Logo BeritaSatu

Purnomo: Ancaman Keamanan Berdampak pada Tata Kehidupan Bangsa

Sabtu, 18 September 2021 | 19:07 WIB
Oleh : Novy Lumanauw / WM

Jakarta, Beritasatu.com – Pionir Universitas Pertahanan (Unhan) Republik Indonesia, yang juga guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Purnomo Yusgiantoro mengingatkan seluruh elemen bangsa terkait berkembangnya model konsep dasar ancaman keamanan di berbagai negara di dunia.

Adapun ancaman yang harus disikapi secara dini adalah jenis, sumber, aktor, sifat, dan dampaknya terhadap tata kehidupan masyarakat.

"Dampaknya bisa melebar ke mana-mana, bisa terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, hukum, teknologi, dan lain sebagainya,” kata Purnomo saat memberikan Kuliah Umum Wawasan Kebangsaan bertajuk “ Kepemimpinan: Kampus Merdeka dan Industri” dalam rangka peluncuran Program Beasiswa Dato’ Low Tuck Kwong – Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) , pada Sabtu (18/9/2021).

Kuliah Umum yang diikuti 311 mahasiswa UGM penerima beasiswa, juga dihadiri secara daring, Presiden Direktur PT Bayan Resources Tbk Dato’ Low Tuck Kwong, Rektor UGM Panut Mulyono, Dewan Pembina PYC Lis Yusgiantoro, dan Chairperson PYC Filda C Yusgiantoro.

Purnomo, yang pernah menjabat Menteri Pertahanan (2009-2014) dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2000-2009, mengungkapkan, konsep dasar ancaman semakin melebar saat ini, khususnya sejak tahun 1990, pasca perang bintang yang diluncurkan Presiden Amerika Serikat (AS) Ronald Reagan.

Pada saat itu, terdapat organisasi militer seperti Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Pakta Warsawa, Glasnost, dan Perestroika. Seiring bubarnya Pakta Warsawa, jelas Purnomo, terjadi dinamika dari bipolar menjadi single polar sehingga menimbulkan pergeseran dari politik ke ekonomi.

“Sekarang dinamikanya cukup tinggi, karakteristiknya yang dominan adalah ancaman nonmiliter, hibrida. Hibrida itu juga ancaman militer dan nonmiliter karena menjadi satu, sangat kompleks, multidimensi, dan ketidakpastian tinggi. Jadi, dinamikanya tinggi sekali," jelas Purnomo.

Ia menyebutkan, ke depannya setiap warga bangsa harus memahami betul bahwa ancaman itu luar biasa sekali, kompleks, multidimensi, dan ketidakpastiannya tinggi. Hal ini akan mewarnai bentuk dan potensi dari ancaman serta bentuk dan kualitas ancaman.

Di sisi lain, karakter global juga berpengaruh terhadap ancaman karena perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi.

“Pergerakannya itu eksponensial. Kemudian juga meningkatnya proses demokratisasi yang kita alami sekarang, hak asasi manusia (HAM), dan lingkungan hidup. Aspek lain dan sustainable development semuanya menjadi satu akan mewarnai ancaman,” katanya.

Beda Pendekatan
Purnomo mengatakan, saat ini terjadi pergeseran dari geopolitik menjadi geoekonomi. Dulu, ketika Pakta Warsawa masih memainkan perannya sebagai aliansi militer negara-negara Blok Timur di Eropa Timur, Glasnost dieluk-elukkan sebagai kebijakan keterbukaan dalam semua bidang di institusi pemerintahan Uni Soviet, termasuk kebebasan informasi, serta Perestroika menjadi reformasi politik dan ekonomi yang dimulai pada Juni 1987 oleh Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

“Sekarang itu semua sudah bubar, yang tertinggal hanya NATO. Sekarang ada OBOR (One Belt One Road), Indo Pacific, BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan,” kata dia.

Menurut Purnomo, di masa lalu ancaman yang muncul sifatnya multilateralisme, apabila terjadi pertikaian antarnegara langsung terjadi penyerbuan sehingga perang sulit dielakkan.

Sekarang yang dilakukan banyak negara adalah pendekatan multilateral. Diakuinya, pertikaian tidak lagi menimbulkan perang, tetapi penyelesaiannya melalui pendekatan multilateral. Contohnya, penyelesaian sengketa di Timur Tengah, Korea Utara, dan Korea Selatan, di mana negara-negara ini selalu membawa pertikaian kepada pendekatan multilateral.

“Kalau Korea Selatan, tentu ada AS dan Jepang. Korea Utara ada Rusia dan Tiongkok. Selalu pergeserannya dari unilateral ke multilateral,” kata Purnomo.

Menurut dia, pada masa lalu, kekuatan yang dikedepankan adalah hard power, kalau terjadi suatu konflik maka perang berkecamuk. Sekarang banyak negara-negara di dunia yang menggunakan pola penyelesaian soft power dan diplomatic power.

Pola ancaman juga bergeser dari simetris menjadi asimetris, contohnya ada ancaman siber, budaya, dan teror asimestris.

Demikian juga ancaman aktual berupa separatisme, terorisme, radikalisme, pandemi, pencurian sumber kekayaan alam, narkoba, bencana alam, dan lain sebagainya.

Sedangkan ancaman potensial berupa ipoleksosbud, sengketa perbatasan, siber, konflik SARA, konflik komunal, pencemaran lingkungan, krisis ekonomi dan sebagainya.

“Bentuk ancaman aktual maupun potensial bersifat dinamis, bisa berubah dari setiap saat,” kata Purnomo.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

PGRI Ungkap 3 Penyebab Polemik RUU Sisdiknas

RUU Sisdiknas yang disusun oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjadi polemik

NEWS | 30 September 2022

PDIP: Integrasi Transportasi Publik Era Anies Berhasil

PDIP menyatakan, program integrasi transportasi publik pada era Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah berhasil.

NEWS | 30 September 2022

Jumat, 3 Wilayah di Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan

BMKG memprakirakan cuaca Jakarta pada hari ini akan diwarnai hujan yang turun hujan ringan hingga sedang

NEWS | 30 September 2022

Pembangunan Permukiman di Pulau G Masih Pengarahan

Kawasan reklamasi pulau G diarahkan untuk kawasan permukiman baru sebatas pengarahan dan belum terwujud

NEWS | 30 September 2022

Eks Pegawai KPK Minta Febri dan Rasamala Mundur dari Tim Kuasa Hukum Sambo

Eks Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo meminta agar Febri Diansyah dan Rasamala Aritonang mundur sebagai kuasa hukum Sambo

NEWS | 30 September 2022

Penyebab Kematian Ratu Elizabeth Terungkap dalam Sertifikat

Penyebab kematian Ratu Elizabeth terungkap dalam sertifikat yang diterbitkan oleh National Records of Scotland.

NEWS | 30 September 2022

Putri Candrawathi Berharap Sidang Kasus Brigadir J Segera Digelar

Putri Candrawathi berharap sidang kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J yang menjeratnya sebagai tersangka dapat segera digelar.

NEWS | 30 September 2022

Hari Ini Febri Diansyah Dampingi Putri Candrawathi Wajib Lapor

Pengacara Putri Candrawathi, Febri Diansyah akan mendampingi kliennya untuk menjalani wajib lapor pada hari ini, Jumat (30/9/2022)

NEWS | 30 September 2022

Kisah Alumni S2 Universitas Prasmul Berhasil Masuk Big 4

Skillset yang diajarkan di Magister Manajemen Universitas Prasetiya Mulya berhasil membantu Astrini Nurul Sentanu menjadi bagian dari perusahaan Big 4.

NEWS | 30 September 2022

Senat AS Setujui Paket Bantuan Rp 182 Triliun untuk Ukraina

Voting Senat AS meloloskan RUU pendanaan yang mencakup US$ 12 miliar (Rp 182 triliun) paket bantuan militer dan ekonomi tambahan untuk Ukraina.

NEWS | 30 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
PGRI Minta UU Guru dan Dosen Dicabut dari RUU Sisdiknas

PGRI Minta UU Guru dan Dosen Dicabut dari RUU Sisdiknas

NEWS | 5 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings