Cegah Paparan Terorisme, Mantan Napiter: Hati-hati Pilih Guru Agama
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Cegah Paparan Terorisme, Mantan Napiter: Hati-hati Pilih Guru Agama

Selasa, 6 April 2021 | 21:30 WIB
Oleh : Yustinus Paat / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Anak muda merupakan salah satu kelompok yang rentan terpapar terorisme. Karena itu, perlu langkah-langkah pencegahan seperti memilih guru agama yang benar dan mengoptimalkan peran penting keluarga agar anak muda tidak terjerumus dalam terorisme.

Demikianlah inti dari diskusi daring bertajuk "Anak Muda dan Terorisme” yang digelar Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Senin (5/6/2021) malam. Dalam diskusi ini hadir sejumlah narasumber, antara kain Mantan Terpidana Terorisme, Sofyan Tsauri, Psikolog Klinis Forensik, A. Kasandra Putranto, Totoh Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail dan Pengamat Intelijen Ridlwan Habib. Diskusi ini dimoderatori Juru Bicara DPP PSI, Faldo Maldini,

Sofyan Tsauri mengatakan anak muda perlu berhati-hati mencari guru yang akan dijadikan rujukan dalam memahami agama.

“Perlu menjadi perhatian, bahwa hati-hati dalam mencari guru (agama). Boleh Anda jadi orang saleh, orang baik, tapi jangan pernah salah cari guru. Karena nanti takutnya, Anda berkarier di sana, kemudian puncaknya Anda menjadi teroris,” ujar Sofyan dalam diskusi tersebut.

Mantan orang penting dalam kelompok Al-Qaeda Asia Tenggara itu, juga menyebut hampir semua aksi terorisme yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia, berakar dari paham Wahabi dan Salafi. Menurut dia, jika bertemu dengan guru yang mempunyai kecenderungan ke paham tersebut, maka berpotensi menjadi teroris.

Selain mencari guru agama yang tepat, kata Sofyan, kembali pada ajaran Islam seperti yang diamalkan Rasulullah SAW (Ahlussunnah wal Jamaah) juga merupakan cara melawan paham sesat radikalisme dan terorisme.

“Kalau mau sembuh dari penyakit radikalisme, intoleransi dan terorisme, maka kembali kepada pemahaman Ahlussunnah (wal Jamaah),” tutur Sofyan.

Sementara Psikolog Klinis Forensik, A. Kasandra Putranto, mengatakan keterlibatan perempuan dan anak muda dalam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia belakangan ini juga dipengaruhi pergeseran geopolitik dunia. Kasandra mencontohkan, dahulu kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) tidak memperbolehkan perempuan dan anak muda “berjihad”. Namun sekarang, kata dia, nilai itu bergeser seiring dominasi kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) menggantikan kelompok JI.

“Kalau dulu, Jamaah Islamiyah tidak mengenal jihad yang dilakukan perempuan dan anak (muda) karena memang tidak diizinkan, tetapi ketika ada kelompok baru dan punya nilai yang berbeda, mulailah muncul itu (teroris perempuan dan anak muda),” ungkap Kasandra.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, Kasandra menyebut peran keluarga sangat vital dalam membentuk karakter seseorang untuk menjadi teroris. Menurut dia, terdapat dua sisi, yakni potensi menjadi teroris karena sejak dini diajarkan paham radikal atau sama sekali tidak mengajarkan prinsip-prinsip toleransi dalam kehidupan.

“Yang paling banyak itu faktor keluarga, jadi apakah di dalam keluarga itu memang sudah diajarkan radikal sejak dini, atau justru karena tidak diajarkan prinsip-prinsip toleransi sama sekali,” imbuhnya.

Di samping faktor keluarga, lanjut dia, ada juga faktor pergaulan seperti di lingkungan sekolah dan masyarakat, yang juga ikut mempengaruhi seseorang terlibat dalam terorisme. Khusus anak muda, kata Kasandra, tergelincir dan menjadi pelaku aksi teror karena juga terpapar informasi menyesatkan dari media sosial.

“Paham-paham terorisme itu juga disebarkan, disampaikan dan paling fatal adalah melalui media sosial,” tegas dia.

Pembicara lain Noor Huda Ismail dari Yayasan Prasasti Perdamaian, menyoroti khususnya tentang nilai-nilai maskulinitas yang mendorong lahirnya teroris. Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pun, kata Ismail, kerap memelintir ayat dalam Al-Quran untuk membangkitkan semangat juang dan membuat banyak laki-laki menjadi martir terorisme.

“Ternyata, gelora Akbar (teroris asal Aceh) bergabung ke terorisme itu lebih karena heroisme, ‘wah bawa AK-47 kelihatan keren’. Narasi-narasi ISIS ketika itu memang selalu bikin galau lelaki yang ingin mencari jati diri,” ujar Ismail.

Langkah Pemerintah Dikritik
Pada kesempatan ini, Pengamat Intelijen Ridlwan Habib mengkritik cara-cara yang diambil pemerintah dalam menangani terorisme. Pertama, Ridlwan menilai, program deradikalisasi di dalam penjara masih formalistik. “Juga pengawasan terhadap mantan napi yang lemah. Ini terbukti dari sejumlah mantan napi terorisme yang kembali berulah,” tutur dia.

Kedua, menurut Ridlwan, kekalahan pertarungan narasi Islam moderat di media sosial dari narasi-narasi kelompok radikal. Menurut dia, terjadi asymmetric information warfare atau pertarungan informasi yang tidak seimbang di media sosial, di mana narasi Islam moderat tertinggal dari narasi-narasi kelompok takfiri, jihadi dan salafi.

“Kemudian, koordinasi lintas instansi yang harus diperkuat. Misalnya, pelibatan TNI dalam menanggulangi terorisme, yang sayangnya, Peraturan Presiden (Perpres) soal itu belum juga diteken oleh Presiden Jokowi,” tandas Direktur The Indonesia Intelligence Institute ini.

Ridlwan juga memaparkan data-data yang dihimpunnya, yakni dia mencatat dari tahun 2000 sampai 2021, telah terjadi 553 aksi teror. Sedangkan serangan di Mabes Polri pada 31 Maret lalu yang dilakukan oleh teroris perempuan menjadi serangan bersenjata yang ke-197 di markas-markas polisi.

Lalu, saat ini ada 875 narapidana yang sedang menjalani hukuman di penjara, ditambah 220-an teroris masih dalam proses hukum. Selama 3 bulan terakhir (Januari – Maret 2021) aparat telah menangkap 180 orang dalam kasus terorisme.

Menutup diskusi, A. Kasandra Putranto, menyebut PSI bisa ikut mengisi ruang-ruang perjuangan melawan radikalisme dan terorisme di kalangan anak muda. “PSI juga bisa ikut terlibat dalam berbagai kebijakan yang terkait dengan pembentukan keluarga, perlindungan perempuan dan mendorong perbaikan kualitas di internet. Meningkatkan ekonomi, menambah wawasan dan tentu saja kesetaraan, itu sangat penting,” pungkas Kasandra.

Di pengujung Maret lalu, dua aksi terorisme melanda Indonesia. Pengeboman di depan Gereja Katedral Makassar dilakukan pasangan suami-istri berinisial L dan YSF dan merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berbaiat kepada kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Sementara pelaku penyerangan Mabes Polri adalah seorang perempuan dengan inisial ZA. Kepala Kepolisian RI, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mengatakan bahwa ZA berideologi radikal ISIS. Ketiga teroris sama-sama berusia sekitar 25 tahun. Peristiwa beruntun itu memunculkan kekhawatiran dari banyak pihak jika kelompok teroris semakin berani menggunakan anak muda dan perempuan sebagai alat teror mereka.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Melalui Sekolah Lapang, Kementan Sebarkan Pengetahuan Baru untuk Petani

Kementerian Pertanian memberikan pengetahuan baru kepada petani dalam Sekolah Lapang (SL) Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP).

NASIONAL | 20 September 2021

Waspada, 23 Wilayah di Indonesia Akan Alami Cuaca Ekstrem

Suhu udara pada hari ini di Tanah Air berkisar mulai dari 20 derajat hingga 34 derajat Celsius dengan kelembaban udara 50-100%.

NASIONAL | 20 September 2021

Tim SAR Lanjutkan Pencarian Korban Tenggelam di Pelabuhanratu

Tim SAR gabungan bersiaga dan melanjutkan pencarian korban tenggelam kecelakaan laut di Pantai Kebonkalapa Citepus, Pelabuhanratu, Sukabumi.

NASIONAL | 20 September 2021

Antisipasi Tsunami Terulang, BMKG Sempurnakan Sistem Peringatan Dini

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan pihaknya dan kementerian/lembaga terkait sedang menyempurnakan sistem gempabumi dan peringatan dini tsunami.

NASIONAL | 19 September 2021

Dirtipidum: Napoleon Pukuli dan Lumuri M Kece dengan Kotoran

Hasil pemeriksaan perkara penganiayaan yang dialami Muhammad Kece di Rutan Bareskrim Polri terungkap bahwa Napoleon Bonaparte memukuli dan melumuri kotoran

NASIONAL | 19 September 2021

Komisi I DPR Dukung Peremajaan Alutsista Koamarda II Surabaya

Komisi I DPR mendukung peremajaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) Koarmada II Surabaya.

NASIONAL | 19 September 2021

9 Nakes Korban Kekerasan KKB Jalani Pemulihan Trauma

Sebanyak sembilan tenaga kesehatan korban kekerasan d Kiwirok, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua pada Senin (13/9/2021)saat ini menjalani pemulihan trauma

NASIONAL | 19 September 2021

Mulai 25 September, Denpasar Terapkan Ganjil Genap di Daerah Tujuan Wisata

Polrestra Denpasar akan menerapkan peraturan lalu lintas berupa penyekatan ganjil genap bagi kendaraan di Daerah Tujuan Wisata (DTW) mulai 25 September 2021.

NASIONAL | 19 September 2021

Wasekjen Demokrat Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Guru Honorer

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Irwan meminta pemerintah memperhatikan nasib para guru honorer.

NASIONAL | 19 September 2021

BNPT: Sikap Intoleran Sebabkan Bencana, Hargai Perbedaan

Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, sikap intoleran terhadap agama dapat menyebabkan bencana sehingga mengajak masyarakat untuk menghargai perbedaan

NASIONAL | 19 September 2021


TAG POPULER

# Myanmar


# Mujahidin Indonesia Timur


# Napoleon Bonaparte


# Pengobat Alternatif Ditembak


# Manchester United



TERKINI
Waskita Karya Restrukturisasi Utang Rp 29,2 Triliun dari 21 Bank

Waskita Karya Restrukturisasi Utang Rp 29,2 Triliun dari 21 Bank

EKONOMI | 16 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings