Logo BeritaSatu

Pakar Lingkungan UI: Indonesia Bukan Negara Pembuang Makanan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 10:53 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa membantah berbagai laporan dan jurnal internasional yang menilai Indonesia sebagai negara pembuang makanan.

"Indonesia bukan negara pembuang makanan. Tetapi kita negara berkembang sama seperti negara berkembang lainnya yang kehilangan bahan pangannya karena kualitas produksi pangan, sarana transportasi dan penyimpanannya yang kurang baik atau ideal," katanya ketika dihubungi Beritasatu.com, Jumat (21/1/2022).

Untuk itu ia meminta berhati-hati terhadap laporan maupun jurnal yang dikeluarkan lembaga. Salah satunya data dari The Economist Intelligence yang mencatat Indonesia negara kedua terbesar penghasil sampah (sisa) makanan (food loss and food waste) per kapita setelah Arab Saudi.

Menurutnya, data tersebut merupakan gabungan antara food loss and food waste, meskipun persoalan dan solusi keduanya sangat berbeda. Adapun food loss adalah hilangnya sejumlah bahan pangan pada tahapan produksi, pascapanen dan penyimpanan, serta pemrosesan dan pengemasan sehingga cepat rusak, busuk atau tidak tahan lama.

Untuk food loss ini, kehilangan bahan pangan disebabkan juga akibat alat maupun sarana transportasinya kurang baik, tumpah, rusak, dan lainnya. Sementara food waste adalah pangan yang dibuang pada tahap distribusi dan ritel serta konsumsi.

"Oleh karena itu, ini perlu menjadi catatan bahwa dari data perbandingan food waste dengan food loss untuk negara berkembang itu cukup lebar yaitu kurang lebih 10% hingga 60%," jelasnya.

Dengan lebar perbandingan data itu menjadi pertanyaan atau catatan bahwa perlunya penelitian dan pendataan lebih baik, sehingga bisa diketahui sebenarnya berapa food waste bila dibanding dengan angka totalnya. Data yang menyebutkan Indonesia nomor dua di dunia itu adalah data total, sehingga penting yang food waste itu diketahui berapa kg dan persen yang food loss.

"Kalau dari pengamatan saya selama ini antara 10%-60% dari berbagai penelitian yang ada. Nah ini perbandingannya terlalu lebar. Itu sulit bagi kita untuk mengambil keputusan. Berarti tindakannya apa untuk memperbaiki urutan food waste atau food loss-nya kalau kita berbicara prioritas," jelas dia.

Hal ini menjadi catatan penting dan perlu kehati-hatian untuk mencermati dari total data gabungan food loss dan food waste. Berapa persen masing-masing dan keduanya. Sederhananya, kalau negara berkembang biasanya akan cenderung food loss-nya akan lebih besar dibanding food waste.

"Oleh karena itu, solusinya khususnya di Indonesia adalah memperbaiki di sektor pertanian agar kualitas produksi bahan pangan kita jadi lebih baik. Maka alat transportasi harus lebih baik, termasuk tempat penyimpanan dan pengemasan yang jadi perhatian khusus," urai Mahawan.

Semengtara untuk masalah food waste biasanya akan dialami negara-negara maju dan cukup besar. Jadi masyarakat diminta lebih teliti dan bijaksana lagi dalam melihat hal ini, karena banyak pihak yang selama ini salah mengartikannya, seolah-olah Indonesia adalah negara pembuang makanan, padahal tidak.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Mendagri: Pembangunan Perbatasan Perkuat Pertahanan Indonesia

Mendagri Tito Karnavian menegaskan Gerakan Pembangunan Terpadu Perbatasan merupakan langkah Pemerintah dalam percepatan pembangunan kawasan perbatasan.

NEWS | 25 Mei 2022

Gerebek Kampung Ambon, Polisi Tangkap 2 Pengedar Narkoba

Polisi menangkap dua pengedar narkoba jenis sabu saat menggerebek Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat. 

NEWS | 25 Mei 2022

Polda Metro Buru Pencuri dengan Modus Pecah Kaca Mobil

Polda Metro Jaya memburu P, pencuri dengan modus pecah kaca mobil. Polda meringkus DS (35) sebagai tersangka dalam kasus itu.

NEWS | 24 Mei 2022

Akademisi: Penolakan UAS Bagian dari Kedaulatan Singapura

Penolakan UAS atau Ustaz Abdul Somad masuk Singapura merupakan bagian dari hak kedaulatan negara tersebut guna melindungi eksistensi negaranya.

NEWS | 24 Mei 2022

Satu Pasien Diduga Hepatitis Akut Terinfeksi Covid-19

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Mohammad Syahril menyatakan satu pasien diduga menderita hepatitis akut misterius yang positif Covid-19.

NEWS | 24 Mei 2022

Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai Tanggal 24 Mei 2022

Berikut ini Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 24 Mei 2022 sesuai data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 24 Mei 2022

Data Kasus Positif dan Kematian Covid-19 di Jakarta sampai 24 Mei 2022

Berikut ini Data Kasus Positif dan Kematian Covid-19 di Jakarta sampai 24 Mei 2022 sesuai data Kemenkes.

NEWS | 24 Mei 2022

Data Kasus Aktif Covid-19 Nasional sampai 24 Mei 2022

Berikut ini Data Kasus Aktif Covid-19 Nasional sampai 24 Mei 2022 sesuai data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 24 Mei 2022

Data Prevalensi Tertinggi Covid-19 di 10 Provinsi, 24 Mei 2022

Berikut ini Data Prevalensi Tertinggi Covid-19 di 10 Provinsi pada 24 Mei 2022 sesuai data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 24 Mei 2022

Data Nasional Positivity Rate Covid-19 sampai 24 Mei 2022

Berikut ini Data Nasional Positivity Rate Covid-19 sampai 24 Mei 2022 sesuai data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 24 Mei 2022


TAG POPULER

# Aturan Baru KTP


# Cekcok di Tol


# SEA Games


# HUT Jakarta


# Polisi Selingkuh


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Ketatnya Pasokan

Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Ketatnya Pasokan

EKONOMI | 10 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings