Logo BeritaSatu

Guru Besar IPB Beberkan Penyebab Konflik Pertanahan Kerap Terjadi

Jumat, 17 September 2021 | 16:50 WIB
Oleh : Vento Saudale / FFS

Bogor, Beritasatu.com - Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Sudarsono Soedomo membeberkan penyebab konflik pertanahan atau konflik agraria kerap terjadi di wilayah Indonesia. Jebolan Doktor S3 University of Missouri- Columbia, USA itu pun memberikan solusi dan langkah-langkah agar keluar dari kemelut agraria ini.

“Ada dualisme kelembagaan dalam ekonomi politik pertanahan Indonesia dengan dampak yang luar biasa hingga hari ini dan beberapa dekade yang akan datang,” ungkapnya dalam Pra Orasi Guru Besar IPB pada Kamis, (16/9/2021).

Advertisement

Sudarsono menjelaskan, kehendak untuk melakukan penataan agraria yang lebih adil setelah lepas dari masa penjajahan ditandai dengan lahirnya UU 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria (UUPA). Hingga hari ini, UUPA belum dapat dijalankan sepenuhnya. Bahkan 2/3 tanah Indonesia tidak tunduk pada UUPA.

Dalam kondisi demikian, katanya, terdapat negara dalam negara yang dicikalbakali oleh terbitnya UU 5 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan (UUPK). Menurutnya, salah satu dampak paling dahsyat dari dualisme kelembagaan tersebut adalah alokasi tanah di Indonesia yang sangat timpang.

Sebanyak 64% tanah Indonesia dikuasai dan dipergunakan secara eksklusif oleh sektor kehutanan dan sisanya 36% dipergunakan untuk berbagai keperluan.

Di sisi lain, alokasi untuk hutan produksi mencapai 68 juta hektare. Padahal, banyak dari hutan produksi dalam keadaan tidak berhutan. Sementara, sebagai perbandingan, luas sawah beririgasi sebagai penghasil makanan pokok hanya 7 juta hektare.

“Celakanya, kemampuan menghutankan kembali tidak ada tetapi sektor lain tidak dapat menggunakannya. Semboyan yang digunakan kira-kira seperti ini, 'lebih baik tetap dikuasai sektor kehutanan, meskipun tidak produktif daripada digunakan sektor lain yang memberi kemakmuran lebih besar',” katanya.

Penguasaan tanah yang begitu dominan, sayangnya, tidak diimbangi dengan kinerja yang memadai, untuk tidak mengatakan sangat tidak memberi harapan kemakmuran.

Hal ini dapat dilihat dari kontribusi sektor kehutanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang kurang dari 1%. Angka itu menunjukkan terjadinya inefisiensi pendayagunaan tanah yang sangat luar biasa. Apalagi, sumbangan yang sangat tidak berarti tersebut masih diiringi dengan kecenderungan yang semakin menurun sejak pertengahan dekade 90-an.

“Situasi semacam ini tentu saja harus segera dihentikan agar dampaknya tidak semakin luas dan semakin sulit diatasi, terutama menyakut ketahanan pangan nasional,” jelas guru besar kelahiran 1956 itu.

Pada periode akhir Orde Lama hingga awal Orde Baru, ekonomi Indonesia sangat terpuruk. Pemerintah perlu dana tunai cepat dan segera mendorong investasi.

Ketika itu, kecuali Pulau Jawa, sebagian besar permukaan tanah semua pulau masih ditutupi oleh
hutan alam primer. Kayu dalam hutan sangat berlimpah.

Investasi penambangan kayu meningkat pesat dan negara memperoleh uang tunai dengan cepat. Hutan alam menjadi mesin uang ketika itu. Dengan ilusi hutan alam yang melimpah menjadi mesin uang yang melimpah secara berkelanjutan maka banyak areal diklaim sebagai “kawasan hutan”.

Setiap upaya memperbaiki alokasi tanah demi pembangunan agar lebih efisien selalu menghadapi resistensi yang luar biasa dari kehutanan.

“Inilah penyakit kehutanan. Akibatnya, hutan alam yang dahulu melimpah menjadi sebuah kutukan. Banyak pemukiman dan tanah rakyat yang terperangkap di dalamnya,” beber Prof Sudarsono.

Atas dasar itu, Sudarsono memberikan sejumlah solusi yang perlu diambil pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Sudarsono meminta pemerintah menjadikan sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagai kriteria utama penggunaan lahan sesuai Pasal 33 UUD 1945.

Pemerintah diminta menyusun tata ruang dengan melibatkan semua sektor sebagai keputusan politik negara untuk memilah tanah menjadi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kemudian mengkontestasikan penggunaan tanah pada kawasan budidaya yang memberi kebebasan kepada penggunanya untuk menentukan usahanya, menempatkan urusan tanah pada lembaga non-sektor atau non-teknis dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terbatas mengurus hutan saja.

“Reforma agraria perlu diperluas ke reforma industri pertanian primer agar ada sumber pendapatan baru bagi petani,” paparnya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Pemkot Jakpus Bangun 4 Embung Cegah Banjir di Cempaka Putih

Pemkot Jakpus membangun embung di Kecamatan Cempaka Putih untuk menampung air hujan. Selain itu, untuk mencegah potensi banjir.

NEWS | 31 Januari 2023

Covid-19 Subvarian Kraken, Pemerintah: Disiplin Prokes Diperlukan

Kemunculan Covid-19 subvarian Omicron XBB 1.5 atau Kraken mengingatkan masih perlunya memperkuat disiplin penerapan protokol kesehatan.

NEWS | 31 Januari 2023

Polda Metro Respons Pengakuan Wanita dalam Audi yang Tabrak Mahasiswi di Cianjur

Polda Metro Jaya merespons pengakuan penumpang wanita di sedan Audi A6 yang menabrak mahasiswi Selvi Amalia Nuraeni di Cianjur, hingga tewas.

NEWS | 30 Januari 2023

Politeknik Tridaya Virtu Morosi Selenggarakan Studi Vokasi Industri

Politeknik Tridaya Virtu Morosi menyelenggarakan program studi vokasi industri dan bertekad mencetak serta membentuk SDM unggul dan berkompeten.

NEWS | 31 Januari 2023

Siap-siap, Rekrutmen Calon ASN 2023 Bakal Segera Dibuka

Menteri PANRB Abdullah Azwar Anas rekrutmen Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) tahun 2023 bakal segera dibuka.

NEWS | 31 Januari 2023

BPJS Kesehatan Diprediksi Kembali Defisit tahun 2024

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) memprediksi aset bersih dana jaminan sosial atau DJS kembali defisit pada tahun 2024.

NEWS | 30 Januari 2023

Polri Kirim 15 Personel Jadi Penyidik di KPK Selama 4 Tahun

Polri mengirimkan 15 personel untuk diperbantukan menjadi penyidik di KPK. Mereka akan bertugas selama empat tahun ke depan.

NEWS | 30 Januari 2023

Habiburokhman: Tak Elok Giring Kaesang ke Gerindra

Habiburokhman mengungkapkan tidak elok rasanya menggiring putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep masuk ke Gerindra.

NEWS | 30 Januari 2023

Soal Reshuffle Kabinet, Waketum PPP Sebut Dengar Kabar

Terkait perombakan atau reshuffle Kabinet Indonesia Maju yang akan dilakukan Presiden Joko Widodo, PPP menyatakan belum memperoleh informasi.

NEWS | 31 Januari 2023

KUHP Baru Jadi Cermin Indonesia dalam Wajah Hukum Pidana

KUHP baru secara filosofis memiliki perbedaan dengan KUHP lama karena memiliki nilai dan kepribadian Indonesia sebagai bangsa merdeka.

NEWS | 30 Januari 2023


TAG POPULER

# Serial Killer


# Mahasiswa UI Ditabrak


# Tukang Becak Bobol BCA


# Biaya Haji 2023


# Pembunuhan di Depok


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Daewoong Percepat Ekspansi Global Pertumbuhan Obat Gerd Fexuprazan

Daewoong Percepat Ekspansi Global Pertumbuhan Obat Gerd Fexuprazan

EKONOMI | 20 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE