Julie Sutrisno Laiskodat: Sekitar 800 Motif Tenun NTT Membutuhkan Narasi
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Julie Sutrisno Laiskodat: Sekitar 800 Motif Tenun NTT Membutuhkan Narasi

Minggu, 11 April 2021 | 16:41 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / AB

Tambolaka, Sumba Barat, Beritasatu.com - Merespons maraknya tenun ikut tiruan dan plagiarisme di bidang motif tenun ikat, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT kini tengah melakukan pendataan dan melengkapi semua persyaratan untuk mendapatkan hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM. Sedikitnya, terdapat 800 motif tenun ikat yang kini dalam proses mendapatkan property rights atau hak cipta.

“Kesulitan saya adalah narasi yang bagus tentang setiap motif tenun ikat yang hendak dipatenkan. Kita perlu narasi yang baik untuk setiap motif tenun ikat NTT yang hendak dipatenkan,” kata Julie Sutrisno Laiskodat, ketua Dekranasda NTT, yang juga anggota Komisi IV DPR pada hari terakhir kunjungan kerja di Sumba, Selasa (6/4/2021). Semua motif tenun ikat yang hendak dipatenkan berasal dari leluhur setiap daerah di NTT. Oleh karena itu, selain menarik, narasinya harus benar.

Julie berada di Sumba mendampingi Wakil Ketua DPRRachmat Gobel. Dalam tiga hari, Minggu (4/4/2021) hingga Selasa (6/4/2021), Rachmat sempat mengunjungi Sanggar Tenun UMKM di Sumba Timur, food estate di Sumba Tengah, dan padi sawah yang menggunakan pupuk nonsubsidi di Sumba Barat Daya. Meski harga pupuk nonsubsidi lebih mahal 10%, produktivitas padi dengan pupuk nonsubsidi mampu meningkat dua kali.

Motif tenun ikat NTT, kata Julie, akan dipatenkan satu per satu, mulai dari tenun ikat Sumba. “Kami mulai dari Sumba dahulu. Karena tenun printing motif NTT sudah merajalela, proses paten harus dipercepat. Tenun ikat Sumba motif kuda sudah diklaim oleh salah suatu daerah,” jelas anggota DPR dari Partai Nasdem itu.

Pada 2020, Dekranasda NTT sudah menyampaikan protes atas pembajakan tenun Sumba dengan motif kuda. “Salah satu daerah di Indenesia menyatakan bahwa motif kuda adalah budaya mereka. Itu jelas tidak benar, kita protes,” tegas Julie.

NTT memiliki lebih dari 800 motif tenun asli dari berbagai wilayah di provinsi itu. Sebagai contoh, Kabupaten Timor Tengah Selatan saja memiliki 132 motif tenun asli. "Dan kebanyakan memang belum didaftarkan secara hukum sehingga rawan diklaim pihak lain. Bukan hanya oleh negara asing, seperti Malaysia, juga provinsi lain di Indonesia berpotensi mengklaim lebih dahulu," kata Julie Laiskodat dalam wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings, Primus Dorimulu, baru-baru ini di NTT.

Julie Laiskodat yang juga anggota Komisi IV DPR ini mencontohkan ketika beberapa minggu sebelumnya ada klaim melalui media sosial terhadap motif tenun ikat Sumba yang dipakai Miss Grand International asal Indonesia, Aurra Kharisma. Klaim itu menurut Julie dari Malaysia.

Seperti diberitakan, wakil Indonesia, Aurra Kharishma, menjadi runner-up 3 Miss Grand International 2020 di Bangkok, Thailand, pada Sabtu (27/3/2021). Mahkota Miss Grand International 2020 itu sendiri akhirnya tersematkan di kepala kontestan asal Amerika Serikat, Abena Appiah. Sementara runner-up 1 diraih oleh Miss Grand Philippines Samantha Bernardo dan runner-up 2 Miss Grand Guatemala Ivana Batchelor.

Dalam salah satu sesi penjurian, Aurra Kharishma mengenakan tenun motif asli Sumba, NTT. "Tenunnya dari Dekranasda NTT, desainernya Ivan Gunawan. Saat ditampilkan di media, itu diklaim tenun motif dari mereka (Malaysia, Red). Ini biro hukum akan ambil langkah untuk melayangkan surat keberatan," kata Julie.

Bersama Dekranasda di setiap kabupaten, kata Julie, pihaknya sudah mendaftarkan 10 motif tenun ikat berdasarkan indikasi geografis. “Tahun ini, kami targetan 12 motif lagi untuk dipatenkan. Kami daftarkan setiap motif berdasarkan asal kabupaten. Selanjutnya, satu per satu akan dipatenkan,” papar Julie.

NTT terbagi atas 21 kabupaten dan satu kota yang terdiri dari 309 kecamatan serta 3.353 desa dan kelurahan. Motif tenun di provinsi dengan penduduk 5,4 juta jiwa itu beraneka ragam. Nyaris setiap kecamatan mempunyai motif tenun ikat tersendiri yang perlu dilindungi hak ciptanya. Di Kabupatenn Timor Tengah Selatan (TTS) misalnya, terdapat 132 motif.

Proses memperoleh hak paten bagi 800 motif tenun NTT akan diselesaikan dalam empat sampai lima tahun ke depan. Mulai dari pendataan, setiap motif tenun ikat nantinya dilengkapi narasi agar lebih jelas dan menarik. “Mungkin tidak bisa selesai di periode saya yang tinggal tiga tahun lagi, tetapi akan saya atur prioritasnya. Sudah saya petakan, mana motif yang paling banyak kita kritik, itu yang dipatenkan lebih dahulu,” kata Julie.

Julie mengapresiasi Dekranasda di setiap kabupaten yang membantunya. “Dekranasda kabupaten sangat aktif membantu saya, mencari sejarah dan cerita serta nilai-nilai leluhur di balik motif itu, sehingga kita bisa segera ajukan hak paten. Anggaran dari kami, Dekranasda provinsi,” kata istri gubernur NTT itu.

Para pelajar, mahasiswa, dan semua orang NTT ditantang Julie untuk membuat narasi motif tenun ikat di daerahnya. Di zaman now, zaman milenial ini, tidak bisa lagi menjual sesuatu hanya sekadar produk. Harus ada narasi yang bisa memberikan imajinasi pada pembeli dan pelancong.

Pariwisata sudah menjadi primemover dalam program pembangunan ekonomi gubernur NTT. Karena itu, narasi menjadi sangat penting untuk menarik antusiasme para wisatawan. Dalam narasi digambarkan filosofi setiap motif, latar belakang budaya, dan proses pembuatannya.

Orang NTT mempunyai banyak talenta di bidang story telling. Kini saatnya, talenta itu direalisasikan untuk membantu meningkatkan kualitas tenun ikat NTT.

Koperasi
Julie yakin tenun ikat NTT--yang kini sudah mendunia--mampu mengangkat kesejahteraan rakyat Sumba dan NTT seluruhnya. Pihaknya akan berusaha membantu menyelesaikan dua hal yang selama ini selalu menjadi kendala kemajuan tenun ikat, yakni permodalan dan pangsa pasar.

Untuk mengatasi dua masalah Itu, Rachmat Gobel menyarankan para penenun bergabung di bawah koperasi. Dari sisi poduksi, lewat koperasi, para ibu penenun bisa mendapatkan benang dan pewarna berkualitas dengan lebih mudah, sedangkan dari sisi permintaan, koperasi bisa mendapatkan pembeli yang lebih pasti.

“Selama ini, mama-mama penenun, kalau mau cari benang, cukup sulit dan kalaupun ada mereka peroleh dengan harga mahal. Mereka harus ke kabupaten lain,” jelas Julie.

Kondisi berbeda jika mereka tidak lagi bekerja perorangan, melainkan bergabung dalam koperasi. Pembelian lewat koperasi akan lebih murah dan penjualan lewat koperasi akan lebih mudah mendapatkan pembeli. Berbagai pihak akan membantu koperasi untuk memperoleh jaringan pemasaran, baik dalam negeri maupun ke luar negeri.

“Sebagai ketua Dekranasda, saya sudah membuka jaringan, nasional maupun internasional. Sekarang, Pak Rachmat Gobel sudah melihat sendiri dan saya yakin ia akan membuka networking bagi tenun ikat NTT. Yang penting, para penenun bergabung dalam koperasi seperti yang dianjurkan,” papar Julie.

Kekuatan Hand Made
Sehebat apa pun tenunan dengan mesin, kata Julie, hand made atau tenun dengan tangan mansia, memiliki tempat khusus pada konsumen. Para konsumen akan tetap memburu tenun ikat hasil kerajinan tangan yang berkualitas.

“Saya anti printing, karena kalau printing merajalela di Indonesia, khususnya di NTT, mata pencarian mama-mama penenun akan terancam,” ungkap Julie.

NTT akan mengembangkan hand made. Tenun tangan adalah warisan leluhur yang sangat kaya budayanya. "Kita tidak bisa dibikin seperti pabrikan," tegasnya.

Tenun ikat NTT adalah bagian dari budaya. Meski tidak terjual, produksi jalan terus. Mama-mama akan terus menenun. Di sebagian desa, ada tradisi, perempuan yang belum bisa menenun dia belum bisa menikah. “Setiap urusan adat, suka ataupun tidak, pasti ada tenunnya. Ke depan, kita dorong para pengrajin menenun untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga,” ujar Julie.

Tenun ikat tradisional NTT itu, kata Julie, tebal kayak karung. Hal itu karena pada masa lalu, benang dipintal sendiri dari kapas asli. Itu sesuatu yang tidak bisa dimodernisasi untuk fashion. Kenapa harus fashion? Karena fashion lebih cepat laku dan itu tidak mungkin bisa pakai kapas lagi, benang dengan pewarna alami. Penenun harus mula memakai benang pabrik dan menenun dengan warna benang yang sudah ada. Penenun tinggal mengikat motif-motifnya.

NTT mempunyai tiga teknik menenun. Pertama, teknik ikat tidak timbul. Pembentukan motif diperoleh lewat proses pengikatan benang untuk selanjutnya dicelup untuk pewarnaan. Kedua, sotis, ada yang timbul di satu sisi. Penenun memakai benang yang sudah diwarnai. Ketiga, teknik buna, timbul pada dua sisi.

“Kalau printing, kita tidak akan mendapat tiga teknik itu. Orang yang tidak ngerti berpikir tenun asli sama dengan printing, padahal tidak. Jadi, menurut saya dengan variasi dan budaya, masyarakat akan sulit sekali beralih ke printing,” ujar Julie.

Rata-rata penenun di NTT adalah petani atau nelayan. Kalau cuaca tidak bagus untuk bertani dan melaut, para ibu menenun. Namun, urusan dapur tidak bisa musiman. Harus ada sesuatu pekerjaan yang tanpa musim. Tenun itulah pekerjaan perempuan untuk membantu perekonomian rumah tangga.

Perpendek Proses
Proses produksi tenun ikat NTT bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun. Para ibu dari Ekuador yang pernah belajar tenun dari NTT mampu menyelesaikan proses penenunan sehelai kain dalam hitungan jam. Namun, tidak dengan para ibu NTT.

Kenapa lama? Kegiatan para ibu, kata Julie, bukan hanya menenun. Kegiatan menenun belum menjadi pekerjaan full time para ibu. Jika pekerjaan mereka 100% menenun, proses produksi bisa lebih cepat meski agak sulit seperti ibu-ibu dari Ekuador, karena dalam produksi tenun ikat ada sejumlah proses yang harus dilewati.

Mereka, mama-mama NTT, tidak hanya mengurus rumah tangga, juga harus berkebun. Pada saat tidak ada pekerjaan lain, baru mereka menenun. Saat ini, kata Julie, phaknya sedang membina kelompok ibu yang bekerja enam hingga delapan jam sehari untuk menenun. Ada target agar proses tenun tidak perlu memakan waktu berbulan-bulan atau tahunan.

Julie mengakui tenunan dari kapas memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tenun ikat dari bahan kapas memakan waktu lama. Sebaliknya, menenun dengan benang pabrik relatif lebih cepat.

Julie yang pernah ke Ekuador menyebutkan sejarah mereka, sekitar 400 atau 600 tahun lalu, orang Ekuador belajar menenun dari nenek moyang orang NTT di NTT. Mereka malah hanya belajar tenun ikat, tidak yang lain. “Karena etos kerja mereka bagus, para ibu di sana cekatan, selendang dalam dua jam selesai,” papar politisi Nasdem itu.

Para ibu NTT mestinya bisa juga bekerja cepat. Saat ini, sebagian ibu penenun di NTT sudah bisa bekerja enam jam sehari. “Kalau full time, paling-paling, sekitar dua minggu bisa selesai,” kata Julie.

Sebagai ketua Dekranasda NTT, kata Julie, ia menghimbau para kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memasukkan tenun dalam pelajaran sekolah. Untuk sekolah menengah kejuruan (SMK), pihaknya mewajibkan supaya setiap kabupaten memiliki SMK yang mengajarkan tenun ikat khas daerahnya. Ada jurusan tenun ikat lokal. Setiap daerah memiliki motif berbeda dan para siswa perlu dipersiapkan lewat SMK.

Di NTT, baru ada SMK di Kota Kupang yang sudah berkolaborasi dengan Dekranasda. Dekranasda yang memberikan benang dan peralatan sebagai modal. “Mereka menenun sesuai motif yang dipesan, kemudian kami membelinya. Untungnya dibagi antara sekolah dan Dekranasda,” jelas Julie,

Dirinya berharap agar anak-anak NTT mampu meneruskan budaya tenun. Hingga kini, penenun rata-rata mama-mama yang sudah tua, sedangkan anak-anak muda merasa tenun ikat sudah kuno.

Dekranasda NTT kini membuat program dari hulu ke hilir. Dalam proses produksi diperlukan sentuhan agar hand made tenun ikat memiliki nilai jual. Rachmat Gobel, demikian Julie, yang memiliki pengalaman luas di Jepang bisa memberikan arahan soal kemasan yang bagus.

Di hilir, harus ada offtaker. Dekranasda acap menjadi offtaker untuk membeli produk para ibu. “Pak Rachmat diharapkan membantu membuka channel lebih besar. Mungkin Kementerian Pariwisata, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan bisa membantu agar pangsa pasar tenun ikat NTT semakin luas,” jelas Julie.

Saat ini, 22 Dekrasda di NTT mendukung penuh upaya meningkatkan produksi dan kualitas tenun ikat NTT. “Saya bersyukur karena 22 kabupaten sangat kompak meningkatkan produksi dan daya tarik tenun ikat NTT,” ungka Julie.

Naik Kelas
Setelah dipakai beberapa kali oleh Presiden Jokowi, tenun ikat NTT kini naik kelas.

“Sekarang, puji Tuhan. Setelah berkibarnya tenun NTT, apalagi setelah dipakai Pak Jokowi, makin banyak anak-anak milenial NTT yang senang menenun,” ungkap Julie.

Julie mengakui pihaknya sangat bersemangat meningkatkan produksi dan kualitas tenun ikat NTT. Sebab, Presiden Joko Widodo sudah memberikan dukungan moral yang kuat.

Buktinya, kata Julie, Presiden Jokowi mengizinkan Dekranasda NTT menyiapkan pakaian dari NTT untuk peringatan HUT RI, 17 Agustus 2020. "Mungkin Pak Jokowi melihat bukan karena warna atau cara pakai, tetapi nilai dan filosofi di balik pakaian dari nenek moyang kami orang NTT. Itu yang mungkin membuat Pak Jokowi tertarik kepada NTT," papar Julie

“Saya bilang, Tuhan baik, karena saya lagi duduk-duduk ngopi, tiba-tiba dari Istana Negara menelepon, bertanya, apakah saya ketua Dekranasda NTT? Saya bilang, iya. Kemudian mereka bilang, Pak Jokowi berkenan pakai baju adat untuk 14 Agustus. Langsung saya bilang saya siap. Mau kabupaten yang mana?" kenang Julie.

Pada saat itu, staf Kepresidenan menjelaskan Presiden Jokowi memilih Rote dan Sabu, dua pulau kecil di NTT dan merupakan pulau terluar. “Saya siapkan dua-duanya untuk dibawa ke Istana, presiden nantinya yang memilih,” kenang Julie.

Pada saat itu, Presiden Jokowi memilih pakaian etnis Sabu untuk 14 Agustus 2020. Yang dipakai Presiden Jokowi adalah pakaian adat Sabu.

“Apakah saya desainernya? Saya bukan desainernya. Untuk pakaian adat seperti itu, desainernya adalah nenek moyang kita. Nenek moyang kami di NTT yang mendesain itu dan itu adalah pakaian besar panglima perang dan raja Sabu,” jelas Julie.

Orang NTT, kata Julie, sangat kagum pada presiden. “Kami merasa presiden adalah garda terdepan dan panglima bangsa ini. Dia yang memimpin bangsa Indonesia keluar dari kegelapan untuk beralih menuju terang,” ujar Julie.

“Ketika senang saya belum hilang, datang lagi telepon dari Istana. Presiden berkenan memakai lagi pakaian NTT untuk 17 Agustus 2020. Saya pikir, karena 17 Agustus, supaya ada nuansa merah-putihnya, saya pilih tenun daratan Timor. Kami berikan tenun Kabupaten Malaka dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pak Jokowi memilih dari Timor Tengah Selatan,” papar Julie.

Pakaian adat NTT yang dipakai Presiden Jokowi tidak saja mencerminkan etnis, juga budaya dan filosofi. Pada bagian kepala pakaian adat ada tanduk kecil, simbol pemimpin tertinggi. Presiden itu adalah pemimpin dan selalu berada di depan. “Kita sebagai rakyat mengikuti dari belakang,” kata Julie.

Tenun ikat NTT, hasil kerajinan tangan mama-mama di NTT sudah naik kelas. Bukan hanya para turis yang suka memakainya. Presiden dan para menteri sudah memakai pakaian dari tenun ikat motif NTT. Jika petinggi bangsa ini bangga memakai produk NTT, para milenial juga akan ikut memakainya, dan pada gilirannya, wisatawan mancanegara juga semakin memburu tenun ikat NTT.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Wamenag: Kontribusi Ormas Islam Menentukan Wajah Masa Depan Indonesia

Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan, peran dan kontribusi ormas-ormas Islam bidang pendidikan, dakwah, dan ekonomi akan menentukan gambaran wajah Indonesia.

NASIONAL | 11 April 2021

Terkait Pengambilalihan TMII, Tria Sasangka Putra: Kami Patuh pada Keputusan Pemerintah

Tria mengapresiasi langkah pemerintah untuk mengambil alih TMII dalam rangka penyelamatan aset negara dan untuk membuat TMII lebih baik ke depannya.

NASIONAL | 11 April 2021

Masyarakat Papua Usulkan Pendirian SMKN 4 Pertanian Ir H Joko Widodo di Biak Numfor

Sekolah ini, kata Leo Makuker, digagas dengan suatu latar belakang di mana tersedianya lahan yang cukup luas di wilayah itu.

NASIONAL | 11 April 2021

Gubernur Khofifah Minta Malang dan Lumajang Siapkan Tempat Pengungsian

Khofifah mengatakan bahwa penyiapan tempat pengungsian untuk warga terdampak tersebut harus disiapkan jika diperlukan.

NASIONAL | 11 April 2021

YPKC Bukan Kumpulan Preman, Berhak Kuasai Tanahnya

YPKC bergerak dalam bidang cetak sumber daya manusia,bukan organisasi preman.

NASIONAL | 11 April 2021

Kempupera Gerak Cepat Siapkan Relokasi Rumah Warga Terdampak Bencana NTT

Menurut Widiarto, direncanakan akan dibangun sebanyak 1.000 unit Risha.

NASIONAL | 11 April 2021

MUI Dorong Perempuan Lebih Kreatif Manfaatkan Platform Digital

Kkonfigurasi fakta, peluang, kendala, dan tantangan perempuan sebagai subjek dan penerima manfaat dari ekonomi kreatif ini tentu menarik untuk ditelisik.

NASIONAL | 11 April 2021

40 Rumah dan Tempat Ibadah di Jember Rusak Akibat Gempa

Gempa berdampak pada 21 desa dan dua kelurahan di wilayah Kabupaten Jember, namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

NASIONAL | 11 April 2021

Polisi Usut Penyerangan oleh Gerombolan Tawuran di Padang

Gerombolan orang tak dikenal tersebut diduga merupakan "kelompok" tawuran di daerah setempat.

NASIONAL | 11 April 2021

Pengembangan Ekosistem Produk Halal Perlu Menggandeng UMKM

Kawasan industri halal diharapkan memfasilitasi kolaborasi produsen produk halal dengan UMKM sekitar sehingga memberikan dampak sosial dan ekonomi besar kepada masyarakat

NASIONAL | 11 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS