Logo BeritaSatu

Darurat Kekerasan Seksual di Institusi Pendidikan Tanah Air

Kamis, 21 Juli 2022 | 22:36 WIB
Oleh : Jeis Montesori / AB

Jakarta, Beritasatu.com – Kekerasan seksual dalam dunia pendidikan menjadi keprihatinan serius saat ini. Beberapa institusi pendidikan telah menjadi “sarang” kejahatan seksual, sehingga tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak didik untuk menimba ilmu. Darurat kekerasan seksual sedang melanda institusi pendidikan Tanah Air. Lembaga pendidikan yang diharapkan dapat membantu memperbaiki masa depan anak justru sedang terancam, bahkan bisa menghancurkan masa depan anak didik.

Berbagai kasus kekerasan seksual yang terungkap belakangan ini terjadi di pesantren yang berada di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) dan juga sekolah dalam lingkup Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Mirisnya, sebagian kasus kekerasan seksual sudah lama terjadi dan menelan banyak korban, tetapi pelakunya baru diproses belakangan ini. Pertanyaan pun muncul: di mana peran pengawasan Kemenag, Kemendikbudristek, serta pemerintah daerah? Mengapa kasus-kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan tidak diproses secepatnya? Mengapa pelakunya dibiarkan bebas berkeliaran dan terus melakukan aksi bejatnya?

Darurat Kekerasan Seksual di Institusi Pendidikan Tanah Air
Grafis Data Kasus Kekerasan Seksual.

Salah satu kasus yang heboh menimpa santriwati di Pondok Pesantren (Ponpes) Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, Jawa Timur (Jatim). Kasus ini terjadi sejak 2019, tetapi pelakunya Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Mas Bechi berusia 42 tahun, baru diproses pada Juli 2022. Mas Bechi adalah anak kiai ternama di Jombang, KH Muhammad Mukhtar Mukthi dan menjabat wakil rektor di ponpes tersebut. Setelah polisi mengepung kompleks pesantren pada 7 Juli 2022, Mas Bechi akhirnya tak berkutik. Ia diduga mencabuli seorang anak berinisial MN dan empat santriwati lainnya di ponpes tersebut.

Mas Bechi yang telah ditetapkan sebagai tersangka dijerat dengan Pasal 285 KUHP dan Pasal 294 ayat (2) kedua huruf e KUHP, karena diduga melakukan kejahatan seksual terhadap seorang anak berinsial MN dan empat santriwati lainnya.

“Atas perbuatannya ini, MSAT terancam hukuman 12 tahun penjara," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (8/7/2022).

Dalam proses penyidikan terungkap Mas Bechi melakukan perbuatan tidak terpuji itu sejak Mei 2017. Tersangka melakukan aksi bejatnya, antara lain di Gubuk Cokro Kembang yang terletak di kawasan Pesantren Cinta Tanah Air, Kabupaten Jombang.

Kasus kekerasan seksual lainnya melibatkan oknum guru di Malang, Jawa Timur, Julianto Eka Putra (JEP). Kasus ini terjadi di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Jawa Timur. Puluhan siswa di sekolah berasrama itu diduga telah telah menjadi korban kebejatan JEP sejak 2009. Namun, para korban tidak berani mengadu karena takut dengan ancaman JEP yang merupakan guru serta motivator paling berpengaruh di sekolah itu.

Darurat Kekerasan Seksual di Institusi Pendidikan Tanah Air
Julianto Eka Putra (JEP), terdakwa pencabulan di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI.

Kasus ini baru terungkap setelah ada pengaduan dari Komnas Perlindungan Anak pada 2021 yang menerima pengaduan dari tiga korban.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait melaporkan kasus dugaan kekerasan seksual tersebut ke Polda Jatim pada Sabtu (29/5/2021). Ada belasan orang yang mengaku menjadi korban kekerasan seksual JEP dan diduga terjadi sejak 2009. Namun, hanya tiga korban yang langsung datang dan memberikan keterangan kepada penyidik.

“Kurang lebih 15 orang, yang tiga orang begitu serius persoalannya. Ada kemungkinan korban-korban baru, karena ini tidak pernah terbuka dan tidak ketahuan,” ujar Arist.

Setelah kasus tersebut terbongkar, JEP ditetapkan menjadi tersangka pada Agustus 2021, tetapi tidak ditahan. Terdakwa baru ditangkap dan ditahan pada Senin (11/7/2022).

Dalam wawancara di Podcast Close The Door yang dipandu Deddy Corbuzier, dua perempuan yang enggan disebutkan namanya itu mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual JEP sejak 13 tahun lalu. Salah satunya mengaku mengalami pelecehan seksual sejak duduk di kelas 2 SMA SPI. Dia mengaku 15 kali mengalami rudapaksa dan terjadi sejak berusia 16 tahun.

“Saya berasal dari keluarga tidak mampu. Jadi, semacam ada rasa ketakutan dengan nasib saya jika keluar dari sekolah itu,” tuturnya.

Kasus kekerasan seksual lainnya yang juga baru-baru ini terungkap yakni pencabulan belasan santriwati diduga juga terjadi di Yayasan Istana Yatim Riyadhul Jannah, Depok. Pelakunya diduga oknum guru di lembaga tersebut serta kakak kelas para santri. Dalam kasus ini, Polda Metro Jaya telah menetapkan empat tersangka, terdiri dari tiga ustaz dan seorang kakak kelas para santri.

Baca selanjutnya
Faktor PemicuBeberapa kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan membuat Koordinator Nasional ...


hal 1 dari 3 halaman

Halaman: 123selengkapnya

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Banjir di MTsN 19 Jakarta, KPAI Ingatkan Sekolah Aman Bencana Wajib Memiliki Jalur Evakuasi

Merespons bencana banjir di MTsN 19 Jakarta Selatan, KPAI mengingatkan sekolah aman bencana wajib memiliki jalur evakuasi dan SOP penanganan bencana.

NEWS | 7 Oktober 2022

Rakernas I PKN: Pasek Ingatkan Kader Jangan Turun Gunung

Ketum PKN Gede Pasek Suardika menyemangati ribuan kader untuk bekerja lebih keras agar lolos verifikasi faktual menuju Pemilu 2024.

NEWS | 7 Oktober 2022

Cuaca Ekstrem, BMKG Peringatkan Waspadai Gelombang Tinggi hingga 6 Meter di Wilayah Ini

BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpotensi terjadi di beberapa wilayah perairan pada hari ini dan besok.

NEWS | 7 Oktober 2022

3 Siswa MTsN 19 Jakarta Meninggal Tertimpa Tembok Roboh, Menag Beri Santunan

Menag Yaqut Cholil Qoumas menyatakan rasa belasungkawa atas kejadian yang menimpa MTsN 19 Jakarta menyebabkan tiga korban tewas.

NEWS | 7 Oktober 2022

Analisis BPBD DKI, Tembok MTsN 19 Tak Mampu Menahan Air

Berdasarkan hasil kaji cepat sementara oleh BPBD DKI Jakarta, robohnya tembok MTsN 19 Pondok Labu.

NEWS | 7 Oktober 2022

Awas, Cuaca Hari Ini, Jaksel dan Jaktim Diprediksi Hujan Disertai Petir

Cuaca hari ini, BMKG memprakirakan cuaca Jakarta Selatan dan Jakarta Timur alami hujan disertai petir pada Jumat (7/10/2022) siang.

NEWS | 7 Oktober 2022

Kemenag Beri Santunan Korban Banjir di MTsN 19 Pondok Labu

Kementerian Agama (Kemenag) akan memberi santunan bagi korban meninggal dunia dan luka-luka akibat banjir MTsN 19, Pondok Labu, Jakarta Selatan

NEWS | 7 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan, Momen Perdamaian Suporter di Indonesia

Tragedi Kanjuruhan bisa menjadi momen bagi perdamaian suporter dan menghilangkan permusuhan serta kebencian.

NEWS | 7 Oktober 2022

Kunjungi Korban Musibah MTsN 19, Anies: Peristiwa Ini Pembelajaran

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengunjungi keluarga korban meninggal dunia akibat musibah MTsN 19 Jakarta yang roboh akibat banjir, Kamis malam.

NEWS | 7 Oktober 2022

Anies: Pemprov DKI Akan Perbaiki Fasilitas Gedung MTsN 19

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan Pemprov DKI akan memperbaiki fasilitas Gedung MTsN 19 yang rusak akibat robohnya tembok.

NEWS | 7 Oktober 2022


TAG POPULER

# Jokowi tak salami kapolri


# Banjir Jakarta


# MTsN 19 Jakarta


# Tersangka Tragedi Kanjuruhan


# Mamat Alkatiri


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Ini Identitas Korban Tewas dan Luka MTsN 19 Jakarta

Ini Identitas Korban Tewas dan Luka MTsN 19 Jakarta

EKONOMI | 4 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings