Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Menangis, Ferdy Sambo Sebut Sia-sia Pangkat Jenderal jika Tak Bisa Jaga Istri

Senin, 28 November 2022 | 17:18 WIB
Oleh : Muhammad Aulia / FFS
Terdakwa Ferdy Sambo memeluk istrinya, Terdakwa Putri Candrawathi saat akan mengikuti sidang kasus pembunuhan Brigadir Yoshua Hutabarat dengan agenda mendengarkan saksi-saksi, di PN Jakarta Selatan, Selasa, 1 November 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Arif Rachman Arifin mengungkap momen saat Ferdy Sambo menangis ketika melihat foto keluarganya pada momen setelah tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Dia menangis karena menilai sia-sia bagi dirinya sudah berpangkat jenderal jika tidak mampu menjaga istrinya, Putri Candrawathi.

Sebagai informasi, Ferdy Sambo dalam skenarionya sempat mengeklaim adanya baku tembak yang menewaskan Brigadir J. Baku tembak terjadi karena dipicu oleh Brigadir J yang diklaim telah melecehkan Putri.

Momen Sambo menangis itu disampaikan Arif saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/11/2022). Duduk sebagai terdakwa dalam persidangan kali ini yakni Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E, Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf.

Sebagai informasi, Arif juga merupakan terdakwa dalam kasus obstruction of justice atau perintangan penyidikan kasus tewasnya Brigadir J.

Mulanya, Arif mengaku sempat menyaksikan rekaman CCTV di area rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Jalan Duren Tiga. Rekaman itu memperlihatkan Brigadir J masih hidup saat Ferdy Sambo tiba di kediaman dinas.

Ferdy Sambo ketika itu mengeklaim rekaman tersebut tidak benar. Sambo meminta agar Arif mempercayainya.

"Terus beliau nanya, 'siapa saja yang sudah nonton?,' Saya sampaikan ada Kompol Chuck, Baiquni, dan Ridwan," ungkap Arif.

Ferdy Sambo kemudian menanyakan di mana rekaman tersebut disimpan. Arif menyampaikan, rekaman disimpan di laptop Baiquni Wibowo.

"Pak Ferdy Sambo bilang 'berarti kalau sampai bocor kalian berempat lah yang bocorin,' saya diam saja karena beliau mukanya seperti sudah merah marah," ungkap Arif.

Setelahnya, Arif menyebut adanya perintah Ferdy Sambo agar rekaman tersebut dimusnahkan seluruhnya. Kemudian terjadi momen Sambo melihat foto keluarganya. Saat itu, Sambo turut mengungkit kedudukannya sebagai jenderal bintang dua di Polri.

"Terus beliau melihat foto, di kursi beliau ada foto di belakangnya itu, foto keluarganya terus menangis beliau. 'Kamu tahu enggak, ini sudah menyangkut kehormatan saya. Percuma saya bintang dua tetapi tidak bisa menjaga istri saya'," tutur Arif.

Sambo kemudian mulai menangis. Ketika itu, Hendra Kurniawan mengajak Arif keluar ruangan. Ferdy Sambo lalu mengatakan untuk dipastikan supaya semua rekaman dimusnahkan.

Diberitakan, Bharada E, Kuat, dan Ricky didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Selain ketiganya, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi didakwa ikut terlibat dalam pembunuhan tersebut. Mereka didakwa melanggar Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP.

Bharada E disebut jaksa sebagai sosok yang menembak Brigadir J. “’Woy! Kau tembak! Kau tembak cepat! Cepat woy kau tembak!’,” ungkap JPU soal perintah Ferdy Sambo ke Bharada E.

Bharada E lalu menembak memakai Glock 17 sebanyak tiga atau empat kali ke Brigadir J yang membuatnya terjatuh dan bersimbah darah. Kemudian, Sambo menembak sebanyak satu kali ke kepala Brigadir J untuk memastikannya sudah tewas.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI