempa yang merusak terjadi pada 28 Agustus 2011, dua hari jelang Idulfitri 1432 Hijriah sekitar pukul 9 pagi. Gempa dengan magnitude 3,3 itu merusak sedikitnya 384 rumah di Kampung Pasirluyu, Pasirhalang, Tugu, dan Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Patahan atau Sesar Lembang, ungkap Rasmid terbagi atas tiga segmen, antara Padalarang-Parompong (segmen barat), Lembang-Maribaya (segmen tengah), dan Cibodas-Manglayang (segmen timur). Gempa merusak pada tahun 2011 itu diduga terjadi akibat pergerakan pada salah satu segmen saja. “Jika bergerak berbarengan potensi magnitude-nya bisa 6,9. Itu skenario terburuknya,” imbuh Rasmid.

Selepas kegempaan pada 2017 lalu hingga saat ini, BMKG belum mencatat adanya kegempaan di patahan yang aktif tersebut. Aktif mengacu pada pergerakan sesar.

Sebelumnya, Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti paleo seismologi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan tidak ada catatan atau sejarah gempa bumi besar pada Patahan Lembang. Namun, dalam penelitiannya selama delapan tahun, Mudrik mendapatkan bukti geomorfologi tentang aktivitasnya, yang sejak lama diperkirakan aktif. Geomorfologi adalah ilmu tentang bentuk permukaan Bumi masa kini dan proses yang mengakibatkan bentuk tersebut.

Penelitian yang mengakuisisi data LIDAR (Light Detection and Ranging) ini bisa menembus tutupan vegetasi guna mendapatkan morfologi rinci bentukan sesar aktif tersebut. Pada patahan sepanjang 29 kilometer itu dia memberi penanda per satu kilometer guna memudahkan proses penelitian terkait bukti-bukti adanya pergeseran muka Bumi di bidang tersebut.

Pergeseran Permukaan Bumi

Pemetaan yang dilengkapi dengan teknologi IFSAR (Inferferometric Resolution Synthetic Aperture Radar) ini memperlihatkan adanya pergeseran permukaan bumi, yang menandakan aktivitas sesar, pada patahan tersebut.

Mulai dari patahan yang memotong dan membentuk bukit memanjang, istilahnya fault scarps atau gawir sesar, di daerah Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, river o sets atau pembelokan sungai ke kiri serta beheaded river atau sungai terpancung di kilometer 5 dan 6, kawasan Desa Pasirlangu.

“Sungai terpancung itu ada sungai panjang lalu terpotong (patahan) sehingga masuk ke sungai lain, jadi sungai yang awal itu mati,” terang Mudrik sembari menambahkan di beberapa bagian lain ada anticline atau terangkatnya permukaan Bumi yang membentuk gelombang seperti di Desa Karyamukti, Kabupaten Bandung Barat.

Penelitian itu dia paparkan dalam jurnal bertajuk Earthquake Geology of the Lembang Fault, West Java, Indonesia bersama Danny H. Natawidjaja dari LIPI, Benjamin Sapiie dari Institut Teknologi Bandung, dan Phil Cummins dari Australia National University. Laporan penelitian selama delapan tahun itu sudah tayang di jurnal Tectonophysics edisi 17 Desember 2018 lalu.

Mereka membuktikan patahan itu bergerak pada kurun waktu 11.500 tahun yang lalu lewat dua titik uji paritan. Lokasinya di Desa Batu Lonceng, antara kilometer 25-26 dan bekas cekungan danau di Panyairan, antara kilometer 11-12. Kedua lokasi dipilih karena ada jejak morfologis dampak dari pergerakan kulit bumi dan sistem sedimentasi yang dinilai baik. Untuk mengecek lapisan sedimentasi pada dua lokasi itu, tim membuat parit dengan kedalaman antara 1,5-2 meter.

Jika kondisi geologinya normal-normal saja, maka lapisan sedimentasinya bakal seperti kue lapis yang tiap lapisannya tersusun rapi. Penggalian ini memperlihatkan satu lapisan dengan lapisan lain tidak simetris atau miring. “Kita temukan bukti slip, kejadian gempa pada abad 15 dan 60 tahun sebelum masehi,” ujar Mudrik.

Dampak dari gempa itu adalah surface rapture atau retakan permukaan gempa bumi. Pergeseran muka kulit Bumi itu sekitar 40 sentimeter secara vertikal. “Korelasi empirisnya setara dengan magnitude gempa bumi 6,5 MW (magnitude momen),” terang Mudrik.

Dia membandingkannya dengan surface rapture yang muncul pasca gempa tektonik di Patahan Palu Koro pada September 2018 lalu. “Gempanya itu 7,4 MW bisa menggeser sampai 6 meter. Jadi itu ada angkanya setiap bergeser. Retakan membuktikan bahwa sesar aktif itu sudah pernah bergerak,” tambah Mudrik.

Penelitian itu berlanjut ke periodesasi gempa terjadi di patahan tersebut. Salah satu upayanya dengan mencari tahu kecepatan gesernya. Hasilnya, ungkap Mudrik, ada pergeseran mengiri 120 meter. Mengacu pada studi sebelumnya oleh M. Nugraha Kartadinata yang menggunakan kajian vulkanostratigrafi, diketahui pergeseran itu terjadi dalam kurun waktu 40 ribu-22 ribu tahun lalu.

“Dari angka ini kita bandingkan dengan gerak 120 meter dan paling besar pergeseran itu 460 meter di sungai besar. Kita dapat angka (kecepatan geser) antara 2-3,5 milimeter per tahun,” imbuh Mudrik.

Dengan bidang sepanjang 29 kilometer serta kecepatan geser 2-3,5 milimeter per tahun, Mudrik dan kawan-kawan sampai pada kesimpulan, periode ulang gempa di patahan Lembang antara 170-670 tahun. “Bagaimana bisa lebih presisi? Harus ada penggalian lebih dalam,” ujarnya.

Berkaca pada temuan gempa abad ke-15 dan 60 tahun sebelum Masehi, sambung Mudrik, jika ditambahkan periode ulang gempa 670 tahun, bisa jadi saat ini patahan Lembang memasuki masa akhir sebelum terjadinya gempa bumi lagi.

Mitigasi Bencana

Menyoal mitigasi, Rasmid menuturkan, ada dua pendekatan. Satu pendekatan struktural yang berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait aturan serta panduan pembangunan dengan standar nasional Indonesia.

“Kalau membangun (struktur) harus di atas kekuatan maksimum 6,9 magnitude sehingga tidak alami kerusakan, itu di ranah pekerjaan umum. Itu skenario terburuk, berdasarkan sebaran epicenter (gempa),” imbuh Rasmid.

Porsi BMKG, tambah Rasmid, pada ranah pendekatan non struktural seperti sosialisasi potensi bahaya gempa kepada masyarakat, pemerintah daerah, pengusaha, serta sekolah di kawasan bencana. Secara sederhana, Rasmid memaparkan, sebaiknya masyarakat menyadari dan mengenali kondisi lingkungan serta potensi bencana yang ada.

“Di dalam rumah bisa memperkuat lemari ke tembok agar saat ada goncangan tidak membahayakan penghuni. Kalau gempa juga jangan keluar rumah tapi berlindung di bawah meja dan tempat tidur yang kuat menahan beban,” terangnya.

Selain itu, BMKG juga menggelar simulasi kegempaan di sekolah agar pelajar dan gurunya siap menghadapi goncangan. “Agar korbannya relatif sedikit,” kata Rasmid.

Sementara untuk mitigasi yang menyeluruh, BMKG berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan pemerintah daerah. “Terakhir diskusi mereka mau membuat rambu-rambut terkait keberadaan Sesar Lembang terutama di wilayah yang banyak aktivitas pemukiman, tempat wisata. Pemerintah daerah juga sebaiknya tegas dengan penegakan aturan hukumnya,” tambah Rasmid.

Mitigasi ini menjadi penting mengingat kawasan Lembang dan Bandung terbilang padat penduduknya. Gempa dengan magnitude 3,3 pada 2011 silam memberikan pelajaran berarti soal daya rusaknya. Mitigasi harus jadi prioritas guna menekan atau sebisa mungkin menihilkan jatuhnya korban jiwa.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

27 Warga Madina Korban Keracunan Gas Masih Dirawat

Korban tewas sebanyak lima orang.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Kasus Suap Bansos, KPK Periksa Kabag Sekretariat Komisi VIII DPR

Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan memeriksa Kepala Bagian sekertariat Komisi VIII DPR, Sigit Bawono Prasetyo.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Kasus Korupsi PT DI, KPK Jadwalkan Periksa Eks Sekretaris Setneg

KPK memeriksa mantan Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) Taufik Sukasah sebagai saksi kasus dugaan korupsi PT DI.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Pertamina Regional Sulawesi Salurkan Ratusan Tabung Bright Gas Gratis untuk Korban Gempa di Sulbar

“Ini sangat memudahkan kami. Bahkan beberapa kompor yang kami gunakan saat ini merupakan bantuan Pertamina Peduli saat gempa Palu 2018,” kata Akram.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Pemkab Rejang Lebong Izinkan SD dan SMP Belajar Tetap Muka

Dengan cara ini, kata Bupati Hijazi pelaksanaan pelajar tatap muka tingkat SD dan SMP di Kabupaten Rejang Lebong berjalan lancar dan suskes.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Presiden Jokowi Ajak Negara di Dunia Kerja Bersama Atasi Perubahan Iklim dan Covid-19

Presiden mengajak negara-negara di dunia untuk bekerja keras bersama-sama atasi perubahan iklim sekaligus pandemi Covid-19.

NASIONAL | 26 Januari 2021

5 Orang Tewas Diduga Hirup Gas Beracun, Bupati Madina: PT SMGP Tidak Kooperatif

Saat mendatangi PT SMGP itu, sambung Dahlan Hasan, pihak perusahaan tidak pernah memperlihatkan pelayanan yang baik.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Covid-19 Mengkhawatirkan, Gubernur Sumut: Kabupaten/Kota Harus Perkuat Protokol Kesehatan

"Saya yakin, bila bersama kita bisa melewati ini,” kata Edy.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Australia Sita Alat Tangkap Nelayan Indonesia di Laut Timor

Biasanya kapal Australia menggiring perahu nelayan Indonesia kemudian dibakar.

NASIONAL | 26 Januari 2021

Polisi Ralat Jumlah Korban Gas Beracun Mandailing Natal

Aipda Lestari SinagaAipda Lestari Sinaga tidak meninggal, hanya pingsan.

NASIONAL | 26 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS