BNN: Waspadai Paket Kiriman Tak Dikenal

BNN: Waspadai Paket Kiriman Tak Dikenal
BNN mengimbau masyarakat untuk tidak menerima paket yang tak dikenal, karena dicurigai paket tersebut berisi narkoba. ( Foto: Pembaruan/ Fana Fadzikrillahi )
Senin, 7 Januari 2013 | 14:10 WIB
Bisa jadi, paket kiriman tak dikenal itu berisi benda yang di dalamnya diselipkan narkoba. 

Badan Narkotika Nasional (BNN) mengimbau kepada masyarakat  untuk tidak menerima paket barang kiriman yang tidak dikenal.

Pasalnya, jaringan pengedar narkoba internasional tak segan untuk mengirimkan  paket berisi beragam benda yang di dalamnya diselipkan narkoba.

"Yang terpenting, jangan pernah mau terima apapun kalau tidak ada keluarga, kerabat, teman, atau siapapun yang kita kenal mengirim. Kalau kita merasa tidak ada kontak dengan pengirim, jangan diterima paket itu. Apalagi kalau paket itu dikirim dari luar negeri," kata Kepala Bagian  Humas BNN, Sumirat Dwiyanto, di sela pemusnahan barang bukti narkoba di  Lapangan Parkir BNN, Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, Senin (07/01).

Ia mengatakan, para pengedar tak segan meminjam alamat yang mudah ditemukan di buku telepon.

Berbekal itu, para penerima barang haram tinggal diam di depan alamat rumah yang dimaksud dan menerima paket untuk selanjutnya diedarkan di masyarakat.

"Atau bisa saja, paket itu dikirim dan ditujukan ke alamat itu dengan penerimanya memang si pemilik rumah," katanya.

Sumirat menjelaskan, modus dengan memanfaatkan jasa ekspedisi ini bukan modus baru. Dengan menggunakan identitas palsu, pengirim barang haram memasukan narkoba di setiap ruang yang ada di barang yang akan dijadikan  kamuflase.

Untuk menekan penyelundupan melalui jasa pengiriman barang, Sumirat menyatakan BNN telah menjalin kerjasama dengan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo).

Kerja sama itu, lanjut dia, berupa pelatihan kepada para petugas untuk selalu memeriksa barang yang akan dikirimkan.

"Kami bertukar informasi, dan meminta perusahaan melaporkan jika ada  yang mencurigakan. Selain itu, petugas juga meminta identitas jelas  pengirim. Karena selama ini, alamat pengirimnya pasti palsu. Walaupun  dimintai identitas, pengirim biasanya pakai identitas palsu atau  menggunakan identitas orang lain, atau menyuruh orang lain untuk  mengirimkan barang," kata Sumirat.

Imbauan BNN ini bukan tanpa alasan. Pada 14 Desember lalu, BNN  mengungkap dua kasus sekaligus dengan modus serupa, yakni menggunakan perusahaan paket kiriman. Dari dua kasus ini, BNN menyita barang bukti  narkoba golongan I jenis sabu seberat total 934,6 gram.

Dipaparkan Sumirat, dalam kasus yang pertama, jasa pengiriman cargo  Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang memeriksa barang kiriman yang diimpor  dari Thailand, berupa tiga buah tas wanita.

Ketiga tas ini dikirim  secara perseorangan dan ditujukan ke alamat Jalan A. Yani no 34,  Magelang Utara, Jawa Tengah atas nama A yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

"Dari hasil pemeriksaan, paket berisi tas itu, ditemukan narkotika  golongan I jenis sabu seberat 372,6 gram yang disembunyikan di dalam gantungan tas," kata Sumirat.

Atas temuan tersebut, lanjut Sumirat, petugas kemudian melakukan control delivery dengan datang ke alamat yang tertera pada paket, namun Y, si pemilik rumah, tidak mau menerima paket tersebut. Alasannya, dia merasa tidak pernah memesan barang dari luar negeri.

"Petugas selanjutnya membawa paket tersebut untuk penyidikan lebih lanjut," tambah Sumirat.

Lebih jauh dituturkan, pada hari yang sama, petugas menangkap seorang berinisial DHI, seorang warga Subang, Jawa Barat, yang menerima paket dari Bangladesh melalui perusahaan jasa titipan. Paket berupa 10 pasang footstep motor ini dikirim seseorang dari Bangladesh.

"Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 10 pasang footstep, ditemukan  562 gram bubuk yang setelah di tes menggunakan Narcotest, positif mengandung sabu," katanya.

DHI yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir bus di Jakarta ini mengaku, barang tersebut akan diambil oleh orang lain.

"Katanya akan ada yang ngambil ntar," katanya.

Kedua kasus ini masih dalam proses penyidikan lebih lanjut. Sedangkan, dari 934,6 gram sabu yang disita, 874,6 gram dimusnahkan. Sementara sisanya akan digunakan untuk keperluan laboratorium dan pembuktian perkara.

Dengan pengungkapan kedua kasus ini BNN memperkirakan telah  menyelamatkan sekitar 4.000 anak bangsa dari ancaman penyalahgunaan narkoba.