Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Buwas: Tak Mudah Impor Beras di Tengah Krisis Pangan

Kamis, 8 Desember 2022 | 04:38 WIB
Oleh : Ricki Harahap/ Bella Evanglista/ Andrea / FFS
Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Perum Bulog) Budi Waseso usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR, 7 Desember 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini Perum Bulog mendapat tugas melakukan impor beras sebanyak 500.000 ton guna memenuhi ketersediaan cadangan beras pemerintah (CBP) hingga akhir tahun 2022 mendatang.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas mengatakan, impor beras saja belum cukup untuk memenuhi target stok beras sebanyak 1,2 juta ton tahun ini. Menurutnya tidaklah mudah melakukan impor beras saat banyak negara di dunia terjebak krisis pangan.

"Sekarang ini impor juga tidak mudah, karena negara-negara itu membatasi. Bahkan ada yang sama sekali menutup untuk ekspor karena dia membutuhkan juga, seperti Thailand, Vietnam, India, Pakistan, itu semua punya peraturan dari negara-negara itu," kata Buwas kepada wartawan usai rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (7/12/22).

Kendati demikian, Buwas menambahkan jika saat ini pihaknya sedang mengupayakan untuk mengimpor 200.000 ton beras. Ia menargetkan paling lambat sampai akhir Desember 2022 target tersebut dapat terpenuhi. Namun, upaya tersebut masih terbilang sulit.

"Yang 200.000 ton juga sedang dalam upaya, beberapa negara bahkan ada satu negara yang sudah ia (bersedia ekspor), tetapi tidak jadi karena memang dia tidak siap dengan waktu yang singkat, belum perizinannya segala macam jadi tidak mudah," ujar Buwas.

Buwas meyakini tidak akan terjadi krisis pangan jika nantinya target impor 200.000 ton beras ini tidak terpenuhi. Hal ini karena berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) persediaan beras di rumah tangga masih aman. Hanya saja, stok CBP yang menipis.

"Kalau tidak terpenuhi, ya sudah. Kita mau usaha gimana lagi? Insyallah tidak krisis pangan. Tadi BPS mengatakan jumlahnya cukup, ada di rumah tangga. Ini persoalannya CBP, yang untuk stabilisasi, ketersediaan dan termaksud operasi pasar," papar Buwas.

Terkait harga pembelian beras impor tersebut, Buwas menyebut akan lebih murah dari beras medium di Indonesia, yakni di bawah Rp 9000 perkilogram. Jika sesuai ketentuan, seharusnya beras impor untuk CBP yang didatangkan adalah jenis medium.

Namun, dikarenakan kekosongan stok beras medium di luar negeri, maka beras yang didatangkan adalah jenis premium. Sehingga akan dilakukan pengalihan dengan izin dari Menteri Keuangan.

"Kalau premium itu yang itu bisa disikapi dengan pembelian komersil. Nanti setelah di sini nanti kita minta izin melalui Menteri Keuangan melalui audit BPM boleh enggak itu dialihkan menjadi CBP. Nanti selesihnya yang bayar pemerintah," kata Budi.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI