Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Rachmat Gobel Ajak Politisi Bangun Politik Berwawasan Budaya

Kamis, 8 September 2022 | 00:12 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO
Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel menjadi pembicara dalam acara focus group discussion yang diadakan Partai Nasdem di Nasdem Tower, Jakarta, Rabu, 7 September 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel mengajak para politisi dan partai politik di Indonesia untuk membangun politik berwawasan budaya.

“Politik kebudayaan memiliki makna strategis sebagai landasan nilai-nilai dalam berbangsa dan bernegara sekaligus memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat,” kata Rachmat Gobel dalam acara focus group discussion (FGD) yang diadakan Partai Nasdem di Nasdem Tower, Jakarta, Rabu (7/9/2022).

Selain Rachmat Gobel, pembicara lain dalam FGD itu adalah Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid, mantan bupati Ponorogo Suyoto, artis M Farhan, dan Tatak dari Kampung Riwil Solo.

Diskusi diadakan sebagai bagian dari prakarsa Partai Nasdem mendirikan Badan Budaya Partai Nasdem.

Rachmat Gobel menceritakan pengalamannya saat menjadi Menteri Perdagangan. Saat itu dia keliling ke pasar-pasar dan menemukan batik dengan harga murah.

“Ternyata itu impor. Ini akan mematikan industri batik nasional dan pada saatnya Indonesia akan kehilangan identitasnya. Karena itu, saya kemudian melarang impor batik,” katanya.

Dikatakan, impor batik itu akan membunuh pengrajin batik lalu pada tahap berikutnya akan membunuh para pengrajin batik tulis.

Pada tahap selanjutnya, kata Rachmat Gobel, setelah seniman dan industri batik musnah, maka Indonesia akan menjadi pengimpor penuh kain batik.

“Lalu, generasi mendatang sudah tidak tahu lagi bahwa batik merupakan bagian dari budaya dan sejarah kita. Yang mereka tahu, batik itu diimpor dari negara lain,” katanya.

Gobel mengatakan, Indonesia bukan hanya kaya dengan sumber daya alam, tetapi juga kaya akan warisan budaya.

Karena itu, saat ia menjadi Ketua Kadin Indonesia, ia membuat peta jalan industri berbasis budaya.

Menurutnya, Indonesia memiliki industri berbasis kain, seperti batik, songket, tenun, dan sulam. Indonesia juga memiliki kerajinan berbahan kayu, rotan, logam, dan tanah.

Industri berbasis budaya lainnya, katanya, adalah kuliner dan herbal.

“Semuanya merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang penuh filosofi, nilai-nilai, dan kreasi yang khas Indonesia,” katanya.

Karena itu, saat menjadi Ketua Panitia SEA Games pada 2011, Rachmat Gobel menampilkan pertunjukan dengan pakaian berbahan songket.

“Songket itu ada juga di Malaysia dan Thailand, tetapi songket Indonesia memiliki corak tersendiri. Ini kekayaan kita,” katanya.

Rachmat Gobel juga bercerita, pada 1997, saat Indonesia didera krisis ekonomi ia mengadakan Panasonic Gobel Award untuk industri televisi.

Selain didorong lesunya industri televisi, katanya, saat itu industri televisi Indonesia didominasi telenovela, film-film Bollywood dan Hollywood sergta film-film Hong Kong.

“Maka saya mengadakan Panasonic Gobel Award untuk memberikan apresiasi terhadap industri hiburan di dalam negeri. Hasilnya bagus. Bukan hanya menaikkan tarif pelaku industri, tetapi juga menumbuhkan industri hiburan nasional,” katanya.

Saat ini, kata Rachmat Gobel, ia sedang menyiapkan penghargaan untuk para master industri berbasis budaya, seperti pembatik, pengukir, penyulam, penenun, dan pembuat berbagai kerajinan.

“Saat saya ke Jepara, saya prihatin mendengar cerita mereka. Jumlah seniman ukir semakin sedikit. Kita harus memberikan apresiasi kepada mereka,” ujar Rachmat Gobel.

Dikatakan, secara internasional sudah menjadi praktik yang umum ada penghargaan di dunia kerajinan dan semacamnya.

“Selama ini kita tak mengenal para master, hanya tahu membeli produknya. Padahal, para master itu aktor utamanya. Karena itu, kita harus memberikan apresiasi. Ini bukan sekadar promosi budaya, tetapi juga apresiasi dan promosi seniman, maestronya,” kata Rachmat Gobel.

Semua itu, ujarnya, menunjukkan kepada kita bahwa politik kebudayaan dan politik berwawasan kebudayaan merupakan hal yang sangat strategis.

“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki akar budaya yang dalam,” kata Rachmat Gobel.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI