Logo BeritaSatu

Setara Institute Nilai Perlindungan HAM Belum Jadi Perhatian Polri

Kamis, 1 Juli 2021 | 19:05 WIB
Oleh : Fana F Suparman / WM

Jakarta, Beritasatu.com - Setara Institute menyatakan, Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghadapai tantangan yang semakin kompleks, khususnya bekerja di tengah pandemi Covid-19. Menjabat sejak Januari 2021, visi Listyo menjadikan Polri "Presisi" atau prediktif, responsibilitas dan transparansi berkeadilan belum dapat menunjukkan perubahan berarti di tubuh Korps Bhayangkara.

Advertisement

Untuk itu, bertepatan dengan Hari Bhayangkara yang jatuh pada hari ini, Kamis (1/6/2021), Setara Institute menyampaikan sejumlah catatan evaluatif atas kinerja reformasi Polri.

Direktur Eksekutif Setara Institute, Ismail Hasani memaparkan, secara umum, tingkat kepuasan terhadap institusi Polri terus bergerak meningkat, sejalan dengan upaya-upaya perbaikan yang terus dilakukan. Visi Presisi Polri yang juga menjadi landasan kerja presisi, telah membukukan tingkat kepuasan masyarakat terhadap Polri cukup signifikan. Survei Litbang Kompas (Februari 2021) menunjukkan angka 74,4% institusi Polri sebagai institusi yang dipercaya publik.

Sedangkan survei Cyrus Network (Juni 2021) menempatkan Polri pada angka 86,2% sebagai institusi yang dipercaya publik. Sebagai hasil survei, tingkat kepercayaan publik merupakan akumulasi persepsi dari seluruh kinerja Polri, yang tidak sepenuhnya mampu mendeteksi masalah-masalah detail partikular yang masih melekat dalam tubuh Polri.

Dikatakan, jika dipotret dengan menggunakan kerangka pemolisian demokratik sebagai standar kepatuhan institusi negara di tengah arus dan tuntutan masyarakat demokratik, maka Polri adalah subjek yang harus menjalankan kewajiban untuk memberi penghormatan (to respect), perlindungan (to protect), dan pemenuhan (to fulfill) terhadap HAM. Dalam pandangan Jeremy Travis, (1998), pemolisian demokratik menuntut Polri bekerja berdasarkan dan dalam kerangka menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi manusia.

"Oleh Polri, keharusan patuh pada prinsip HAM dituangkan dalam Peraturan Kapolri 8/2009 Tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri," kata Ismail dalam keterangannya, Kamis (1/7/2021).

Dikatakan, di tengah pandemi Covid-19, Polri menjadikan kinerja penanganan Covid-19 sebagai indikator kinerja utama (IKU) pimpinan-pimpinan Polri di setiap jenjang. Pilihan Polri mengutamakan kesehatan publik merupakan bagian dari upaya perlindungan dan pemenuhan HAM bagi rakyat.

"Dalam konteks penanganan Covid-19, banyak pihak mengapresiasi kinerja Polri, termasuk penggunaan perspektif human security, yang meletakkan manusia sebagai sentral dan orientasi kinerja keamanan," katanya.

Meski diapresiasi soal penanganan Covid-19, Ismail membeberkan sejumlah catatan evaluatif kinerja Polri terkait perlindungan HAM. Dikatakan, perlindungan HAM belum memperoleh perhatian dan menjadi prioritas Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

"Beberapa peristiwa justru menunjukkan kontradiksi dengan konsepsi pemolisian demokratik," ungkapnya.

Ismail mencontohkan, kultur kekerasan yang masih tumbuh subur di internal Polri. Ditekankan, kultur tersebut secara nyata mencerminkan tidak dipahaminya ‘responsibilitas’ dalam konsep Polri Presisi. Beberapa peristiwa menunjukkan peragaan kekerasan seperti dalam penanganan demonstrasi #ReformasiDikorupsi tahun 2019 dan demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja pada 2020 lalu. Bentuk tindakan kekerasan Polri dapat berupa penganiayaan, pengeroyokan, pemukulan, intimidasi penghapusan video kekerasan aparat dan lain-lain.

"Selain itu, tercatat juga adanya pembatasan akses informasi, hingga tindakan penghalang-halangan akses bantuan hukum bagi demonstran yang ditangkap," katanya.

Tindak kekerasan aparat selalu menjadi kritik berbagai organisasi masyarakat dari tahun ke tahun, termasuk oleh Komnas HAM. Bahkan, kata Ismail, pada aksi #ReformasiDikorupsi pada 24-30 September 2019, Komnas HAM mencatat ada dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Polri.

"Dalam catatan Komnas HAM pun, Polri menjadi lembaga yang paling banyak diadukan kepada Komnas HAM sepanjang 2020, di antaranya terkait lambannya penanganan kasus, dugaan kriminalisasi, proses hukum tidak sesuai prosedur, dan dugaan kekerasan," paparnya.

Dikatakan, kultur kekerasan juga terlihat dalam peristiwa yang terjadi di ruang tahanan Polri. Kasus Herman, salah seorang tahanan yang tewas di sel Mapolresta Balikpapan pada Desember 2020 menjadi cerminan puncak gunung es peristiwa serupa. Dalam kasus Herman, Polri telah menetapkan enam anggotanya sebagai tersangka. Kekerasan dan dugaan praktik penyiksaan terjadi karena model penyelidikan, interogasi yang dilakukan anggota Polri untuk memperoleh pengakuan dan informasi dengan cara kekerasan seharusnya menjadi masa lalu, karena bertentangan dengan pemolisian demokratik.

Praktik kekerasan juga dialami oleh Luthfi (20), pemuda pembawa bendera yang viral saat demo di DPR memberikan kesaksian di hadapan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (20/1/2020). Luthfi mengaku dianiaya oleh penyidik kepolisian saat dimintai keterangan di Polres Jakarta Barat, yang bertujuan memperoleh pengakuan bahwa dirinya telah melempar batu kepada aparat kepolisian yang saat itu tengah mengamankan aksi di depan Gedung DPR/MPR.

"Dalih kepolisian bahwa si korban dianiaya oleh tahanan lain, bukanlah pembenaran yang bisa diterima, tetapi justru menunjukkan kompleksitas praktik penyiksaan ini, mulai dari dugaan dilakukan pihak kepolisian, tahanan lain, kelalaian kepolisian dalam menjaga para tahanan, hingga ketidakmampuan kepolisian dalam menjamin rasa aman, penegakan hukum, dan HAM setiap tahanan," katanya.

Selain kekerasan dan dugaan praktik penyiksaan, Setara Institute juga menyoroti isu penggunaan senjata api oleh aparat kepolisian. Dikatakan Ismail, penggunaan senjata api sering dinilai bukan lagi berorientasi untuk melumpuhkan target tetapi mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang atau beberapa orang warga negara. Polri sendiri sebenarnya telah memiliki Peraturan Kepolisian 1/2009 Tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, yang mengatur tahapan dan orientasi penggunaan senjata api, sebagai bagian dari standar yang harus dipatuhi oleh anggota Polri.

Namun, dalam sejumlah kasus, seperti peristiwa penembakan enam anggota Laskar Pembela Islam (FPI) pada 7 Desember 2020, penembakan terhadap seorang berinisial ZA (25) yang melakukan penyerangan di Mabes Polri pada 31 Maret lalu, serta penembakan terhadap seorang DPO kasus judi di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, menunjukkan bahwa kepatuhan pada Perkap 1/2009 tersebut masih belum sepenuhnya diinternalisasi dan dipedomani.

Ismail menilai, dalam kasus-kasus penembakan yang mematikan, semestinya Polri menerbitkan white paper sebagai bagian dari akuntabilitas penggunaan senjata api, yang menjelaskan kepada publik tentang peristiwa-peristiwa tersebut dan level keberbahayaannya, sehingga tidak menimbulkan kontroversi.

"White paper itulah yang akan menjadi ruang pembelaan Polri untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, termasuk memberikan pengakuan jujur tentang potensi unprocedural conduct dan pelanggaran, sehingga valid memberikan sanksi kepada anggota, termasuk memberikan sanksi yang serius," katanya.

Dalam kesempatan ini, Ismail juga membeberkan tantangan lain yang harus dijawab Polri. Salah satunya, memastikan memastikan proses hukum dan penegakan hukum secara adil dan presisi. Dikatakan, penundaan proses hukum dalam beberapa kasus, telah menimbulkan ketertundaan orang-orang yang berurusan dengan hukum memperoleh keadilan. Padahal justice delayed is justice denied seharusnya dipedomani oleh Polri.

"Menunda proses diperolehnya keadilan adalah sama saja menyangkal keadilan itu sendiri. Perbaikan tata kelola di reserse Polri adalah kebutuhan mendesak untuk Polri yang presisi," katanya.

Lebih jauh, Ismail menilai selama enam bulan menjabat, Listyo telah melakukan sejumlah inisiatif dan kebijakan baru seperti mainstreaming restorative justice dalam penyelesaian jenis perkara pidana tertentu, pengetatan pedoman penggunaan UU ITE untuk menghindari over-kriminalisasi penyampaian pendapat dan ekspresi dan penanganan intoleransi dan radikalisme secara akuntabel adalah modal untuk terus memperbaiki kinerja Polri. Penting bagi Polri untuk membuktikan bahwa penegakan hukum sepenuhnya ditujukan untuk mencetak keadilan bagi rakyat bukan untuk mencetak prestasi di mata kekuasaan, sebagaimana selama ini sering dituduhkan.

"Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo masih mempunyai cukup waktu untuk menunaikan dan mewujudkan janji yang tertuang dalam visi ‘Polri Presisi’ dengan terus bekerja presisi berdasarkan aspirasi masyarakat demokratis," katanya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Satu Abad NU, Denny Malik Tertantang Buat Koreografi untuk 12.000 Anggota Banser

Denny Malik mengaku tertantang menjadi koreografer bagi 12.000 anggota Banser saat puncak peringatan Harlah Satu Abad NU atau Nahdlatul Ulama. 

NEWS | 28 Januari 2023

Tempat Penimbunan BBM di Cilegon Kebakaran, Terdengar Suara Ledakan

Kebakaran melanda tempat penimbunan BBM di Kota Cilegon, Jumat (27/1/2023) malam. Terdengar beberapa kali suara ledakan. Sebanyak 2 mobil dan 6 motor hangus.

NEWS | 28 Januari 2023

Angkot Terbalik dan Tabrak 2 Motor di Mandailing Natal, 1 Orang Tewas

Kecelakaan lalu lintas terjadi di Mandailing Natal. Sebuah angkot menabrak motor yang menyebabkan satu orang meninggal dan tiga lainnya terluka. 

NEWS | 28 Januari 2023

Puncak Peringatan Harlah Satu Abad NU Digelar 7 Februari 2023

Puncak Peringatan Harlah Satu Abad NU atau Nahdlatul bakal digelar meriah dan diramaikan sejumlah musisi ternama Tanah Air pada 7 Februari 2023. 

NEWS | 28 Januari 2023

29 Rumah di Lumajang Rusak Diterjang Angin Puting Beliung

Sebanyak 29 rumah warga di Dusun Krajan, Desa Barat, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang rusak diterjang angin puting beliung, Jumat (27/1/2023). 

NEWS | 28 Januari 2023

KLHK Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan yang Adil dan Nyata

KLHK memperkuat kerja sama dan kolaborasi antar pihak guna mendorong penegakan hukum lingkungan yang adil dan berdampak nyata.

NEWS | 28 Januari 2023

Ibu Mahasiswa UI: Anak Saya Ditabrak dan Dilindas, Mungkinkah Jadi Tersangka?

Ira Adi Saputra, ibu almarhum Hasya Atallah mahasiswa UI yang tewas ditabrak mengaku kecewa sang anak justru ditetapkan polisi sebagai tersangka.

NEWS | 27 Januari 2023

Jurusan Bisnis Masih Pilihan Favorit Calon Mahasiswa

Rektor IBI Kwik Kian Gie, Hisar Sirait mengatakan belajar di jurusan bisnis menjadi investasi masa depan karena membuka kesempatan di pasar kerja global.

NEWS | 28 Januari 2023

Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi III Dorong Humas Perguruan Tinggi Kolaborasi

Dikti mendorong agar Humas perguruan tinggi dapat berkolaborasi antarperguruan tinggi maupun dengan media massa.

NEWS | 27 Januari 2023

Sopir Audi A8 Bantah Tabrak Mahasiswi Cianjur Selvi Amalia

Yudi Junadi, kuasa hukum keluarga Selvi Amalia Nuraini menyatakan, sopir mobil Audi A8 sudah membantah jadi pelaku tabrak lari mahasiswi Cianjur itu. 

NEWS | 27 Januari 2023


TAG POPULER

# Serial Killer


# Mahasiswa UI Ditabrak


# Tukang Becak Bobol BCA


# Biaya Haji 2023


# Pembunuhan di Depok


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Puncak Peringatan Harlah Satu Abad NU Digelar 7 Februari 2023

Puncak Peringatan Harlah Satu Abad NU Digelar 7 Februari 2023

NEWS | 14 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE