Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Komnas HAM Pertimbangkan Kirimkan Tim Investigasi Usut Tragedi Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:35 WIB
Oleh : Yustinus Paat / CAH
Beka Ulung Hapsara

Jakarta, Beritasatu.com - Komnas HAM menyampaikan duka mendalam atas jatuhan ratusan korban dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022).

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan Komnas HAM pun mempertimbangkan akan mengirimkan tim investigasi untuk mengusut kasus tersebut.

"Pertama, saya sebagai salah satu penggila bola ikut berduka atas jatuhnya korban di stadion Kanjuruhan, Malang. Sampai pagi ini informasinya sudah 153 orang yang meninggal dunia," ujar Beka kepada wartawan, Minggu (2/10/2022).

Menurut Beka, kasus ini perlu diusut tuntas dari semua aspek, mulai dari pelaksanaan hingga aspek teknis lainnya.

"Saya kira tragedi ini harus diusut tuntas, dari soal pelaksanaan pertandingan, aspek pengamanan sampai aspek-aspek teknis lainnya. Komnas HAM sedang mempertimbangkan untuk mengirim tim investigasi ke sana," ungkap dia.

Lebih lanjut, Beka mengatakan, semua pihak seharusnya mematuhi aturan yang berlaku dalam stadion dan pertandingan sepakbola. Termasuk, kata dia, aparat keamanan untuk meminimalisir risiko yang terjadi.

"Saya kira ada kekhususan peraturan dalam stadion dan pertandingan sepak bola yang harus dipatuhi bersama, bukan hanya oleh pemain, ofisial tetapi juga aparat keamanan untuk meminimalisir resiko yang muncul," pungkas Beka.

Diketahui, tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang terjadi usai duel Arema Malang dengan Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022) malam. Ribuan suporter tuan rumah ngamuk dan masuk ke lapangan usai tim kesayangan mereka dikalahkan tim tamu dengan skor 2-3.

Berdasarkan informasi yang beredar, sebanyak 153 orang telah meninggal dunia akibat insiden tersebut. Meskipun, informasi resmi polisi baru merilis sebayak 127 orang yang meninggal dunia dan ratusan orang dirawat di sejumlah rumah sakit mulai dari RSUD Kanjuruhan, RS Wava Husada, RS Teja Husada, RSUD Saiful Anwar, dan beberapa rumah sakit di Kota Malang.

Aparat gabungan Polri dan TNI kemudian menghalau penonton agar keluar lapangan. Dalam proses penanganan kericuhan tersebut, petugas juga menyemprotkan gas air mata.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta menyebut korban yang meninggal di rumah sakit mayoritas nyawanya tak tertolong karena sudah dalam kondisi memburuk setelah kerusuhan yang terjadi. Mereka mayoritas mengalami sesak napas dan terjadi penumpukan massa sehingga terinjak-injak.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI