Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

BNPB: Bencana Hidrometeorologi Diperkirakan Merata pada Desember

Selasa, 29 November 2022 | 03:46 WIB
Oleh : BW
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, potensi terjadi bencana hidrometeorologi diperkirakan merata pada Desember 2022. Hal itu karena puncak musim hujan akan terjadi pada Desember mendatang.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefieng yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (28/11/2022), mengatakan, peluang terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi merata di seluruh bagian Indonesia mulai dari utara Sumatera sampai selatan Papua.

Menurut Abdul, distribusi cuaca dalam satu minggu terakhir yang dimulai sejak 21 November, sejumlah wilayah seperti Kalimantan dan sebagian Sulawesi ditutupi oleh awan hujan. Hal tersebut kemudian berpindah ke wilayah Sumatera dan sebagian utara Jawa pada 22 November.

Pada 23 November awan hujan bergerak ke Papua dan Kalimantan bagian barat. Pergerakan awan pada 24 November kembali ke Sumatera dan seluruh Pulau Jawa, dilanjutkan dengan tanggal 25 November bergerak ke Kalimantan dan selatan Papua. Sementara pada 26 November pindah lagi ke sebagian besar wilayah Sumatera.

“Ini memberikan gambaran bagi kita bahwa secara normal, secara monsun atau secara musiman kita akan masuk pada musim hujan. Artinya puncak musim hujan di Indonesia itu dari Desember 2022 sampai Februari 2023,” ujarnya.

Abdul menjelaskan, meski puncaknya baru terjadi pada Desember, hujan yang selama dua bulan terakhir tampak turun lebih deras dan cepat disebabkan oleh di antaranya Indian Ocean Dipole (IOD) ataupun indeks minor yang negatif.

Hal tersebut menyebabkan awan yang mengonveksi hujan, menjadi lebih tebal dan memperkuat intensitas turunnya hujan di seluruh kawasan Indonesia dengan fluktuasi yang hampir merata.

“Sehingga kita pada Desember masih harus terus waspada dengan potensi hujan intensitas tinggi dan potensi bencana ikutannya dari aspek hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor,” ucapnya.

Oleh karena itu, Abdul mengimbau semua pihak untuk terus waspada dan mulai memperhatikan daya tampung atau kuatnya ekosistem lingkungan tempat tinggal masing-masing dalam menghadapi bencana yang kemungkinan terjadi.

Sebab, dalam pantauan BNPB terdapat wilayah yang semula tidak rawan bencana, menjadi masuk ke dalam kategori rawan bencana akibat ekosistem yang tidak mendukung.

Abdul menyarankan pemerintah daerah untuk memperhatikan daya lingkungan khususnya daya serap dari kawasan terhadap air yang turun, sehingga tidak akan terlalu mengganggu aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Selain itu, pemerintah daerah diharapkan dapat menyisihkan anggarannya untuk merestorasi lingkungan di wilayahnya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: ANTARA


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI