Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Hasto: Kemerdekaan Tak Mudah Dicapai, Jangan Bergantung pada Asing

Selasa, 23 Agustus 2022 | 22:43 WIB
Oleh : Yustinus Paat / WM
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat menghadiri pameran lukisan bertema 'Freedom Of Harmony' yang menampilkan karya-karya 40 pelukis yang tergabung dalam Komunitas K3 di Jakarta, Selasa, 23 Agustus 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia yang baru diperingati 17 Agustus lalu bukanlah sesuatu yang mudah dicapai. Bung Karno-Hatta dan para pejuang kemerdekaan berhadapan dengan senjata penjajah pada saat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Tahun 1945. Karena itu, kata Hasto, masyarakat Indonesia saat ini perlu mengisi kemerdekaan dengan tidak bergantung pada asing.

Hal ini disampaikan Hasto saat menghadiri pameran lukisan bertema "Freedom Of Harmony" yang digelar dalam memperingati HUT ke-77 RI. Pameran lukisan ini menampilkan karya-karya 40 pelukis yang tergabung dalam Komunitas K3, di Jakarta, Selasa, (23/8/2022).

Tampak hadir sejumlah kepala daerah seperti Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Bupati Majalengka, Karna Sobahi, dan Wakil Wali Kota Tegal, M Jumadi.

"Ketika merdeka, semangat kita adalah percaya pada kekuatan sendiri. Karena itulah kita tak boleh sedikit sedikit menggantungkan diri kepada asing. Ketika kita mampu memproduksi sendiri, janganlah kita malah tergantung pada produk asing. Lalu untuk apa kita merdeka? Makanya Bung Karno mendorong semangat berdikari,” ujar Hasto saat menyampaikan sambutan di acara tersebut.

Hasto lalu menggambarkan bagaimana kemerdekaan Indonesia dicapai dengan susah payah dan merujuk pada penuturan dr. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno, yang saat ini sedang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.

“Menurut buku testimoni dr. Soeharto, saat Soekarno-Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan, ada beberapa pemuda yang semula memaksa kemerdekaan justru tak hadir. Karena memang situasi keamanan pada saat itu sangat genting di mana tentara Sekutu yang diboncengi NICA berusaha kembali lagi," kata Hasto.

“Suasana kebatinan saat teks Proklamasi dibacakan, ancaman todongan senjata tentara Jelang dan Sekutu ada di depan mata. Suasana memang penuh tekanan, suasana kevakuman kekuasaan dan tentara sekutu sudah berdatangan di Jakarta dan itulah yang memberikan ancaman keamanan termasuk ke Bung Karno-Hatta sehingga membaca proklamasi itu perlu keberanian karena senjata siap ditembakkan,” beber Hasto menambahkan.

Terbukti, kata Hasto, usai pembacaan Proklamasi, beberapa waktu kemudian, dalam upaya konsolidasi negara yang baru saja merdeka, Bung Karno dihadang tentara Sekutu yang diboncengi NICA di sekitar Kwitang. Mereka ingin mengadili dan langsung mengeksekusi Bung Karno di tengah jalan.

Mengetahui itu, cerita Hasto, dr. Soeharto langsung mengontak tentara Sekutu yang berasal dari India dan bersimpati pada kemerdekaan Indonesia agar datang. Mereka cepat bergerak, lalu bernegosiasi dengan tentara Sekutu yang berniat melakukan eksekusi.

“Kemudian terjadi perdebatan keras, akhirnya Bung Karno diijinkan meninggalkan mobil itu. Begitu Bung Marnk keluar dari mobil, mobilnya ditembak habis. Sehingga ringsek mobil itu,” urai Hasto.

Peristiwa itulah yang kemudian memicu dipindahkannya ibukota negara dari Jakarta yang dianggap tak aman, ke Yogyakarta. Tidak lama kemudian Bung Karno, Ibu Fatmawati, dan Guntur Soekarnoputra ke Yogyakarta.

“Sedikit cerita ini menggambarkan kemerdekaan Indonesia dicapai dengan tidak mudah, dengan pertarungan nyawa sehingga ketika merdeka, semangat kita adalah percaya pada kekuatan sendiri," tegas Hasto.

Lebih lanjut Hasto mengatakan lukisan yang ditampilkan di pameran itu menunjukkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Ada lukisan tentang Bung Karno, Bu Fatmawati menjahit bendera Merah Putih, lukisan menggambarkan rakyat Marhaen agar berkehidupan lebih baik, dan tentang alam raya Indonesia yang indah.

Yang jelas, menurut Hasto, tiap karya seni termasuk lukisan di pameran ini, menggambarkan kehendak dan imajinasi para senimannya.

“Maka itu saya undang juga para kepala daerah ini untuk melihat dan ikut membeli, karena kita menghormati kebebasan berekspresi, menghormati karya seni,” tutur Hasto.

Hasto sendiri turut membeli sebuah lukisan berjudul Bu Fat karya Harun Al Rasyid yang menggambarkan bagaimana Ibu Fatmawati menjahit bendera Sang Saka Merah Putih.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI