Logo BeritaSatu

Demensia, Pengemudi Lawan Arah Tak Layak Tersangka

Rabu, 1 Desember 2021 | 20:05 WIB
Oleh : Yudo Dahono / YUD

Jakarta, Beritasatu.com- Polisi telah menetapkan MDS (66), pengemudi Mercedes, sebagai tersangka atas kasus kecelakaan yang terjadi di Tol JORR. Seperti diketahui mobil Mercedes yang dikemudikan MDS melawan arus sehingga menghantam dua kendaraan lain di ruas tol tersebut. Menurut praktisi hukum Ricky Vinando, pengemudi Mercedes yang melawan arah di jalan Tol JORR tidak layak dipidana karena mengalami demensia.

Pengemudi tersebut mengalami demensia berdasarkan riwayat penyakit yang dideritanya dan sudah 2 tahun dilarang mengemudikan mobil.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo menerangkan, penetapan tersangka berdasar hasil gelar perkara. Sambodo menyebut, MDS patut diduga melanggar pasal kelalaian sebagaimana dalam Pasal 310 Ayat 1 Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kemarin sudah diadakan gelar perkara terhadap Mercy tersebut. Jadi, statusnya sudah jadi tersangka," kata Sambodo di Polda Metro Jaya, Selasa (30/11/2021).

Atas penetapan tersangka tersebut, praktisi hukum Ricky Vinando angkat bicara. Menurutnya, pengemudi Mercy yang lawan arah di jalan Tol JORR tidak layak dipidana karena mengalami demensia. Menurut Ricky, pengemudi itu tak bisa lagi menggunakan otaknya dengan normal saat mengemudikan mobil akibat sel saraf otaknya ada yang mengalami kerusakan yang disebabkan oleh demensia yang dialami pengemudi itu.

"Pak tua mengalami demensia, maka dia tak layak dipidana sekalipun pasal kelalaian. Karena kelalaian itu berasal dari kata lalai artinya kurang hati-hati dan itu terkait kemampuan berpikir dan berpikir berkaitan dengan sel saraf otak. Sedangkan demensia telah mengakibatkan rusaknya sel saraf otak, sehingga otomatis menganggu, merusak dan mengubah cara berpikir, menurunkan kemampuan berpikir, ikut mengubah prilaku seseorang yang tadinya normal menjadi tidak normal," ujar Ricky melalui keterangan, Rabu (1/12/2021).

"Itu terbukti ada pada pak tua itu sampai lawan arah bahkan sampai halusinasi mau kerja padahal sudah lama pensiun, sehingga rusaknya sel saraf otak pengemudi itu membuatnya sama sekali tidak takut lawan arah di jalan tol, dan apa yang diperbuat pengemudi Mercy di tol JORR yaitu melawan arah, itu tak bisa dianggap sebagai kelalaian, karena orang demensia tidak kenal dengan kelalaian," tandas Ricky.

Ricky memaparkan bahwa, pengemudi demensia dan mengendarai mobil hingga mengakibatkan kecelakaan akibat melawan arus di jalan tol, ini tergolong sesuatu yang baru dalam hukum pidana Indonesia, sehingga menurutnya hal ini menarik untuk menjadi perdebatan secara hukum pidana.

"Karena sejak awal pengemudi Mercy itu sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam berkendara di jalan Tol, ini terjadi karena adanya sel saraf otak yang sudah rusak, tak bisa berpikir dengan benar, itulah akibat demensia, sel saraf otaknya sudah susah memahami sesuatu. Jadi, ini sesuatu yang baru dalam hukum pidana Indonesia, menarik diperdebatkan," imbuhnya.

Menurut Ricky, orang yang mengalami demensia membuat apapun yang diperbuat termasuk seperti membunuh, itu tetap tak boleh dan tak bisa dipidana sama seperti orang dengan gangguan kejiwaan. Hal itu terjadi karena otaknya sudah tidak bisa lagi berfungsi layaknya seperti manusia normal. "Karena apa yang pengemudi Mercy itu perbuat itu di luar kemampuan dirinya. Dia tak bisa mengelak dari demensia, takdir gitu loh, mau gimana lagi," tegas Ricky.

Lantas untuk memperkuat argumentasi hukumnya, calon pengacara muda tersebut juga membuat perbandingan antara perbuatan yang dilakukan pengemudi Mercedes yang mengalami demensia dengan orang yang akan mengemudikan mobil namun dengan sadar didahului dengan perbuatan mabuk alkohol atau mengkonsumsi narkoba atau obat-obatan terlarang lainnya yang dapat memberikan pengaruh besar saat mengemudikan kendaraan nanti.

"Jadi dia sudah tak bisa lagi berpikir dengan benar dan jernih layaknya orang yang normal yang tidak terkena demensia. Dan ini sangat berbeda dengan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan pengemudinya memakai narkoba atau minum alkohol terlalu banyak. Mabuk akibat minum minuman keras kemudian mabuk berat dan tetap nyetir, itu tetap bisa dipidana karena sejak awal pengemudi mengerti, paham dan menyadari bahaya bahwa sudah tidak seharusnya minum alkohol dalam jumlah banyak atau narkoba jika tetap ingin mengendarai mobil sepulang pesta. Dia sejak awal sudah tahu akibatnya kalau mabuk dan pakai narkoba tetap bawa mobil, jadi dia sudah tahu dan sadar sejak awal," tandas Ricky.

Menurut Ricky pengemudi Mercedes ini sejak awal sudah tidak bisa lagi memahami dirinya sendiri, linglung total ketika pemeriksaan. "Bagi dia yang demensia lawan arah di Tol JORR adalah jalan yang paling benar dan tidak ada yang salah, baginya lawan arah di tol JORR tidak berbahaya, nah itu terjadi akibat adanya sel saraf yang rusak akibat demensia, jadi mempengaruhi kemampaun berpikir, dia sudah tidak bisa lagi mengerti aturan dalam berkendara di Jalan Tol," ujarnya.

"Mana yang bahaya dan mana tidak bahaya, semua sama baginya, tak ada yang bahaya, maju terus kayak di dalam game.Akibat sel syaraf otaknya yang sudah rusak dan jadi terganggu parah, sehingga sangat mengubah dan merusak caranya berpikir, mengambil keputusan, mengkhayal berhalusinasi dan ini bukan kehendaknya semua itu terjadi karena demensia akibat sel saraf otaknya yang rusak," ulasnya.

Menurut Ricky sebaiknya kasus pengemudi Mercy yang melawan arah di Tol JORR dihentikan saja atau dikeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan). Mengingat sangat tidak masuk akal sehat apabila mempidanakan orang yang demensia karena orang demensia sama sekali tidak pernah mengerti dengan perbuatan yang dilakukannya.

"Pak tua itu mengalami demensia, Kepada Bapak Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo, saran saya janganlah kasus ini dilanjut, tak layak dia jadi tersangka, di SP3 saja, karena demensia juga bukan sesuatu yang dia inginkan tapi sel sarafnya rusak seiring menuanya dia dan faktor kesehatannya yang lain. Tak masuk akal kalau tetap mempidanakan orang yang melakukan tindak pidana yang terjadi akibat adanya pengaruh dari penyakit yang dideritanya," pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Hari Ini, Gubernur Wajib Umumkan Kenaikan UMP

Pemerintah daerah wajib mengumumkan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) hari ini, Senin (28/11/2022)

NEWS | 28 November 2022

Tak Mau Pemborosan, Anwar Ibrahim Tolak Mercedes S600 untuk Mobil Dinas

PM Baru Malaysia Anwar Ibrahim menolak penggunaan Mercedes-Benz S600 untuk mobil dinasnya, karena tak mau ada pemborosan dana publik.

NEWS | 28 November 2022

Tolak RUU Kesehatan, Organisasi Profesi Kesehatan Gelar Aksi Bersama

Lima organisasi profesi terdiri dari IDI, PDGI, PPNI), IAI beserta organisasi kesehatan lainnya menggelar aksi damai bersama untuk menolak RUU Kesehatan

NEWS | 28 November 2022

Tolak RUU Kesehatan, PPNI Ingatkan DPR Tak Khianati Perjuangan Nakes

Ketua Umum Persatuan Persatuan Perawat Indonesia (PPNI) Harif Fadhilla menyampaikan orasi menolak RUU Kesehatan.

NEWS | 28 November 2022

Tiba di Ruang Sidang, Bharada E Disambut Para Pendukung

Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E disambut para pendukungnya saat tiba di ruang persidangan.

NEWS | 28 November 2022

Helikopter Polri Hilang Kontak, Nelayan Temukan Sandaran Kursi Penumpang

Terkait helikopter Polri jatuh, seorang nelayan bernama Sobri Wassholat menemukan sandaran kursi penumpang helikopter di Perairan Manggar Belitung Timur, Bangka Belitung.

NEWS | 28 November 2022

Jenazah Bripda Khoirul Anam Ditemukan di Pantai Burung Mandi

Jenazah yang ditemukan di Pantai Burung Mandi itu bernama Bripda Khoirul Anam. Ia merupakan kru helikopter Polri yang hilang kontak.

NEWS | 28 November 2022

Akses bagi Anak-Anak Buruh Tani Sawit Dapatkan Pendidikan Berkualitas

Untuk menguatkan pemulihan pembelajaran, Kepala SDN 005 Tanjung Palas Timur Ludiah Liling merancang empat strategi implementasi Kurikulum Merdeka.

NEWS | 28 November 2022

Helikopter Polri yang Hilang Kontak Diduga Jatuh karena Cuaca

Helikopter Polri yang jatuh hilang kontak di dekat perairan Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, pada Minggu (27/11/2022), diduga jatuh karena cuaca.

NEWS | 28 November 2022

Bertemu Tokoh Supremasi Kulit Putih, Donald Trump Dikritik Republikan

Mantan Presiden AS Donald Trump mendapat kritikan tajam dari sejumlah Republikan atau anggota Partai Republik.

NEWS | 28 November 2022


TAG POPULER

# Gempa Cianjur


# Piala Dunia 2022


# Vaksinasi Booster


# Pushbike


# Ferdy Sambo


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Kontribusi Asuransi Syariah Diproyeksikan Tumbuh 15%

Kontribusi Asuransi Syariah Diproyeksikan Tumbuh 15%

EKONOMI | 7 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE