Logo BeritaSatu

Dirjen Dikti: Kesadaran Cinta Produk Dalam Negeri Kunci Indonesia Maju

Rabu, 16 Juni 2021 | 23:55 WIB
Oleh : Mardiana Makmun / YUD

Jakarta, Beritasatu.com – Membangun kesadaran publik mencintai produk dalam negeri menjadi kunci Indonesia maju. Hal ini harus didukung oleh ekosistem yang terdiri atas inovasi perguruan tinggi, kementerian terkait, dan pelaku industri.

“Kita bermimpi tentang bonus demografi, bermimpi jadi negara maju. Namun, kuncinya adalah pentingnya membangun kesadaran publik cinta produk dalam negeri. Semangat cinta produk dalam negeri,” tegas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Dirjen Dikti Kemdikbudristek) Republik Indonesia Prof Ir Nizam MSc, PhD, ASEAN Eng di Gedung Beritasatu, Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Dari terbangunnya kesadaran cinta produk dalam negeri inilah, menurut Nizam, Indonesia bisa berbenah diri untuk menjadi negara maju dan tangguh. Namun, tegas Nizam lagi, hal ini harus didukung oleh ekosistem yang solid.

“Sejak awal saya tekankan ekosistem sebagai salah satu kunci, yaitu keragaman. Seluruh mitra di dalamnya harus terlibat. Dapat buy in dari masyarakat, dari industri, dari pemerintah. Itulah yang ingin kita bangun. Kedua, kita perlu membangun public awareness, kesadaran,” papar Prof Nizam.

Belajar dari Korea, kata Prof Nizam, media massa Korea berhasil membangun kesadaran publik, baik kesadaran cinta produk dalam negeri maupun kesadaran investasi pendidikan. “Hampir 40% spending orang Korea untuk pendidikan. Korea, di situ terlihat peran media, bahwa media membangun mindset Korea sebagai bangsa yang tangguh, peduli, bahwa Korea akan mati kalau tidak investasi di SDM dan produk-produk yang kompetitif di dunia. Ini perlunya investasi pendidikan dan fokus membangun industri,” ungkap Prof Nizam.

Korea, lanjut Prof Nizam, memulainya dengan membangun industri baja. Tanpa punya teknologi, tanpa punya modal.

“Teknologi diambil dari Eropa. Dana diambil dari bank Prancis dan Jepang. Lalu mereka bergerak ke galangan kapal, ini industri yang ditinggalkan Eropa. Lalu masuk ke industri otomotif. Pasar mereka kecil, tapi mereka berani masuk ke sana. Mereka tekan ongkos produksi. Mereka menekankan harus cinta produk Korea. Kalau bukan Korea siapa lagi yang pakai produk Korea, sehingga Hyundai pun bersaing dengan mobil Amerika,” ujar Prof Nizam membandingkan.

Dorong Inovasi
Dikti, kata Prof Nizam, saat ini terus mendorong inovasi-inovasi yang dilakukan perguruan tinggi agar terbangun kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri yang berkualitas tinggi.

“Selama setahun ini, teman-teman membangun platform untuk bisa melahirkan produk-produk Merah Putih. Sejauh ini sudah berjalan satu tahun, dan sudah ada 15 ribu lebih ide/inovasi dari perguruan tinggi dan sudah ada 1.500-an teman-teman industri menawarkan kolaborasi. Solusinya apa sih untuk kebutuhan industri,” ungkap Prof Nizam.

Selain mempertemukan inovasi perguruan tinggi dengan industri, Dikti, kata Prof Nizam, juga melakukan pendampingan bagi para inovator-inovator dari perguruan tinggi.

“Kami mengalokasikan dana kecil sekali, Rp 250 miliar untuk satu tahun sebagai dana pendamping. Ini sebagai bentuk katalisator. Saat ini permintaannya sudah dua kali lipat. Kita sudah minus,” ungkap Prof Nizam.

Prof Nizam juga menyoroti dana subsidi untuk mahasiswa yang juga sangat kecil. “Subsidi untuk mahasiswa di Indonesia Rp2 juta per tahun. Jauh dibanding Malaysia,” ungkapnya.

Sementara itu, Anthony Wonsono, Chief Operating Officer of Berita Satu Media Holdings mengatakan saat di awal tahun 2000-an membangun Yayasan Pelita Harapan, Mochtar Riady melihat bahwa ada kekurangan pendidikan publik.

“Karena itu kami siap terus mendukung program Kemendikbud untuk membangun program inovasi dan kebanggaan pada produk lokal,” tegas Anthony.

Sayangnya, kata Anthony, masih ada stigma bahwa produk dalam negeri tidak sekelas dengan produk luar negeri dan produk untuk ekspor tidak sekualitas dengan produk yang dipasarkan untuk dalam negeri.

“Saya melihat gerakan cinta produk dalam negeri, gaungnya hanya sebentar. Padahal banyak brand luar itu dibikin di dalam negeri kita,” ungkap Anthony.

Kondisi ini juga dikeluhkan Prof Nizam. Dia mencontohkan kasus produk ventilator produksi dalam negeri. “Untuk ventilator produksi dalam negeri, bentengnya (hambatan) tinggi sekali. Harus melalui uji ini itu. Sedangkan ventilator dari Tiongkok gampang sekali masuk tanpa uji ini itu. Ketika produk dalam negeri sudah dapat izin produksi, rumah sakit tak ada yang mau beli. Ini karena banyak sekali orang-orang yang sudah berada di zona nyaman. Kembali lagi, peran media diperlukan untuk membangun kesadaran cinta produk dalam negeri,” tegas Nizam.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Kepala Sekolah Berperan Penting Gelorakan Indonesia Hebat

Kepemimpinan Indonesia diawali dan digelorakan dari sekolah-sekolah, dari anak-anak didik yang memiliki semangat untuk meraih cita-cita.

NEWS | 27 September 2022

Pemakaman Kenegaraan Shinzo Abe Dibatasi 6.000 Orang Undangan

Pemakaman kenegaraan Shizo Abe dibatasi maksimal untuk 6.000 orang undangan. Banyak politisi oposisi memilih untuk menghindar.

NEWS | 27 September 2022

OTT Hakim Agung, KPK Soroti Lemahnya Pengawasan di MA

Terkait OTT Hakim Agung MA Sudrajad Dimyati, KPK menyoroti lemahnya pengawasan di internal peradilan. 

NEWS | 27 September 2022

Disebut “Shadow Team” oleh Nadiem, Ini Peran GovTech Edu

GovTech Edu merupakan sebuah unit independen yang dibentuk Telkom untuk menghadapi tantangan besar yang ingin diselesaikan oleh Kemendikbudristek.

NEWS | 27 September 2022

Istima Ulama NTB Deklarasi Dukung Ganjar Jadi Presiden

Ratusan tuan guru, ulama, kiai, hingga cendekiawan muslim di Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan dukungannya kepada Ganjar Pranowo jadi presiden

NEWS | 27 September 2022

Seragam Baru Polisi Lalu Lintas Akan Dilengkapi Body Camera

Anggota polisi lalu lintas atau polantas akan memiliki seragam baru yang dilengkapi dengan body camera atau bodycam

NEWS | 27 September 2022

Rekam Medis Digital Hadapi Tantangan Perlindungan Data Pribadi

Tantangan implementasi rekam medis digital saat ini bukan hanya pengelolaan data medis tetapi juga termasuk perlindungan data pribadi pasien.

NEWS | 27 September 2022

Trem Kota Bogor Diusulkan Terkoneksi LRT Cibubur-Baranangsiang

Trem Kota Bogor diudulkan agar terkoneksi dengan dengan light rail transit (LRT) koridor Cibubur-Baranangsiang.

NEWS | 27 September 2022

IPW Jelaskan Posisi Anggota DPR Terkait Private Jet Brigjen Hendra

IPW menjelaskan posisi anggota DPR yang meminta kepolisian menyelidiki penggunaan private jet oleh Brigjen Hendra Kurniawan yang diduga milik bandar judi.

NEWS | 27 September 2022

Pemkot: Trem di Kota Bogor Butuh Anggaran Rp 1,2 Triliun

Pemkot Bogor membutuhkan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun untuk mewujudkan pembangunan trem

NEWS | 27 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Surplus APBN


# Kompor Listrik


# AKBP Arif Rachman


# Lukas Enembe


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Erick Thohir Incar Investasi dari Adani Group

Erick Thohir Incar Investasi dari Adani Group

EKONOMI | 5 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings