Guru Besar IPB Beberkan Penyebab Konflik Pertanahan Kerap Terjadi
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Guru Besar IPB Beberkan Penyebab Konflik Pertanahan Kerap Terjadi

Jumat, 17 September 2021 | 16:50 WIB
Oleh : Vento Saudale / FFS

Bogor, Beritasatu.com - Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Sudarsono Soedomo membeberkan penyebab konflik pertanahan atau konflik agraria kerap terjadi di wilayah Indonesia. Jebolan Doktor S3 University of Missouri- Columbia, USA itu pun memberikan solusi dan langkah-langkah agar keluar dari kemelut agraria ini.

“Ada dualisme kelembagaan dalam ekonomi politik pertanahan Indonesia dengan dampak yang luar biasa hingga hari ini dan beberapa dekade yang akan datang,” ungkapnya dalam Pra Orasi Guru Besar IPB pada Kamis, (16/9/2021).

Sudarsono menjelaskan, kehendak untuk melakukan penataan agraria yang lebih adil setelah lepas dari masa penjajahan ditandai dengan lahirnya UU 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria (UUPA). Hingga hari ini, UUPA belum dapat dijalankan sepenuhnya. Bahkan 2/3 tanah Indonesia tidak tunduk pada UUPA.

Dalam kondisi demikian, katanya, terdapat negara dalam negara yang dicikalbakali oleh terbitnya UU 5 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan (UUPK). Menurutnya, salah satu dampak paling dahsyat dari dualisme kelembagaan tersebut adalah alokasi tanah di Indonesia yang sangat timpang.

Sebanyak 64% tanah Indonesia dikuasai dan dipergunakan secara eksklusif oleh sektor kehutanan dan sisanya 36% dipergunakan untuk berbagai keperluan.

Di sisi lain, alokasi untuk hutan produksi mencapai 68 juta hektare. Padahal, banyak dari hutan produksi dalam keadaan tidak berhutan. Sementara, sebagai perbandingan, luas sawah beririgasi sebagai penghasil makanan pokok hanya 7 juta hektare.

“Celakanya, kemampuan menghutankan kembali tidak ada tetapi sektor lain tidak dapat menggunakannya. Semboyan yang digunakan kira-kira seperti ini, 'lebih baik tetap dikuasai sektor kehutanan, meskipun tidak produktif daripada digunakan sektor lain yang memberi kemakmuran lebih besar',” katanya.

Penguasaan tanah yang begitu dominan, sayangnya, tidak diimbangi dengan kinerja yang memadai, untuk tidak mengatakan sangat tidak memberi harapan kemakmuran.

Hal ini dapat dilihat dari kontribusi sektor kehutanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang kurang dari 1%. Angka itu menunjukkan terjadinya inefisiensi pendayagunaan tanah yang sangat luar biasa. Apalagi, sumbangan yang sangat tidak berarti tersebut masih diiringi dengan kecenderungan yang semakin menurun sejak pertengahan dekade 90-an.

“Situasi semacam ini tentu saja harus segera dihentikan agar dampaknya tidak semakin luas dan semakin sulit diatasi, terutama menyakut ketahanan pangan nasional,” jelas guru besar kelahiran 1956 itu.

Pada periode akhir Orde Lama hingga awal Orde Baru, ekonomi Indonesia sangat terpuruk. Pemerintah perlu dana tunai cepat dan segera mendorong investasi.

Ketika itu, kecuali Pulau Jawa, sebagian besar permukaan tanah semua pulau masih ditutupi oleh
hutan alam primer. Kayu dalam hutan sangat berlimpah.

Investasi penambangan kayu meningkat pesat dan negara memperoleh uang tunai dengan cepat. Hutan alam menjadi mesin uang ketika itu. Dengan ilusi hutan alam yang melimpah menjadi mesin uang yang melimpah secara berkelanjutan maka banyak areal diklaim sebagai “kawasan hutan”.

Setiap upaya memperbaiki alokasi tanah demi pembangunan agar lebih efisien selalu menghadapi resistensi yang luar biasa dari kehutanan.

“Inilah penyakit kehutanan. Akibatnya, hutan alam yang dahulu melimpah menjadi sebuah kutukan. Banyak pemukiman dan tanah rakyat yang terperangkap di dalamnya,” beber Prof Sudarsono.

Atas dasar itu, Sudarsono memberikan sejumlah solusi yang perlu diambil pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Sudarsono meminta pemerintah menjadikan sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagai kriteria utama penggunaan lahan sesuai Pasal 33 UUD 1945.

Pemerintah diminta menyusun tata ruang dengan melibatkan semua sektor sebagai keputusan politik negara untuk memilah tanah menjadi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kemudian mengkontestasikan penggunaan tanah pada kawasan budidaya yang memberi kebebasan kepada penggunanya untuk menentukan usahanya, menempatkan urusan tanah pada lembaga non-sektor atau non-teknis dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terbatas mengurus hutan saja.

“Reforma agraria perlu diperluas ke reforma industri pertanian primer agar ada sumber pendapatan baru bagi petani,” paparnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Indonesia Harapkan Kontribusi ASEAN Atasi Tantangan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Perlu upaya adaptasi pola pikir dan aksi nyata dengan menerapkan reimagine, recreate, dan restore dalam pengelolaan lingkungan.

NASIONAL | 21 Oktober 2021

Jembrana Targetkan Jadi Sentra Produksi Udang Vaname di Indonesia

Kami akan menjadikan Jembrana sebagai salah satu sentra produksi udang vaname di Indonesia, hal ini juga sesuai arahan Gubernur Bali.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

Mendagri Terima Penghargaan Alumni Terhormat dari NTU Singapura

Mendagri, Tito Karnavian menerima penghargaan alumni terhormat dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

Resmi Dibuka, Ipeka Balikpapan Usung Pembelajaran Berbasis Teknologi

Peresmian gedung SMP dan SMA Kristen Ipeka Balikpapan bertujuan untuk melengkapi sarana dan prasarana pendidikan di jenjang menengah.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

Pintu Internasional Dibuka, Kapolri Ingatkan Kedisiplinan Pengamanan

Kapolri menekankan agar personel TNI-Polri harus disiplin, solid dan menjaga integritas terkait pembukaan penerbangan internasional di Bandara Ngurah Rai.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

Selain Praperadilan, KPU Tanjab Timur Laporkan Kajari Tanjab Timur ke Komisi Kejaksaan

Pihak KPU Tanjab Timur laporkan tim Kejati Tanjab Timur ke Komisi Kejaksaan terkait penggeledahan di kantor itu pekan lalu.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

Ribuan Netizen Dukung #IndonesiaRoadTo5G

Netizen mendukung penuh langkah pemerintah khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mempercepat penggunaan jaringan 5G di Indonesia.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

Sandiaga Uno Minta Santri di Aceh Saling Bantu Bangkitkan Ekonomi

Sandiaga Uno meminta para santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Aceh untuk saling membantu guna membangkitkan ekonomi.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

Hingga Sabtu Petang, Jalur Puncak-Cianjur Terpantau Sepi

Jalur Puncak-Cianjur, Jawa Barat, hingga Sabtu (23/10/2021) petang terpantau masih sepi dari kendaraan.

NASIONAL | 23 Oktober 2021

PDIP Peringati Hari Santri 2021, Nasionalis dan Islam Bersatu Padu

PDIP turut memperingati Hari Santri Nasional 2021. Peringatan ini merupakan perpaduan antara nasionalisme dan Islam.

NASIONAL | 23 Oktober 2021


TAG POPULER

# Alec Baldwin


# Angkutan Sungai dan Danau


# LADI


# Kapal Van Der Wijck


# Pinjol Ilegal



TERKINI
Gempa Tektonik yang Guncang Salatiga, Banyubiru, Bawen, dan Ambarawa Dipicu Sesar Aktif

Gempa Tektonik yang Guncang Salatiga, Banyubiru, Bawen, dan Ambarawa Dipicu Sesar Aktif

NASIONAL | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings