Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Prospek Ekonomi "Gelap", Jokowi: Jaga Setiap Rupiah

Kamis, 29 September 2022 | 19:15 WIB
Oleh : Novy Lumanauw / YUD
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan dalam acara United Overseas Bank (UOB) Economic Outlook 2023 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 29 September 2022.

Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati untuk menjaga setiap rupiah di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar negeri ini mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan global untuk jangka panjang.

Saat ini, dunia tengah berada pada ketidakpastian yang tinggi karena berbagai persoalan yang menimpa, mulai dari pandemi Covid-19 yang belum usai hingga perang di Ukraina, yang diperkirakan akan berlangsung dalam waktu panjang.

“Perang Rusia vs Ukraina tidak akan berhenti besok, bulan depan, atau tahun depan. Artinya, enggak jelas, sehingga yang kita perlukan, negara kita memerlukan sebuah endurance yang panjang," kata Presiden Jokowi saat berpidato pada United Overseas Bank (UOB) Economic Outlook 2023 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Presiden Jokowi juga secara khusus mengingatkan kepada Menkeu agar berhati-hati dalam mengelola APBN. Dana APBN harus digunakan untuk hal-hal yang produktif dan memberikan imbal hasil yang jelas.

"Saya selalu sampaikan ke Bu Menteri Keuangan. Bu, kalau punya uang kita, di APBN kita, dieman-eman, dijaga, hati-hati mengeluarkannya. Harus produktif, harus memunculkan return yang jelas. Karena kita tahu sekali lagi, hampir semua negara tumbuh melemah, terkontraksi ekonominya," jelasnya.

Selain itu, saat ini semua negara juga tengah menyelesaikan masalah inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa. Kepala Negara memandang bahwa inflasi Indonesia sendiri masih cukup terkendali di angka 4,6% yang dinilainya masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain.

Menurut Presiden Jokowi, terkendalinya inflasi tersebut antara lain disebabkan oleh keharmonisan hubungan antara otoritas pemegang fiskal adalah menteri keuangan dengan bank sentral (Bank Indonesia) yang berjalan beriringan, rukun, dan sinkron.

"Coba bandingkan dengan negara yang lain. Otoritas moneter dan otoritas fiskal, bank sentralnya naikin bunga, menteri keuangannya naikkan defisit. Naikkan defisit itu artinya menggrojokkan uang lebih banyak ke pasar. Artinya ya menaikkan inflasi. Yang satu ngerem inflasi, yang satu menggrojokkan inflasi. Di sini yang beda di situ, karena BI dan Kementerian Keuangan berjalan beriringan, rukun, sinkron, konsolidatif. APBN-nya konsolidatif, APBN-nya menyehatkan, berani memutuskan," jelas Presiden Jokowi.

Ia menyatakan, agar APBN betul-betul dikelola secara hati-hati sehingga fiskal yang dimiliki pemerintah dapat digunakan secara berkelanjutan untuk menghadapi situasi dunia tahun depan yang diprediksi ‘gelap.’

"Terakhir, saya selalu sampaikan kepada Bu Menteri, Bu Menteri, kita ini memiliki amunisi. Saya minta betul-betul dijaga hati-hati, bijaksana betul dalam menggunakan setiap Rupiah yang kita miliki, tidak jor-joran, dan betul-betul harus dijaga.' Tidak boleh kita hanya berpikir uang itu hanya untuk hari ini atau tahun ini. Tahun depan seperti apa? Karena semua pengamat internasional menyampaikan bahwa tahun depan itu akan lebih ‘gelap,’ tapi kalau kita punya persiapan amunisi, ini akan berbeda, sehingga betul-betul APBN kita APBN yang berkelanjutan," kata Presiden Jokowi.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI