Menilik Sejarah Hubungan Sumatra dan India
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Menilik Sejarah Hubungan Sumatra dan India

Jumat, 12 Februari 2021 | 07:44 WIB
Oleh : ALD

Hubungan India dengan Indonesia sudah ada sejak lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Hubungan itu mengarah pada hubungan budaya yang langgeng antara kedua raksasa, sehingga membantu membina hubungan dekat antara orang ke orang. Baik itu filosofi politik, budaya, masakan, karya seni, atau bahasa, ikatan antara kedua negara saat ini terwujud dalam keragaman India dan Indonesia yang mempesona, memberikan kenyamanan dan keakraban satu sama lainnya.

Sumatra adalah tempat pertama yang menyambut orang India beberapa abad lalu. Tempat ini menyerap tiga agama utama India: Hindu di zaman kuno, Buddha pada periode abad pertengahan, dan Islam dari abad ke-12 dan seterusnya.

Hal yang luar biasa adalah beberapa gelombang masuknya pendatang India ke Sumatra pada era yang berbeda dalam sejarah, membawa serta aspek budaya dan peradaban yang berbeda, yang telah meninggalkan jejak tak terhapuskan pada kehidupan Sumatra hingga hari ini. Beberapa peristiwa, tonggak sejarah, ritual dan adat istiadat sosial Sumatra berfungsi sebagai pengingat berkelanjutan akan hubungan budaya kuno India dan pengaruhnya di bagian dunia ini.

Tulisan yang dibuat Raghu Gururaj, Konsul Jenderal India untuk Sumatra yang tinggal di Medan ini, mengulas sejarah hubungan India dan Sumatra.

Selama berabad-abad, Pulau Sumatra terus-menerus diwarnai oleh pengaruh luar, termasuk dari India. Romansa dan mistik Sumatera menarik perhatian Kerajaan India dan para imigran selanjutnya. Kita tidak bisa tidak merefleksikan fakta bahwa Sumatra pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sanskerta Suwarnadwīpa (Pulau Emas) dan Suwarnabhūmi (Tanah Emas) yang sudah cukup membuktikan pengaruh India.

Pendatang India Awal
Pendatang India awal pertama kali datang ke Sumatra Timur dan Barat jauh sebelum para penjelajah Kristen datang untuk mencari perdagangan dan kekayaan. Pendatang India awal ini juga membawa serta agama Hindu.

Kemudian pengaruh India di Sumatra dan bagian lain Asia Tenggara bertepatan dengan munculnya kerajaan maritim yang kuat di India seperti dinasti Pandya, Pallava, dan Chola, yang pedagangnya mengunjungi Sumatra antara abad ke-2 dan ke-5. Pengaruh perdagangan mereka meluas ke Sumatera dan bagian lain dari wilayah itu, begitu pula Saivisme dan varian lain dari Hinduisme dan Buddha.

Pada saat itu, penggunaan bahasa Sanskerta dan Pali serta pengaruh tradisi dan adat istiadat Hindu telah mapan di Sumatra. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada tahun 717 M, seorang pendeta Tamil bernama Wajabodhi, memperkenalkan aliran Buddha Tantra Mahayana ke Kerajaan Melayu. Hal ini dibuktikan dengan candi-candi di wilayah Padang saat ini dan patung Adityawarman di Pagaruyung.

Selama periode ini, pengaruh budaya India menjadi lebih terlihat, seperti penggunaan bahasa Tamil dan Sanskerta pada prasasti. Namun, sejak abad ke-7 dan seterusnya, aksara India lebih sering digunakan untuk menuliskan bahasa asli yang saat ini sudah banyak mengandung kosakata serapan dari bahasa Sanskerta dan Tamil. Sekitar waktu inilah orang bisa merasakan bahwa penduduk asli Indonesia telah mulai memeluk agama Hindu dan Buddha.

Pengaruh Kerajaan India
Sekitar abad ke-6, Kalingga menjadi salah satu Kerajaan Hindu-Buddha paling awal di Jawa Tengah. Kekuatan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan, sebuah kerajaan maritim dan komersial utama antara abad ke-7 dan ke-13, didasarkan pada hubungan komersial yang kuat dengan kerajaan maritim India yang memiliki kekuatan serupa seperti Pallava, Pandya, dan Chola. Bahwa kata “Sriwijaya” berasal dari bahasa Sanskerta, sudah menunjukkan hubungan India yang kuat.

Beberapa prasasti di Sumatera, terutama yang ada di Lobu Tua, menunjukkan hubungan perdagangan yang erat antara Kerajaan India dan Kerajaan Sriwajaya di Sumatra. Prasasti tersebut juga menjelaskan bahwa pedagang Pallava dan Chola mengawal barang jarahan mereka dan kargo komersial yang diperoleh dari Sumatra di gudang berbenteng yang dijaga oleh tentara mereka, dan mengirimkanya kembali ke India dengan kapal mereka sendiri.

Prasasti Kutai pada tujuh tiang batu yang ditemukan di Kalimantan Timur pada tahun 5 M ditulis dalam bahasa Sanskerta. Prasasti lempengan tembaga tahun 860 M yang ditemukan di Nalanda mencatat pemberian lima desa oleh Palaking di Rajgirand Gaya untuk biara di Nalandathat, yang dibangun oleh Sri Balaputradewa dari dinasti Syailendra.

Kerajaan Sriwijaya dan Nalanda memiliki kesamaan bentuk arsitektur. Batu bulan dan semen yang ditemukan di tembok yang telah rusak di Nalanda mirip dengan yang ditemukan di Candi Sari dan Kalasan di Jawa, serta dan Candi Muara Takus di Sumatera Selatan. Kunjungan ke Kompleks Candi Muara Takus akan memperkuat rasa keterkaitan sejarah budaya ini.

Kerajaan Sriwijaya juga telah berkembang menjadi pusat keagamaan dan akademik di wilayah tersebut. Sriwijaya menganut aliran Buddha Mahayana.

Pada saat itu, Nalanda telah menangkap imajinasi siswa Buddha dari Tiongkok, Burma, Kamboja, dan tempat lain. Para sarjana tersebut berbondong-bondong ke Nalanda untuk belajar teologi, seni, humaniora, sains, dan lain-lain. Mahasiswa Buddha dari Tiongkok mempelajari sejarah Sanskerta dan budaya Nalanda di Universitas Sriwijaya di Sumatera Selatan sebelum berangkat ke Nalanda. Migrasi akademis antara Sriwijaya dan Nalanda seperti itu menjadi terkenal sebagai jalur pengetahuan antara dua kerajaan dan menjadikan Universitas Sriwajaya terkenal sebagai titik perhentian bagi peziarah Buddha Tionghoa dalam perjalanan mereka ke India, terutama ke Nalanda.

Raja-raja Sriwijaya bahkan mendirikan biara-biara di Negapattam (sekarang Nagappattinam) di India Tenggara. Vihara Chudmani di Nagapattinam yang dibangun pada 1006 M oleh raja Sriwijaya Wijaya Mara Wijayatungga Warman, mungkin merupakan benteng terakhir agama Buddha di India Selatan saat ini. Dibangun di bawah perlindungan Raja Chola, sekitar 350 patung perunggu Buddha ditemukan di sana dari masa abad 11-16.

Prasasti perunggu di Nalanda, Bihar, mengungkapkan bahwa Raja Balaputradewa dari Kerajaan Sriwijaya, Sumatra Selatan, membangun biara untuk siswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Sejarawan Indonesia Aris Munandar menyebutkan bahwa vihara memiliki ruangan yang dibangun untuk biksu Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya terus berkembang hingga dikuasai oleh Chola dari India Selatan, sekitar tahun 1025, ketika kota Palembang di Sumatera Selatan saat ini direbut oleh Raja Chola.

Pedagang India Membawa Islam
Bertepatan dengan jatuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-11, Islam masuk ke Sumatra dibawa oleh para pedagang India dari Gujarat, terutama ke Aceh dan Sumatra Utara. Konon varian Islam yang masuk ke Indonesia dari India adalah aliran mistik heterodoks tasawuf, sesuatu yang tidak sepenuhnya asing bagi para pertapa Jawa. Orang bisa melihat kemiripan antara tradisi Jawa dalam inisiasi siswa oleh guru dengan metode pengajaran Sufi India.

Pada akhir abad ke-13, raja Kerajaan Samudera di Sumatra telah masuk Islam. Fakta ini dicatat oleh Marco Polo yang mengunjungi pulau itu pada tahun 1292 dan Odoric of Pordenone dari Italia pada tahun 1321.

Buruh India di Perkebunan Sumatra
Pada tahun 1863, pedagang tembakau Belanda telah berhasil memperoleh konsesi lahan di Sumatra Utara untuk menanam tembakau berkualitas tinggi, yang cocok untuk dijadikan pembungkus cerutu bagi konsumen Eropa. Mereka awalnya mempekerjakan buruh atau kuli dari Tiongkok dan membangun bisnis yang sukses. Menariknya, para kuli asal Tiongkok menolak untuk memperpanjang kontrak mereka dengan para pengusaha Belanda. Mereka memilih untuk mendapatkan sebidang tanah dalam konsesi Belanda untuk menanam sayuran dan memelihara babi.

Para pedagang Belanda beralih ke India untuk membawa kuli dari Tamilnadu, Kerala, dan sebagian India Utara ke Sumatra. Meskipun Inggris telah memberlakukan peraturan imigrasi yang ketat, Belanda berhasil menemukan cara untuk membawa sejumlah besar pekerja India dari tempat-tempat seperti Tanjore, Madurai, Salem, dan Nagapatinam dengan perjalanan laut.

Ketika Belanda memperluas operasional perkebunan mereka dan merambah ke perkebunan kelapa sawit, kelapa, kopi dan pinang, banyak buruh Tamil yang bekerja di berbagai bagian Sumatra. Mereka dipekerjakan tidak hanya untuk pekerjaan perkebunan, tetapi juga untuk keperluan tambahan yang berbeda, seperti mengemudi gerobak dan ternak, membuat jalan dan parit, pengolahan kopi dan penanaman percobaan lainnya. Gaji bulanan mereka umumnya berkisar antara enam sampai tujuh dolar.

Mereka sering disebut sebagai Keling, istilah yang merendahkan untuk orang berkulit hitam, tetapi sangat dihargai di Sumatra karena kerja keras, etika kerja yang baik, dan kejujuran. Diperkirakan 28.000 orang India dipekerjakan di seluruh bagian Sumatra dalam berbagai kapasitas tingkat rendah.

Sekitar awal tahun 1900-an, beberapa orang India datang ke Sumatra Timur. Kebanyakan dari mereka pedagang dan pemberi pinjaman uang (komunitas Chettiar dari Selatan), Punjabi Sikh, dan Muslim India dari India Utara dan Barat.

Pendatang Awal India di Medan
Sekitar tahun 1930-an, diperkirakan ada 5.000 warga Punjabi Sikh di Sumatra yang bergerak di bidang peternakan sapi perah dan perdagangan barang olahraga. Ada juga pedagang kecil India yang disebut “Bombay” dari bagian tengah India, yang mendirikan toko dan outlet tekstil di Sumatra.

Pada waktu yang hampir bersamaan, komunitas Tionghoa berhasil mendapatkan bidang tanah untuk pertanian dan menerima kredit melalui asosiasi marga mereka (kongsi) di Singapura, Malaysia, dan di tempat lain yang memungkinkan mereka untuk mendirikan usaha kecil di perkebunan.

Namun, orang India tidak dapat menemukan dukungan kelembagaan seperti itu dari asosiasi diaspora India di Singapura dan Malaysia. Oleh karena itu menjadi kurang berani, lebih memilih untuk tetap berpegang pada kemampuan dan pekerjaan tradisional mereka di Sumatra.

Pendudukan Jepang di Sumatra
Saat Perang Dunia I meletus, orang India di Sumatra mendapati diri mereka terbagi di dua sisi perang. Di satu sisi, beberapa anggota Tentara Nasional India datang dari Burma untuk berpihak pada Jepang. Orang Tamil India yang tinggal di Sumatra bergabung dengan Indonesia pada saat itu di Sumatra.

Namun, di tengah perjuangan kemerdekaan Indonesia, beberapa unit batalion British Indian tiba di Pelabuhan Belawan di Medan, untuk bergabung dengan milisi dan pemuda Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan negara mereka. Sebagian besar orang India di Sumatra akhirnya dapat dipengaruhi oleh para milisi Indonesia, yang mengingatkan orang India tentang kedekatan mereka dengan orang Indonesia, hubungan budaya dengan Sumatra, dan iming-iming tanah milik untuk desersi dan berpihak ke Indonesia dengan membawa senjata mereka.

Sementara para mantan kuli asal Tiongkok mampu mengubah diri mereka menjadi pengusaha sukses dengan dukungan dari asosiasi diaspora di wilayah tersebut, para migran India menjalani kehidupan yang lebih statis. Namun, dengan dibukanya layanan feri dari Sumatra ke Penang pada tahun 1976, orang Tamil India di Sumatra dapat menjalin hubungan yang lebih dekat dan lebih kuat dengan diaspora India di Malaysia dan mulai membentuk bisnis mereka sendiri dan memperdalam hubungan budaya dengan Sumatera.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Artikel Opini


BERITA LAINNYA

Kejagung Selamatkan Rp 15 Triliun Kerugian Negara, Fahri Hamzah: Saya Kasih A+

Fahri Hamzah mengapresiasi kinerja Kejagung yang telah menyelamatkan Rp 15 triliun kerugian negara periode Januari-Juni 2021.

NASIONAL | 20 September 2021

Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak Masih Misteri, ICK Minta Kapolri Evaluasi Kapolres Subang

Ketua Presidium (ICK), Gardi Gazarin meminta Kapolres Subang dievaluasi karena tak mampu mengungkap kasus pembunuhan ibu dan anak.

NASIONAL | 20 September 2021

Puan Optimistis Surpres Calon Panglima TNI Segera Dikirim

Ketua DPR Puan Maharani optimistis surat presiden (surpres) terkait nama calon panglima TNI segera dikirim.

NASIONAL | 20 September 2021

SPH Beri Beasiswa Senilai Rp 33 Miliar untuk Siswa Indonesia Terbaik

Program SPH Breakthrough Scholarships akan diberikan kepada siswa/i berprestasi yang menunjukkan keunggulan dalam bidang akademik, kepemimpinan, dan karakter.

NASIONAL | 20 September 2021

Alternatif Penanganan Lapas Overcrowded, BNN Percepat Putusan Rehabilitasi Pengguna Narkoba

BNN berkomitmen mempercepat peneatapan atau putusan rehabilitasi pengguna narkoba. Hal ini menjadi alternatif penanganan lapas overcrowded.

NASIONAL | 20 September 2021

Akar Masalah Lapas Overcrwoded: Arus Masuk Deras, Keluar Kecil

Arus masuk ke lembaga pemasyarakat (lapas) begitu deras, sedangkan warga binaan yang telah menjalani masa hukuman begitu kecil.

NASIONAL | 20 September 2021

Bupati Bogor Ungkap Alasan Warga Tolak Wacana 4 in 1 ke Puncak

Menurut Bupati Bogor Ade Yasin wacana tersebut ditolak karena warga Puncak merasa khawatir akan timbul masalah baru yaitu timbulnya joki.

NASIONAL | 20 September 2021

Sah, Komisi VIII Setujui Anggaran 2022 Kementerian Sosial Rp 78,25 Triliun

DPR mendukung program dan kebijakan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini yang konsisten berpihak pada kepentingan masyarakat pra-sejahtera.

NASIONAL | 20 September 2021

Cegah Fraud, Kejagung Gelar Forum Koordinasi dengan Himbara

Kejagung menyelenggarakan Forum Koordinasi dengan Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara untuk membahas pentingnya mencegah terjadinya fraud.

NASIONAL | 20 September 2021

Setara Institute Serukan Hentikan Kekerasan dan Lindungi Penduduk Sipil di Papua

Setara Institute menyerukan seluruh pihak untuk menghentikan kekerasan serta melindungi objek dan penduduk sipil di Papua.

NASIONAL | 20 September 2021


TAG POPULER

# Myanmar


# Napoleon Bonaparte


# Mourinho


# Manchester United


# KKB



TERKINI
Menkes: PeduliLindungi Diakses 50 Juta Kali Dalam Sehari

Menkes: PeduliLindungi Diakses 50 Juta Kali Dalam Sehari

KESEHATAN | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings