Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Waspada, Gas Air Mata Bisa Berdampak Fatal

Senin, 3 Oktober 2022 | 02:18 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / BW
Tembakan gas air mata saat kericuhan seusai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam laga pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu, 1 Oktober 2022 malam. Tragedi Kanjuruhan ini menewaskan sekurangnya 127 suporter

Jakarta, Beritasatu.com - Dokter spesialis mata Eka Hospital Bekasi, Moh Arief Herdiawan meminta masyarakat agar mewaspadai gas air mata karena bisa berdampak fatal. Menurutnya, gas air mata merupakan senyawa kimia bersifat lakrimator atau senyawa yang dapat memicu aktivitas kelenjar air mata.

"Tidak hanya berefek pada mata saja, tetapi juga dapat menyebabkan efek iritasi kulit, dan dapat menyebabkan gangguan pada saluran napas sehingga sulit bernapas," kata Arief kepada Beritasatu.com pada Minggu (2/10/2022).

Gas air mata, lanjut sang dokter, bersifat non-lethal tetapi dapat berbahaya apabila digunakan pada area indoor atau orang yang menghirupnya sudah memiliki penurunan fungsi paru seperti pada penderita asma atau bronkitis.

Ia menegaskan, pada prinsip utama adalah hindari area dan paparan langsung dari asap gas air mata. Bila terkena segera bilas bagian anggota tubuh yang terkena dengan air mengalir bersih seperti pada mata atau kulit.

"Segera ganti dan cuci pakaian yang terkena. Bila terdapat gejala sesak napas yang menyebabkan penurunan kesadaran perlu diterapi instansi kesehatan dan mungkin memerlukan terapi medikamentosa khusus seperti bronkodilator," ungkap dokter Arief.

Sebagaimana diketahui, aparat kepolisian menembakkan gas air mata pada tragedi Kanjuruhan pascapertandingan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam.

Tembakan gas air mata itu membuat banyak suporter pingsan dan sulit bernapas. Banyaknya suporter yang pingsan, membuat kepanikan di area stadion. Sementara para suporter yang membutuhkan bantuan medis tersebut tidak sebanding dengan jumlah tenaga medis yang disiagakan di Stadion Kanjuruhan.

Sebelumnya Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi yang juga guru besar Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKUI), Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan ada lima hal tentang gas air mata dan bahaya ataupun efeknya yang perlu diketahui.

Pertama, kata Tjandra Yoga, beberapa bahan kimia yang digunakan pada gas air mata dapat saja dalam bentuk chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA), dan dibenzoxazepine (CR).

"Kedua, secara umum dapat menimbulkan dampak pada kulit, mata, dan paru serta saluran napas," kata Tjandra Yoga dalam keterangannya yang diterima Beritasatu.com, Minggu (2/9/2022).

Ketiga, lanjut Tjandra Yoga, gejala akutnya di paru dan saluran napas dapat berupa dada berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, batuk, bising mengi, dan sesak napas.

"Pada keadaan tertentu dapat terjadi gawat napas (respiratory distress). Masih tentang dampak di paru, mereka yang sudah punya penyakit asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), maka kalau terkena gas air mata dapat terjadi serangan sesak napas akut yang bukan tidak mungkin berujung di gagal napas (respiratory failure)," kata Tjandra Yoga.

Keempat, selain di saluran napas, maka gejala lain adalah rasa terbakar di mata, mulut dan hidung. Lalu dapat juga berupa pandangan kabur dan kesulitan menelan. "Juga dapat terjadi semacam luka bakar kimiawi dan reaksi alergi," katanya.

Kelima, walaupun dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, ternyata pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan.

"Hal ini terutama kalau paparan berkepanjangan, dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup," pungkas Tjandra Yoga.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI