Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Minggu, 28 November 2021 | 17:34 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / AB

Nagekeo, Beritasatu.com - Dalam satu dekade terakhir, kain tenun tradisional NTT masuk segmen papan atas. Bukan hanya Presiden Jokowi yang mengenakan pakaian motif NTT pada beberapa kali acara kenegaraan, sejumlah menteri, pengusaha, profesional, dan artis terkemuka juga mengenakan dengan bangga pakaian motif Flobamora, di antaranya tenun asal Sumba, Timor, Sabu, Lio, dan Nagekeo.

Kain tenun tradisional--tenun ikat dan songket--sedang digandrungi konsumen menengah-atas dan tenun NTT mendapatkan tempat tersendiri di hati konsumen. Saat menghadiri pesta pernikahan, para tamu dari kalangan elite mengenakan pakaian motif NTT. Pemandu talkshow TV nasional juga sesekali mengenakan tenun motif NTT.

“Kain tenun NTT indah dan terkesan elegan,” kata Rosianna Silalahi, pemimpin redaksi Kompas TV kepada Beritasatu.com, pekan lalu.

Ia mengenakan baju dengan motif Telepoi Rendu.

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Rosianna Silalahi dalam balutan Telepoi Rendu. (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Telepoi Rendu, demikian Ketua Dekranasda Nagekeo Eduarda Yayik Pawitra Gati, masuk kategori tenun songket sederhana yang umumnya tidak bermotif. Penenun kreatif acap menambahkan motif bunga dan saat ini dikembangkan menjadi berbagai ragam, di antaranya selendang dan syal.

Selain Telepoi Rendu, Nagekeo memiliki tenun motif Nage atau Boawae dan motif Mbay. Tenun motif Boawae dikenal dengan nama Hoba Nage. Didominasi warna merah marun, hitam, dan putih, Hoba Nage pada masa lalu biasanya dikenakan oleh perempuan, sedang kaum pria umumnya mengenakan kain tenun Mbay.

“Dalam pertemuan adat, perempuan mengenakan Hoba Nage, pria memakai Ragi Mbay,” kata Wakil Bupati Negekeo Marianus Waja kepada Beritasatu.com di Gedung Sentra IKM (Industri Kecil dan Menengah), Mbay, Kamis (11/11/2021).

NTT, demikian anggota DPR dari Fraksi Nasdem yang istri gubernur NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, memiliki lebih dari 800 motif tenun asli. Setiap kabupaten, bahkan kecamatan, memiliki motif tenun yang khas. Kabupaten Timor Tengah Selatan, misalnya, memiliki 132 motif tenun asli.

"Kebanyakan belum didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM, sehingga rawan diklaim pihak lain. Bukan hanya oleh negara asing, seperti Malaysia, juga provinsi lain di Indonesia berpotensi mengklaim lebih dahulu," kata Julie yang juga menjabat ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT.

Nagekeo memiliki tiga motif utama tenun tradisional, yakni Hoba Nage, Ragi Mbay, dan Telepoi Rendu. Dilihat dari proses pembuatannya, Hoba Nage masuk kategori tenun ikat, sedangkan Ragi Mbay dan Telepoi Rendu adalah songket. Pembuatan tenun ikat relatif lebih mudah dan masa pembuatan lebih pendek, bisa dalam hitungan minggu.

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Kain tenun Nagekeo. (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Pembuatan songket lebih rumit karena ada proses “menganyam” untuk membuat motif. Penenun menambah benang pakaian sebagai hiasan atau motif dengan cara menyisipkan benang berwarna di atas benang lungsi. Untuk memproduksi songket Mbay dibutuhkan waktu beberapa bulan.

Motif tenun ikat, kata Yayik Pawitra Gati, sudah dicetak lebih dahulu dengan cara mengikat benang sesuai gambar yang diinginkan. Setelah itu, benang dicelupkan ke larutan pewarna. Setelah kering, ikatan benang dibuka dan disusun dalam bentangan benang bermotif untuk selanjutnya dijalin dengan alat tenun. Peralatan tenun ikat tidak menggunakan isir dan gugu sebagaimana yang digunakan oleh penenun songket bermotif.

Dhowik, satu rumpun dengan Ragi Mbay. Bisa dijelaskan bahwa Ragi Mbay yang lebih rumit disebut Dhowik Mbay. Teknik anyaman cukup sulit dan dibutuhkan ketekunan lebih besar. Tidak semua penenun mampu melakukannya. Sepintas, orang awam tidak bisa membedakan Ragi Mbay biasa dan Dhowik Mbay. Sama-sama bewarna dasar hitam dan bermotif kuning dan hijau. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada perbedaan signifikan. Bunga Dhowik Mbay lebih besar.

Etnis Tonggo yang hidup di pantai selatan Nagekeo mengembangkan Ragi Mbay dengan motif yang sedikit berbeda. Banyak warna hijau dan biru, meski tetap menampilkan warna dasar hitam dengan motif kuning sebagaimana Ragi Mbay. Dengan jaringan perdagangan yang lebih luas, penenun Tonggo memproduksi kain tenun sesuai pesanan konsumen, mulai dari baju biasa hingga jas. Meski motif Tonggo banyak dipasarkan di Jawa, Ragi Mbay, apalagi Dhowik Mbay, jauh lebih menarik.

Melihat peluang pasar yang semakin besar dan kekhawatiran akan kelangsungan produksi tenun tradisional, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo kini mendorong kaum milenial untuk menenun. Dekranasda, Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Keperindag), dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nagekeo, berkolaborasi memberikan pelatihan kepada para milenial untuk belajar tenun.

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Dua perempuan milenial yang sudah menamatkan pelatihan tenun Nagekeo. (Foto: B1/Primus Dorimulu)

“Kita tidak ingin warisan leluhur kita hilang begitu saja. Generasi muda harus dilatih untuk menenun agar budaya kita tetap lestari,” kata Wakil Bupati Marianus Waja.

Beritasatu.com sempat melihat dari dekat para perempuan milenial menenun dengan peralatan tradisional yang terbuat dari kayu. Mereka adalah perempuan putus sekolah berusia 15-25 tahun yang diseleksi dari berbagai daerah di Nagekeo. Mereka tinggal dan melatih menenun di Gedung IKM Nagekeo selama sebulan.

“Ada 38 orang. Kami berharap, setelah sebulan, mereka sudah bisa memproduksi sendiri kain tenun tradisional dan menjadi wirausaha,” kata Ketua Dekranasda Nagekeo, Yayik Pawitra Gati.

Selama sebulan, para milenial diajari menenun, mulai dari yang paling mudah hingga yang paling rumit, yakni Dhowik Mbay. Ketua Dekranasda Nagekeo mengaku sulit mencari milenial yang berminat. Namun, demi kontinuitas warisan budaya, calon penenun harus ada. Mereka yang lolos seleksi, semuanya, menunjukkan minat yang besar terhadap pekerjaan menenun.

“Di sini ada instruktur yang mengajar menenun dan bisnis. Diharapkan, sepulang dari pelatihan sebulan, mereka sudah bisa mengembangkan diri menjadi wirausaha," kata dokter Ita, sapaan sehari-hari ketua Dekranasda Nagekeo.

Pelatihan bagi 38 milenial adalah program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

“Tahun ini sudah selesai. Satu gelombang saja. Gelombang berikut, menunggu program Kemendikbudristek,” ungkap dokter Ita.

Ia berharap, kementerian lain bisa mendukung program ini. Ada sejumlah kementerian yang memiliki program memberdayakan masyarakat di perdesaan. Selain Kemendikbudristek, ada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Dekranasda di kabupaten siap membantu dan bekerja sama,” kata dokter Ita.

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Ketua Dekranasda Nagekeo Eduarda Yayik Pawitra Gati (kanan) menyerahkan kain tenun dalam kemasan kepada Aida Ningsih, pembeli dari Jakarta di kantor IKM Nagekeo. (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Menjadi Wirausaha
Selain menenun dengan bahan dan warna tradisional, para milenial juga dilatih memproduksi tenun tradisional dengan sentuhan modern. Tenun tradisional menggunakan pewarna alam, seperti mengkudu, taru, kunyit, mangga, dan kemiri. Ada juga pewarna dari pabrik yang mirip pewarna tradisional.

Sentuhan modern terutama pada pilihan warna, bukan motif. Motif tradisional tetap dipertahankan. Dengan demikian, apa pun variasi warna yang digunakan, motif Nagekeo tetap jelas terlihat. Sentuhan modern lebih pada pilihan warna dan jenis benang yang berasal dari pabrik.

“Tenun dengan warna cerah banyak disukai konsumen,” kata Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Kadis Koperindag) Djawaria Kristildis Maria Simporosa kepada Beritasatu.com.

Jika kreatif dan serius, kata Til, sapaan akrab kadis Koperindag Nagekeo, para penenun yang sudah dilatih sebulan bisa hidup mandiri. Dengan menenun secara teratur, pendapatan mereka bisa di atas UMP, yakni Rp 1,8 juta per bulan. Kain tenun ikat dan Telepoi sederhana bisa dirampungkan dalam waktu kurang dari sepekan. Harga satu kain Telepoi dan Hoba Nage berkisar Rp 500.000 hingga Rp 600.000 per lembar.

“Kami minta penenun mengirimkan hasilnya tenun mereka ke sini, gedung IKM, agar bisa ditampilkkan oleh Dekranasda di ruang display,” kata Til sambil menjelaskan tenun Nagekeo motif per motif. Tenunan yang sudah dimodifikasi, baik warna, motif, dan ukuran, mendapatkan pesanan rutin dari Provinsi NTT.

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Foto bersama pejabat Pemkab Nagekeo (kiri ke kanan): Kepala Dinas Koperindag, Djawaria Kristildis Maria Simporosa, Bupati Johanes Don Bosco Do, Ketua Dekranasda Eduarda Yayik Pawitra Gati, Aida Ningsih, FCA Yanu Astuti, Wakil Ketua Dekranasda Olivia Mogi, Kadis Pertanian Remigius Jago, Wakil Bupati Marianus Waja, dan Kadis BLHD Wilibrodus Lasa. (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Marianus mengakui pihaknya kini memberikan perhatian pada aspek ekonomi tenun Nagekeo agar pekerjaan menenun bisa menjadi mata pencarian. Para milenial yang meminati tenun bisa hidup dari pekerjaannya. Oleh karena itu, pelatihan akan diupayakan untuk terus dilanjutkan, kualitas produk terus diperbaiki sesuai permintaan pasar, dan permintaan diperkuat.

Selasa, 23 November 2021, ke-38 milenial "diwisuda" lewat sebuah acara fashion show di Aula Setda Nagekeo, Mbay.

“Mereka, para penenun muda itu yang melenggak-lenggok di catwalk. Mereka yang menenun, mereka pula yang mempromosikan,” ungkap Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do.

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Perempuan milenial Nagekeo menunggu panggilan untuk naik ke "catwalk" untuk memperagakan busana hasil karya mereka. (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Para remaja putri, demikian dokter Ita, alumnus pelatihan tenun diharapkan dapat menjadi milenial yang mampu mengembangkan keterampilan menenun untuk meningkatkan pendapatannya. Pada kesempatan itu, Dekranasda Nagekeo memberikan bantuan peralatan tenun.

Milenial Nagekeo Cinta Tenun Tradisional

Staf Khusus Menteri Kesehatan, Rendi Witular, menghadiri peragaan busana para penenun milenial Nagekeo. (Foto: B1/Primus Dorimulu)



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Fokus Asset Recovery, Kejagung Tetap Buru Mitra Terdakwa Asabri

Kejagung bakal terus membongkar dugaan korupsi PT Asabri untuk mengejar pemulihan kerugian negara atau asset recovery dari mitra terdakwa korupsi Asabri. 

NASIONAL | 17 Januari 2022

Mantan Kepala LBM Eijkman: Ada Wacana Pendirian Perusahaan Vaksin Asing

Mantan Kepala LBM Eijkman menyebutkan peleburan antara Lembaga Eijkman BRIN memunculkan permasalahan baru yang berimbas ada wacana pendirian perusahaan asing

NASIONAL | 17 Januari 2022

BNN: Perubahan Jalur ke Indonesia Jadi Pola Baru Sindikat Narkotika

Kepala BNN Petrus Reinhard Golose mengatakan, perubahan jalur masuk sindikat narkotika ke Indonesia menjadi pola baru yang menjadi perhatian BNN.

NASIONAL | 17 Januari 2022


Peleburan Lembaga Eijkman dan BRIN Hambat Pengembangan Vaksin Merah Putih

Peleburan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berdampak pada proses pengembangan vaksin Merah Putih

NASIONAL | 17 Januari 2022

Geledah Kantor Pemkab PPU, KPK Angkut Dua Koper Berkas

Dua koper berisi berkas diangkut penyidik KPK usai menggeledah sejumlah ruangan kantor Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara.

NASIONAL | 17 Januari 2022

Kasus Korupsi Proyek Bengkalis, Rp 36 Miliar Berhasil Disita KPK

KPK telah berhasil menyita uang senilai Rp 36 miliar dalam perkara korupsi proyek jalan di daerah Bengkalis, Riau.

NASIONAL | 17 Januari 2022

Kasus Pelecehan Seksual, Dekan FISIP Universitas Riau Ditahan

Dekan FISIP Universitas Riau Syafri Harto resmi ditahan oleh kejaksaan setempat, Senin (17/1/2022), terkait kasus pelecehan seksual

NASIONAL | 17 Januari 2022

Ferdinand Hutahaean Ajukan Penangguhan Penahanan

Mantan politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, tersangka kasus dugaan ujaran kebencian mengajukan penangguhan penahanan kepada penyidik Polri.

NASIONAL | 17 Januari 2022

Sosok Bendahara DPC Demokrat yang Tampung Suap Bupati Penajam Paser Utara

Ini Sosok Bendahara DPC Partai Demokrat Balikpapan Nur Afifah Balqis yang diduga menampung uang suap Bupati Penajam Paser Utara Abdul Gafur Mas'ud. 

NASIONAL | 17 Januari 2022


TAG POPULER

# Tsunami


# PPnBM Mobil


# Pelabuhan Kedindi Reo


# Varian Covid-19


# NFT



TERKINI
Dukung Literasi Zakat, Uhamka Raih Penghargaan Baznas Award 2022

Dukung Literasi Zakat, Uhamka Raih Penghargaan Baznas Award 2022

NASIONAL | 1 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings