Logo BeritaSatu

BNN Ingatkan UU Masih Menempatkan Ganja Jenis Narkoba Paling Berbahaya

Senin, 26 Juli 2021 | 21:18 WIB
Oleh : Fana F Suparman / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Koordinator Kelompok Ahli Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol (Purn) Ahwil Luthan mengingatkan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika masih menempatkan ganja sebagai jenis narkoba golongan I atau paling berbahaya. Dengan aturan tersebut, pengguna ganja, meski dengan alasan medis bakal tetap ditindak.

"UU Narkotika kita saat ini, ganja ini masuk golongan I, berarti sangat terlarang. Tidak boleh jenis apa pun sekarang ini dengan UU Nomor 35 Tahun 2009," kata Ahwil dalam Lunch Talk Beritasatu TV, Senin (26/7/2021).

Diketahui, pada akhir tahun lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merestui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghapus tanaman itu dari kategori obat paling berbahaya.

Sebanyak 27 dari 53 negara anggota Komisi Obat Narkotika (CND) menyatakan dukungan dengan mengizinkan penggunaan ganja untuk tujuan medis.

Ganja memiliki dua zat yang sangat menentukan, yakni THC atau tetrahydrocannabinol dan CBD atau cannabidiol.

Dikatakan, zat CBD memang memiliki manfaat dari sisi medis, sementara zat THC justru berbahaya karena dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan seperti disorientasi waktu dan tempat.

Ahwil mengungkapkan, ganja di Indonesia memiliki kandungan THC sangat tinggi mencapai sekitar 18 persen, sementara kandungan CBD mendekati nol persen.

Hal ini yang membuat Indonesia masih melarang ganja dan memasukannya sebagai golongan I. Namun, kata Ahwil, tak menutup kemungkinan, Indonesia mengubah aturan tersebut dengan syarat mampu merekayasa agar kandungan zat THC yang terkandung dalam ganja di Indonesia menurun dan zat CBD meningkat.

Hal tersebut terjadi pada morfin yang sebelumnya merupakan narkoba berbahaya menjadi dapat digunakan untuk kepentingan medis.

"Kalau nanti mungkin ada perubahan UU atau bagaimana mungkin bisa saja terjadi suatu saat ada hal-hal yang bisa dipakai untuk medis dan lain-lain mungkin ini berubah dari Golongan menjadi Golongan IV. Bisa untuk penelitian atau obat. Yang namanya morfin itu asalnya dari opium. Opium sebetulnya narkotika paling berbahaya karena opium nisa jadi morfin, heroin dan segala macam, tapi dengan keputusan PBB ini memang adalah yang paling berguna untuk dunia pengobatan untuk menghilangkan rasa sakit saat ini. Untuk orang sakit kanker atau orang mau operasi itu morfin. Ini mungkin suatu saat mungkin kalau misalnya ini terbukti, kenapa tidak. Tapi kalau saat ini ada orang bawa ganja dari Belanda tertangkap di Bandara berlaku UU Nomor 35 Tahun 2009," katanya.

Ahwil mengatakan, sejumlah lembaga pernah melakukan penelitian untuk merekayasa genetik ganja di Indonesia. Namun, sejauh ini belum menemui titik terang.

Hal ini mengingat tingginya biaya untuk melakukan penelitian. Atas kondisi tersebut, Ahwil mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan ganja, meski dengan alasan medis.

"Jadi kalau imbauan kita, mari kita sama-sama menunggu keputusan pemerintah yang pasti. Karena sekarang dasar kita yang kita pakai tetap UU Nomor 35 Tahun 2009, dimana saat ini ganja ini masih masuk golongan I. Nanti apabila sudah ada penelitian-penelitian yang bisa menghasilkan atau mungkin kita sudah bisa melakukan rekayasa genetik tadi di mana THC yang dihasilkan oleh pohon ganja ini bisa menurun dan kadar CBD-nya bisa naik, ini mungkin suatu saat, kenapa tidak," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Pakar Dukung Jokowi Lakukan Reformasi Hukum di Indonesia

Penegasan Presiden Jokowi mengenai perlu adanya reformasi hukum di Indonesia disambut baik oleh pakar hukum pidana.

NEWS | 28 September 2022

Rusia Usir Diplomat Jepang yang Dituduh Spionase

Rusia mengusir diplomat Jepang yang dituduh melakukan spionase. FSB telah menghentikan aktivitas spionase di Konsulat Jenderal Jepang di Vladivostok.

NEWS | 28 September 2022

Eks Pegawai KPK Rasamala Aritonang Jadi Pengacara Sambo, Ini Alasannya

Eks Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Rasamala Aritonang menjadi kuasa hukum Ferdy Sambo

NEWS | 28 September 2022

Tim Pengacara Ferdy Sambo Janjikan Pembelaan yang Fair

Tim pengacara Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi janji bakal memberikan pembelaan yang fair (adil) sesuai prinsip peradilan, kepada kliennya

NEWS | 28 September 2022

Latihan Militer, AS Akan Kerahkan HIMARS ke Latvia

Amerika Serikat (AS) akan mengerahkan sistem roket HIMARS untuk latihan militer ke Latvia, negara tetangga Rusia.

NEWS | 28 September 2022

KPK Cecar Zumi Zola soal Uang ke Anggota DPRD Jambi

KPK memeriksa eks Gubernur Jambi Zumi Zola sebagai saksi, Selasa (27/9/2022) dugaan suap pada pembahasan RAPBD Jambi

NEWS | 28 September 2022

KPK Ungkap 3 Hal yang Dapat Buat Penyidikan Lukas Enembe Dihentikan

KPK memaparkan tiga hal yang dapat membuat penyidikan kasus dugaan suap dan gratifikasi Gubernur Papua Lukas Enembe dihentikan.

NEWS | 28 September 2022

Jokowi Minta Penyaluran Bantuan Subsidi Upah Terus Dipercepat

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta penyaluran bantuan subsidi upah (BSU) terus dipercepat, sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

NEWS | 28 September 2022

Sudah Berlarut-larut, ICW Desak KPK Jemput Paksa Lukas Enembe

ICW terus mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan upaya jemput paksa terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe

NEWS | 28 September 2022

Ibu Negara Iriana Jokowi dan OASE KIM Kunjungi NTT

Ibu Negara Iriana Joko Widodo (Jokowi) bersama para anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) bertolak menuju NTT.

NEWS | 28 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perbarui Perjanjian <em>Currency</em><em>Swap</em>

Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perbarui Perjanjian CurrencySwap

EKONOMI | 5 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings