Eksklusif! Presiden Jokowi Sebut Pertimbangan Politis dalam Reshuffle

Rabu, 1 Februari 2023 | 06:48 WIB
Dwi Argo Santosa / DAS
Presiden Jokowi dalam wawancara eksklusif "Tantangan dan Harapan” di BTV bersama Direktur Pemberitaan B Universe, Apreyvita Wulansari, Selasa, 31 Januari 2023.

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Jokowi memberikan jawaban lugas terkait isu reshuffle kabinet dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Direktur Pemberitaan B Universe, Apreyvita Wulansari di Istana Negara, Selasa (31/1/2023).

Tidak seperti biasanya, Presiden Jokowi menyebut ada pertimbangan politis dalam merombak kabinet selain performa kementerian.

Awalnya Presiden Jokowi tertawa kecil ketika ditanya apakah Rabu Pon yang jatuh pada tanggal 1 Februari 2023 akan ada perombakan kabinet alias reshuffle.

Pertanyaan itu mengemuka karena selama menjabat presiden delapan tahun Jokowi tercatat telah delapan kali melakukan reshuffle. Kesemuanya terjadi pada hari Rabu. Empat di antaranya Rabu Pon.

Dalam kalender Jawa terdapat istilah pancawara atau siklus lima harian yang disebut juga dengan hari pasaran. Pon adalah salah satunya.

Selain Pon, terdapat Legi, Pahing, Wage, dan Kliwon. Masing-masing hari pasaran memiliki keistimewaan.

Dalam budaya Jawa, hari kelahiran seseorang sesuai hari pasaran dipercaya memiliki pengaruh terhadap sifat, watak, atau karakternya. Presiden Jokowi kelahiran 21 Juni 1961 yang jatuh pada Rabu Pon.

Saat diwawancara Apreyvita Wulansari, Presiden Jokowi mengaku heran mendapat pertanyaan tentang reshuffle kabinet. Pasalnya setiap kali bertemu wartawan pertanyaan itu selalu muncul.

Menurut Presiden Jokowi, ada banyak hal lain yang dapat ditanyakan di luar reshuffle. Demikian juga ada banyak hal penting yang perlu diketahui masyarakat.

“Tetapi, malah selalu, kembali lagi yang ditanyakan (soal) reshuffle," ujar Presiden Jokowi pada program “Berita Satu Special Eksklusif Presiden Jokowi: Tantangan dan Harapan” yang ditayangkan BTV, Selasa (31/1/2023).

Meski mengaku heran Presiden menjelaskan bahwa reshuffle dilakukan dengan perhitungan atau kalkulasi.

Perombakan kabinet dilakukan dengan melihat kinerja atau performa dari kementerian dan lembaga dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Yang menarik, Presiden Jokowi menyinggung ada juga pertimbangan politik dalam melakukan reshuffle. "Juga ada sisi politiknya, dikit-dikit biasanya. Bumbu-bumbunya di situ,” ujar Jokowi sembari tertawa.

Mengenai waktu reshuffle, Jokowi menegaskan, “Ya ditunggu saja."

Apreyvita Wulansari memberi penegasan mengenai adanya pertimbangan politis dalam merombak kabinet. Ia mengaitkannya dengan kegiatan Jokowi sebelumnya yakni memanggil ketua partai.

“Beberapa hari lalu bapak sempat memanggil ketua-ketua partai, apakah itu bagian dari perencanaan yang besok akan disampaikan?” tanya Apreyvita.

Jokowi menyebut bahwa dirinya bertemu ketua-ketua partai adalah sebuah hal yang rutin. Tujuan pertemuan tersebut untuk berkomunkasi dalam banyak hal, bukan hanya urusan reshuffle.

Seperti diberitakan, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (26/1/2023) sore.

Pertimbangan politis sebagai bumbu dalam sebuah perombakan kabinet, seperti yang diungkapkan Jokowi dalam wawancara tersebut, dapat terlihat oleh publik ketika sosok yang terpilih masuk kabinet adalah kader partai politik.

Menilik ke belakang, reshuffle yang kental akan muatan politis terjadi pada pengunduran diri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur pada Rabu Pahing, 15 Agustus 2018.

Saat itu adalah masa menjelang Pilpres 2019. Kubu Jokowi sebagai petahana bakal melawan koalisi Prabowo Subianto (Gerindra).

Dalam situasi seperti itu, PAN sebagai partai tempat Asman Abnur bernaung, berpihak ke kubu Prabowo. Mensesneg Pratikno ketika itu terang-terangan mengungkapkan bahwa sikap PAN yang tidak mendukung Jokowi menjadi pembicaraan di internal koalisi pemerintah, sehingga muncul rencana pencopotan Asman Abnur.

Asman Abnur akhirnya menyampaikan pengunduran diri ke Presiden Jokowi pada Selasa malam 14 Agustus 2018 di Istana Bogor. Asman tidak ingin menjadi beban bagi pemerintah Jokowi yang akan berakhir pada 2019.

Dalam wawancara berdurasi hampir sejam itu Jokowi ditanya apakah pada reshuffle nanti Presiden ingin merekomposisi posisi-posisi penting dalam kabinet? Jokowi menjawab, saat ini perlu perhitungan dan perlu melihat performa dan kinerja kementerian yang ada.

Sedangkan mengenai sosok-sosok yang akan mengisi perombakan, Jokowi menyebut bisa dari kader partai maupun dari kalangan profesional. “Dua-duanya bisa, orang partai yang baik-baik juga banyak. Orang profesional yang bagus-bagus juga banyak," jawab Jokowi.



Sumber: BeritaSatu.com

Bagikan

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI