Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Dilarang Dipakai di Pernikahan Kaesang, Batik Parang Simbol Strata Sosial

Kamis, 8 Desember 2022 | 17:24 WIB
Oleh : Rachman Pratama / FFS
Pemilik Batik Mahkota Laweyan Solo, Alpha Febela Priyatmono menunjukkan koleksi batik motif parang yang dimilikinya.

Solo, Beritasatu.com – Batik motif parang dilarang dipakai para tamu undangan resepsi pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono yang akan dilangsungkan di Pendopo Agung Pura Mangkunegaran, Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/12/2022).

Kaesang Pangarep berharap seluruh tamu undangan dapat memahami aturan di Pura Mangkunegaran tersebut. Dijelaskan, batik parang hanya boleh dipakai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegaran X bersama keluarganya, saat berada di Mangkunegaran.

“Itu yang boleh memakai batik motif parang ya Kanjeng Gusti dan keluarganya. Kalau yang lain, kita rakyat biasa ya pakai yang biasa,” ungkap Kaesang usai mengikuti tradisi wilujeangan di Pura Mangkunegaran pada Rabu (07/12/2022).

Wali Kota Solo yang juga juru bicara pernikahan Kaesang dan Erina, Gibran Rakabuming Raka mengingatkan para tamu undangan untuk menaati aturan tersebut. Gibran mengatakan, para tamu diperbolehkan memakai batik dengan motif lain atau mengenakan baju daerah masing-masing.

“Iya itu aturan di Pura Mangkunegaran. Jadi tamu disarankan tidak memakai motif batik parang atau lereng. Tidak ada aturan khusus, jadi silakan hadir membawa pakaian baju batik motif lain atau baju daerah, silakan. Yang penting tidak usah ada sumbangan,” ujar Gibran di lokasi yang sama.

Ketua Forum Pengembang Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono menjelaskan, batik dengan motif parang merupakan motif batik tradisional yang konon diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Motif tersebut, katanya menyimbolkan kekuatan, kekuasaan, dan kewibawaan.

“Dari literatur yang saya baca, motif batik yang sudah ratusan tahun itu diciptakan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang terinspirasi oleh parang atau pereng dan ombak saat berada di di pantai selatan Jawa. Itu menunjukkan simbol kekuatan, kekuasaan, dan kewibawaan,” jelas Alpha yang ditemui di galeri Batik Mahkota Laweyan miliknya pada Kamis (08/12/2022).

Menurutnya, batik parang dahulu sering dipakai untuk pakaian keluarga keraton, baik raja, permaisuri dan putra-putrinya. Terdapat aturan khusus untuk memakai batik parang.

"Kalau raja menggunakan motif parang yang besar-besar atau yang dikenal dengan parang barong, lalu yang lebih kecil dipakai istrinya, kemudian lebih kecil lagi dipakai putra-putrinya,” papar Alpha.

Bahkan, di masa lalu ada aturan mengenai larangan memakai motif batik tertentu, termasuk motif parang, yang tidak boleh dipakai oleh khalayak umum.

“Jadi dulu ada larangan, tetapi setelah kemerdekaan, sudah banyak memakai. Tetapi kita harus menghargai warisan leluhur. Jadi pemakaiannya juga pas,” ucap Alpha.

Sementara itu, sejarawan yang juga staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret Solo, Insiwi Febriaty Setiasih yang ditemui di rumahnya di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Kamis (08/12/2022) menjelaskan batik parang cukup penting bagi wilayah Mataraman, baik itu Kasunan, Kasultanan, Pakualaman dan Mangkunegaran. Motif ini, katanya, hanya boleh dipakai raja dan permaisuri.

"Atau dalam Mangkunegaran ya hanya dipakai Kanjeng Gusti dan permaisurinya. Tidak boleh disamakan dengan orang lain, baik di dalam istana maupun di luar istana. Kalau di dalam istana ya mereka memakai dengan model lain” jelas Insiwi.

Insiwi menjelaskan aturan dalam pemakaian batik motif parang di internal istana sudah diatur sejak zaman Mataram Islam. Menurutnya, semakin ke bawah strata sosial seseorang, motif parang atau pereng yang digunakan juga harus kecil.

“Tingkatan ke bawah itu semakin kecil motif batik parangnya. Bahkan jika stratifikasi sosialnya sangat kecil, bisa jadi tidak boleh memakai batik parang. Jadi ini tidak hanya dilarang saat pernikahan Kaesang-Erina, tetapi di acara-acara lain juga tidak boleh memakai batik itu,” paparnya.

Meski secara politik tak memiliki kekuasaan, Mangkunegaran secara budaya Jawa masih dipandang sebagai pemegang trah kekuasaan. Dengan demikian, pakaiannya menunjukkan strata sosial yang tertinggi yang tidak boleh disamakan dengan khalayak umum.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI