Logo BeritaSatu

BIN Sebut Penangkapan Teroris Bekasi Sesuai Prosedur

Sabtu, 20 November 2021 | 12:44 WIB
Oleh : Chairul Fikri / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Penangkapan tiga terduga teroris pada Selasa (16/11/2021) yang dilakukan oleh Densus 88 Mabes Polri di Bekasi telah sesuai prosedur dan telah cukup alat bukti.

Sehingga penangkapan tersebut tidak dianggap menyudutkan lembaga dan melakukan kriminalisasi ulama.

Hal itu diungkapkan Deputi VII Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan H Purwanto dalam diskusi virtual bertema “Menyoal Penangkapan Teroris JI”, Jumat (19/11/2021).

"Kalau berdasarkan informasi di BIN, penangkapan itu sudah sesuai dengan prosedur dan Densus 88 pastinya punya alat bukti yang kuat. Terlebih mereka ini sudah dipantau lama sejak 2014. Jadi tidak serta merta main tangkap karena sudah dilakukan pemantauan. Kita tidak menyudutkan lembaganya dan kriminalisasi ulama. Itu penangkapan orang perorang. Dan saat ini sedang disidik. Yang jelas terjadi terkait penggalangan dana. Yang lain diungkap di sini, dan nanti penyidikan yang akan mengungkap lebih jauh," ungkap Wawan.

Diterangkan Wawan, Densus 88 yang berada di bawah komando Mabes Polri sudah melakukan penyidikan yang sesuai standar operasional prosedur (SOP) dalam penangkapan tiga terduga terorisme.

Artinya dalam penangkapan tersebut Densus 88 Anti-teror sudah memiliki alat bukti yang jelas.

"Densus dan Mabes Polri, dan kita melihat apa yang dilakukan Densus itu on the track, dan jangan sampai ketidakadilan dalam penangkapan itu. Kalau sudah ada alat bukti dan saya kira bagaimana prosesnya itu kita ikuti secara cermat," terangnya.

"Dan terkait infiltrasi ke ormas dan organisasi sosial yang dilakukan mereka di salah satunya dengan masuk MUI dan partai politik, ini mencerminkan paham radikal telah masuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat dan kita duga Jamaah Islamiyah (JI) telah bermetamorfosis mengubah pola aksinya, dengan menginfiltrasi lembaga lain," lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Sekjen Bidang Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikhsan Abdullah secara pribadi mengaku sangat kaget dengan penangkapan anggota komisi fatwa MUI. Secara pribadi dirinya malu dengan berbagai macam perasaan dan berpikir kenapa ada orang-orang seperti itu di MUI.

"Yang pasti, saya secara pribadi sangat kaget. Malu dan berbagai macam perasaan, dan mengapa ada orang-orang seperti ini ada di MUI. Saya sama sekali tidak kenal dan anggota Komisi Fatwa dan merupakan utusan dari Ormas yang ada 70 orang di MUI,” kata dia.

Ia mengatakan, sejak kemarin pihak MUI juga tegaskan perbuatan mereka ini sebagai perbuatan individu dan di luar organisasi serta di luar korelasi dan institusi di MUI.

“Kita tidak tahu seribu pengurus MUI itu kita tahu. Tidak tahu juga karena tidak pantau itu. Paham radikal tidak ada tempat di MUI. Kalau ada hama itu musibah dalam suatu tenda besar yang harus disingkirkan," terangnya menambahkan.

Sedangkan mantan napi kasus terorisme, Haris Amir Falah, mengaku terkejut mendengar penangkapan Ustaz Farid Okbah dan juga petinggi MUI Pusat yang dilakukan Mabes Polri.

"Saya kenal beliau sebagai aktivis dakwah biasa, sangat tegas pada masalah Syiah misalnya. Saya yakin Densus tidak akan gegabah menangkap Okbah tanpa alasan kuat. Dan berdasarkan pengalaman, polisi selalu bisa menghadirkan bukti-bukti ke persidangan, sehingga tidak ada terdakwa kasus terorisme yang lolos. Terlebih belakangan ini kan selalu gaduh kalau ada penangkapan. Muncul kata Islamophobia, kriminalisasi ulama dan sebagainya. Padahal saat 2010 pun ada tokoh luar biasa yang ditangkap bareng saya. Dan di pengadilan bisa dibuktikan, bahwa betul ada kaitannya," ucapnya lebih lanjut.

Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta juga tidak sepakat bila tertangkapnya dua anggota MUI dalam kasus terorisme, langsung disimpulkan sebagai bukti infiltrasi paham teroris.

"Penyusupan harus dibuktikan. Kalau dia masuk normal-normal saja tidak mempengaruhi kebijakan dan tidak merekrut rekan-rekannya, berarti dia di situ untuk bertahan hidup,” kata dia.

Menurut Stanislauus, kecuali terbukti yang bersangkutan mempengaruhi rekan-rekannya, menggalang dana, merekrut anggota dan sebagainya itu baru bisa disebut menyusup.

Stanislaus sepakat keberadaan JI perlu terus diwaspadai. Karena sekarang JI sudah mengubah strategi dengan meninggalkan kekerasan yang selama ini justru merugikan mereka sendiri dengan jalan menggunakan cara-cara lain seperti dakwah, penggalangan dana, ada yang punya kebun sawit, mengirim anggotanya ke luar negeri untuk belajar. “Tujuannya lebih bersifat jangka panjang," tandasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Iriana Jokowi Dijadwalkan Menanam Pohon di Pulau Rinca

Iriana Jokowi melanjutkan kegiatan kunjungan kerjanya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/9/2022), dengan menanam pohon di Pulau Rinca.

NEWS | 29 September 2022

Malaysia Akan Cabut Aturan Wajib Masker di Penerbangan

Malaysia akan mencabut aturan wajib masker di dalam penerbangan yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

NEWS | 29 September 2022

Satgas Covid-19: Kebijakan Wajib Masker Masih Berlaku

Satgas Covid-19 menyatakan, pemerintah belum berencana mencabut kebijakan wajib masker seperti yang dilakukan negara lain.

NEWS | 29 September 2022

Tiongkok Tolak Keras Perbandingan Ukraina dengan Taiwan

Tiongkok bereaksi terhadap perbandingan antara Ukraina dengan Taiwan. Hal itu ditegaskan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin.

NEWS | 29 September 2022

Kebanjiran Pengungsi Rusia, Latvia Nyatakan Negara Darurat

Latvia mengumumkan keadaan darurat di dekat perbatasannya dengan Rusia pada Rabu (28/9/2022) setelah kebanjiran pengungsi Rusia.

NEWS | 29 September 2022

TNI AU Selidiki Penemuan Granat Asap dan Peluru di Bekasi

TNI AU masih mendalami penemuan granat asap dan peluru yang ditemukan di sebuah rumah, di Pondokgede, Kota Bekasi, Selasa, 27 September 2022.

NEWS | 29 September 2022

Hari Ini, Jaksel dan Jaktim Berpotensi Diguyur Hujan

BMKG DKI Jakarta menerangkan, potensi hujan disertai petir terjadi di wilayah Jaksel dan Jaktim pada sore hingga menjelang malam hari.

NEWS | 29 September 2022

Pabrik Keramik di Bekasi Diberi Waktu Perbaiki Pengolahan Limbah

Pabrik keramik PT Sarana Griya Lestari Keramik diberi batas waktu untuk memperbaiki manajemen pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). 

NEWS | 29 September 2022

Berkas Perkara Dinyatakan Lengkap Polri Serahkan Sambo Cs ke Jaksa

Ferdy Sambo dan 11 tersangka lain kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J dan obstruction of justice segera diserahkan ke jaksa.

NEWS | 29 September 2022

Kasus dan Kematian Covid-19 Jakarta sampai 28 September 2022

Infografik tentang data kasus dan jumlah kematian Covid-19 di Jakarta sampai tanggal 28 September 2022.

NEWS | 29 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Putin Prediksi Rusia Capai Rekor Panen 150 Juta Ton Gandum

Putin Prediksi Rusia Capai Rekor Panen 150 Juta Ton Gandum

NEWS | 12 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings