Logo BeritaSatu

Kisah Tragis dalam Kabin 4 Pesawat Amerika yang Dibajak

Rabu, 8 September 2021 | 12:32 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com – Selasa pagi, 11 September 2001, cuaca di wilayah timur Amerika Serikat cerah dan jutaan orang siap untuk bekerja.

Ada yang berangkat ke Menara Kembar, gedung megah yang menjadi ciri kompleks World Trade Center di New York City. Ada juga yang pergi ke Arlington, Virginia, ke Gedung Pentagon.

Advertisement

Di sepanjang Sungai Potomac, Kongres Amerika Serikat kembali memulai masa persidangan. Di ujung lain Pennsylvania Avenue, pengunjung mengantre untuk tur ke Gedung Putih.

Di Sarasota, Florida, Presiden George W. Bush berangkat untuk jogging. Bagi yang menuju bandara, kondisi cuaca tampak sempurna untuk penerbangan yang aman dan menyenangkan.

Tidak ada warga Amerika yang mengira pagi yang indah itu akan mengawali serangan teroris paling dahsyat di negara superpower tersebut dan menjadi tragedi penerbangan sipil paling mengerikan dalam sejarah dunia.

Empat pesawat dibajak kelompok teroris -- dua ditubrukkan ke Menara Kembar di New York, satu menghantam Gedung Pentagon dan satu lagi jatuh dalam perjalanan ke Washington DC, entah menargetkan Gedung Capitol atau Gedung Putih.

Dalam laporan yang disusun komisi khusus berjudul The 9/11 Commission Report diuraikan secara mendetail peristiwa yang mengubah sejarah dunia tersebut untuk mengungkap kebenaran sampai ke fakta terkecil, mengetahui mana yang salah dan tidak sesuai prosedur, dan memberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang.

Kisah berikut dirangkum dari laporan setebal 585 halaman itu di bagian yang khusus menguraikan peristiwa di masing-masing pesawat yang dibajak, untuk mengenang peristiwa 20 tahun silam dan melihat bagaimana pemahaman ideologi secara ekstrem bisa mengubah manusia menjadi pembunuh yang tidak kenal belas kasih dan rasa takut bagi sesamanya.

Para pembajak yang kemudian diketahui sebagai anggota al Qaeda beroperasi dalam empat tim – tiga tim beranggotakan lima orang dan satu tim beranggotakan empat orang.

Pembajakan American 11
Pesawat American Airlines nomor penerbangan 11, selanjutnya disebut American 11, melayani rute Boston-Los Angeles. Hari itu, pesawat diterbangkan oleh Pilot John Ogonowski dan Ko-Pilot Thomas McGuinness. Di dalam pesawat Boeing 767 itu juga ada sembilan awak pesawat untuk melayani 81 penumpang, termasuk lima teroris.

Pesawat lepas landas pada pukul 7:59 waktu setempat. Sekitar 15 menit, ketinggian pesawat sekitar 26.000 kaki, masih di bawah jadwal yang seharusnya 29.000 kaki.

Semua data komunikasi dan penerbangan normal. Sekitar waktu itu, tanda fasten seatbelt atau kencangkan sabuk keselamatan biasanya dimatikan dan pramugari mulai melayani penumpang.

Juga pada saat itu, American 11 mengakhiri komunikasi rutin dengan menerima instruksi navigasi dari pusat pengendali lalu lintas udara (air traffic control/ATC) di Boston.

Enambelas detik setelah transmisi terakhir, ATC memerintahkan pilot menambah ketinggian hingga 35.000 kaki. Pesan ini dan upaya berikutnya untuk mengontak pesawat tidak direspons.

Dari fakta ini, diduga aksi pembajakan dimulai pukul 8:14 atau tidak lama setelah itu.

Kisah Tragis dalam Kabin 4 Pesawat Amerika yang Dibajak

Dua pramugari bernama Betty Ong dan Madeline “Amy” Sweeney kemudian bertindak luar biasa dengan terus memberi informasi soal kejadian di dalam kabin sampai saat terakhir.

Pembajakan dimulai oleh dua pelaku, diyakini sebagai Wail al Shehri dan Waleed al Shehri yang duduk di kelas 1 baris kedua. Mereka menikam dua kru pesawat yang sedang bersiap melayani penumpang.

Tidak diketahui bagaimana para pembajak bisa masuk kokpit. Menurut regulasi Badan Penerbangan Federal (FAA), pintu kokpit harus selalu tertutup dan terkunci selama penerbangan.

Menurut dugaan Ong, pelaku mungkin memaksa masuk.

Ada beberapa kemungkinan kenapa pembajak bisa masuk kokpit, seperti ditulis dalam laporan tersebut.

Teroris mungkin menikam kru pesawat untuk mendapat kunci kokpit, atau memaksa salah satu dari mereka untuk membuka pintu, atau memancing pilot atau ko-pilot keluar kokpit, atau bisa jadi ada kru yang sedang membuka pintu dan masuk kokpit.

Mohamed Atta, yang duduk di kelas bisnis, adalah satu-satunya pembajak yang sudah mendapat pelatihan pilot pesawat jet. Pada saat itu dia mungkin sudah menduduki kokpit, diduga ditemani oleh Aziz al Omari.

Saat peristiwa berlangsung, penumpang bernama Daniel Lewin yang duduk di baris belakang Atta dan Omari ditikam oleh salah satu pembajak, kemungkinan Satam al Suqami, yang duduk tepat di belakang Lewin.

Lewin pernah bertugas empat tahun di militer Israel. Ada kemungkinan dia berusaha bertindak untuk menghentikan para pembajak di depannya, tidak sadar ada satu lagi yang duduk persis di belakangnya.

Para pembajak segera menguasai pesawat dan menyemprotkan Mace, senjata sejenis semprotan merica, atau senjata iritan lainnya di kabin kelas 1 guna memaksa penumpang dan kru pindah ke bagian belakang pesawat. Mereka juga menggertak penumpang dengan mengatakan membawa bom.

Sekitar lima menit setelah aksi dimulai, Betty Ong mengontak kantor American Airlines di Cary, North Carolina, menggunakan telepon AT&T untuk melaporkan situasi darurat penerbangan.

Komunikasi darurat berlangsung sekitar 25 menit -- Ong dengan tenang dan profesional memberi informasi tentang rentetan peristiwa di kabin kepada petugas di darat.

Pukul 8:19, Ong mengatakan: “Kokpit tidak menjawab, ada orang ditikam di kelas bisnis, saya duga ada Mace karena kami jadi susah bernapas – saya tidak tahu, saya pikir kami sedang dibajak.”

Lalu, dia mengatakan dua kru juga ditikam.

Pukul 8:21, pegawai American Airlines yang menerima informasi dari Ong di North Carolina mengontak kantor pusat di Fort Worth, Texas. Upaya kantor pusat menghubungi kokpit juga gagal. Mereka lalu menghubungi ATC di Boston sekitar pukul 8:29.

Ternyata ATC Boston sudah tahu krisis yang terjadi. Pasalnya, pada pukul 8:25 para pembajak mencoba berkomunikasi dengan penumpang lewat mikrofon tetapi justru terhubung ke ATC.

Salah satu pembajak terdengar mengatakan: “Jangan ada yang bergerak. Semua akan baik-baik saja. Jika Anda mencoba bertindak, Anda hanya akan membahayakan diri sendiri dan pesawat. Tetap tenang.”

Petugas ATC mendengar transmisi itu, Ong tidak.

Para pembajak kemungkinan tidak paham bagaimana mengoperasikan sistem komunikasi radio di kokpit sehingga secara tidak sengaja mengirim pesan ke ATC bukan ke kabin penumpang.

Juga pada pukul 8:25 dan 8:29, pramugari Amy Sweeney mengontak kantor American Flight Services di Boston tetapi suaranya terpotong setelah dia melaporkan ada yang terluka di pesawat. Tiga menit kemudian, Sweeney terhubung kembali ke kantor itu dan mulai mengirim informasi ke manajer bernama Michael Woodward.

Pukul 8:26,Ong mengatakan pesawat “terbang bergoyang-goyang”. Semenit kemudian, pesawat belok ke selatan. Kantor American Airlines mulai mengindentifikasi pembajak setelah Ong lalu diikuti Sweeney memberi nomor kursi penumpang yang menerobos masuk kokpit.

Sweeney dengan nada tenang melaporkan ke kantor di Boston bahwa pesawat telah dibajak, seorang pria di kelas 1 digorok lehernya, dua kru pesawat ditikam -- satu luka parah dan menggunakan tabung oksigen, satu lagi luka ringan, kru tidak bisa mengontak kokpit, dan ada bom di kokpit.

Dia menambahkan bersama Ong akan terus memberi informasi ke darat.

Pukul 8:38, Ong mengatakan pesawat kembali bergoyang.

Saat yang sama Sweeney mengatakan para pembajak berwajah Timur Tengah dan memberi tahu nomor kursi tiga dari mereka. Para pembajak masuk kokpit dan dia tidak tahu bagaimana caranya. Pesawat kehilangan ketinggian dengan cepat.

Pukul 8:41, Sweeney mengatakan seperti ada kondisi darurat medis di kabin kelas 1.

Pukul 8:44, petugas di North Carolina kehilangan kontak dengan Ong. Saat yang sama Sweeney melaporkan: “Ada yang tidak beres. Kami menukik dengan cepat . . . kami bergelimpangan di sini.”

Petugas di Boston meminta Sweeney melihat ke jendela untuk bisa memperkirakan posisi mereka. Sweeney menjawab: “Kami terbang rendah. Kami terbang sangat-sangat rendah. Kami terbang terlalu rendah.”

Beberapa detik kemudian dia mengatakan: “Ya Tuhan, kami terlalu rendah!” Sambungan telepon kemudian terputus.

Pukul 8:46:40, American 11 menabrak menara utara gedung World Trade Center di New York City. Semua orang di pesawat dan orang-orang dalam gedung yang belum dipastikan jumlahnya tewas seketika.

Pembajakan United 175
Pesawat United Airlines nomor penerbangan 175, selanjutnya disebut United 175, dijadwalkan berangkat ke Los Angeles pukul 8:00 dengan pilot Kapten Victor Saracini dan Ko-Pilot Michael Horrocks. Pesawat Boeing 767 itu membawa tujuh awak pesawat dan 56 penumpang.

United 175 meninggalkan Bandara Logan, Boston, Massachusetts, pukul 8:14. Lalu pada 8:33 sudah mencapai ketinggian jelajah 31.000 kaki, ketika awak pesawat seharusnya memulai aktivitas layanan kabin.

Ketika United 175 lepas landas, pesawat American 11 sedang dibajak. Pukul 8:42 kru United 175 melaporkan “transmisi mencurigakan” yang terdengar dari pesawat lain (kemudian diketahui American 11) beberapa saat setelah mereka lepas landas. Itu merupakan komunikasi terakhir United 175 dengan petugas di darat.

Para pembajak mulai menyerang antara pukul 8:42 dan 8:46. Mereka menggunakan pisau (seperti dilaporkan oleh seorang kru dan dua penumpang), semprotan merica Mace (dilaporkan seorang penumpang), dan ancaman bom (dilaporkan penumpang yang sama).

Mereka menikam beberapa kru pesawat (dilaporkan seorang kru dan seorang penumpang). Dua pilot di kokpit dibunuh (dilaporkan seorang kru).

Kesaksian para saksi mata didapat dari sambungan telepon yang dilakukan di bagian belakang pesawat oleh para penumpang yang awalnya duduk di kabin bagian depan, indikasi bahwa para penumpang dan kru dipindahkan ke bagian belakang.

Tampaknya, pembajak di United 175 dan American 11 menggunakan taktik yang sama. Terduga ketua tim pembajak di dua pesawat itu, Atta di American 11 dan Marwan al Shehhi di United 175, sempat bicara selama 3 menit lewat telepon saat mereka sama-sama di Bandara Logan dari terminal berbeda.

Selain Shehhi, empat pembajak lain di United 175 diidentifikasi sebagai Fayez Banihammad, Mohand al Shehri, Ahmed al Ghamdi, dan Hamza al Ghamdi.

Bukti pertama yang menunjukkan situasi tidak normal di United 175 datang pukul 8:47, ketika pesawat mengubah kode beacon dua kali dalam semenit. Pukul 8:51, pesawat menyimpang dari ketinggian yang diharuskan dan semenit kemudian ATC New York berulang kali mencoba mengontak tanpa hasil.

Pukul 8:52 di Easton, Connecticut, pria bernama Lee Hanson menerima panggilan telepon dari putranya, Peter, penumpang di United 175.

Putranya mengatakan: “Saya pikir mereka sudah mengambil alih kokpit. Seorang kru telah ditikam — dan seseorang di bagian depan mungkin sudah dibunuh. Pesawat membuat gerakan-gerakan yang aneh. Hubungi United Airlines. Sampaikan ke mereka, ini Penerbangan 175, dari Boston ke LA.”

Lee Hanson kemudian menelepon Kepolisian Easton dan menyampaikan apa yang dia dengar.

Juga pada pukul 8:52, seorang kru pesawat pria menelepon kantor United di San Francisco, mencari Marc Policastro. Kru itu melaporkan bahwa pesawat telah dibajak, dua pilot dibunuh, seorang kru lain ditikam, dan kemungkinan pesawat sedang diterbangkan oleh para pembajak.

Pembicaraan itu berlangsung sekitar 2 menit, dan setelahnya Policastro bersama seorang rekannya sia-sia mengontak kokpit.

Pukul 8:58, pesawat mulai mengarah ke New York City.

Pukul 8:59, penumpang bernama Brian David Sweeney mencoba mengubungi istrinya, Julie. Dia meninggalkan pesan di mesin penjawab bahwa pesawat sudah dibajak.

Lalu, dia menelepon ibunya, Louise Sweeney, mengatakan pesawat sudah dibajak dan para penumpang berencana menyerbu kokpit untuk merebut kendali dari para pembajak.

Pukul 9:00, Lee Hanson menerima telepon kedua dari Peter:

“Ini makin buruk Ayah. Seorang pramugari ditikam. Mereka tampaknya punya pisau dan Mace. Mereka bilang punya bom. Para penumpang terlempar dan mabuk. Pesawat bergerak liar. Saya pikir bukan pilot yang menerbangkan pesawat. Saya pikir kami bakal jatuh. Saya pikir mereka ingin ke Chicago atau tempat lain dan terbang ke sebuah bangunan. Jangan khawatir Ayah, jika itu terjadi, akan sangat cepat. Ya Tuhan, ya Tuhan.”

Suara telepon putus mendadak.

Lee Hanson sempat mendengar jeritan perempuan sebelum sambungan telepon terputus. Dia menyalakan televisi, demikian juga Louise Sweeney di rumahnya.

Mereka berdua menyaksikan pesawat kedua yang menghantam World Trade Center.

Pukul 9:03:11, United Airlines nomor penerbangan 175 menghantam menara selatan World Trade Center. Semua orang di pesawat dan orang dalam gedung yang belum diketahui jumlahnya tewas seketika.

Kisah Tragis dalam Kabin 4 Pesawat Amerika yang Dibajak

Pesawat United 175 yang dibajak menuju ke arah menara selatan World Trade Center di New York pada 11 Sept. 2001. (AFP)

Pembajakan American 77

Pesawat American Airlines nomor penerbangan 77, selanjutnya disebut American 77, dijadwalkan berangkat dari Bandara Washington Dulles menuju Los Angeles pukul 8:10. Pesawat Boeing 757 itu dipiloti Charles F. Burlingame dengan Ko-Pilot David Charlebois. Dengan ditemani empat kru, mereka menerbangkan 58 penumpang. American 77 lepas landas pukul 8:20.

Pukul 8:46, pesawat mencapai ketinggian jelajah 35.000 kaki, ketika layanan kabin dimulai.

Pukul 8:51, American 77 mengirim transmisi radio rutin yang terakhir. Pembajakan dimulai antara pukul 8:51 dan 8:54.

Seperti halnya di penerbangan American 11 dan United 175, para pembajak juga menggunakan pisau (dilaporkan seorang penumpang) dan memindahkan semua penumpang (kemungkinan juga kru) ke bagian belakang pesawat (dilaporkan seorang kru dan seorang penumpang).

Tidak seperti di dua kasus sebelumnya, para pembajak di American 77 juga membawa cutter pembuka kardus, menurut kesaksian seorang penumpang.

Akhirnya, seorang penumpang melaporkan ada pengumuman oleh “pilot” bahwa pesawat telah dibajak.

Tidak ada satu pun saksi mata yang melaporkan ada penusukan atau ancaman bom atau semprotan merica Mace, meskipun para saksi itu awalnya duduk di kelas satu di kabin terdepan.

Pukul 8:54, pesawat menyimpang dari jalurnya dan berbelok ke selatan.

Dua menit kemudian, transponder pesawat dimatikan dan bahkan radar primer pesawat juga hilang.

ATC di Indianapolis berulangkali mencoba mengontak pesawat tetapi gagal. Hal serupa dialami para petugas American Airlines.

Pukul 9:00, Wakil Presiden Eksekutif American Airlines Gerard Arpey mengatakan komunikasi dengan American 77 sudah hilang sama sekali. Pesawat kedua maskapai itu sekarang dalam masalah.

Dia memerintahkan seluruh penerbangan American Airlines di timur laut yang belum lepas landas untuk tetap di darat.

Menjelang pukul 9:10, curiga bahwa American 77 telah dibajak, markas maskapai menyimpulkan bahwa pesawat kedua yang menghantam World Trade Center kemungkinan adalah American 77.

Setelah tahu bahwa United Airlines juga kehilangan sebuah pesawat, kantor pusat American Airlines memperluas larangan terbang ke seluruh negeri.

Pukul 9:12, Renee May menelepon ibunya, Nancy May, di Las Vegas. Dia mengatakan pesawatnya dibajak oleh enam orang yang memerintahkan penumpang untuk pindah ke bagian belakang. Dia meminta ibunya memberi tahu American Airlines. Nancy May dan suaminya menuruti permintaan itu.

Antara pukul 9:16 dan 9:26, Barbara Olson menelepon suaminya, Ted Olson, yang menjabat pengacara negara. Dia mengatakan pesawat dibajak dan para pelaku membawa pisau dan cutter.

Menurutnya, para pembajak tidak tahu kalau dia menelepon dan semua penumpang sudah dipindah ke bagian belakang pesawat.

Sekitar semenit kemudian, pembicaraan terputus. Sang suami lalu menghubungi Jaksa Agung John Ashcroft tetapi gagal tersambung.

Tidak lama kemudian, Barbara Olson menghubungi suamnya lagi. Menurutnya, pilot mengumumkan kalau pesawat sudah dibajak dan dia meminta saran ke suaminya apa yang harus dikatakan kepada pilot. Ted Olson bertanya soal lokasi pesawat, dijawab bahwa pesawat "terbang di atas rumah-rumah".

Seorang penumpang memberi tahu kalau mereka terbang arah timur laut. Olson lalu memberi tahu istrinya tentang dua kasus pesawat yang dibajak sebelumnya dan jatuh. Sang istri tidak menunjukkan ekspresi panik dan tidak mengindikasikan kalau dia tahu pesawatnya bakal jatuh sebentar lagi. Saat itu, sambungan kembali terputus.

Pukul 9:29, sistem autopilot American 77 dimatikan; pesawat di ketinggian 7.000 kaki dan hanya 38 mil (60,8 km) sebelah barat Pentagon.

Pukul 9:32, pengawas di pengawasan radar Dulles Terminal mengamati adanya “target radar primer ke arah timur dengan kecepatan tinggi". Kemudian disimpulkan citra dalam radar itu adalah American 77.

Pukul 9:34, Bandara Ronald Reagan Washington National mengingatkan Secret Service atau pasukan pengamanan presiden tentang pesawat tak dikenal yang mengarah ke Gedung Putih. Saat itu, American 77 hanya 5 mil dari Pentagon dan mulai berbelok 330 derajat.

Setelah selesai berbelok, pesawat menurunkan ketinggian ke 2.200 kaki, diarahkan ke Pentagon dan pusat kota Washington. Pembajak yang menjadi pilot lalu meningkatkan tenaga pesawat hingga batas maksimum, menukik ke Pentagon.

Kisah Tragis dalam Kabin 4 Pesawat Amerika yang Dibajak

Para pembajak diidentifikasi sebagai Khalid al Mihdhar, Majed Moqed, Hani Hanjour dan dua bersaudara Nawaf al Hazmi dan Salem al Hazmi. Tiga yang disebut terakhir duduk di kabin kelas 1.

Pukul 9:37:46, American 77 menghantam Pentagon dengan kecepatan sekitar 530 mil (848 km) per jam.

Semua orang di pesawat dan pegawai sipil dan personel militer di dalam gedung terbunuh.

Kisah Tragis dalam Kabin 4 Pesawat Amerika yang Dibajak

Foto udara dua hari setelah serangan 11 September 2001 menunjukkan sisi Gedung Pentagon di Washington yang hancur ditabrak pesawat penumpang yang dibajak teroris. (National Archives Catalog)

Pembajakan United 93
Pukul 8:42, pesawat United Airlines nomor penerbangan 93, selanjutnya disebut United 93, lepas landas dari Bandara Internasional Liberty di Newark, New Jersey menuju San Francisco.

Pesawat Boeing 757 itu dipiloti Kapten Jason Dahl dan Ko-Pilot Leroy Homer, dengan lima kru. Hanya ada 37 penumpang, termasuk para pembajak.

Penerbangan sempat tertunda dari jadwal semula pukul 8:00 karena padatnya lalu lintas udara pagi itu.

Saat United 93 meninggalkan Newark, kru pesawat belum tahu adanya kasus pembajakan American 11. Sekitar pukul 9:00, FAA, American Airlines, dan United Airlines mulai sadar adanya kasus pembajakan berantai. Pukul 9:03, mereka menyaksikan pesawat kedua yang menabrak World Trade Center. Namun, para manajer krisis di FAA dan maskapai belum memperingatkan pesawat-pesawat lain.

Di saat yang sama, ATC Boston menyadari ada pesan yang dikirim sebelum pukul 8:25 dari pembajak yang mengendalikan American 11 termasuk kalimat: “We have some planes” [Kami menguasai beberapa pesawat].

Tidak seorang pun di FAA maupun maskapai yang pernah berhadapan dengan pembajakan berantai. Dalam 30 tahun terakhir belum pernah ada kasus seperti itu, dan di Amerika belum pernah sekali pun terjadi.

Saat berita tentang pembajakan berantai mulai menyebar ke FAA dan maskapai, para petinggi mereka belum melihat perlunya memperingatkan pesawat-pesawat lain di udara bahwa mereka mungkin juga berisiko.

United 175 dibajak antara pukul 8:42 dan 8:46, dan kesadaran soal itu mulai menyebar setelah pukul 8:51.

American 77 dibajak antara pukul 8:51 dan 8:54.

Pada pukul 9:00, para pejabat FAA dan maskapai mulai menduga bahwa para pelaku juga mengejar pesawat-pesawat lain. Instruksi larangan terbang nasional oleh American Airlines diterbitkan antara pukul 9:05 dan 9:10, diikuti oleh United Airlines.

Para pengawas FAA di ATC Boston yang melacak dua pesawat yang dibajak sebelumnya meminta Pusat Komando Herndon untuk “mengirim pesan ke semua pesawat yang mengudara agar meningkatkan keamanan di kokpit”, pukul 9:07.

Tidak ada bukti Herndon melakukan tindakan itu. ATC Boston segera bersepkulasi bahwa pesawat lain mungkin dalam bahaya, dan mengkhawatirkan pembajakan di pesawat Delta 1989 — yang faktanya aman-aman saja.

Pukul 9:19, kantor cabang FAA di New England menghubungi Herndon dan meminta ATC Cleveland mengingatkan Delta 1989 untuk meningkatkan keamanan kokpit.

Sejumlah pejabat FAA mengatakan pemberitahuan masalah keamanan dalam pesawat adalah tanggung jawab maskapai. Juga disebutkan bukan wewenang FAA untuk memerintahkan maskapai agar menyampaikan pesan ke para pilot.

Hal seperti ini tidak mencerminkan peran dan tanggung jawab FAA dalam bidang keselamatan penerbangan.

Maskapai juga bertanggung jawab. Mereka dihadapkan pada berbagai laporan berbeda dan kadang keliru soal penerbangan maskapai lain, dan minim informasi dari FAA soal pesawat yang dibajak.

Namun, tidak ada bukti bahwa American Airlines mengirim peringatan untuk keamanan kokpit di semua pesawatnya pada hari itu. United baru mengirim peringatan pada pukul 9:19, ketika petugas pemantau Ed Ballinger menghubungi 16 pesawat yang sedang di udara dan berpesan: “Awas ada upaya menyusup ke kokpit. Dua a/c [aircraft] menabrak World Trade Center.”

Salah satu pesawat yang menerima peringatan itu adalah United 93. Namun, karena Ballinger masih mengurusi penerbangan-penerbangan lain termasuk United 175 yang dibajak, peringatan dia baru terkirim ke United 93 pukul 9:23.

Berdasarkan semua keterangan, 46 menit pertama penerbangan United 93 berlangsung rutin. Komunikasi radio masih normal. Arah terbang, kecepatan, dan ketinggian sesuai rencana.

Pukul 9:24, peringatan Ballinger diterima di kokpit United 93. Dua menit berikutnya, Pilot Jason Dahl merespons dengan nada tidak yakin: “Ed, tolong konfirmasi pesan terakhir—Jason.”

Para pembajak mulai menyerang pukul 9:28. Saat itu United 93 terbang dengan ketinggian 35.000 di atas wilayah timur Ohio, dan mendadak turun sebanyak 700 kaki.

Sebelas detik saat pesawat mulai turun, ATC di Cleveland menerima transmisi radio dua kali. Yang pertama, pilot atau ko-pilot berteriak “Mayday! Mayday!” di tengah suara seperti ada pergulatan fisik di kokpit.

Transmisi radio kedua, 35 detik kemudian, mengindikasikan bahwa perkelahian di kokpit masih berlangsung. Kapten atau ko-pilot terdengar berteriak: “Hei keluar dari sini! Keluar dari sini, keluar dari sini!”

Dalam pesawat hanya ada 37 penumpang, termasuk empat pembajak yang diidentifikasi sebagai Saeed al Ghamdi, Ahmed al
Nami, Ahmad al Haznawi, dan Ziad Jarrah. Mereka semua menempati kabin kelas 1.

Jarrah di kursi 1B, paling dekat dengan kokpit, Nami di 3C, Ghamdi di 3D, dan Haznawi di 6B.

Jumlah penumpang total di bawah angka normal untuk ukuran Selasa pagi di musim panas. Namun, tidak ada bukti bahwa para pembajak telah memanipulasi tingkat keterisian atau memborong tiket kursi untuk mendukung operasi mereka.

Para teroris yang membajak tiga pesawat lain masing-masing bergerak dalam tim sebanyak lima orang dan mulai menyerbu kokpit sekitar 30 menit setelah lepas landas.

Namun, dalam penerbangan United 93, serangan dilakukan 46 menit setelah lepas landas dan hanya ada empat pembajak.

Terduga pelaku lainnya bernama Mohamed al Kahtani ditolak masuk oleh petugas imigrasu di Orlando International Airport, Florida, bulan sebelumnya.

Sejumlah penumpang mengatakan hanya ada tiga pembajak.

Tim komisi penyelidik menduga bahwa pelaku bernama Jarrah yang pernah mendapat pelatihan pilot, tetap duduk dan tidak bertindak sampai kokpit direbut teman-temannya. Begitu dia masuk kokpit, Jarrah tidak terlihat lagi oleh para penumpang lainnya.

Pukul 9:32, salah satu pelaku yang diduga adalah Jarrah, memberi pengumuman ke penumpang: “Ibu Bapak, di sini kapten. Mohon tetap duduk. Kami punya bom di pesawat, jadi duduk saja.”

Rekaman data dari flight data recorder mengindikasikan bahwa Jarrah kemudian menyetel sistem autopilot untuk memutar balik pesawat dan menuju ke timur.

Rekaman suara dari cockpit voice recorder mengindikasikan bahwa seorang perempuan, kemungkinan awak pesawat, disandera di dalam kokpit. Dia berjuang melawan pembajak yang kemudian entah membunuhnya atau membungkamnya.

Tidak lama setelah itu, para penumpang dan awak pesawat mulai menelepon lewat perangkat di pesawat atau ponsel. Pembicaraan dengan keluarga, teman dan rekan kerja berlangsung sampai akhir penerbangan sehingga orang-orang di darat mendapat kesaksian langsung dari dalam kabin.

Komunikasi dengan telepon ini juga membuat para penumpang di kabin mendapat informasi penting, termasuk kabar bahwa dua pesawat telah menghantam World Trade Center.

Pukul 9:39, ATC Cleveland mendengar pengumuman kedua, bahwa ada bom di pesawat, bahwa pesawat kembali ke bandara, dan bahwa penumpang harus tetap duduk.

Pengumuman ini dimaksudkan untuk mengelabui para penumpang, yang justru tidak mendengarnya karena salah sambung. Jarrah, seperti Atta di pesawat yang lain, sepertinya tidak paham bagaimana mengoperasikan radio dan interkom.

Tidak ada petunjuk bahwa mereka berdua pernah benar-benar menerbangkan pesawat penumpang sebelumnya.

Setidaknya dua orang mengatakan para pembajak tahu kalau para penumpang menelepon, tetapi rupanya tidak peduli.

Cukup mungkin kalau Jarrah sudah tahu kesuksesan serangan di World Trade Center.

Dia bisa melihatnya di pesan yang dikirim oleh United Airlines ke kokpit pesawat-pesawat lain, termasuk United 93, yang memperingatkan soal upaya menerobos kokpit dan kabar serangan di New York.

Namun tanpa pesan itu, dia juga pasti sudah paham kalau serangan ke World Trade Center sudah atau masih berlangsung karena United 93 berangkat terlambat.

Sedikitnya 10 penumpang dan dua awak pesawat memberi informasi ke keluarga, teman, rekan kerja dan orang dekat lainnya di darat. Mereka semua tahu bahwa pesawat telah dibajak, pelaku membawa pisau dan mengklaim punya bom.

Para pembajak memakai bandana merah dan memaksa para penumpang pindah ke bagian belakang.

Para saksi menyebutkan seorang penumpang ditikam dan dua orang tergeletak di lantai kabin, entah terluka atau sudah tewas, kemungkinan adalah pilot dan ko-pilot. Satu saksi mengatakan seorang awak kabin sudah dibunuh.

Tidak ada saksi yang melihat pelaku membawa senjata api.

Dari penyelidikan di lokasi pesawat jatuh juga tidak ada bukti serpihan senjata, demikian juga rekaman suara kokpit tidak mengindikasikan adanya suara letusan senjata atau penyebutan senjata api dalam percakapan.

Menurut Biro Penyidik Federal (FBI), tidak ada bukti bahan peledak di lokasi pesawat jatuh.

Sedikitnya lima saksi mengatakan ada keinginan dari para penumpang untuk melakukan perlawanan, setelah mendengar kabar tentang World Trade Center dari penerima telepon di darat.

Salah satu saksi mengatakan ada pemungutan suara soal itu, kemudian diputuskan untuk bertindak.

Pukul 9:57, serangan oleh para penumpang dimulai. Sejumlah penumpang memutus hubungan telepon agar bisa ikut bertindak.

Salah satunya mengatakan: “Semua orang berlari ke kabin kelas 1. Saya harus pergi. Selamat tinggal.”

Perangkat cockpit voice recorder merekam suara-suara serangan penumpang yang menggedor pintu kokpit. Sebagian kerabat yang kemudian mendengarkan rekaman itu mengatakan mereka bisa mengidentifikasi suara orang yang dikenalnya ikut terlibat dalam perlawanan.

Di dalam kokpit, Jarrah merespons dengan secara mendadak menggoyangkan pesawat ke kiri dan ke kanan untuk menjatuhkan para penumpang.

Pukul 9:58:57, Jarrah meminta pembajak lain di kokpit untuk menghalangi pintu dan kembali menggoyang pesawat. Para penumpang terus melawan.

Pukul 9:59:52, Jarrah mengubah taktik dengan menaik-turunkan hidung pesawat.

Alat perekam memperdengarkan suara-suara benturan keras, teriakan, dan kaca pecah.

Pukul 10:00:03, Jarrah menstabilkan pesawat.

Lima detik kemudian, Jarrah bertanya: “Apa sudah waktunya? Kita akhiri sekarang?”

Seorang pembajak menjawab: “Jangan, belum. Begitu mereka semua datang, kita selesaikan.”

Suara-suara perlawanan masih berlanjut di luar kokpit. Lagi, Jarrah mengangkat dan menurunkan hidung pesawat.

Pukul 10:00:26, seorang penumpang berteriak: “Di dalam kokpit. Jika kita tidak lakukan, kita mati!”

Enambelas detik kemudian, seorang penumpang berteriak: “Dorong!” [Kemungkinan penumpang menggunakan troli makanan untuk mendobrak pintu kokpit]

Jarrah menghentikan manuver drastis pesawat sekitar pukul 10:01:00 dan berteriak: “Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Kemudian, dia bertanya lagi: “Sudah sekarang? Maksudku, kita tarik turun?” Dijawab oleh yang lain: “Ya, tarik turun, tarik turun.”

Para penumpang melanjutkan serangan dan pada pukul 10:02:23, seorang pembajak berteriak: “Tarik turun! Tarik turun!”

Para pembajak tetap menguasai pesawat tetapi ketika itu mereka tampaknya menilai para penumpang bakal mengalahkan mereka dalam beberapa detik.

Pesawat menukik turun, setir mengarah tajam ke kanan. Pesawat berguling dengan punggung di bawah dan seorang pembajak mulai berseru: “Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Suara perlawanan penumpang masih terdengar, sampai pesawat akhirnya jatuh di lahan kosong di Shanksville, Pennsylvania, dengan kecepatan 580 mil (928 km) per jam, hanya 20 menit jarak penerbangan dari Washington DC.

Sasaran Jarrah adalah menabrakkan pesawat ke simbol Amerika, yaitu Gedung Capitol atau Gedung Putih. Dia dikalahkan oleh para penumpang United 93 yang tidak bersenjata.

Kisah Tragis dalam Kabin 4 Pesawat Amerika yang Dibajak

Joe Biden meletakkan karangan bunga di Flight 93 National Memorial pada peringatan 19 tahun serangan teror 9/11 di Shanksville, Pennsylvania, 11 Sept. 2020. (AFP)



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Prabowo Diyakini Profesional Jadi Orkestrator Info Intelijen

Ketua Komisi I DPR, Meutya Hafid meyakini Menhan Prabowo Subianto akan bekerja profesional sebagai orkestrator informasi intelijen.

NEWS | 27 Januari 2023

Sudinkes Jakpus Catat Peningkatan Kasus Campak pada Anak

Sempat menurun pada akhir tahun 2022 lalu, kasus penyakit campak di wilayah Jakarta Pusat kembali mengalami peningkatan pada awal tahun 2023.

NEWS | 27 Januari 2023

Kasus Perintangan Penyidikan, Ini yang Memberatkan Arif Rachman Arifin

Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut agar majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan hukuman 1 tahun  penjara pada Arif Rachman Arifin

NEWS | 27 Januari 2023

Pasukan Israel Serang Tepi Barat, 10 Warga Palestina Tewas

Pasukan Israel menyerang wilayah Tepi Barat yang menewaskan 10 warga Palestina pada Kamis (26/1/2023).

NEWS | 27 Januari 2023

Vape Masuk Perda KTR Surabaya, Sanksi Denda Diterapkan

Ery Cahyadi menyatakan, Pemkot Surabaya akan memberikan sanksi tegas bagi para perokok, baik penguna rokok konvensional maupun rokok elektrik atau vape.

NEWS | 27 Januari 2023

Keluarga Mahasiswa UI yang Ditabrak Pertanyakan SP3

Keluarga mahasiswa UI yang tewas ditabrak, Muhammad Hasya Athallah Saputra, mempertanyakan terbitnya SP3 kasus tersebut.

NEWS | 27 Januari 2023

Wali Kota Depok Sebut Larangan Vape Sudah Diatur dalam Perda KTR

Pemkot Depok mengeklaim larangan vape atau rokok elektrik sudah diterapkan sejak ditetapkannya Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok Nomor 02 Tahun 2020.

NEWS | 27 Januari 2023

Kasus Perintangan Penyidikan, Arif Rachman Arifin Dituntut 1 Tahun Penjara

JPU menuntut Arif Rachman Arifin dihukum penjara 1 tahun karena terlibat dalam perintangan penyidikan kasus pembunuhan Brigadir J.

NEWS | 27 Januari 2023

Kualitas Udara Kota Bangkok Tak Sehat, Warga Disarankan Tetap di Rumah

Kualitas udara di Kota Bangkok telah mencapai tingkat tidak sehat dengan penduduk di ibu kota Thailand disarankan untuk menghindari atau mengurangi aktivitas di luar.

NEWS | 27 Januari 2023

Mahasiswa Hasya Tewas Ditabrak Pensiunan Polisi Malah Tersangka, Iluni UI Turun Gunung

Mahasiswa UI Hasya Athalah tewas diduga ditabrak oleh pensiunan polisi di Jagakarsa, Jakarta Selatan ditetapkan tersangka.

NEWS | 27 Januari 2023


TAG POPULER

# Pleidoi Ferdy Sambo


# Serial Killer


# RUU Kesehatan


# Insiden Lion Air


# Biaya Haji 2023


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Hiatus Dua Tahun, Zayn Malik Siap Rilis Album Baru

Hiatus Dua Tahun, Zayn Malik Siap Rilis Album Baru

LIFESTYLE | 4 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE