Sambut Hardiknas, KPAI Soroti Angka Putus Sekolah Selama Pandemi
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Sambut Hardiknas, KPAI Soroti Angka Putus Sekolah Selama Pandemi

Sabtu, 1 Mei 2021 | 11:41 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam rangka mempertingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti menyoroti angka putus sekolah yang meningkat pada masa pandemi Covid-19.

Retno menyebutkan, dengan kondisi ini tentu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) terancam gagal tercapai. Apalagi, Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia telah menambah jumlah penduduk miskin, meningkatkan pekerja anak, dan meningkatkan putus sekolah .

“Data ini sejalan dengan pengawasan KPAI selama 2020 telah terjadi angka putus sekolah karena menikah sebanyak 119 kasus dan putus sekolah karena menunggak SPP sebanyak 21 kasus,” papar Retno dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (1/5/2021).

Ia menambahkan, selama periode Januari-Maret 2021 terdapat 33 kasus anak putus sekolah karena menikah, 2 kasus karena bekerja, 12 kasus karena menunggak SPP, dan 2 kasus karena kecanduan gawai sehingga harus menjalani perawatan dalam jangka panjang,

Dikatakan Retno, tingginya angka putus sekolah ini karena dipicu oleh kebijakan belajar dari rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang terus menuai masalah dan tidak juga dapat dicarikan solusinya oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (pemda).

Menurut Retno, berbagai kebijakan dalam upaya mengatasinya sudah dibuat, seperti kebijakan panduan BDR atau PJJ, kebijakan bantuan kuota internet, kebijakan kurikulum khusus dalam situasi darurat, kebijakan standar penilaian di masa pandemi, dan terakhir melakukan 3 kali relaksasi terhadap SKB 4 Menteri tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di masa pandemi.

“Menurut KPAI, sejumlah terobosan yang dibuat pemerintah untuk mengatasi BDR atau PJJ itu tidak efektif,” ucap Retno.

Retno menyebutkan, BDR atau PJJ terlalu bertumpu pada internet. Akibatnya, sejumlah kendala pembelajaran daring terjadi karena keragaman kondisi keluarga peserta didik dan keragaman kondisi daerah seluruh Indonesia. Apalagi terjadi kesenjangan digital yang begitu lebar antar daerah di Indonesia.

“Tidak pernah ada pemetaan kesenjangan kemampuan digital dan kemampuan ekonomi antara anak-anak di pedesaan dengan di perkotaan, antara anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak dari keluarga kaya,” cetus Retno.

Dikatakan Retno, pelaksanaan BDR atau PJJ ini sangat dipengaruhi oleh faktor peranan orang tua peserta didik. Misalnya, pendampingan, kemampuan dalam penguasaan teknologi digital, hingga kepemilikan gawai.

Namun, KPAI juga menilai tidak ada pemetaan variasi BDR atau PJJ yang dibangun bersama antara guru, siswa dan orang tua. Ini terkait dengan sistem pembelajaran seperti apa yang tepat atau sesuai dengan kondisi anak dari segi ekonomi keluarga, ketiadaan alat daring, ketidakstabilan sinyal, kondisi orang tua yang bekerja, serta apakah para guru memberikan umpan balik dari setiap penugasan yang diberikan.

Selain itu, Retno juga menyebutkan, kebijakan PJJ terkesan menyamakan masalah sehingga hanya satu solusi untuk semua problem BDR atau PJJ yang ada. Misalnya, bantuan kuota internet hingga Rp 7 triliun, namun pada praktiknya banyak yang mubazir. Pasalnya, bantuan kuota tersebut tetap tidak mampu mengatasi masalah pembelajaran anak-anak dari keluarga miskin yang tidak memiliki alat daring atau masalah anak-anak di pelosok yang berada pada wilayah blank spot.

“Peserta didik dari keluarga miskin dan di pelosok tetap saja tidak terlayani PJJ daring ketika kebijakannya tunggal, hanya memberikan bantuan kuota internet untuk semua masalah PJJ,” ucapnya.

Kondisi berlangsung lebih dari setahun ini, kata Retno, mengakibatkan kejenuhan pada peserta didik sehingga menurunkan semangat belajar, munculnya masalah alat daring, masalah jaringan internet yang sulit, masalah tidak adanya interaksi guru-siswa dalam proses PJJ, dan banyak anak kelas XII yang lulus tahun ini menunda kuliah karena sedang masa pandemi.

“Ini memunculkan potensi bertambahnya pengangguran, meningkatkan angka perkawinan anak dan pekerja anak,” pungkas Retno.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Dukung Ketegasan Polri, Milenial Muslim Imbau Masyarakat Tidak Mudik Lebaran

Masyarakat diminta untuk menahan diri dan tidak melakukan mudik pada Lebaran tahun ini.

NASIONAL | 1 Mei 2021

Dimintai Keterangan oleh KPK, Ketua Komisi III Klarifikasi Kasus Bansos

Herman Hery dipanggil untuk dimintai keterangan terkait penyelidikan dugaan korupsi pengadaan bantuan sosial (bansos).

NASIONAL | 1 Mei 2021

Interaktif via Podcast, Kemdagri Jelaskan Agenda Penyederhanaan Birokrasi Pemda

Kemdagri hadir menyapa melalui channel Podcast bertajuk "Otda's Talk".

NASIONAL | 1 Mei 2021

Cegah Penyebaran Covid, Menag Minta Jajaran Intensifkan Sosialisasi Panduan Ibadah Ramadan

Kasus di Banyumas ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk tidak pernah lengah dalam menjalankan prokes demi terjaganya keselamatan jiwa bersama.

NASIONAL | 1 Mei 2021

Longsor di Tapanuli Selatan, Pencarian Korban Terus Dilakukan

Hingga Jumat (30/4/2021) siang, Tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi tiga korban meninggal dunia dari lokasi kejadian.

NASIONAL | 1 Mei 2021

Ini Penyebab Matinya Jaringan Internet Telkom di Jayapura

Telkom Jayapura menyatakan kabel laut miliknya putus pada titik 360 kilometer sehingga mengakibatkan komunikasi jaringan data seluler mati.

NASIONAL | 1 Mei 2021

Bengkel Sapi Kalijeruk Cetak Sapi Unggul dan Dorong Produksi Nasional

Bengkel Sapi Kalijeruk Yogyakarta dapat mendorong produksi sapi unggul rakyat, untuk mendukung kemandirian dan ketahan pangan nasional

NASIONAL | 1 Mei 2021

Nadiem Dinilai Butuh Wakil Menteri dengan Kemampuan Jejaring Kuat

Nadiem dinilai membutuhkan wakil menteri (wamen) yang secara khusus menangani bidang riset dan teknologi.

NASIONAL | 1 Mei 2021

Ketahanan Bangunan Jadi PR Besar Negara Rawan Gempa

"Ketahanan bangunan memang masih menjadi PR besar bagi Tanah Air. Namun di setiap bencana, akan selalu ada hal unik yang dapat dijadikan pelajaran."

NASIONAL | 1 Mei 2021

Kemdagri Sebut KKB Muncul Akibat Ada Sekelompok Masyarakat Frustasi Sosial

Kkelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua disebut muncul akibat adanya sekelompok masyarakat yang mengalami frustasi sosial.

NASIONAL | 30 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS