Israel dan Palestina Didesak Ambil Pilihan Berani

Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Jumat, 3 Juni 2016 | 23:52 WIB
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault saat tiba di pertemuan internasional dan antar menteri yang bertujuan membangkitkan proses perdamaian Israel-Palestina, di Paris, Jumat, 3 Juni 2016.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault saat tiba di pertemuan internasional dan antar menteri yang bertujuan membangkitkan proses perdamaian Israel-Palestina, di Paris, Jumat, 3 Juni 2016. (AFP Photo)

Paris – Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault mengingatkan, pada Jumat (3/6), tentang harapan tercapainya solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina yang sedang berada dalam bahaya serius tanpa adanya proses perdamaian di meja perundingan.

Menurut Ayrault – yang menjadi tuan rumah pertemuan internasional di Paris – pihaknya berupaya kembali menghidupkan proses perdamaian yang nyaris mati karena solusi yang akan akan memperlihatkan Israel dan Palestina hidup berdampingan itu "semakin jauh setiap harinya."

"Kita harus mengambi tindakan, mendesak, untuk mempertahankan solusi dua negara, dan kembali menghidupkannya sebelum terlambat. Kami memilih sebagai perpanjangan tangan untuk Israel dan Palestina. Kami harap mereka dapat menerimanya," pungkas Ayrault usai pertemuan.

Dalam pernyataan yang dirilis oleh semua yang hadir juga kembali menegaskan dukungannya terhadap solusi dua negara.

"Para peserta khawatir dengan situasi di lapangan, khususnya tentang tindak kekerasan dan kegiatan ermukiman yang berkelanjutan karena dapat membahayakan prospek solusi dua negara," bunyi pernyataan.

Sebelumnya, Presiden Prancis Francois Hollande mendesak Israel dan Palestina untuk membuat pilihan berani demi perdamaian. Hal itu disampaikan pada saat dia membuka konferensi konflik di Paris, Jumat.

Adapun tujuan pertemuan tersebut adalah untuk meletakkan landasan dasar bagi konferensi perdamaian selengkapnya yang akan diadakan di akhir tahun. Beberapa pihak juga merasa yakin akan ada kemajuan sejati yang dihasilkan.

Namun dari pihak Israel maupun Palestina tidak ada yang diundang untuk menghadiri pembicaraan, dan Israel sangat marah dibandingkan dengan inisiatif Prancis tentang perjanjian Sykes-Picot 1916 yang menghasilkan keputusan penyusunan perbatasan-perbatasan di kawasan itu.

Meskipun Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry menghadiri konferensi tersebut, tapi Washington menyatakan pihaknya yakin konferensi ini hanya mencapai sedikit atau tidak ada yang dicapai.

Menurut Hollande, solusi tersebut harus datang dari kawasan Timur Tengah. Kendati, pada akhirnya ini akan diserahkan kepada Israel dan Palestina untuk membuat pilihan perdamaian yang berani.

"Pembahasan mengenai syarat-syarat perjanjian terakhir antara Israel dan Palestina harus memperhitungkan seluruh daerah," katanya kepada perwakilan dari sekitar 25 negara, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa (UE), dan Liga Arab.

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kapolri Benarkan Pilot Susi Air Kapten Philips Disandera KKB Papua

Kapolri Benarkan Pilot Susi Air Kapten Philips Disandera KKB Papua

NEWS
Kapolri: Pilot dan Penumpang Susi Air yang Diamankan KBB Papua Sedang Dicari

Kapolri: Pilot dan Penumpang Susi Air yang Diamankan KBB Papua Sedang Dicari

NEWS
Gempa Turki, 104 WNI Tak Punya Tempat Tinggal Layak dan Segera Dievakusi ke Ankara

Gempa Turki, 104 WNI Tak Punya Tempat Tinggal Layak dan Segera Dievakusi ke Ankara

NEWS
Dubes RI: Gempa Turki, Ibu dan 2 Anak dari Indonesia Hilang Kontak

Dubes RI: Gempa Turki, Ibu dan 2 Anak dari Indonesia Hilang Kontak

NEWS
Erick Thohir Jelaskan ke Jokowi Simbol Baju Banser yang Dipakainya Saat Puncak 1 Abad NU

Erick Thohir Jelaskan ke Jokowi Simbol Baju Banser yang Dipakainya Saat Puncak 1 Abad NU

NEWS
Video Membeludaknya Warga Nahdliyin di Puncak 1 Abad NU

Video Membeludaknya Warga Nahdliyin di Puncak 1 Abad NU

NEWS

BERITA TERKINI

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon