Ricky Vinando Bongkar Kebohongan Pengacara Riri Khasmita
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Ricky Vinando Bongkar Kebohongan Pengacara Riri Khasmita

Senin, 22 November 2021 | 20:03 WIB
Oleh : Yudo Dahono / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Nirina Zubir kembali menjadi sorotan usai ia bersama pengacaranya memilih walk outdalam acara Apa Kabar Indonesia Malam yang ditayangkan di tvOne, Kamis (19/11/2021) malam. Nirina merasa keberatan dengan narasumber yang dihadirkan, yaitu pengacara dari pihak tersangka dalam kasus mafia tanah, Riri Khasmita. Acara yang bertajuk "Rumah Ditilap Mafia Tanah, Nirina Menggugat" awalnya berjalan lancar. Pembawa acara pun mempersilakan Syahrudin, yang mengaku sebagai pengacara Riri Khasmita, untuk berbicara.

Praktisi hukum Ricky Vinando pun menyebut begitu banyak kebohongan yang dilakukan pengacara tersangka tersebut dan tidak seharusnya Pengacara Nirina Zubir ikut walk out. Bahkan menurutnya harusnya dilakukan pertarungan argumentasi hukum dengan pengacara tersangka mafia tanah Riri yang menjual tanah milik almahumah ibunda Nirina Zubir, bukan justru walk out dari diskusi tersebut.

"Pengacara Nirina Zubir harusnya mengerikan seperti singa ketika menghadapi Syahrudin, pengacara Riri tersangka mafia tanah, jangan lembek, lah kok ikutan walk out? Kalau saya sudah pasti tidak akan walk out, jadi seperti singa, cecar dia, fokus saya soal bagaimana logikanya ibunda Nirina Zubir yang saat itu sudah demensia bisa tiba-tiba datang menghadap ke PPAT untuk membuat Akta Kuasa Menjual?" tegas Ricky, Senin (22/11/2021).

"Orang demensia kok masih bisa sangat hafal betul dan ingat semua dengan benar prosedur jual rumah harus dibuat di hadapan PPAT? Kok masih ingat nama PPAT itu dan bisa sampai ke sana, Jakarta Barat kan luas, kok bisa sampai ke sana? Bagaimana orang demensia masih bisa komunikasi dengan baik hal rumit soal jual rumah? Di situlah diduga pemalsuannya karena ibunda Nirina Zubir tak pernah membuat Akta Kuasa Menjual. Harusnya bungkam dia, tak bisa seperti Barbie yang lembut apalagi di media. Harusnya jangan walk out, harusnya bantah dari segi argumentasi biarkan publik menilai, permalukan dia bukan justru walk out," beber Ricky.

Bahkan Ricky Vinando menyebut Syahrudin pengacara tersangka Riri mafia tanah banyak melakukan kebohongan di depan publik saat melakukan pembelaan terhadap Riri, asisten rumah tangga almahum ibunda Nirina Zubir. Dirinya pun menyoroti pembelaan Syahrudin pengacara mafia tanah Riri, yang mengatakan bahwa Riri adalah salah satu anak yang indekos bukan asisten rumah tangga (ART) , kemudian ada Akta Kuasa Menjual Balik Nama tanah berikut bangunan di atasnya yang sebelumnya dibuat saat ibunda Nirina Zubir masih hidup beberapa tahun yang lalu.

"Pengacara tersangka ART, Syahrudin sebaiknya jangan lagi mengumbar kebohongan di depan publik karena dari pernyataannya di tvOne, begitu banyak kebohongannya. Kebohongan terbesar adalah ketika dia bilang Riri adalah anak kos dan bukan sebagai ART. Sebagai anak kos setiap bulan pun masih bayar uang kos. Pembelaan pengacara mafia tanah itu sangat ngawur dan itu lebih parah dari kondektur bus, karena soal anak kos itu sangat bertentangan dengan fakta dari rilis Polda Metro Jaya yaitu faktanya tersangka adalah ART bukan anak kos," tandasnya.

