Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Hendra Sebut Kapolri Minta Kasus Brigadir J Ditangani secara Profesional

Selasa, 6 Desember 2022 | 18:19 WIB
Oleh : Anisa Fauziah, Agnes Valentina Christa / BW
Terdakwa kasus merintangi penyidikan atau "obstruction of justice" pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Hendra Kurniawan, bersiap memberikan kesaksian pada sidang untuk terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Chandrawathi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa 6 Desember 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Kepala Biro Paminal Divisi Propam Polri Hendra Kurniawan menyebutkan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta agar kasus Brigadir J ditangani secara profesional.

Hendra Kurniawan mengatakan hal itu saat memberikan kesaksian dalam sidang terkait kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, selasa (6/12/2022).

Dalam sidang itu, Hendra Kurniwan menemui Kapolri Listyo Sigit Prabowo seusai penembakan Brigadir J pada hari yang sama, yakni 8 Juli 2022 lalu.

Mantan Karo Paminal Divisi Propam Polri tersebut menemui Kapolri bersama dengan mantan Karo Provost Benny Ali.

Perintah Kapolri kepada keduanya untuk menangani kasus tersebut secara profesional, meskipun tempat kejadian perkara di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo.

"Ketika saya menghadap di ruang transit tamu pimpinan Polri, Pak Benny dulu ditanya tentang kejadian tersebut, tembak-menembak, terjadinya itu pelecehan. Dijelaskan lah di situ, karena Pak Benny sudah bertemu dengan Ibu Putri Candrawathi," Hendra melanjutkan.

"Kemudian pada saat itu perintah Kapolri cuma satu, ya sudah ditangani secara profesional dan prosedural sekalipun kejadiannya di kediaman Kadiv Propam,” ujar Hendra Kurniawan.

Selain itu, Kapolri turut menanyakan terkait dugaan kasus pelecehan seksual. Hendra Kurniawan menjawab bahwa hal tersebut yang mengetahui hanyalah Ferdy Sambo.

Ferdy Sambo yang sebelumnya menunggu di ruang Korspri Kapolri menghadap Kapolri seusai Hendra Kurniawan dan Benny keluar ruangan.

Selanjutnya dalam kesaksian Hendra Kurniawan, pertemuan Kapolri dengan Ferdy Sambo diperkirakan selama 20 menit.

Keluar dari ruangan, Ferdy Sambo memerintahkan Hendra Kurniawan mendatangi Biro Provost. Di sana Hendra Kurniawan turut menyaksikan Ferdy Sambo mengumpulkan saksi. Saat itu ada tiga saksi. Namun, tak dibeberkan siapa saksi tersebut.

Dikatakan Hendra Kurniawan, pada saat mengumpulkan saksi dan juga dia, Ferdy Sambo menyatakan, “Ini percuma saya punya jabatan kalau harkat dan martabat kehormatan saya hancur oleh almarhum.”

Hendra Kurniawan mengungkapkan, Ferdy Sambo juga menceritakan ungkapan apa saat berlangsung dalam pertemuan Ferdy Sambo dengan Kapolri.

“Kemudian, ‘Saya sudah menghadap Kapolri, ditanya Kapolri cuma satu, kamu nembak gak, Mbo?’ Itu Sambo (yang cerita), dia jawab, ‘Saya tidak nembak, Jenderal. Kalau saya nembak, pecah pasti kepalanya’,” ucap Hendra yang mengutip Ferdy Sambo ketika menceritakan pertemuannya dengan Kapolri.

Dalam persidangan hari ini, hadir 11 orang saksi dengan 6 orang saksi berasal dari unsur obstruction of justice. Mereka bersaksi untuk terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Adapun jumlah terdakwa obstruction of justice mencapai 7 orang termasuk Ferdy Sambo.

Selain Agus Nurpatria dan Ferdy Sambo, terdakwa obstruction of justice lainnya yang hadir dalam persidangan adalah Chuck Putranto, Baiquni Wibowo, Hendra Kurniawan, Irfan Widyanto, dan Arif Rahman Arifin.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI