Ubah Kurikulum Pendidikan Tinggi, Kemdikbud Akan Fokus pada Potensi Mahasiswa
Logo BeritaSatu

Ubah Kurikulum Pendidikan Tinggi, Kemdikbud Akan Fokus pada Potensi Mahasiswa

Rabu, 27 Januari 2021 | 19:55 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk menyiapkan sarjana unggul, Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikti Kemdikbud) mengembangkan mutu dosen dengan meningkatkan kualifikasi, kompetensi, dan relevansinya. Sebab, kebanyakan kurikulum yang dirancang selama ini mengacu pada kemampuan dosen, bukan pada kemampuan mahasiswa. Untuk itu, kurikulum juga akan diubah dengan berfokus pada pengembangan potensi mahasiswa, serta menguatkan sistem tata kelola di layanan pendidikan.

Demikian dikatakan Dirjen Dikti, Nizam, pada Rapat Panja Peta Jalan Pendidikan dengan Komisi X DPR secara daring, Rabu (27/1/2021).

“Pada era teknologi ini, tantangan dan peluang sangat besar. Pasalnya, saat ini kita sedang memasuki Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan disrupsi. Ini akan membuka peluang bagi siapapun untuk masuk dan tampil menjadi pemenang,” tuturnya.

Menurut Nizam, dalam dunia pendidikan, khususnya Dikti, sangatlah penting memahami perubahan tersebut dan memahaminya dengan baik. Pasalnya, diprediksi dalam 10 tahun ke depan akan banyak lapangan kerja yang hilang. Selain itu, ada pula potensi lahirnya jumlah lapangan kerja yang jauh lebih banyak daripada yang hilang.

Hadirnya lapangan kerja baru ini, kata Nizam, membutuhkan sumber daya manusia (SDM) terdidik yang mempunyai inovasi dan kreativitas, sehingga betul-betul siap memanfaatkan revolusi keempat.

“Ini menjadi PR besar bagi pendidikan, jangan sampai kita jadi mata rantai yang putus. Perguruan tinggi berjalan ke kiri dan teknologi berjalan ke kanan. Ini menjadi semangat dari Kampus Merdeka untuk merevolusi pendidikan kita menuju 4.0,” paparnya.

Untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai mata air di kehidupan bangsa dan pembangunan ekonomi, maka harus dilakukan sejumlah perubahan. Ke depan, pendidikan tinggi tidak hanya membuka akses untuk angka partisipasi kasar (APK), melainkan juga menawarkan akses pendidikan yang berkualitas.

Nizam menuturkan, perubahan ini untuk mengurangi lulusan pendidikan tinggi yang tidak berkualitas. Pasalnya, SDM yang tidak berkualitas akan berbahaya bagi kemajuan bangsa.

“Jadi setiap kita meluluskan satu juta sarjana, kita harus pastikan bahwa itu adalah sarjana-sarjana yang unggul dan berkompeten serta berkualitas untuk membangun negeri,” kata Nizam.

Nizam menjelaskan, melalui Kampus Merdeka, Ditjen Dikti memerdekakan seluruh potensi yang dimiliki oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa memiliki kompetensi lintas kelimuan dan tidak terperangkap dalam ruangan yang sempit.

“Ini misi besar kita untuk mewujudkan Indonesia yang maju melalui SDM di pendidikan tinggi. Penguasaan teknologi menjadi kunci untuk semuanya dan muaranya adalah ekonomi berkelanjutan,” ucapnya.

Pemerataan
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemdikbud, Totok Suprayitno menambahkan, dalam peta jalan pendidikan (PJP) yang sedang disusun Kemdikbud tidak hanya fokus pada isu-isu makro tetapi juga mikro atau detail. Salah satunya adalah terkait bagaimana guru harus meningkatkan kualitas pada setiap level.

Menurut Totok, selain fokus pada jumlah kebutuhan guru, kualitas dan pemerataan guru sangatlah penting. Sebab, kualitas guru amat menentukan prestasi belajar siswa. Dengan begitu, pelatihan-pelatihan guru yang dirancang dalam PJP akan fokus pada hal praktis, yakni pada pedagogi. Pasalnya, berdasarkan sejumlah kajian tentang kualitas pendidikan Indonesia, dikatakan sistem sekolah Indonesia minim belajar. Meski anak bersekolah, belum tentu mereka belajar.

“Apa sebenarnya yang terjadi di dalam proses learning, ternyata banyak investasi yang tidak sampai mendorong ruang-ruang kelas dalam proses pembelajaran,” paparnya.

Dalam pendidikan, guru dan dosen memegang peran sangat penting sebagai fasilitator. Sayangnya, peran tersebut tidak berjalan semestinya. Berbagai studi yang dilakukan di negara berkembang menunjukkan proses belajar tidak terjadi semestinya. Bahkan, sejak siswa kelas VII hingga kelas XII, mereka tidak mendapat nilai tambah dalam proses belajar.

Menurut Totok, akan sangat berbahaya jika pendidikan hanya menambah atau membuka akses. Sebab hal tersebut belum tentu merealisasikan bonus demografi karena proses berkesinambungan belum terjadi.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Anggota DPRD PSI Kota Manado Sumbangkan Gaji untuk Korban Banjir

Banjir ini mengakibatkan ribuan keluarga terdampak, tiga warga meninggal dunia, dan satu orang hilang.

NASIONAL | 27 Januari 2021

Sekjen MUI: Ulama Dapat Dilibatkan dalam Mendeteksi Dini Radikalisme

Peran ulama diperlukan dalam kehidupan beragama dan untuk melindungi umat dari paham-paham tersebut.

NASIONAL | 27 Januari 2021

Edhy Prabowo Diduga Gunakan Uang Suap Ekspor Benur untuk Beli dan Minum Wine

Edhy Prabowo yang menjadi tersangka kasus ini diduga menggunakan uang yang diterima dari para eksportir benur untuk membeli dan meminum wine.

NASIONAL | 27 Januari 2021

Istri Edhy Prabowo Diduga Kecipratan Aliran Dana Suap

Aliran uang itu diterima Iis Rosita Dewi dari Edhy Prabowo dan sekretaris pribadinya Amiril Mukminin.

NASIONAL | 27 Januari 2021

Vaksinasi Tenaga Kesehatan di Papua Baru Mencapai 3,36%

625 nakes telah menerima vaksin, 84 nakes tunda vaksin, dan 198 nakes batal vaksin.

NASIONAL | 27 Januari 2021

Masyarakat Harus Dukung Vaksinasi untuk Keluar dari Krisis Akibat Pandemi

Dengan vaksinasi Covid-19 ini diharapkan akan bisa membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis yang dampak multidimensi-nya kini dirasakan masyarakat.

NASIONAL | 27 Januari 2021

PT Agro Jabar Kerja Sama Penggemukan Sapi dengan NTB

Setiap tahunnya, kebutuhan daging sapi di Jabar 193.255 ton atau setara dengan 1.017.138 ekor sapi.

NASIONAL | 27 Januari 2021

Kasus Edhy Prabowo, KPK Kumpulkan Bukti Dugaan Korupsi Lainnya

KPK tengah mengumpulkan bukti terkait adanya tindak pidana korupsi lain yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

NASIONAL | 27 Januari 2021

Vaksinasi, Wujud Keseriusan Pemerintah Tangani Pandemi Covid-19

Vaksinasi Covid-19 gratis yang dilakukan merupakan wujud kesungguhan pemerintah dalam menangani penyebaran pandemi virus corona.

NASIONAL | 27 Januari 2021

SOS Children’s Villages dan Allianz Group Perkuat Keluarga Rentan dari Dampak Pandemi

Terdapat 183 keluarga di Flores, 159 keluarga di Bali, dan 32 keluarga di Palu mendapatkan bantuan langsung dari Allianz untuk memulai dan mengembangkan usaha.

NASIONAL | 27 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS