Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Tragedi Kanjuruhan, IPW Desak Kapolri Copot Kapolres Malang

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:28 WIB
Oleh : Dwi Argo Santosa, Vento Saudale / DAS
Aparat keamanan mengusir suporter yang masuk lapangan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu, 1 Oktober 2022 malam. Tragedi Kanjuruhan ini menewaskan sekurangnya 127 suporter.

Jakarta, Beritasatu.com - Tragedi Kanjuruhan sebagai tragedi nasional terjadi di lapangan sepak bola. Sebanyak 153 nyawa melayang akibat kericuhan di stadion Kanjuruhan Malang seusai tuan rumah Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya di pekan ke-11 liga 1 2022/2023, Sabtu (1 Oktober 2022).

Pengumuman tewasnya ratusan orang meninggal dunia itu disampaikan langsung oleh Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta. "Dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang (oleh Komnas HAM disebutkan bertambah menjadi 153), dua di antaranya anggota Polri," ungkap Nico Afinta dalam konferensi pers di Malang, Minggu (2/10/2022).

Atas tragedi Kanjuruhan tersebut, Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat yang bertanggung jawab dalam mengendalikan pengamanan pada pertandingan antara tuan rumah Arema FC Malang melawan Persebaya Surabaya.

“Lebih penting dari tewasnya suporter tersebut, Presiden Jokowi harus memberikan perhatian terhadap dunia sepakbola di Indonesia yang selalu ricuh dan menelan korban jiwa,” kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santosa.

IPW juga meminta agar Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta mempidanakan panitia penyelenggara pertandingan antara Arema FC vs Persebaya.

Selain itu IPW mendesakl Kapolri mencabut izin penyelenggaraan sementara seluruh kompetisi liga yang dilakukan PSSI sebagai bahan evaluasi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat atau harkamtibmas.

“Di samping itu menganalisis sistem pengamanan yang dilaksanakan oleh aparat kepolisian dalam mengendalikan kericuhan di sepak bola,” ujar Sugeng Teguh Santosa melalui keterangan tertulis, Minggu (2/10/2022).

Menurut Sugeng Teguh Santosa, tragedi Kanjuruhan itu berawal dari kekecewaan suporter tim tuan rumah yang turun ke lapangan tanpa dapat dikendalikan oleh pihak keamanan.

Kericuhan seusai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam laga di Stadion Kanjuruhan.

“Bahkan, aparat kepolisian yang tidak sebanding dengan jumlah penonton, secara membabi buta menembakkan gas air mata sehingga menimbulkan kepanikan terhadap penonton yang jumlahnya ribuan. Akibatnya, banyak penonton yang sulit bernapas dan pingsan. Sehingga, banyak jatuh korban yang terinjak-injak,” katanya.

Padahal, kata Sugeng, sesuai aturan FIFA penggunaan gas air mata di stadion sepak bola dilarang. Hal itu tercantum dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations.

Pada Pasal 19 huruf b disebutkan bahwa sama sekali tidak diperbolehkan mempergunakan senjata api atau gas pengendali massa.

“Jatuhnya korban tewas di sepakbola nasional ini, harus diusut tuntas pihak kepolisian. Jangan sampai pidana dari jatuhnya suporter di Indonesia menguap begitu saja seperti hilangnya nyawa dua bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada bulan Juni lalu,” ungkap Sugeng.

Sugeng juga menyinggung Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule yang seharusnya malu dan mengundurkan diri dengan adanya peristiwa terburuk di sepakbola nasional ini.

Seperti diberitakan, kericuhan terjadi saat pertandingan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya dalam laga pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam.

Gas air mata di tribun penonton ditembakkan aparat keamanan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu, 1 Oktober 2022 malam.

Seusai laga, sekitar pukul 22.00 WIB, suporter Arema (Aremania) berhamburan ke lapangan dan mencoba menyerang pemain dan ofisial Arema FC yang tengah berjalan masuk menuju kamar ganti pemain. Petugas keamanan berusaha melindungi dan mengusir penonton yang masuk ke tengah lapangan.

Aparat keamanan menembakkan gas air mata ke arah kerumunan penonton bahkan ke tribun. Kondisi inilah yang diduga kuat sebagai pemicu jatuhnya banyak korban jiwa. Kerumunan penonton yang terkena gas air mata berhamburan dan ada yang terinjak-injak selain mengalami sesak napas.

Sayangnya sampai Minggu dini hari ketika puluhan suporter ditemukan tewas dan bahkan deretan jenazah tergeletak di mushola maupun rumah sakit, para jurnalis masih kesulitan mendapatkan keterangan resmi dari pihak kepolisian.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI