Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Tak Mudah Disimpulkan, Peta Koalisi Pilpres Masih Akan Berubah

Senin, 26 September 2022 | 22:56 WIB
Oleh : Carlos KY Paath / CAR
Ilustrasi Pemilu 2024.

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro menilai peta koalisi Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024 masih akan berubah. Semua partai politik (parpol) masih melakukan penjajakan dan komunikasi politik.

“Itu tidak mudah disimpulkan. Kalau saya masih dalam taraf saling menjajaki, mereka butuh chemistry, butuh platform yang sama dan saling menguntungkan. Tentu mereka berpikir dua hal, pileg-nya oke, pilpres-nya oke,” kata Siti Zuhro, Senin (26/9/2022).

Dia menuturkan dinamika politik yang sedemikian cair membutuhkan partisipasi aktif dari publik dan suara dari masyarakat sipil untuk mendorong agar pilpres tidak diikuti hanya dua pasangan calon (paslon). Menurutnya, Pilpres 2019 sudah cukup memberikan pelajaran atas dampak yang ditimbulkan ketika hanya dua paslon.

“Jadi, menurut saya kalau kita enggak aktif seperti 2014 dan 2019, pasti dua poros, yang mereka sukai saja. Untuk apa pisah-pisah, bikin energi terkuras, toh enggak menang, maka sekarang ini sangat tergantung pada civil society,” ucapnya.

Zuhro menambahkan masyarakat sipil harus mendorong partai politik untuk menjalankan fungsi representasi dengan menghadirkan lebih dari dua paslon. “Jadi kalau civil society-nya kuat menyuarakan bahwa pelajaran dua kali pemilu membuat kita ini fungsi representasi yang harusnya dilakukan partai-partai, tidak dilakukan. Itu yang harus terus dinuasankan dan dampak-dampak dari hanya dua pasangan calon. Jadi kalau kita diam, civil society-nya diam, ya mereka melenggang,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Multimedia Nusantara, Silvanus Alvin menilai bongkar pasang koalisi masih akan dinamis, seturut situasi politik, sampai titik final.

“Memang untuk koalisi parpol yang dikatakan final itu tentu tergantung dari situasi politik yang berkembang. Bisa saja ada kejadian-kejadian yang belum kita tahu,” kata Alvin.

Menurutnya, partai akan memperhatikan kebutuhan partainya dulu baru koalisi. “Masing-masing pasti tidak mau jadi beban, dalam koalisi ada partai yang jadi beban, maka partai lain pakai strategi mutusin buntut ekor cicak,” ungkap Alvin.

Diketahui, saat ini sudah terbentuk poros Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), Koalisi Indonesia Raya (KIR), Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan PKS, serta dari PDI Perjuangan (PDIP).

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, pekan lalu. Pertemuan mereka dimaknai dan diamini sebagai bentuk silaturahmi.

“Sebenarnya pertemuan Pak Airlangga dan Prabowo, peluang itu besar karena sama-sama nasionalis. Keduanya ada latar belakang sudah bekerjasama di kabinet, eksekutif, masih terbuka,” kata Alvin.

“Ini masalahnya apakah koalisi belum final kan, dengan kata lain koalisi bisa berkurang dan bisa bertambah partainya bergabung. Ini tinggal bagaimana masing-masing pimpinan partai berkomunikasi,“ imbuhnya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI