Logo BeritaSatu

Semua Saksi Saling Bertentangan, Pengacara: John Kei Layak Bebas

Sabtu, 20 Maret 2021 | 05:25 WIB
Oleh : B1

Jakarta, Beritasatu.com - Sidang perkara penganiayaan yang diduga melibatkan John Refra alias John Kei, kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (17/3/2021). Sidang menghadirkan lima saksi dari jaksa penuntut umum (JPU), yakni petugas dari Polda Metro Jaya yang melakukan penangkapan.

Ketua tim kuasa hukum John Kei, Anton Sudanto menjelaskan bahwa dalam kesaksian tersebut terjawab jika pada saat penangkapan, kliennya sedang berada di kamar. "Tidak ada yang melakukan perlawanan, dan senjata tajam itu tidak ada satu pun di rumah klien kami akan tetapi di rumah-rumah yang lain sekitar Tytyan," kata Anton, melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/3/2021).

"Serta semua senjata tajam itu dikatakan para saksi tidak bergerak dan tidak digunakan," imbuhnya.

Selain itu, kata Anton setelah empat kali persidangan para saksi-saksi yang dihadirkan JPU, ataupun para saksi yang dihadirkan di bawah sumpah saling bertentangan. Juga keterangannya tidak saling mendukung fakta hukum yang ada.

"Saksi korban yang tangannya terkena bacokan mengatakan ketika pertama kali dibacok, menggunakan helm dan masker. Sedangkan saksi yang berprofesi ojek online yang melihat dari jarak sekitar dua meter, menekankan bahwa korban itu tidak menggunakan helm," tutur Anton.

"Kemudian saksi Nus Kei mengatakan ada papan board yang ditulis target pembunuhan, akan tetapi saksi Yoseph yang mengakui anak buah John Kei dan pernah ikut rapat tentang pembunuhan, malah mengatakan sebaliknya yaitu tidak ada papan board yang ditulis target-target pembunuhan. Semua keterangan saksi tak saling mendukung, jadi bebaskan John Kei!" lanjutnya.

Belum lagi, kata Anton para saksi yang kerap ditegur majelis hakim, lantaran keterangannya tak konsisten dan berbelit-belit.
Anton menegaskan, hingga kini tak ada satu bukti apapun adanya keterlibatan John Kei dalam perkara ini.

"Ingat lho, ada tujuh teori pembuktian yang harus disajikan JPU untuk membuktikan minimal dua alat bukti dan menggoda keyakinan hakim apakah seseorang bisa dipidana," tuturnya.

Teori pembuktian ini antara lain direct evidence yaitu bukti langsung, yang menurutnya bertentangan antar saksi dan tidak jelas atau kabur. Juga indirect evidence atau bukti tidak langsung, yang juga dianggap tidak jelas atau kabur.

"Bagaimana dengan teori pembuktian yang lain? Dalam hukum pidana itu, pembuktian harus lebih terang dari cahaya. Jangankan perkara besar yang menyedot perhatian publik, perkara kecil pun pembuktian harus jelas. Bahaya di pidana itu, karena ada hak konstitusional di sana. Ada orang yang akan dipenjara lho," jelasnya.

Terlebih, kata Anton didapati fakta adanya kuasa dari John Kei ke seorang pengacara, untuk menagih uang Rp 2 miliar ke Nus Kei. "Apa pidananya untuk John Kei? Bahkan sangat terang penagihannya dan keperdataannya," ucapnya.

Lebih lanjut Anton berharap, JPU datang ke persidangan bukan untuk menang, akan tetapi untuk membuka semua fakta hukum dan untuk mencari keadilan. Begitu pula pihaknya sebagai pengacara, yang juga tak zalim dengan siapa pun.

Jika memang ada perbuatan pidana, tutur Anton, pihaknya hadir bukan untuk meniadakan pidana tersebut. Tapi hanya mengurangi, agar efek jera dan membuat pelaku itu berubah menjadi baik.

"Dalam persidangan anak-anak John Kei di Tangerang, kami sebagai pengacara meminta katakan siapa yang menyerang, menggunakan apa dan apa alasannya. Mereka semua bicara jujur di pengadilan. Dalam perkara di Jakarta Barat ini, peristiwa Kosambi di mana mereka sebenarnya tidak tahu daerah Green Lake karena mobil mereka isi bensin sendiri, kemudian menyusul dan menanyakan ke warga di mana perumahan Green Lake," paparnya.

"Kemudian terjadilah pertemuan dengan anak-anaknya Nus di sana. Terjadilah keributan dan korban, para terdakwa bahkan mengakui dalam persidangan kemarin bahwa merekalah yang melakukan pembacokan tersebut," lanjut Anton.

Lebih lanjut doktor hukum pidana ini meminta, majelis hakim dapat melihat secara jernih perkara tersebut, sesuai pembuktian yang disajikan oleh JPU dan pengacara. Agar nantinya dapat memutus seadil-adilnya dan membebaskan John Kei.

"Serta memutuskan pisau belati kecil dari pemberian estafet dari leluhurnya agar dikembalikan ke klien kami John Kei. Karena klien kami akan melanjutkan pemberian pisau belati kecil itu ke anaknya kelak," tutur Anton.

"Kami selalu percaya kredibilitas, integritas, objektivitas majelis hakim dan selalu mendoakan agar majelis hakim diberikan rahmat, kesehatan, rezeki yang berlimpah, berkah dan selalu dimudahkan pekerjaannya. Takbir!" tandas pengacara yang dijuluki Monster Persidangan ini.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Didominasi XBB dan BQ.1

Kasus positif Covid-19 selama satu minggu ini mengalami penurunan meski di 12 provinsi justru terjadi peningkatan.

NEWS | 2 Desember 2022

Lebih 200 WNI Pemetik Buah di Inggris Terkatung-katung dan Terbelit Utang

Lebih dari 200 WNI yang bekerja memetik buah di Inggris hidup terkatung-katung dan terbelit utang hingga ratusan juta rupiah.

NEWS | 2 Desember 2022

Suara Bulat, Komisi I DPR Setujui Yudo Margono Jadi Panglima TNI

Komisi I DPR menyetujui Laksamana Yudo Margono sebagai Panglima TNI dengan suara bulat, tanpa lewat voting.

NEWS | 2 Desember 2022

Pemberhentian dengan Hormat Jenderal Andika Perkasa Disetujui

Komisi I DPR menyetujui pemberhentian dengan hormat Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai Panglima TNI, Jumat (2/12/2022).

NEWS | 2 Desember 2022

Hasil Gelar Perkara Tambang Ilegal Tak Disampaikan, Ini Alasan Polri

Bareskrim Polri menyatakan tidak menyampaikan hasil gelar perkara kasus tambang ilegal untuk kepentingan investigasi selanjutnya.

NEWS | 2 Desember 2022

Hingga Hari Ini, Gempa Susulan di Cianjur Terjadi 373 Kali

Gempa susulan di Cianjur, Jawa Barat hingga saat ini sudah terjadi sebanyak 373 kali hingga hari ini, Jumat (2/12/2022) sore.

NEWS | 2 Desember 2022

Telkom Raih Penghargaan Indonesia's SDGs Action Awards 2022

Penghargaan ini diserahkan Menteri Bappenas Suharso Monoarfa dan diterima langsung oleh Direktur Human Capital Management (HCM) Telkom, Afriwandi.

NEWS | 2 Desember 2022

Zulhas: PAN Pertimbangkan Aspirasi Dukung Ganjar untuk 2024

Zulhas menampung aspirasi dari DPW PAN Jawa Tengah (Jateng) untuk mencalonkan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden PAN di Pemilu Presiden 2024.

NEWS | 2 Desember 2022

Hingga Hari Ini, Rumah Rusak Akibat Gempa Cianjur 29.989 Unit

Bupati Cianjur Herman Suherman mengungkapkan, total rumah rusak akibat gempa Cianjur, Jawa Barat hingga hari ini, Jumat (2/12/2022) mencapai 29.989 unit.

NEWS | 2 Desember 2022

Pemilu 2024, Yudo Margono Pastikan TNI Bakal Netral

Laksamana Yudo Margono memastikan bahwa TNI akan tetap netral pada pelaksanaan Pemilu 2024 mendatang.

NEWS | 2 Desember 2022


TAG POPULER

# Penumpang Air Asia Diseret


# Tenda Sakinah


# Piala Dunia 2022


# Paspampres Perkosa Kostrad


# Sidang Ferdy Sambo


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Stephanie Frappart, Wanita Pertama Pimpin Laga Piala Dunia

Stephanie Frappart, Wanita Pertama Pimpin Laga Piala Dunia

SEMESTA BOLA 2022 | 4 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE