Logo BeritaSatu
Sarasehan Tahun Emas Prisma

Fachry Ali: Kampus Kehilangan Tradisi Ilmiah

Sabtu, 4 Desember 2021 | 21:40 WIB
Oleh : Willy Masaharu / WM



Jakarta, Beritasatu.com – Kepala Program Penelitian LP3ES (1985-1989) Fachry Ali berpendapat, kampus semakin kehilangan tradisi ilmiah sebab jurnal ilmiah kini seperti kehilangan pembaca.

“Jurnal ilmiah Prisma setelah selama 50 tahun meneguhkan tradisi intelektual di Indonesia, kini bisa dianggap kehilangan audiens, bukan karena Prisma tidak lagi menjadi ujung tombak pemikiran intelektual di Indonesia, namun karena salah satu pilar ilmiah yakni kampus semakin kehilangan tradisi ilmiah. Otomatis Prisma mengalami situasi lingkungan yang tidak mendukung,” kata Fachry Ali, dalam webinar 50 Tahun Usia Prisma (Peluncuran Edisi Khusus Prisma di Usia 50 Tahun), di Jakarta, Sabtu (4/12/2021).

Fachry menerangkan, Herbert Feith dulu menyebutkan Prisma lah satu-satunya jurnal pemikiran yang dibaca oleh lebih dari 10.000 pembaca setiap bulan, namun di tengah situasi de-intelektualisasi saat ini Prisma masih bisa survive, tentu sesuatu yang luar biasa.

“Prisma dulu memang tidak selalu disukai penguasa, tetapi kekuasaan juga harus menaruh hormat kepadanya. Tak lain karena kekuasaan juga butuh referensi dan menjadi pusat intelektual yang menyokong ide modernisme pluralis,” katanya.

Karenanya, menyadari pentingnya wadah intelektual yang menjadi basis pemikiran dan dibaca banyak kalangan, kata Fachry, para menteri orde baru setuju dengan sistem gagasan yang disampaikan Prisma, dan ikut menulis di Prisma.

“Uniknya, beberapa Menteri orde baru juga berasal dari lingkungan Prisma sendiri, antara lain, Billy Joedono, Dorodjatun Kuntjorojakti. Jelasnya, ketika itu ada simbiosis kuat dalam lingkungan sosial politik Prisma dengan para aktor pengambil keputusan di masa itu. Posisi Prisma sebagai agent intelektual semakin dihormati,” katanya.

Dosen Universitas Paramadina Atnike Sigiro berpendapat, Prisma berhasil mencatat secara konsisten problema-problema yang tak kunjung selesai dari sejarah perkembangan Indonesia sejak awal orde baru. “Tetapi para generasi penerusnya harus menyadari munculnya tantangan-tantangan zaman baru, disrupsi dan revolusi 4.0 yang mengubah bagaimana produksi pengetahun dilakukan,” katanya.

Dikatakan Atnike, dulu sumber informasi intelektual bisa jadi hanya lewat Prisma namun kini telah semakin instan. Ada info online setiap saat, infografis, data online dan lainnya yang bisa diakses publik secara luas dari berbagai topik.

Selain itu, lanjutnya, tantangan lain dari kalangan yang ingin membangun sebuah kritisisme yang bukan hanya sebagai budaya pop, adalah tantangan dari akreditasi. Insan akademis utamanya, lebih memilih menulis di jurnal yang telah memilihi akreditasi nasional ketimbang menulis di jurnal non akreditasi seperti Prisma.

Redaktur senior Prisma Vedi R Hadiz menyatakan, selama 50 tahun, meski sempat absen 11 tahun, Jurnal Pisma berhasil memotret sejarah sosial, politik dan ekonomi Indonesia. Dengan membaca Prisma, khalayak dapat memahami perdebatan intelektual yang terjadi di Indonesia terutama terkait masalah pembangunan, dampak pembangunan, siapa yang secara tidak adil menikmati hasil pembangunan dan lain-lain hal.

“Ben Anderson mencatat, Prisma adalah upaya dari para generasi muda intelektual Indonesia pada era 1970an yang “menyusun” semacan blue print bagi masa depan Indonesia, terutama setelah berdirinya orde baru. Prisma terlihat sangat pro pada modernisasi, liberalisasi namun berbungkus pluralisme.
Tetapi ideologi liberalisme-pluralisme yang mengusung modernisasi pada akhirnya di era ‘73-‘74 tersingkir dengan mulai dibangunnya arsitektur politik orde baru yang dibidani oleh Ali Murtopo dan sekutunya, yang sifatnya malah lebih statis korporatis, otoritarian. Praktis, liberalisme ketika itu tidak lagi punya tempat,” kata Vedi.

Fachry Ali: Kampus Kehilangan Tradisi Ilmiah

Kemudian, lanjutnya, terjadi perkembangan menarik, di mana akibat dari otoriterisme dan narasi sejarah yang dibangun orde baru memunculkan sikap kritisisme terhadap orde baru. Diwakili oleh para pegiat NGO termasuk Prisma dan LP3ES.

Sementara itu, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Indonesia Timur pada Kabinet Gotong Royong, Manuel Kaisiepo menerangkan, secara historis, Prisma dan LP3ES sebetunya berjalan beriringan dengan konsolidasi kekuasan pada awal-awal orde baru.
Era 70 dan 80 an menjadi masa emas penerbitan dan peneguhan poisis intelektual Prisma di hadapan kekuasaan orde baru. Namun, Prisma menjadi semakin surut pada era 90an bersamaan dengan lengsernya Suharto,” katanya.

Dia melanjutkan, Prisma dan LP3ES juga para intelektual muda ketika itu menaruh harapan besar pada pemerintahan orde baru yang menjanjikan kehidupan demokrasi yang lebih baik ketimbang era sebelumnya. Narasi pembaharuan, modernisasi, dan demokratisasi menjadi ikon orba. Tapi ada satu hal, yakni tesis Samuel Huntington yang dirilis pada era akhir 60an dan awal 70an bahwa stabilitas politik sangat diperlukan sebagai prasyarat pembangunan ekonomi. Hal itulah yang kemudian menjadi panutan para ideolog orde baru yang mencanangkan stabilitas sebagai salah satu dari trilogi arah pembangunan yang ditetapkan kekuasaan kala itu.

“Selain itu, idealisasi pemikiran Parsonian dari sosiolog Talcott Parson yang menekankan bahwa pembangunan hanya dilakukan jika ada harmonisasi dalam masyarakat, ikut menjadi panutan dari para perencana pembangunan orde baru. Teori Huntington dan Parson kala itu juga menjadi amat populer di berbagai fakultas ilmu-ilmu sosial di Indonesia.

Penulis senior Nasir Tamara berpendapat, persoalan sustainability sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu titik lemah dari regenerasi Jurnal Pemikiran Prisma. Dibandingkan dengan satu jurnal ilmiah di Perancis yang juga sama-sama berusia 50 tahun sekarang dan berhasil melakukan regenerasi, persoalan regenerasi di lingkungan Prisma harus menjadi titik tekan untuk kesinambungan ke depan.
“Kekosongan 11 tahun Prisma pascareformasi meneguhkan adanya masalah kesinambungan regenerasi tersebut. Seorang Daniel Dakhidae (alm) harus turun gunung untuk kembali melanjutkan penerbitan Prisma. Padahal Ia sempat menyatakan bahwa Prisma adalah masa lalu yang menjadi simbol dari kekuatan intelektualisme di Indonesia,” kata dia.

Prisma, terangnya, juga semakin kehilangan kajian sosialisme, sementara salah seorang punggawanya dulu alm Soejatmoko juga berbasiskan pemikiran yang kuat pada ide-ide sosialisme. Begitu pula dengan kajian soal-soal perempuan. “Terasa benar Prisma amat kurang mengetengahkan gagasan-gagasan soal perempuan. Demikian pula kajian tentang ide-ide Mohammad Arkoun yang membawa pikiran-pikiran dekonstruksi Jacques Derrida, tak cukup berkembang di Prisma. Padahal saat ini perbincangan soal agama dan hubungan dengan politik identitas menjadi semakin penting kembali dibahas,” kata dia.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Marullah Matali Jadi Deputi Gubernur DKI, Berikut Tugasnya

Marullah Matali diangkat sebagai Deputi Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata DKI Jakarta.

NEWS | 5 Desember 2022

Hakim Tolak Keberatan Nikita Mirzani, Sidang Bakal Dilanjutkan

Sidang kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap Dito Mahendra dengan terdakwa Nikita Mirzani bakal dilanjutkan.

NEWS | 5 Desember 2022

Ricky Rizal Sempat Kepo Saat Brigadir J dan Putri Bertemu di Kamar

Ricky Rizal sempat membeberkan rasa ingin tahu yang dia alami saat Putri Candrawathi bertemu dengan Brigadir J di rumah Magelang.

NEWS | 5 Desember 2022

Cari Anggota Geng, El Salvador Turunkan 10.000 personel Keamanan Tutup Kota

El Salvador menurunkan 10.000 personel tentara dan polisi untuk menutup sebuah kota, untuk mencari anggota geng jalanan.

NEWS | 5 Desember 2022

Hakim Sebut Alasan Ricky Rizal Amankan Senjata Brigadir J Tak Masuk Akal

Hakim PN Jaksel menilai alasan Ricky Rizal atau Bripka RR mengamankan senjata Brigadir J merupakan alasan yang tidak masuk akal. 

NEWS | 5 Desember 2022

Copot Sekda DKI, Heru: Jangan Salah Paham

Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono meminta semua pihak tidak salah paham terkait pencopotan Sekda DKI Jakarta, Marullah Matali.

NEWS | 5 Desember 2022

Cak Imin: Indonesia Perlu Buat Aliansi Berbasis Komoditas

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyatakan Indonesia perlu bangun koalisi berbasis komoditas merespons kekalahan di WTO terkait pelarangan ekspor nikel.

NEWS | 5 Desember 2022

Anggota TNI Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Jalan Dewi Sartika Jaktim

Seorang anggota TNI tewas dalam kecelakaan beruntun di Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim), Senin (5/12/2022) siang.

NEWS | 5 Desember 2022

Balita Asal Depok Tewas di Apartemen, Diduga Dianiaya Pacar Ibunya

Balita perempuan berusia 2 tahun 9 bulan meninggal dunia di sebuah apartemen di Kalibata. Balita asal Depok itu diduga tewas dianiaya pacara ibunya. 

NEWS | 5 Desember 2022

Nilai Ricky Rizal Berbohong, Hakim: Kamu Enggak Sayang Anak?

Majelis hakim PN Jaksel sempat mengingatkan Ricky Rizal atau Bripka RR tentang anaknya. Hal ini karena hakim menilai Ricky Rizal berbohong dalam kesaksiannya.

NEWS | 5 Desember 2022


TAG POPULER

# Erupsi Semeru


# Rizky Febian


# Bahlil Lahadalia


# Gempa Cianjur


# Piala Dunia 2022


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
BI Prediksi The Fed Kerek Suku Bunga di Level 6 Persen

BI Prediksi The Fed Kerek Suku Bunga di Level 6 Persen

EKONOMI | 6 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE