Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Budaya Patriarki Jadi Alasan Catcalling Dinormalisasi

Kamis, 1 Desember 2022 | 00:17 WIB
Oleh : Jayanty Nada Shofa / JNS
Ahli sosiologi gender Universitas Airlangga (Unair) Emy Susanti, Senuor Research Fellow University of Westminster Adrija Dey, University Grants Comission Chairman Sampath Amaratunge, British Council Gender & Inclusion Head Gillian Cowell di acara Going Global Asia Pacific 2022 Conference di Singapura pada Rabu, 30 November 2022.

Singapura, Beritasatu.com - Budaya patriarki menjadi alasan mengapa catcalling atau pelecehan verbal masih dinormalisasi di Indonesia. Tak hanya itu, catcalling adalah salah satu kekerasan seksual yang masih sering ditemukan di lingkungan kampus. Ahli sosiologi gender Universitas Airlangga Emy Susanti mengatakan banyak masyarakat Indonesia tidak menganggap catcalling sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual.

"Selama ini, masyarakat kita, atau seluruh dunia, sangat patriarki. Patriarki melihat yang nomor satu itu laki-laki. Not only physically, tetapi orang mendahulukan itu semua. Maka terjadi negative stereotyping terhadap perempuan," ucap Emy kepada Beritasatu.com di acara Going Global Asia Pacific 2022 Conference yang digelar oleh British Council di Singapura, Rabu (30/11/2022).

"Hasil penelitian kami juga menunjukkan perempuan sering dianggap sebagai 'objek seksual'. Perempuan sering sekali dilihat secara fisik oleh laki-laki dan ini menjadikan catcalling atau disiul suatu hal yang biasa," ucap Emy.

Pada konferensi Going Global Asia Pacific, dipaparkan hasil survei penanganan kekerasan seksual di area kampus. Responden survei ini meliputi 3.194 mahasiswa dan 1.450 dosen dan staf akademik di 36 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Survei menunjukkan 40,1% responden mahasiswa mengatakan pelaku kekerasan seksual justru orang di luar kampus. Sedangkan 29% responden mahasiswa mengatakan pelaku kekerasan seksual adalah sesama mahasiswa. Sementara itu, 35,5% responden dosen dan staf akademik mengatakan pelaku kekerasan seksual di lingkungan kampus justru sesama dosen.

"Kekerasan seksual oleh orang di luar kampus itu bisa saja tukang yang di area kampus. Seperti mereka catcalling atau menyiul korban," jelas Emy.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi 3/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Dalam peraturan yang dikenal sebagai Permen PPKS ini, catcalling (ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender korban) termasuk sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual.

"Dulu, catcalling dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan tidak menjadi masalah di masyarakat kita. Tapi kini dalam Permen PPKS, jadi jelas kalau (catcalling, red) bentuk kekerasan seksual harus dilawan," jelas Emy.

Tapi apa yang harus dilakukan oleh korban jika mengalami catcalling terutama di area kampus?

"Jangan diam. Kita harus menunjukkan bahwa kita tidak suka pada (tindakan catcalling, red). Kita harus mengatakan bahwa kita menolak diperlakukan seperti itu. Beritahukan kalau tidak boleh seperti itu," ucap Emy.

Selain mengategorikan catcalling sebagai kekerasan seksual, Permen PPKS juga mewajibkan pembentukan satuan tugas (satgas) pencegahan kekerasan seksual di perguruan tinggi. Bicara soal Permen PPKS, Emy mengatakan peraturan ini berpihak pada korban.

"Dengan adanya Permen PPKS, mereka (korban, red) jadi terfasilitasi karena korban seperti dirangkul. Seluruh universitas juga diharuskan membentuk satgas," jelas Emy.

"Kekerasan seksual di perguruan tinggi berkaitan dengan relasi kuasa. Dulu ini banyak didiamkan karena takut. Dengan difasilitasi ini dan adanya satgas, kita harap akan terbongkar dan lebih banyak orang melapor. Bukan untuk mengubrak-abrik universitas, tetapi justru mendirikan suasana kehidupan kampus yang benar. Jadi, orang nilainya bagus itu bukan karena dekat atau menuruti kemauan seseorang. Tetapi, academic culture-nya yang benar," imbuhnya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI