Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Ada Sosok Perempuan Menangis di Momen Sambo dan Putri Bertengkar

Rabu, 30 November 2022 | 12:59 WIB
Oleh : Muhammad Aulia / FMB
Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Putri Chandrawathi (kiri) menyalami suaminya yang juga terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo, saat memasuki ruangan sidang untuk menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa 29 November 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E mengungkapkan adanya momen pertengkaran antara Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi. Dalam rangkaian momen ini, terdapat sosok perempuan misterius yang menangis. Bharada E mengaku tidak mengenali perempuan misterius itu.

Hal itu disampaikan Bharada E saat duduk sebagai saksi dalam persidangan kasus dugaan pembunuhan berencana yang menewaskan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Duduk sebagai terdakwa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jakarta, Rabu (30/11/2022) kali ini yakni Kuat Ma'ruf dan Ricky Rizal.

Bharada E sendiri diketahui juga merupakan terdakwa di kasus ini. Hanya saja, untuk persidangan kali ini dia diminta keterangan sebagai saksi.

Mulanya, Bharada E mengungkapkan momen ketika Putri Candrawathi mendadak turun dari lantai dua pada rumah pribadi Ferdy Sambo Jalan Saguling, Jakarta Selatan. Brigadir J turut mendampingi Putri dengan membawa senjata.

"Ada kejadian tiba-tiba ibu turun, almarhum juga turun bawa senjata langsung ditaruh di mobil," ungkap Bharada E dalam persidangan.

Bharada E, menerangkan, mereka meluncur ke kawasan Kemang. Dia sempat menanyakan ke Brigadir J soal tujuan mereka. Hal itu karena, arah perjalanan hanya berputar-putar.

"Itu perjalanan ada muter-muter di Kemang, akhirnya kita balik ke kediaman Bangka," tutur Bharada E.

Ketika sampai di rumah Bangka, Bharada E menyaksikan ekspresi Putri yang tengah marah. Hanya saja, dia mengaku ketika itu tidak punya nyali bertanya ke Putri.

Lalu tiba Ferdy Sambo serta ajudannya Saddam sekitar setengah jam kemudian. Sambo ketika itu juga tampak marah dan langsung meluncur ke dalam rumah.

"Pak FS kayak marah-marah juga langsung masuk ke dalam rumah. Almarhum (Brigadir J) bilang 'Chad nanti ada Pak Eben datang, rekannya bapak', pas datang saya tidak melihat. Karena pada saat itu saya sedang di belakang, saya tidak tahu Pak Eben datang dengan siapa," tutur Bharada E.

Setelahnya, Bharada E menerangkan soal dirinya menyaksikan sosok perempuan tengah menangis keluar rumah. Perempuan ini lalu mencari sopirnya untuk meninggalkan rumah Ferdy Sambo di Bangka.

"Setengah jam kemudian ada orang keluar dari rumah, saya bilang 'Fon (security) ada orang keluar itu.' Ada perempuan, saya enggak kenal, nangis dia. Saya bertanya-tanya ini siapa. Saya lihat ke dalam," ujar Bharada E.

"Perempuan itu bilang mencari driver dia. Saya lari ke samping saya panggil driver-nya, perempuan itu naik baru pulang. Semenjak kejadian itu Pak Ferdy Sambo sudah lebih sering di Saguling," imbuhnya.

Bharada E, Kuat, dan Ricky didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Selain ketiganya, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi didakwa ikut terlibat dalam pembunuhan tersebut. Mereka didakwa melanggar Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP.

Bharada E disebut jaksa sebagai sosok yang menembak Brigadir J. “’Woy! Kau tembak! Kau tembak cepat! Cepat woy kau tembak!’,” ungkap JPU soal perintah Ferdy Sambo ke Bharada E.

Bharada E lalu menembak memakai Glock 17 sebanyak tiga atau empat kali ke Brigadir J yang membuatnya terjatuh dan bersimbah darah. Tak lupa, Sambo menembak sebanyak satu kali ke kepala Brigadir J untuk memastikan sudah tewas.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI