Logo BeritaSatu

Ini Kronologi Kasus Baku Tembak Polisi Versi Komnas HAM

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 10:34 WIB
Oleh : Stefani Wijaya / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membeberkan kronologi peristiwa baku tembak antara Brigadir Nopryansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J dengan Bharada Eliezer Pudihang Lumliu atau Bharada E di rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan membeberkan kronologi tersebut berdasarkan rekaman CCTV dan keterangan saksi. Fokusnya adalah, antara rumah pribadi Ferdy Sambo ke rumah dinas antara pukul 17.00 WIB sampai 17.30.

Advertisement

"Dari seluruh permintaan yang kami dapatkan, maka sekarang fokus kita sekarang adalah antara rumah pribadi ke rumah dinas, yaitu antara jam 17 sampai kemudian sampai 17.30 atau berapa, yang itu waktunya sangat singkat," kata Ahmad dalam diskusi virtual bertajuk "Menguak Kasus Penembakan Brigadir J", Jumat (5/8/2022).

Ahmad sedikit menyinggung bahwa momen saat di Magelang, Jawa Tengah tidak perlu dibicarakan. Sebab, pihaknya menemukan fakta bahwa di Magelang ada perayaan hari jadi akan tetapi Ahmad tidak memerinci acara tersebut.

"Saya perlu jelaskan begini, kenapa yang di Magelang tidak perlu terlalu dibicarakan? Karena kita menemukan fakta-fakta, di Magelang ada perayaan anniversary, Yosua ada di situ, Bharada E atau Richard juga ada di situ yang lain lain ada lah, semua situasi suasana gembira saja," ucapnya.

Lebih lanjut Ahmad mengatakan bahwa, Ferdy Sambo tidak ikut dengan rombongan menggunakan mobil. Akan tetapi, Ferdy menggunakan pesawat karena sedang bertugas di Semarang, Jawa Tengah. Saat itu Sambo pulang ke Magelang karena tanggal 4 Juli 2022 ikut mengantar anaknya ke Sekolah Taruna Nusantara.

"Nah sebelumnya juga dikatakan naik pesawat tanggal 8, tapi akhirnya data terbaru yang akurat dengan bukti-bukti yang kami dapatkan, tiket, dan macam-macam itu, kami mendapatkan kepastian bahwa dia tanggal 7 (Juli) pagi pesawat jam 7 (pukul 07.00 WIB) dengan satu ajudannya, Deden itu, berangkat dari Jogja ke Jakarta, ke Mabes katanya. Itu kita tak tahu benar tidaknya, yang jelas dia ke Mabes," tutur Ahmad.

Sementara itu, rombongan ibu Putri Candrawathi, Bharada E, Brigadir J, Riki yang merupakan ajudan Sambo juga, dan asisten rumah tangga (ART) berangkat ke Jakarta dengan menggunakan mobil. Pergerakan mereka pun terekam dalam CCTV sampai kurang lebih pukul 15.30 WIB.

"Nanti kami coba validasi ulang itu timeline. Kalau videonya tampak, tapi kan validasinya masih harus dicek ulang, ahli kami sedang mencoba menelusuri, kita tidak menerima begitu saja yang dikasih oleh Mabes itu. Kita punya ahli independen untuk meriksa, ada editing enggak, ada manipulasi enggak, itu diperiksa semua," imbuhnya.

Dikatakan Ahmad, sebelum rombongan Putri tiba pukul 15.30 WIB, telah tiba lebih dahulu Sambo dan ajudannya Deden yang didampingi satu orang petugas PCR. Menurut Taufan, Sambo saat itu menyiapkan petugas PCR sebelum rombongan Putri datang.

"Masuk itu Pak Sambo dengan krunya tadi ke dalam rumah, dan menuju ruang istirahatnya. Kemudian 2 atau 4 menit masuklah rombongan ibu PC, di situ ada Bharada E, Yosua, ada ART dan beberapa orang mendampinginya dan orang-orang sedang bekerja di rumah itu. Jadi mereka pada nurunin barang, Yoshua dan Bharada E nurunin barang, mereka beres-beres, ibu PC PCR, jadi PCR di belakang rumah, di rumah pribadi," ungkap Ahmad.

Diketahui, rumah pribadi Ferdy Sambo masih di kawasan Komplek Polri, Duren Tiga yang tidak jauh dari rumah dinasnya.

"Setelah itu berututan ada ART, Yosua juga keliatan di situ, PCR, Bharada E atau Richard itu keliatan PCR. Setelah itu istirahat semua, krunya, ART, ADC dan lainnya berada di depan rumah. Tapi tidak terlihat di CCTV, hanya keterangan mereka, ibu masuk ke dalam kamar," bebernya.

Lebih lanjut, tidak sampai satu jam mereka istirahat dan ajudan-ajudan Sambo berada di depan rumah. Keterangan para ajudan itu sesuai dengan waktu Brigadir J menelpon kekasihnya Vera.

"Enggak sampai satu jam mereka istirahat, itu lah yang kami tahu bahwa memang benar mereka di depan rumah, karena keterangan mereka ADC-ADC itu klop dengan telponnya Vera. Telpon Vera kan bilang dia 16.31 WIB , jadi bukan 16.43 WIB, 16.31 WIB bertelepon ke Yosua, dia mendengar waktu Yoshua menjawab itu ada suara orang tertawa tertawa, jadi Yoshua itu lagi kumpul kumpul dengan temannya, biasa kan, sambil menunggu bosnya ini berkemas ke rumah dinas," tukasnya.

Setelah itu, sekitar pukul 17.01 WIB mereka naik ke mobil menuju rumah dinas yang disebut sebagai TKP. Tidak lama, beberapa menit kemudian Sambo keluar ke tempat lain, akan tetapi baru beberapa menit ia berjalan, dalam CCTV terlihat dia itu berhenti kemudian berbalik mobilnya itu.

"CCTV tidak bisa menjelaskan apa apa, tetapi hanya keterangan penyidik yang menyatakan bahwa katanya dia menuju rumah dinas itu karena ditelepon oleh istrinya ada kejadian itu, itu versi dia," ucap Ahmad.

Tidak berselang lama, terlihat di CCTV bahwa Putri kembali ke rumah pribadi. Tampak wajahnya seperti menangis dan didampingi dengan satu dua orang di belakangnya.

"Sampai di situ kemudian CCTV lainnya memperlihatkan mobil provos hilir mudik, mobil patroli hilir mudik, yang dikatakan bahwa mereka ditelpon dan heboh lah ya ngurusin itu lalu ada keliatan mobil ambulans kurang lebih jam 7-an sampai direkam semua sampai di RS Bhayangkara," tuturnya.

Ahmad mengatakan, problem krusialnya yaitu yang bisa didapatkan pihaknya hanya berdasarkan keterangan Bharada E yang ia katakan mendengar teriakan-teriakan dari Putri.

"Tolong Richard, tolong Riki, karena ada Riki satu lagi itu, kemudian Richard ini turun ke bawah dia ketemu dengan Yosua. Jadi selama ini ada keterangan bahwa Yoshua sedang menodongkan senjata, dalam keterangan mereka ini enggak ada peristiwa itu makanya banyak sekali yang tidak klop antara keterangan yang disampaikan di awal dengan yang sudah kami telusuri, termasuk dulu kita baca berita ketika peristiwa terjadi Pak Sambo sedang PCR di luar," tuturnya.

"Kan ternyata tidak benar begitu, Pak Sambo sudah datang duluan satu hari sebelumnya. Jadi cerita ini di awal dengan kemudian berkembang atau sebelum ditelusuri itu banyak yang enggak klop. Sehingga sebagai penyelidik kami bertanya ada apa ini begitu. Tentu saja kami tidak mau menuduh sembarangan tapi kami menduga, ada yang tidak logis begitu," sambungnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Ketua AEKI Lampung Jadi Tersangka Kasus Penggelapan Kopi 59,5 ton

Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, Juprius, ditetapkan sebagai tersangka kasus penggelapan kopi seberat 59,5 ton.

NEWS | 13 Agustus 2022

Sidang Tahunan DPR, Puan Ungkap Makna Penggunaan Ornamen Batik

Ketua DPR Puan Maharani mengungkapkan Sidang Tahunan DPR 2022 kali ini akan menggunakan ornamen batik kawung khas Yogyakarta. 

NEWS | 13 Agustus 2022

Advokasi Warga, DPC Ikadin Jaksel Dirikan Posbakum Keliling

DPC Ikadin Jakarta Selatan (Jaksel) memberi bantuan hukum cuma-cuma kepada masyarakat melalui Posbakum keliling. 

NEWS | 13 Agustus 2022

Ini Capres Ideal di Pilpres 2024 Versi Amien Rais

Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais mengungkap soal capres pada Pilpres 2024. Amien Rais menyebut kriteria pemimpin ideal yang bakal diusung.

NEWS | 13 Agustus 2022

Sebelum Ditangkap KPK, Bupati Pemalang Temui Seseorang di DPR

Bupati Pemalang Mukti Agung Wibowo diketahui sempat menemui seseorang di DPR sebelum terjaring OTT KPK pada Kamis (11/8/2022) kemarin. 

NEWS | 13 Agustus 2022

Pansus BLBI DPD: Hentikan Anggaran Subsidi Bunga Obligasi Rekap

Staf Ahli Pansus BLBI DPD, Hardjuno Wiwoho mendesak pemerintah menghapus anggaran pembayaran subsidi bunga obligasi rekap eks BLBI.

NEWS | 13 Agustus 2022

Jadi Tersangka KPK, Bupati Pemalang Diduga Terima Suap Rp 6,2 Miliar

KPK menetapkan Bupati Pemalang Mukti Agung Wibowo sebagai tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan. Dia diduga menerima suap sekitar Rp 6,2 miliar.

NEWS | 13 Agustus 2022

DPR Dorong Posyandu Jadi Garda Terdepan Dukung Tumbuh Kembang Anak

Dalam momentum bulan imunisasi anak nasional (BIAN) 2022, DPR mendorong Posyandu menjadi garda terdepan mendukung tumbuh kembang anak. 

NEWS | 12 Agustus 2022

Hasto Kristiyanto Ingatkan Anak Muda untuk Berani Bermimpi

Hasto Kristiyanto mengatakan, Bung Karno sejak muda telah hadir sebagai pemimpin pejuang dan pemimpin visioner.

NEWS | 12 Agustus 2022

Polisi: Salman Rushdie Ditusuk di Leher, Tersangka Ditahan

Polisi negara bagian New York mengatakan, Salman Rushdie menderita luka tusuk di leher ketika dia diserang dan tersangka telah ditahan.

NEWS | 12 Agustus 2022


TAG POPULER

# Puan Maharani


# Pohon Koka


# Brigadir J


# Ferdy Sambo


# Mahfud MD


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Ketua AEKI Lampung Jadi Tersangka Kasus Penggelapan Kopi 59,5 ton

Ketua AEKI Lampung Jadi Tersangka Kasus Penggelapan Kopi 59,5 ton

NEWS | 4 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings