Mantovanny Tapung: Tanpa Berpikir Kritis Literasi Digital Kurang Gereget
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Mantovanny Tapung: Tanpa Berpikir Kritis Literasi Digital Kurang Gereget

Rabu, 9 Juni 2021 | 19:09 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Usaha pemberdayaan berpikir kritis sejak dini, baik di lingkungan rumah, masyarakat atau sekolah merupakan modal dasar dalam usaha literasi digital pada abad 21 ini. Tanpa pemberdayaan berpikir kritis sejak dini maka literasi digital pada masyarakat sulit tercapai atau tidak ada geregetnya.

Demikian ditegaskan Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Mantovanny Tapung, dalam webinar tentang Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kemkominfo bekerja sama dengan Siber Kreasi dan Indonesia Maju, Rabu (9/6/2021).

Selain Mantovanny, webinar yang diikuti oleh sebagian besar kalangan mahasiswa, pelajar dan orang muda ini, hadir pula pembicara lain seperti Ahmad Afandi (Key Opinion Leader), Adinda Atika (Businnes Development Manager Fintech Tunai Kita), Sofia Sari Dewi (Designer, pengiat social media & socialpreneur), Inosensius Sutam (Ketua Komisi Budaya dan Pariwisitas Keuskupan Ruteng), dan Yulian Noor (moderator).

Menurut Manto, demikian panggilan Mantovanny Tapung, program pemerintah pusat tentang literasi digital, tidak bisa tidak, harus didukung dengan gencarnya pemberdayaan keterampilan berpikir kritis di kalangan generasi muda.

Dalam kurikulum sekolah K-13, selain berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kreatif, berpikir kritis merupakan keterampilan abad 21 yang menjadi penekanan dalam pencapaian kompetensi inti.

Namun, gagasan dan implementasi berpikir kritis ini, sebaiknya tidak hanya dijalankan di lingkungan formal di sekolah saja, tetapi juga di lingkungan informasi, seperti di rumah, gereja, masjid, atau komunitas-komunitas yang bergerak di bidang edukasi dan literasi.

Sinergi dan saling dukung antara elemen formal dan informal akan menjadikan keterampilan berpikir kritis sebagai tulang punggung (back bone) dari gerakan literasi digital.

Tentang pentingnya pemberdayaan berpikir kritis ini, kata dia, bertolak dari pemahaman dan kenyataan faktual mengenai masifnya penetrasi digital pada masyarakat Indonesia dewasa ini, terutama di kalangan generasi milenial.
Menurut Manto, pemberdayaan berpikir kritis dalam diri masyarakat menjadi salah satu pilihan dasar (optio fundamentalis) dalam mencegah pengaruh negatif dari media sosial.

Manto yang merupakan dosen Ilmu Sosial dan Filsafat Unika Santu Paulus Ruteng ini, berpikir kritis mesti diberdayakan sejak dini melalui pendidikan formal mulai di sekolah-sekolah, dan informal di rumah.

Dengan memberdayakan keterampilan berpikir kritis ini, seseorang bisa membedakan mana informasi yang baik dan benar, mana yang tidak baik dan tidak benar.

Dalam hal ini, kata dia, berpikir kritis ketika bermedia sosial dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan mengapa dan untuk apa bermedia sosial, apakah ada manfaatnya bagi pengembangan hidupnya, dan sejauh mana media tersebut berdampak positif bagi masa depannya.

Berbagai pertanyaannya ini merupakan bagian dari tahapan awal berpikir kritis sebelum masuk pada hal yang lebih dalam tentang rangkaian tahapan berpikir kritis, seperti membuat analisa, membuat dalil atau argumentasi, membuat evaluasi, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Menurut Manto, selain sebagai salah satu keterampilan yang harus diberdayakan pada abad 21 ini, namun yang lebih penting, keterampilan berpikir kritis menjadi sangat penting di tengah masif penetrasi digital pada masyarakat dunia saat ini.

Bayangkan saja, kata dia, dari 7,6 miliar penduduk dunia ada 4 miliar yang bisa mengakses internet (3,2 miliar adalah milenial/orang muda); 57% (143,3 juta) penduduk Indonesia sudah terkoneksi internet 34,45% (90 juta) adalah milenial/orang muda.

Rata-rata orang Indonesia habiskan 3-4 jam sehari untuk mengakses media sosial (Kompas, 20/09/2018). Sehingga jangan heran, Prensky (pakar media digital) menyebut generasi zaman now/generasi ‘Z’ sebagai generasi ‘digital sejak lahir’ (born digital) atau ‘generasi yang fasih berjejaring’ (net savvy).

Manto mengutip data BPS Statistik Pemuda 2018, sebanyak 88,35% orang Indonesia berselancar di internet untuk bermedia sosial (facebook, twitter, instagram, dll). Sedangkan 75,02% untuk sekedar mendapat informasi atau berita.

Sementara di Manggarai, hasil penelitian dosen Unika Santu Paulus Ruteng, Redy Jaya & Edu (2018), penetrasi digital untuk orang muda Manggarai sebesar 83%; tingkat kepercayaan kepada media digital hingga 86%. Dan 78% mengakses internet untuk kepentingan bermedia sosial.

Bahkan temuan penelitian dua dosen ini, 69% orang muda Manggarai langsung membagikan informasi dari medsos, tanpa melakukan analisis kritis terkait kebenaran.

Cukup banyak yang mengabaikan perbedaan informasi yang diakses, dan kurang kritis dan selektif dalam melihat kualitas dan kredibilitas sumber, terjebak menyimpulkan berita dari judul saja (click bait), dan begitu cepat menelan berita-berita bernarasi palsu (fake news) , informasi-informasi palsu (hoax) dan berita yang dibuat-buat tidak sesuai fakta atau konteks (fabricated news). "Ancaman paling besar dalam bermedia sosial adalah terjebak dengan hoaks," kata dia.

Hasil penelitian MASTEL (2017) dalam hoaks, terdapat unsur seperti: berita bohong yang disengaja (90,3%), berita yang menghasut (61,6%), berita yang tidak akurat (59%), berita ramalan (14%), dan berita yang menyudutkan (12,6%), dan produksi kepalsuan diulang-ulang yang kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran (post truth).

Lulusan terbaik program doktor Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2018 ini, menegaskan, kontribusi media sosial terhadap munculnya patologi dan penyimpangan sosial seperti perselingkuhan, perceraian, perundungan (bullying), pemerkosaan, penjualan manusia (human trafficking), bunuh diri, tawuran, meningkatnya gaya hidup konsumeristik dan suka pamer, dll., yang terjadi di Manggarai Raya selama ini, sekitar 15-20% karena pengaruh media sosial, selebihnya karena penyebab lain seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, pengangguran, angka putus sekolah, melemahnya kontrol sosial, budaya permisif, dan minimnya pendidikan karakter baik sekolah maupun di rumah.

Rendahnya sikap kritis ketika bermedia sosial bisa berdampak terhadap psikis di mana muncul sikap kurang empati, cepat depresi, gampang emosi, cepat mengambil keputusan fatal, dan tak sabar menunggu hasil karena terbiasa berinteraksi dengan sesuatu yang.

Secara fisik, banyak sel otak terdegradasi (lelah) karena rangsangan berlebihan; mengakibatkan turunnya konsentrasi dan berkurangnya memori. Kecanduan internet susah ditangani ketimbang kecanduan narkotika/alkohol (narkolema:narkotika lewat mata).

Tak ada zat yang bisa diluruhkan karena efeknya langsung pada memori. Obat medis hanya untuk menurunkan dopamin dan depresi saja. Dampak psiko-sosial: terkonstruksi gaya hidup konsumptif, pragmatis dan instan. Karena multidampak ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan kecanduan internet ini sebagai penyakit internasional ke-11.

Menurut Manto, angka 15-20% sangat signifikan dan menjadi lampu kuning untuk mengevaluasi perkembangan peradaban kehidupan masyarakat di Manggarai Raya saat ini. Ketika kurang kuat keterampilan berpikir kritis, maka presentasi ini akan terus bertambah dan sudah pasti mengancam keseimbangan kehidupan masyarakat.

Manto meminta kepada para pemangku kepentingan seperti pemerintah, masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, untuk menjadikan fenomena degradasi peradaban akibat penetrasi digital yang masif yang tidak didukungan oleh keterampilan berpikir kritis yang mumpuni, harus menjadi bahan evaluasi dan refleksi.

Perlu ada kerja sama yang baik untuk memikirkan secara bersama fenomena ini dan bagaimana mengatasinya pada masa yang akan datang agar tidak menjadi ancaman bagi kehidupan lokal di Manggarai raya, dan juga integrasi dan stabiltas bangsa.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

PT PAL Segera Produksi Fregat Terbaru Lisensi Inggris

PT PAL akan memproduksi dua fregat untuk TNI Angkatan Laut, dengan rancangan baru bernama Arrowhead 140.

NASIONAL | 17 September 2021

Rimbun Air Klaim Pesawat Jatuh di Papua Layak Terbang

Rimbun Air sebut kondisi pesawat kargo seri Twin Other 300 PK-OTW yang jatuh di Gunung Wabu, Papua dalam kondisi layak terbang.

NASIONAL | 17 September 2021

Pemkot Denpasar Raih Anugerah Humas Indonesia

Pemkot Denpasar berhasil meraih penghargaan Anugerah Humas Indonesia (AHI) 2021 kategori Pemerintah Kota Terpopuler di Media Digital tahun 2021.

NASIONAL | 17 September 2021

Pemerintah Dorong Kampus Kolaborasi dengan 100 Perguruan Tinggi Tiongkok

Kemdikbudristek mendorong kampus Indonesia berkolaborasi dengan 100 perguruan tinggi top besar dunia di Tiongkok.

NASIONAL | 17 September 2021

Dipanggil Satgas BLBI, Nirwan Bakrie Kirim Perwakilan

Dalam panggilan penagihan ini, PT Usaha Mediatronika Nusantara dihadiri oleh Sri Hascaryo dari Bakrie Grup yang menerima kuasa dari Nirwan Dermawan Bakrie.

NASIONAL | 17 September 2021

Muhammad Kece Dianiaya di Rutan Bareskrim Polri

Laporan Kece sudah ditindaklanjuti penyidik Bareskrim Polri, kasusnya telah masuk dalam tahap penyidikan.

NASIONAL | 17 September 2021

Komunitas Loro Blonyo Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19 di Yogyakarta

Komunitas Loro Blonyo turut berperan penting dalam percepatan capaian vaksinasi di Yogyakarta, khususnya di wilayah Gunungkidul.

NASIONAL | 17 September 2021

Soal Vonis Gugatan Polusi Udara Jakarta, Ini Respons Kemkes

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat memvonis lima pejabat negara bersalah atas polusi udara Jakarta.

NASIONAL | 17 September 2021

Vaksinasi Covid-19 dan Peremajaan Tanaman, Seiring Sejalan

Sinar Mas Agribusiness & Food bersama Eka Tjipta Foundation (ETF) mendukung kegiatan vaksinasi Covid-19 berikut peremajaan perkebunan sawit rakyat.

NASIONAL | 17 September 2021

Jokowi dan Anies Diminta Patuhi Putusan Pengadilan Perbaiki Kualitas Udara Jakarta

Presiden Jokowi, Gubernur DKI Anies Baswedan dan lima pejabat lain yang menjadi tergugat diminta mematuhi putusan PN Jakpus memperbaiki kualitas udara Jakarta.

NASIONAL | 17 September 2021


TAG POPULER

# KKB


# Trending Topic


# Update Covid-19


# Vaksin Nusantara


# Erick Thohir



TERKINI
MPR: Tak Perlu Khawatir Berlebih Terkait Amendemen UUD 1945

MPR: Tak Perlu Khawatir Berlebih Terkait Amendemen UUD 1945

POLITIK | 7 detik yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings