Kasus Sate Beracun, Praktisi Hukum Sebut Pasal Pembunuhan Berencana Tak Bisa Digunakan
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Kasus Sate Beracun, Praktisi Hukum Sebut Pasal Pembunuhan Berencana Tak Bisa Digunakan

Minggu, 9 Mei 2021 | 13:35 WIB
Oleh : Fana F Suparman / LES

Jakarta, Beritasatu.com - Praktisi hukum Ricky Vinando menilai, kasus sate bersianida tak dapat menggunakan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Pasal tersebut, katanya hanya dapat diterapkan terhadap pelaku yang sudah merencanakan dan menargetkan korbannya.

Dengan demikian, Ricky membantah argumentasi pakar psikologi forensik Reza Indragiri yang menyebut kasus sate beracun dapat menggunakan Pasal 340 KUHP karena pasal tersebut tidak melihat korbannya.

"Sangat keliru pendapat pakar psikologi forensik, Reza Indragiri yang mengatakan kasus sate bersianida masuk Pasal 340 KUHP

karena pasal itu tidak melihat siapa korbannya. Kalau demikian halnya apa bedanya Pasal 340 KUHP dengan Pasal 338 KUHP? Kan yang tidak melihat siapa korbannya itu, Pasal 338 bukan Pasal 340," kata Ricky dalam keterangannya, Minggu (9/5/2021).

Ricky mengatakan, Pasal 338 merupakan pembunuhan yang terjadi secara spontan dan pelaku belum tentu mengenal korbannya. Sementara Pasal 340, pelaku sangat mengenal korban, bahkan bisa saja teman dekat atau orang terdekat dan merencanakan untuk melakukan perbuatannya. Hal ini lantaran tidak mungkin seseorang merencanakan pembunuhan tanpa mengenal atau menargetkan korbannya.

"Mungkin enggak seseorang merencanakan bunuh orang tanpa target dan tanpa motif atau alasan yang menyertainya? kan tidak mungkin. Mana ada bunuh orang dengan alasan iseng. Itu pasti orang gila. Dari semua putusan pengadilan, Pasal 340 itu menarget seseorang yang jelas dan ada motifnya. Orang melakukan Pasal 340 itu banyak motif bisa karena sakit hati, dendam, masalah utang piutang, masalah politik, persaingan bisnis, masalah percintaan. Tak mungkin tiba-tiba membunuh seseorang tanpa alasan. Kalau yang tiba-tiba itu, Pasal 338 KUHP, spontan, sate itu kan spontan membuat anak itu mati, tak terencana," katanya.

Dalam kasus sate bersianida, pelaku Nani Aprilliani (25) mengirimkan sate mengandung racun sianida untuk Aiptu Tomi. Sate beracun itu dikirimkan Nani dengan motif sakit hati karena Tomi menikah dengan wanita lain. Namun, sate yang dikirimkan Nani melalui pengemudi ojek online ditolak oleh Tomi dan istrinya. Atas permintaan Tomi, pengemudi ojek membawa pulang sate itu dan dimakan oleh keluarga termasuk anaknya, NFP (10) hingga meninggal dunia.

Dikatakan Ricky, Pasal 340 dapat diterapkan jika rencana Nani memberikan sate bersianida kepada Tomi berhasil. Namun, jika rencana pembunuhan gagal dilaksanakan dapat terkategori sebagai percobaan pembunuhan berencana yang diatur dalam Pasal 53 juncto Pasal 340 KUHP.

"Dalam kasus sate sianida, Tomi tidak mau menerima sate, artinya tersangka baru melakukan percobaan pembunuhan berencana yaitu Pasal 53 KUHP juncto Pasal 340 KUHP bukan sudah Pasal 340 karena Tomi tidak meninggal, kalau sebelum-belumnya ada putusan pengadilan yang kasusnya mirip seperti ini, pelaku divonis mati, jawaban saya itu tergantung siapa yang bicara dan seberapa kuat argumentasi hukumnya di pengadilan," jelasnya.

Ricky menilai meninggal dunianya NFP juga tidak dapat menjadi dasar menjerat Nani dengan Pasal 340 KUHP. Hal ini lantaran Nanti tidak merencanakan membuat alternatif rencana sate beracun yang disiapkannya sampai ke tangan pengemudi ojek dan disantap keluarga pengemudi ojek apabila Tomi menolak kirimannya. Pasal yang mungkin dapat diterapkan terhadap Nani, yakni Pasal 338 KUHP juncto UU Perlindungan Anak.

Namun, pasal itu dapat diterapkan jika dapat dibuktikan NFP meninggal dunia lantaran menyantap sate bersianida. Persoalannya, kata Ricky, pihak keluarga menolak NFP diautopsi dan visum pun tak dilakukan sehingga tidak diketahui secara pasti penyebab meninggalnya NFP.

"Sementara autopsi tak pernah dilakukan. Dengan autopsi tidak dilakukan, maka tidak pernah diketahui apa yang menyebabkan anak itu meninggal dunia. Dengan tak ada autopsi, maka tak ada juga pemeriksaan lambung, usus, darah. Jadi bagaimana bisa memastikan meninggal karena sianida? Sianida masuk melalui apa, apakah melalui saluran pernafasan atau oral yang membuat dia meninggal? Kalau melalui oral berapa banyak kadar sianida di lambung, usus, darah, ginjal dan di organ tubuh lainnya? Kalau melalui pernafasan, berapa banyak sianida di paru-paru? Itu harus bisa dibuktikan", papar Ricky.

"Jika tak diautopsi tentu itu tak bisa dijawab siapapun. Tidak bisa karena sate dinyatakan terbukti mengandung sianida lantas langsung disimpulkan meninggalnya karena sianida padahal tak diautopsi. Tak bisa seperti itu, harus ada bukti ada sianida di dalam tubuh. Kalau sekarang mau diautopsi pun tak boleh lagi, karena sudah lebih dari seminggu, manusia meninggal dilambungnya akan ada sianida, alamiah. Karena kalau tak diautopsi maka otomatis tidak ada bukti secara medis mati karena sianida, tak ada juga pemeriksaan patologi anatomi dan pemeriksaan toksikologi, padahal pemeriksaan patologi anatomi dan toksikologi sangat penting nomor satu dalam kasus keracunan, karena sianida itu menyerang otak dan jantung. Itu yang harusnya dari awal sudah diperiksa apa yang menyebabkan jantung dan otaknya berhenti bekerja dan mati?,” tanyanya.

Kunci kasus ini ada pada dokter pertama yang menangani korban, warna sekujur tubuh korban, apa warnanya, harusnya warna merah buah cherry, warna kuku juga, dan apakah ada bau kacang almond dari mulut korban. Itu harus ada bukti foto yang diambil beberapa menit setelah kematian terkait warna tubuh dan kuku korban.

“Kalau tiga itu juga tidak ada, pembuktian mati akibat sianida sangat berat, karena dengan tak ada autopsi, pemeriksaan patologi anatomi dan toksikologi, maka tak ada bukti mati keracunan sianida," kata Ricky menambahkan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Longsor di Jalan Sumbar-Riau, Pasokan Listrik di 15 Desa Terputus

Akses jalan terputus akibat tanah longsor menjadi kendala kami dalam upaya perbaikan gangguan jaringan listrik.

NASIONAL | 9 Mei 2021

Puan Pantau Larangan Mudik di Pelabuhan Bakauheni

Ketua DPR Puan Maharani memantau pelaksanaan pelarangan mudik di Pelabuhan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Minggu (9/5/2021).

NASIONAL | 9 Mei 2021

Kemhub Tegaskan Larangan Mudik Lokal Sudah Sesuai Permenhub

Di wilayah aglomerasi pun mudik dilarang, yang diperbolehkan adalah aktivitas yang esensial, dan transportasi masih akan melayani dengan pembatasan.

NASIONAL | 9 Mei 2021

KY: Permintaan THR ke Calon Hakim Agung Adalah Penipuan

KY tidak pernah meminta apapun, kepada siapapun, dan dalam rangka apapun.

NASIONAL | 9 Mei 2021

Tangkap KKB, Komnas HAM Papua: Jangan Timbulkan Masalah HAM

Komnas HAM Papua terus melakukan tugas dan fungsinya sebagai mediator antara aparat dengan kelompok-kelompok yang berseberangan di Papua.

NASIONAL | 9 Mei 2021

Waspada! Ada Penipu Mengatasnamakan KPK Minta Sumbangan Lailatulqadar

Ali menegaskan, pihak yang mengatasnamakan KPK itu hanya memanfaatkan nama lembaga antikorupsi.

NASIONAL | 9 Mei 2021

751 Kendaraan Diminta Putar Balik di Perbatasan DIY

tiga pos penyekatan utama di DIY terdiri atas pos di Tempel dan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang mengawasi pintu masuk dari arah Magelang dan Klaten.

NASIONAL | 9 Mei 2021

Wali Kota Pontianak Persilakan Warga Salat Idulfitri di Masjid dengan Prokes Ketat

Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Pontianak menyatakan siap menggelar salat Idulfitri di lapangan depan Kantor Wali Kota Pontianak.

NASIONAL | 9 Mei 2021

Bupati Jember Imbau Masyarakat Salat Idulfitri di Rumah

Kabupaten Jember masuk zona oranye penyebaran Covid-19, sehingga salat id dilakukan di rumah masing-masing .

NASIONAL | 9 Mei 2021

BMKG Perkirakan Mayoritas Daerah Diguyur Hujan

Cuaca Kota Surabaya dan Semarang juga diprakirakan cerah pada siang dan malam hari.

NASIONAL | 9 Mei 2021


TAG POPULER

# Akidi Tio


# Kartu Vaksin


# Olimpiade Tokyo


# Angka Sembuh Covid-19


# Kasus Aktif Covid-19



TERKINI

Ridwan Kamil Apresiasi Bantuan Oksigen untuk Jawa Barat

NASIONAL | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS