Lem Aibon Masih Banyak Digunakan Pelajar untuk Mabuk

  Lem Aibon Masih Banyak Digunakan Pelajar untuk Mabuk
Ilustrasi Pelajar ditangkap polisi ( Foto: Antara )
Ardi Mandiri Selasa, 12 Februari 2013 | 01:53 WIB

"Kami menerima sejumlah laporan dari orang tua murid dan pihak sekolah yang sering mendapati anak didiknya 'ngaibon."

Muntok - Badan Narkotika Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, menyatakan lem "aibon" atau lem sintetis berwarna kuning mengancam pelajar setempat karena sering disalahgunakan untuk mabuk.

"Kami menerima sejumlah laporan dari orang tua murid dan pihak sekolah yang sering mendapati anak didiknya 'ngaibon", ini perlu tindakan antisipasi dari seluruh elemen masyarakat untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa," ujar Pelaksana Harian BNK Kabupaten Bangka Barat, Agus Sunawan di Muntok, Senin.

Menurut dia, "ngaibon" atau menghisap lem adhesiv warna kuning merupakan salah satu penyalahgunaan narkoba masuk kategori zat adiktif, yang butuh perhatian ekstra karena barang tersebut mudah didapat dan dijual bebas di toko.

Ia menjelaskan, meskipun lem aibon bukan termasuk narkoba golongan berat seperti ganja, sabusabu, heroin dan ekstasi, namun tetap harus diwaspadai oleh seluruh elemen masyarakat karena lem itu menyebabkan kecanduan dan efek samping.

"Pada saat kami melakukan kunjungan ke Kecamatan Jebus dan Parittiga, kami banyak menerima laporan dari orang tua murid dan guru mengenai temuan kasus yang sering dijumpai di daerah itu," kata dia.

Selain itu, kata dia, beberapa waktu lalu ada pihan sekolah tingkat pertama di Kecamatan Muntok yang melaporkan kasus sejenis.

Menurut dia, kasus pelajar mengkonsumsi aibon di Kabupaten Bangka Barat sudah termasuk kategori mengkhawatirkan dan sebaiknya segera dilakukan tindakan tegas dari seluruh elemen masyarakat, terutama kepedulian orang tua dalam memperhatikan perkembangan anak-anaknya.

Dari BNK Bangka Barat sendiri, kata dia, pada tahun ini akan melakukan sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba di seluruh sekolah yang ada di Bangka Barat yang jumlahnya mencapai 191 sekolah, terdiri dari 20 unit sekolah tingkat atas, 39 unit sekolah tingkat pertama dan 132 unit sekolah tingkat dasar yang tersebar di enam kecamatan.

"Jadwal sedang kami susun, kami perkirakan program ini bisa dimulai sekitar minggu depan dan rencananya setiap sekolah menerima satu kali sosialisasi," ujarnya.

Pihak sekolah, kata dia, menyambut baik rencana tersebut dan mereka sudah siap untuk menyediakan dua jam khusus untuk menerima sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dari petugas BNK.

"Yang masih menjadi kendala kami selama ini, belum adanya petugas penyuluh yang bersertifikat, dua orang penyuluh yang ada belum pernah mendapat pelatihan sehingga mereka memberikan sosialisasi secara otodidak," katanya.

Menurut dia, petugas penyuluh ideal untuk memberikan pelayanan di seluruh daerah itu minimal enam orang penyuluh berseretifikat sehingga lebih efektif dan lebih banyak turun ke seluruh lapisan masyarakat sampai ke pelosok.

"Untuk kasus narkoba dari 2008 hingga 2012 belum pernah ada kasus narkoba yang melibatkan pelajar, namun untuk kasus pelajar ngaibon sudah banyak karena sebagian besar pelajar yg "ngaibon" tidak tahu kalo lem itu termasuk bahan adiktif berbahaya dan memiliki efek samping kecanduan," kata dia.

Sumber: Antara