Dua Bom Guncang Poso

Dua Bom Guncang Poso
Ilustrasi bom ( Foto: Jakarta Globe )
/ FER Rabu, 10 Oktober 2012 | 09:30 WIB
Korban pegawai dinas PU di Poso. Ledakan mengakibatkan kaca  jendela rumah hancur, avansa rusak di bagian belakang.

Ekskalasi  kekerasan dan teror meningkat di Poso, Sulawesi Tengah.  Setelah seorang petani ditembak tanpa sebab yang jelas pada Kamis  (4/10), kini dua bom meledak tanpa korban jiwa.
 
Peristiwa teror ini seiring dengan serangkaian operasi yang digelar  Densus 88/Antiteror di Sulawesi Tengah, kendati  belum jelas benar  apakah peritiwa-peristiwa ini terkait terorisme.
 
Ledakan pertama terjadi pada  Selasa  (9/10)  sekitar pukul  20.15 WITA.  Lokasinya di kediaman Okri Mamuaya.
 
"Korban adalah pegawai dinas PU di Kelurahan Kawua  Kecamatan Poso Kota Selatan Kabupaten Poso. Ledakan mengakibatkan kaca  jendela rumah hancur, mobil avansa warna silver yang diparkir di depan  rumah juga rusak pada bagian belakang," kata Kadiv Humas Polri Brigjen  Suhardi Alius saat dihubungi Rabu (10/10) pagi.
 
Tidak ada  korban jiwa dalam peristiwa ini. Pelaku dicurigai menggunakan sepeda motor. Bom yang kedua meledak pada pukul 21.15 WITA di sekitar kompleks  pertigaan Gereja Imanuel Taripa Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso.
 
 "Saat itu terdengar satu kali letusan. Yang dicurigai adalah sebuah  mobil Kijang yang menuju arah Pendolo. Dalam peristiwa ini juga tidak  ada korban jiwa," tambah Suhardi yang melanjutkan jika pelakunya masih  diburu dan motifnya belum disimpulkan.
 
Poso pernah diguncang konflik antar agama pada masa lalu. Ratusan orang  menjadi korban. Sel teroris Jamaah Islamiah pernah  beroperasi di Poso. Mereka bahkan berencana menjadikan Poso sebagai  qaidah aminah atau basis perjuangan.
 
Pada Senin (8/10), Densus 88/Mabes Polri menangkap buron teror bernama  Imron di Palu, tak jauh dari Poso. Imron merupakan  lulusan Pondok  Pesantren Darussaadah, Boyolali, Jawa Tengah.
 
Pondok Pesantren ini adalah tempat dimana salah satu aktor pelaku Bom Bali 2005 bernama Salik Firdaus menuntut ilmu.
 
Imron terkait dengan latihan para militer di Poso. Dia adalah kurir  kelompok yang dipimpin Santoso yang hingga kini masih dikejar polisi.  Imron juga adalah fasilitator  pelatihan, pembeli senjata api, dan  belajar membua bom untuk kelompok Solo dan Muhammad Torik di Tambora,  Jakarta Barat.