"Dari logika hukum, pembelaan pengacara mafia tanah soal Kuasa Menjual dibuat ibunda Nirina Zubir dulu saat masih hidup, sangat tidak logis, karena bagaimana logikanya almahum ibunda Nirina Zubir yang saat itu demensia tiba-tiba tak ada angin dan hujan datang dan menyerahkan sekaligus 6 sertifikat rumah kepada PPAT, kemudian menyuruh PPAT buat Akta Kuasa Menjual? Kalau dijual semuanya mau tidur di mana? Padahal demensia kok bisa hafal jalan ke rumah PPAT itu? Itu yang aneh, apalagi kan almahum ibunda Nirina Zubir kalau ke mana-mana selalu ditemani mafia tanah itu. Karena kalau demensia susah mengingat yang seperti itu dan faktanya 6 sertifikat itu ada di tangan Riri mafia tanah tersebut, jadi wajar seolah-olah dia berhak menjual karena sertifikat ada ditangannya, jadi semua bisa dipalsukan."

"Almahumah ibunda Nirina Zubir disebut dulu sudah menunjuk PPAT untuk membuat Akta Kuasa Menjual, bagaimana orang yang demensia bisa ingat sama PPAT saat mau jual rumah? Tanda tangan pun sudah susah, alamat detail pemberi kuasa menjual pun juga, kan demensia, ingatan terganggu. Demensia tapi ingat semuanya, ya aneh makanya dia jadi tersangka pemalsuan karena ibunda Nirina Zubir tak pernah membuat Akta Kuasa Menjual," papar Ricky.

Menurut Ricky ART itu dulu berbohong ke ibunda Nirina Zubir bahwa sertifikat tanah hilang. Sertifikat itu kemudian dibuat Akta Kuasa Menjual seolah-olah yang bersangkutan berhak menjual lalu balik nama semua dan 3 sudah dijual. Ricky menegaskan telah terjadi pemalsuan Surat Kuasa Menjual termasuk tanda tangan dan beberapa surat lainnya termasuk PPJB PJB.

"Dia juga berbohong soal tersangka Riri baru di Jakarta, karena terungkap dari fakta sejak 2009 sudah jadi ART di keluarga ibunda Nirina Zubir, Cut Indria Marzuki. Jadi sudah lama itu, 12 tahun. Pengacara Riri itu harusnya belajar lagi sebelum membela ART tersangka itu. Kemudian kebohongan selanjutnya adalah dia mengatakan almahumah ibunda Nirina Zubir sewaktu masih hidup membuat Akta Kuasa Balik Nama menjadi nama kliennya," papar Ricky.

Menurut Ricky telah terjadi kebohongan di mana sertifikat tanah diagunkan ke bank atas nama Riri untuk meminjam uang supaya bisa membayar PBB saat ibunda Nirina Zubir masih hidup. Itu diduga kuat pembohongan juga karena sangat tak masuk akal ibunda Nirina Zubir sampai kehabisan uang, sampai tak ada uang lagi untuk membayar PBB. "Apalagi sampai harus menjadikan 3 rumah sebagai agunan ke pihak bank dan balik nama sertifikat rumah pakai nama ART itu," ujarnya.

Menurut Ricky telah terjadi perbuatan tindak pidana pemalsuan serta pasal TPPU pada kasus ini.

"Jadi ada pembuatan surat palsu Akta Kuasa Balik Nama untuk mendapat pinjaman dari bank, makanya dia dijerat juga pasal tindak pidana pemalsuan termasuk pasal TPPU, karena ada uang hasil kejahatan yang dia ubah bentuk menjadi bisnis ayam frozen. Kan dia hanya disuruh ngurus bayar PBB, ternyata dia membuat Surat Kuasa Menjual sekaligus balik nama. Jadi, Syahrudin pengacara tersangka mafia tanah jangan kau membodoh-bodohi publik dengan argumentasimu murahan seperti orang mabuk, ngelantur," tegasnya.

Gugat Balik
Ricky juga menyarankan agar pengacara Nirina segera menggugat pembeli tanah berikut bangunan rumah tersebut, karena menurutnya pembeli tersebut dapat dikategorikan sebagai pembeli yang tidak beritikad baik sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 1816/K/Pdt/1989. Dia meyakini bahwa pembeli tersebut memiliki itikad tidak baik sehingga tetap memutuskan membeli tanah berikut bangunan di atasnya dari mafia tanah tersebut.

‘’Untuk pengacara Nirina Zubir, saran saya gugat aja pembeli tanah berikut rumah tersebut karena patut diduga dia sebagai pembeli yang tak beritikad baik sebagai pembeli karena beli tanah berikut bangunan rumah di bawah harga NJOP. Kedua, bagaimana cara membuktikan adanya itikad tidak baik dalam kasus ini gampang saja, telusuri dulu bagaimana cara pembeli itu bisa membeli tanah berikut rumah milik almahum ibunda Nirina Zubir dari ART itu? Kemudian, kapan tersangka ART itu kenal dengan pembeli? Kenalnya dari mana dan sejak kapan?" ujarnya.

Kemudian apa yang membuat pembeli itu memutuskan membeli rumah yang dijual oleh mafia tanah? Bagaimana dengan komunikasi pertama kali langsung memutuskan untuk membeli atau masih ada komunikasi lanjutan lagi? Menurutnya bakal terkuak dugaan bahwa pembeli tidak memiliki itikad baik karena tidak berhati-hati dan sembrono pada status penjual tanah."Seharusnya pembeli meneliti dulu siapa penjual ini, tinggal di mana bagaimana bisa punya tanah yang cukup luas apalagi dia berani jual di bawah NJOP untuk 3 sertifikat sekaligus," tandasnya.

"Menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 1816/K/Pdt/1989, pembeli tidak dapat diketagorikan sebagai pembeli yang beritikad baik sejak awal pembelian jika terdapat ketidaktelitian Pembeli ketika proses pembelian berlangsung seperti tidak mengecek status hak dan status penjual. Pembeli seperti ini tidak berhak mendapatkan perlindungan hukum dari transaksi yang dilakukan. Harusnya cecar saja soal di bawah harga NJOP itu, hantam saja ke pengacara mafia tanah itu," pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Universitas Harus Cetak SDM Cerdas di Era Transformasi Digital

Rektor Binus University Harjanto Prabowo mengatakan sebagai Perguruan Tinggi Indonesia, pihaknya menyadari pentingnya mencetak SDM cerdas.

NASIONAL | 27 Januari 2022

DPR: Perjanjian Ekstradisi Indonesia-Singapura Berlaku Setelah Diratifikasi

Perjanjian antara Indonesia dan Singapura terkait perjanjian ekstradisi, perjanjian FIR dan perjanjian pertahanan akan berlaku setelah diratifikasi DPR.

NASIONAL | 27 Januari 2022

Kantor Imigrasi Depok Ingin Pertahankan Predikat Wilayah Bebas Korupsi

Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Depok ingin mempertahankan penghargaan dan predikat wilayah bebas korupsi pada tahun 2022.

NASIONAL | 27 Januari 2022

Jadi Tersangka Suap Dana PEN Daerah, Eks Dirjen Keuangan Daerah Diultimatum KPK

Mantan Dirjen Keuangan Daerah, Mochamad Ardian Noervianto yang menjadi tersangka kasus dugaan suap dana PEN Kolaka Timur diultimatum KPK. 

NASIONAL | 27 Januari 2022

Hadapi Era 4.0, Penyuluh Pertanian Wajib Lakukan Transformasi

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengutarakan pertanian harus terus bersinergi dengan kemajuan teknologi.

NASIONAL | 27 Januari 2022

Puan dan Ganjar Kompak Sukseskan Program Bebas Stunting

Puan Maharani dan  Ganjar Pranowo, serta sejumlah kader PDI Perjuangan (PDI) terlihat kompak menyukseskan program bebas stunting.

NASIONAL | 27 Januari 2022


Dugaan Ujaran Kebencian, Edy Mulyadi Siap Diperiksa Besok

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri terus memproses laporan dugaan ujaran kebencian oleh Youtuber Edy Mulyadi. 

NASIONAL | 27 Januari 2022

Khawatir Paham Radikal Makin Merajalela, Sahroni Minta BNPT Antisipasi

Ahmad Sahroni khawatir paham radikal makin merajalela. Karenanya, Sahroni meminta BNPT mengantisipasi penyebaran paham radikal.

NASIONAL | 27 Januari 2022

Ujaran Kebencian Edy Mulyadi, Bareskrim Periksa 38 Saksi

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri terus memproses laporan dugaan ujaran kebencian oleh Youtuber Edy Mulyadi dengan memeriksa 38 saksi.

NASIONAL | 27 Januari 2022


TAG POPULER

# Edy Mulyadi


# JKN-KIS


# Presidential Threshold


# Omicron


# Wiyanto Halim



TERKINI
147 Siswa Terpapar Covid-19, 15 Sekolah di Depok Ditutup

147 Siswa Terpapar Covid-19, 15 Sekolah di Depok Ditutup

MEGAPOLITAN | 5 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings