Logo BeritaSatu

Misi Terakhir KRI Nanggala-402 dalam Kesunyian Abadi

Minggu, 2 Mei 2021 | 23:13 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / AO

Jakarta, Beritasatu.com - Rabu (21/4/2021) dini hari yang gelap dan tenang menjadi waktu pelaksanaan misi terakhir KRI Nanggala-402. Kapal selam milik TNI Angkatan Laut yang telah berusia lebih dari 40 tahun itu harus menerima takdir: menjalankan misi terakhir di dalam kesunyian yang abadi.

Seusai menerima perintah untuk menjalankan misi latihan tempur, kapal selam itu menyelam ke dalam laut yang dingin tak jauh dari Desa Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali. Kapal yang dibeli Indonesia dari Jerman pada 1981 itu seharusnya segera melakukan penembakan torpeda saat berada pada kedalaman 13 meter.

Sekitar satu jam setelah KRI Nanggala-402 mendapatkan perintah penembakan torpedo, komando latihan yang berada di Dermaga Ujung, Markas Komando (Mako) Koarmada II, Surabaya, Jawa Timur, tidak mendengar kabar lagi. KRI Nanggala-402 hilang kontak.

Saat latihan itu KRI Nanggala-402 berperan utama sebagai kepala perang dan akan menembakan torpedo surface and underwater target (SUT) di perairan Bali. Dua kapal perang TNI AL, yakni KRI Hiu-634 dan KRI Layang-635 ikut menemani KRI Nanggala-402 dengan menembakan rudal C-802 di Laut Bali.

Misi Terakhir KRI Nanggala-402 dalam Kesunyian Abadi

Latihan itu digelar sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme prajurit TNI AL sehingga selaras dengan kemajuan dan perkembangan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) yang semakin berkembang. Namun, apa daya, takdir berbicara lain. KRI Nanggala-402 tenggelam dan 53 kru yang mengawakinya telah dinyatakan gugur dalam tugas.

KRI Nanggala-402 merupakan satu dari lima kapal selam yang dimiliki Indonesia. Sejak dioperasikan TNI AL pada 1981, kapal selam tersebut aktif mengikuti sejumlah misi dan latihan rutin untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Satu dari sekian banyak tugas yang pernah dijalankan adalah misi intelijen di Timor Timur (sekarang Timor Leste) untuk melacak pergerakan pasukan International Force for East Timor (Interfet) pada Agustus-Oktober 1999. KRI Nanggala-402 juga pernah dikirim ke perbatasan Filipina untuk melacak jaringan penyelundupan senjata dalam konflik di Ambon dan Poso pada periode 1998-2000.

Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana Yudo Margono menjelaskan, sesuai rencana kapal selam itu memang hendak melakukan latihan tembak torpedo. Sesuai prosedur, pukul 02.30 Wita sudah dilakukan isyarat terbit yakni dimulainya latihan.

Kemudian, diceritakan Kasal, pada pukul 03.00 Wita, KRI Nanggala-402 meminta izin untuk menyelam pada kedalaman 13 meter untuk persiapan menembak torpedo. Masih sesuai prosedur, dalam penembakan tersebut kapal selam juga didampingi Sea Rider (kapal taktis berkecepatan tinggi) berisi tim penjejak yang di dalamnya telah siap sejumlah Komando Pasukan Katak (Kopaska).

Di dalam teknis latihan, ketika torpedo meluncur, maka Sea Rider akan mengikuti. Saat itu, dari atas perairan, tim penjejak masih bisa melihat geladak haluan dan conning tower (menara atas) kapal selam dari jarak sekitar 50 meter.

Sekitar pukul 03.30 Wita, semua masih berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan, KRI lain yang terlibat latihan juga memeriksa torpedo warning, yang artinya semua sudah dalam persiapan peluncuran torpedo. Baru sekitar pukul 03.45 Wita, Sea Rider yang memonitor dari atas perairan melihat periskop dan lampu pengenal dari KRI Nanggala-402 secara perlahan terus menyelam dan lama kelamaan tidak terlihat.

Sampai dengan tahap ini, dijelaskan Kasal, semua masih tampak berjalan normal. Sebab, untuk meluncurkan torpedo berbobot hampir dua ton itu, kapal selam KRI Nanggala-402 memang harus menyelam.

Kejanggalan mulai terjadi selepas pukul 03.45 Wita. Ketika peluncuran torpedo sudah siap dilakukan, tidak ada permintaan izin untuk melakukan peluncuran dari kapal selam. Semua berlangsung hingga pukul 04.46 Wita atau sekitar satu jam setelah kapal selam sudah berada di kedalaman 13 meter.

Pada saat ingin melakukan penembakan atau peluncuran torpedo, seharusnya KRI Nanggala-402 meminta izin atau otorisasi untuk penembakan. Namun, hingga waktu seharusnya itu, permintaan tersebut tidak juga disampaikan. Sejak pukul 03.46 Wita hingga 04.46 Wita atau saat jadwal penembakan, pemanggilan terus dilakukan kepada KRI Nanggala, namun tetap tidak ada respon.

Misi Terakhir KRI Nanggala-402 dalam Kesunyian Abadi

"Seharusnya, saat tenggelam (di kedalaman 13 meter) tadi, masih ada periskop. Pasti kelihatan. Ini tidak ada periskop dan komunikasi saat itu tidak terjalin," ujar Kasal. Sekitar pukul 04.17 Wita sudah diterbangkan helikopter dari KRI I Gusti Ngurah Rai untuk mengecek visual keberadaan kapal selam.

Hasilnya nihil. Helikopter tetap tidak melihat bayang-bayang KRI Nanggala-402 di dalam laut.

Sesuai jadwal, KRl Nanggala-402 seharusnya kembali timbul ke permukaan pada pukul 05.15 Wita. Karena hingga batas waktu tersebut kapal selam itu tidak juga ke permukaan, maka segera dilakukan prosedur sublook. Artinya, kapal selam tidak terpantau secara visual, baik itu dari atas permukaan air laut maupun dari ketinggian udara.

Setelah tiga jam pencarian, prosedur kemudian dinaikkan menjadi submiss, yakni status kapal selam hilang kontak. Atas status tersebut, diputuskan penundaan latihan secara keseluruhan. Kemudian, komando memerintahkan seluruh unsur yang terlibat dalam latihan, termasuk unsur pengamanan, untuk melaksanakan pencarian keberadaan kapal selam berikut anak buah kapal (ABK) yang mengawakinya.

Hampir selama empat hari kemudian tim gabungan melakukan penyisiran dan pencarian di lokasi sekitar hilangnya KRI Nanggala-402. Pencarian bahkan dipersempit di sekitar lokasi ditemukannya tumpahan minyak dan adanya tanda kemagnetan cukup besar di utara Desa Celukan Bawang, Buleleng.

Di lokasi tersebut petugas malah menemukan sejumlah benda yang mulai mengapung. Benda-benda tersebut merupakan kompartemen dari kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak. Barang-barang yang ditemukan, antara lain pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin, dan pelumas periskop yang berada di dalam botol. Selain itu juga ditemukan alat yang dipakai kru KRI Nanggala-402 untuk shalat serta spons untuk menahan panas pada press room.

Misi Terakhir KRI Nanggala-402 dalam Kesunyian Abadi

Benda-benda itu pun menjadi bukti otentik untuk menyatakan KRI Nanggala-402 tenggelam atau subsunk. Kapal dinyatakan tenggelam setelah pencarian memasuki hari keempat sejak dinyatakan hilang atau pada Sabtu (25/4/2021) sore.

Beberapa saat setelahnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun menyatakan bahwa seluruh awak kapal selam KRI Nanggala-402 telah gugur dalam tugas. Kepastian tersebut disampaikan setelah diperoleh citra yang telah dikonfirmasi sebagai bagian KRI Nanggala-402 yang meliputi kemudi vertikal belakang, jangkar, bagian luar badan tekan, kemudi selam timbul, serta bagian kapal yang lain, termasuk baju keselamatan awak kapal NK-11.

Panglima TNI menegaskan, berdasarkan bukti-bukti otentik tersebut dapat dinyatakan bahwa KRI Nanggala-402 telah tenggelam dan seluruh awaknya gugur dalam tugas. "Semoga kami dapat meneruskan perjuangan paripurna saudara-saudara sebagai prajurit tentara terbaik Indonesia," kata Panglima TNI.

Evakuasi
Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal, Laksamana Muda (Laksda) Muhammad Ali memastikan, pihaknya masih terus mengupayakan evakuasi kapal selam KRI Nanggala 402 yang karam di perairan Bali. "Pelaksanaan evakuasi di laut Bali tetap dilaksanakan. Jadi, sampai sekarang masih ada KRI kita, masih banyak di sana (perairan Bali)," kata Muhammad Ali.

Selain KRI, di lokasi tenggelamnya KRI Nanggala-402 juga masih ada sejumlah tim penyelamat bantuan dari negara lain. Semuanya bekerja keras untuk terus melakukan evakuasi. "Kemudian, save rescue dari Singapura juga masih membantu untuk pengangkatan," ungkapnya.

Dijelaskan, tim evakuasi juga sudah berhasil mengangkat dan menemukan sejumlah bagian dari kapal selam, termasuk salah satu torpedo yang dibawa kapal selam tersebut dalam latihan. "Kita sudah menemukan dan mengangkat menggunakan ROV, hidrophone dari kapal selam KRI Nanggala-402," ucapnya.

Misi Terakhir KRI Nanggala-402 dalam Kesunyian Abadi

Laksda Ali belum bisa memastikan penyebab KRI Nanggala-402 bisa berada di kedalaman lebih dari 800 meter dan terbelah tiga. Meski demikian, dia tidak menampik kemungkinan faktor alam yang menyebabkan peristiwa duka seluruh rakyat Indonesia itu. Faktor alam yang dimaksud adalah internal solitary wave atau arus bawah laut yang cukup kuat dan bisa menarik kapal secara vertikal.

"Faktor alam ini juga ada yang dinamakan internal solitary wave, yang berdasarkan informasi dari beberapa pakar dan ahli oseanografi, itu ada arus bawah laut yang cukup kuat, yang bisa menarik secara vertikal. Jadi, bisa saja ini penyebab jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya dan ini yang harus diwaspadai," kata dia.

Sebagai mantan kru KRI Nanggala-402, Ali menceritakan bahwa dirinya kerap mengalami situasi seperti itu. Saat ada arus bawah laut yang deras, kapal biasanya terasa lebih berat. Tetapi, ujar Ali, hal tersebut seharusnya dapat diatasi salah satunya dengan pendorongan atau mengembuskan tangki tahan tekan dengan emergency blow.

Apa pun penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402, semua pihak harus menjadikan peristiwa ini sebagai sebuah pelajaran. Kita mendoakan 53 kru yang gugur saat menjalankan tugas mulia itu diterima di sisi-Nya.

Tabah sampai akhir.
Wira Ananta Rudhiro.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

KPK: Tak Sulit Kerahkan Kekuatan Jemput Paksa Lukas Enembe

Bagi KPK, tidak ada kesulitan untuk menjemput paksa tersangka Lukas Enembe yang mangkir dari panggilan.

NEWS | 4 Oktober 2022

Warga Jakarta, Waspada Hujan Lebat Disertai Petir Hari ini

BMKG memperingatkan warga Jakarta untuk waspada akan potensi hujan lebat yang akan terjadi di Ibu Kota dan beberapa daerah lain.

NEWS | 4 Oktober 2022

Ukraina Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Bersama di Piala Dunia 2030

Ukraina akan bergabung dengan Spanyol dan Portugal dalam upaya mereka untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030.

NEWS | 4 Oktober 2022

Uji Rudal Korut ke Wilayah Jepang,Warga Sempat Diminta Berlindung

Korut menembakkan rudal balistik menuju ke wilayah Jepang pada Selasa (4/10/2022), memicu peringatan bagi penduduk untuk berlindung.

NEWS | 4 Oktober 2022

Pencuri Brankas Kafe Menyamar dengan Pakai Daster Tetangga

Seorang pencuri melakukan aksinya dengan menyamar sebagai perempuan dengan menggunakan daster milik tetangga.

NEWS | 4 Oktober 2022

Sepanjang 2022, 1.153 Orang Tewas Kecelakaan di Sumut

Polda Sumut mencatat, sebanyak 1.153 orang meninggal dunia dari 4.306 kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Sumatera Utara.

NEWS | 4 Oktober 2022

Gara-Gara Tragedi Kanjuruhan, Pos Polisi di Makassar Nyaris Dibakar

Pos polisi di Makassar hendak dibakar dan diduga terkait dengan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan lebih seratus orang.

NEWS | 4 Oktober 2022

Riset Gen Manusia Purba, Svante Paabo Diganjar Hadiah Nobel Kedokteran 2022

Ilmuwan Svante Paabo memenangkan Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran 2022 untuk riset gen manusia purba.

NEWS | 4 Oktober 2022

Buntut Konten Prank KDRT, Baim Wong Dilaporkan ke Polisi

Baim Wong dan Paula Verhoeven dilaporkan ke Polres Metro, Jakarta Selatan terkait konten prank KDRT yang dibuat keduanya.

NEWS | 3 Oktober 2022

Santri Dukung Ganjar Gelar Maulid Nabi di Jakarta

Santri Dukung Ganjar mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan doa bersama untuk Ganjar Pranowo dan Indonesia di Jakarta Utara.

NEWS | 3 Oktober 2022


TAG POPULER

# Tragedi Kanjuruhan


# Lesti Kejora


# Pembantaian di Papua Barat


# Arema FC


# Raja Charles III


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Anies Capres Nasdem, KPK Pastikan Penyelidikan Formula E Tetap Lanjut

Anies Capres Nasdem, KPK Pastikan Penyelidikan Formula E Tetap Lanjut

NEWS | 11 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings